The Legend Of Ragna

The Legend Of Ragna
Chapter 94 : Pewaris II


__ADS_3

Ragna langsung bermasalah dengan Kanna si gadis hutan yang memiliki penampilan lusuh dan ia mudah tersinggung.


"Zink!!" Iapun langsung saja berteleport keluar dari dalam guild, Ragna terlihat jengkel, "Yang tadi itu nyaris saja!! Tusukan pedangnya hampir mengenaiku dan sepertinya ia sama sekali tak main-main..."


"Jbbuuak!!!" Kanna menendang pintu guild dan menatap ke arah Ragna, "Ketemu!! Akan ku beri kau pelajaran..."


Ragna terkejut karena Kanna tetap berniat mengejarnya, "Mengapa kau sangat marah sekali? Padahal aku hanya mengatakan kenyataan yang sebenarnya...!!!!"


"Kenyataan??" Kanna bertanya-tanya dan semakin geram, "Tidak ada sedikitpun fakta dari ucapanmu itu!! Kau hanya ingin mengejekku..." iapun kembali berlari ke arah Ragna.


Kanna melancarkan tusukan akan tetapi beberapa milimeter sebelum ujung mata pedangnya mengenai sasaran terlebih dahulu Ragna menghilang dengan kemampuan teleport, "Zink!!" Iapun muncul dikejauhan membaur dengan kerumunan orang-orang.


"Sialan!!! Dia benar-benar ingin membunuhku!!!" Teriaknya yang kesal.


"Disebelah sana..." ucap Kanna yang kembali mengejar setelah mengetahui keberadaan Ragna.


Erinka keluar dari dalam guild dan melihat arah Kanna pergi, "Dia disana..." ucapnya yang juga mengejar.


"Kenapa sih dari semua orang yang ada Ragna harus bermasalah dengan Kanna..." Erinka merasa sangat kesal karena juga harus terlibat masalah.


Lalu Ragna dalam pelariannya berlari ke jalan yang penuh dengan kerumunan orang-orang lalu lalang akan tetapi meski begitu Kanna bersikeras mengejar dan dibelakang keduanya ada Erinka.


Lalu tanpa disadari mereka bertiga berpapasan dengan anggota White Tiger yang lainnya yaitu Edward, Albert dan Rumia berjalan ke arah guild.


Edward menoleh ke belakang begitu berpapasan dengan Ragna.


"Apa apa?" Tanya Albert.


"Tidak ada..." ucap Edward yang kembali berjalan lagi.


Rumia berkata dengan entengnya, "Kota ini masih sama seperti saat terakhir kali kita pergi, ya?"


"Ya..." jawab Albert.


Edward tak mempedulikan ucapan dari kedua rekannya, "Hari ini akan ku rebut posisi master guild White Tiger..." ucapnya dengan sorot mata tajam.


Dengan langkah perlahan ketiganya bergerak menuju tempat berdirinya guild White Tiger.


*****


Sementara itu didalam guild White Tiger.


Reynhard menata kembali meja kursi yang berantakan karena kekacauan sementara Djarot 'si cyborg' menyambung kembali lengannya yang sebelumnya dipotong oleh Kanna.


"Guild ini sudah sepi dan sekarang berantakan..." ucap Reynhard.


"Berhenti mengeluh karena ku yakin setelah masalah ini selesai tempat ini akan kembali ramai seperti sedia kala..." ucap Djarot.

__ADS_1


"Cih, bisakah kita menyelesaikan masalah ini? Mengalahkan Black Tiger seakan adalah hal yang mustahil untuk dilakukan..." ucap Reynhard dengan membenarkan meja dan ia lalu duduk dikursi.


Djarot 'si cyborg' juga mengambil sebuah kursi dan duduk dihadapan Reynhard, "Optimislah!! Kita pasti bisa mengalahkan mereka..."


"Cih, mengatakannya memang mudah akan tetapi lawan kita adalah 500 penyihir dan itu pasti akan sangat sulit..." ucap Reynhard.


"Hahahaha..." mendadak Master White Tiger tertawa lepas dan berjalan ke arah mereka, ia menepuk-nepuk punggung Reynhard, "Kau terlalu khawatir, Reynhard..."


Sistina menyela, ia meletakan makanan tepat dimeja yang ada dihadapan keduanya, "Silakan dimakan!!"


"Ya..." jawab Djarot 'si cyborg'


Reynhard menanggapi ucapan Master Mark, "Tapi master jika kita kalah dari mereka maka White Tiger akan bubar..."


"Hmm..." Master White Tiger berfikir lalu menjawab, "Ikuti saja arusnya..."


"Jika kita kalah dari Black Tiger sekalipun dan Guild White Tiger dibubarkan tak masalah..."


"Aku tak akan membiarkan hal itu terjadi..." mendadak terdengar suara dari balik pintu masuk dan hal itupun membuat semua pandangan mata teralihkan.


Ya, tiga anggota White Tiger yaitu Edward, Albert dan Rumia muncul.


"Tempat ini milikku dan tak akan ku biarkan bubar..." ucap Edward dengan sorot mata tajam penuh yang penuh dengan keseriusan.


Djarot 'si cyborg' dan Sistina menatap tajam sementara itu Master Mark bersikap biasa saja.


Sistina si gadis bartender menjawab dengan berbisik, "Mereka adalah anggota White Tiger juga dan kau yang baru bergabung selama satu tahun pasti tak mengenal mereka karena tim mereka menjalankan misi 2 tahun yang lalu dan baru sekarang ini kembali..."


"Begitu rupanya..." Reynhard mengangguk paham.


"Reynhard, jujur saja aku membenci mereka terutama pada pria yang berdiri ditengah-tengah itu..." ucap Djarot 'si cyborg'


"Memangnya kenapa kau membenci mereka?"


"Namanya adalah Edward, dia itu sangat kuat dan tangguh akan tetapi ia juga sangat kejam..."


"Aku membencinya karena ia merupakan anak angkat Master Mark yang artinya ia merupakan pewaris kedudukan Master White Tiger selanjutnya bila Master Mark tak sanggup menduduki jabatannya nanti..."


Reynhard menjadi semakin paham, "Jadi kau tak suka pada kepemimpinannya, ya?"


"Benar sekali!!!" Jawab Djarot 'si cyborg' dan Sistina serentak.


Djarot 'si cyborg' terlihat sangat geram, "Master Mark, kita langsung saja usir mereka..."


"Tenanglah, Djarot..." ucap Master Mark dengan entengnya, iapun berjalan perlahan ke arah ketiganya, "Hohohoho... selamat datang kembali!!"


"Ya, kami kembali!!" Jawab Albert.

__ADS_1


"Hmm... bagaimana dengan misi yang kalian jalankan? Apakah berjalan dengan lancar?" Tanya Master Mark dengan entengnya.


Rumia tersenyum lebar dan wanita itupun berkata, "Misi yang kami jalankan berjalan dengan sukses dan meski menjalankan 20 misi lebih tapi kami tak merasa kesulitan sedikitpun..."


"Oh..." Master Mark menanggapi dengan singkat, "Ya, setelah menjalankan misi selama 2 tahun lebih kalian pasti sangat lelah jadi sekarang masuklah lalu duduk dan kemudian mari kita makan-makan bersama..."


Edward mengepalkan tangan dan memukul ke samping pada dinding tembok, "DHUUAARR...!!" Dinding tembok itupun langsung hancur dan meninggalkan sebuah lubang besar.


Djarot 'si cyborg' menjadi marah, "Sialan, jika kau kemari hanya untuk menambah masalah maka enyahlah saja...!!!"


"Benar, kami tak ingin pakai kekerasan jadi kalian pergi saja dari sini..." ucap Reynhard dengan tenang.


Master Mark tersenyum lalu berkata, "Kalian berdua diamlah sebentar dan biarkan Edward mengatakan apa yang ia inginkan..."


"Tapi Master..." Djarot menolak.


Sistina berkata, "Lebih baik kita ikuti saja arahan Master..."


"Aku setuju..." sahut Reynhard.


"Cih..." Djarot agak kesal.


Ketiganya terdiam dan Master Mark berkata, "Jadi apa yang ingin kau katakan, anakku?"


Edward menatap tajam lalu berkata dengan tegas, "Berhenti basa-basi, Master!! Bukankah kau sudah mengetahui ke inginanku..."


"Lihatlah tempat ini sekarang!! Tempat ini bagaikan pemakaman saja..."


"Guild White Tiger jelas-jelas mengalami kemunduran yang luar biasa dalam masa kepemimpinanmu..."


"Dan yang paling buruk bagaimana bisa dalam keadaan guild yang terpuruk seperti ini kau memutuskan untuk berperang melawan Black Tiger?"


Master Mark tetap tenang dan sama sekali tak terprovokasi, "Hmm... lalu apa yang kau inginkan?"


Dengan sorot mata tajam Edward berkata, "Aku ingin kau mundur dari posisi Master White Tiger dan biarkan aku yang mengambil alih mulai dari sekarang..."


Bersambung Ke The Legend Of Ragna Chapter 95 : Permainan


******


Pesan Author : kalau gak mau Vote gak papa sih tapi tolong like atau setidaknya komen meski hanya "lanjut" "next" "bagus" atau "up" yang penting bisa support karya ini


Yang intinya komenlah meski satu huruf dan bisa buat autor semangat.


Bukan niatnya maksa tapi author ingin tau aja siapa yang berkontribusi


Trima kasih atas perhatiannya.

__ADS_1


*****


__ADS_2