
Dengan imajinasi gilanya, Rumia berubah bentuk menjadi sesosok lain menyerupai iblis merah.
Dan iapun menantang Erinka dalam pertarungan udara.
"Hahahaha... sepertinya kau masih menyimpan beberapa kekuatan yang kau sembunyikan dariku!!" Rumia tertawa lepas, iapun melesat ke arah Erinka dan melancarkan cakaran, "Cthing!!" Erinka menahan serangan lawan dengan pedangnya.
"Hahahaha... keluarkan semua yang kau miliki!!" Rumia menjaga jarak.
"Berisik!!" Teriak Erinka yang giliran terbang melesat mendekat, iapun menebas lawan sekuat tenaga, "Sllash!!" Ayunan pedang Erinka terlalu lambat bagi Rumia dan hal itu membuatnya mampu menghindar dengan mudah karena pedang Erinka yang terlalu berat.
"Cih" Erinka kesal dan iapun beralih menyerang dengan menusuk, "HIIAA...!!"
Rumia memfokuskan energi pada kepalan tangan dan memukul balik, "Cthing!!" Erinka malah terpental ke belakang.
Erinka segera bangkit lagi meski berulang kali serangannya tak mempan dan serasa dipermainkan oleh lawan, "Sial..." gumamnya dalam hati yang sorot matanya tajam serasa tiada tanda-tanda akan menyerah.
"Hahahaha..." dilain sisi Rumia tertawa lepas menikmati pertarungan yang ada, iapun sangat senang mempermainkan Erinka.
Dibawah Sistina hanya bisa menonton pertarungan udara keduanya, ia memasang sorot mata tajam mendongak ke atas penuh dengan perhatian.
"Sial, pada akhirnya ditempat ini aku tak melakukan apapun..." ucap Sistina yang menganggap dirinya sebagai beban.
Gadis bartender itupun mulai meratapi nasibnya, "Diinsiden yang lalu aku hanya menjadi beban bagi Pak Boon dan aku hanya bisa melihat ia terbunuh..."
"Jika saat itu aku lebih kuat dan mampu mengatasi traumaku maka Pak Boon tak akan mati dan White Tiger tak perlu bertarung melawan Black Tiger..."
"Apakah aku akan mengulangi kesalahan yang sama yaitu tak melakukan apapun disaat yang lainnya berjuang mati-matian?" Sistina mulai menyalahkan dirinya atas dirinya atas kematian Pak Tua Boon.
Gadis bartender itupun menatap kedua telapak tangannya yang bergemetaran, "Aku harus melawan traumaku..." iapun membulatkan tekad.
*
Dipertarungan Erinka berjuang mati-matian akan tetapi meskipun begitu dapat dibalikan dengan mudah oleh Rumia dan sekarang ini ia tengah terpojokkan.
"Hah... hah... hah..." Nafasnya mulai tak beraturan, keringat membasahi tubuhnya dan iapun mulai kehabisan energi, "Sial, energiku sendiri mulai menipis jadi apakah aku harus lebih banyak menggunakan kekuatan Sang Phoenix?"
"Tidak, jika aku terlalu berlebihan menggunakan kekuatan Phoenix maka hal buruk seperti kehilangan kendali atas diriku sendiri..." gumam Erinka dalam hati.
Ia menatap lawannya dengan penuh kekesalan, "Apa yang harus ku lakukan untuk bisa menang darinya?" Pikir Erinka.
__ADS_1
"Hahahaha... apa hanya sebatas itu saja kemampuanmu?" Ejek Rumia dengan tertawa lepas, "Kalau kau tak mau menyerang maka biarkan aku yang menyerang menyerang balik..."
Si penyihir imajinasi itu terbang melesat ke arah dan menyerang dengan cakaran-cakaran, "Sllash!! Sllash!!"
"Cthing!! Cthing!!" Erinka menahan serangan itupun dengan ayunan pedang besarnya.
Erinka terus saja terdesak meski energinya telah menipis tetapi dilain sisi Rumia semakin menikmati pertarungannya dan malahan gerakannya semakin brutal saja.
"Hahahahaha!! Ayolah, buat aku semakin senang!!"
"Cih..." Erinka sangat kesal dan kobaran api yang ada dilengan kirinya perlahan memudah.
Rumia menyerang lagi dengan melesat mendekat akan tetapi sebuah anak panah bergerak dengan cepat ke punggungnya, "Jlleebb...!!" Anak panah itupun menancap pada tubuh si penyihir imajinasi.
Rumia mencabut anak panah itu dan menatap ke bawah lalu melihat Sistina memegangi sebuah busur, "Khi..." iapun tersenyum menyeringai dan berkata, "Gadis itu rupanya sudah berani lagi mengangkat senjata!! Pertarungan ini makin menarik saja..."
Erinka yang merasa Rumia tertarik pada Sistina jadi panik, "Gawat, ia sekarang mengincar Sistina..."
Rumia terbang menukik ke bawah akan tetapi Erinka juga mengejarnya, "Tak akan ku biarkan ia menyerang Sistina..." pikir Erinka.
Dibawah Sistina yang menjadi sasaran bagi Rumia malah membidikan anak panah padanya, "Aku harus mengenainya..." dengan kedua tangan bergemetaran iapun menarik busur panah dan melepaskan anak panah pada Rumia.
Sistina jadi panik dan iapun membidikan anak panah lagi.
"DYYEESS..." Tetapi sebelum Sistina melepaskan anak panahnya terlebih dahulu Rumia jatuh dengan keras tepat dihadapan Sistina.
Iapun menatap tajam pada Sistina dan si gadis bartender itupun melepaskan anak panahnya.
"Bodoh!!" Ucap Rumia yang dengan mudahnya menangkap anak panah itu.
"Menjauh dari Sistina!!!" Teriak Erinka yang melesat menukik ke arah Rumia dan ia langsung saja melesatkan tendangan, "Jbbuuak!!" Rumia menahan kaki Erinka dengan lengannya.
"Tak akan ku biarkan kau mendekati Sistina..." ucap Erinka dengan sorot mata tajam.
Rumia berkata, "Sepertinya kau telah salah paham..."
"Hah? Apa maksudmu?" Erinka menjaga jarak dengan melompat ke belakang.
Rumia mengarahkan jari telunjuknya pada Sistina, "Kau pasti berfikir ia adalah gadis cantik yang tak berdaya dan harus dilindungi..."
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang ingin kau katakan?"
"Khi..." Rumia tersenyum menyeringai dan berkata, "Sepertinya kau benar-benar tak tau bahwa dulunya ia merupakan petarung ahli dalam menggunakan segala senjata..."
"Sistina adalah wanita petarung yang hebat dan tak terkalahkan bahkan dulunya ia lebih kuat dariku..."
"Ya, wajar saja kau tak tau karena baru 1 tahun bergabung dengan guild White Tiger..."
"Bagimu mungkin ia adalah gadis yang tak berdaya dan harus dilindungi akan tetapi bagiku Sistina adalah wanita mantan petarung hebat yang dulunya tak terkalahkan..." jelas Rumia.
Erinka tak percaya, "Itu tidak mungkin!!!"
"Mau percaya atau tidak itu terserah padamu..."
Erinka menatap ke arah Sistina yang sedang menundukan wajahnya, "Apa itu benar Sistina?"
Sistina tak menjawab dan hal itupun membuat Erinka menyadari bahwa apa yang dikatakan oleh Rumia benar.
"Cih..." Erinka agak kesal setelah menyadari apa yang disembunyikan Sistina, "Aku kecewa padamu akan tetapi kita ada dimedan pertarungan jadi ku yakin kau punya alasan menyembunyikan rahasia itu padaku..."
"Ya, Sistina!! Kau telah mengangkat senjatamu kembali jadi mari kalahkan ia bersama..." ucap Erinka dengan mengulurkan tangan kanannya pada Sistina.
Sistina masih tertunduk lalu Rumia melesat sangat cepat ke arah Erinka yang lengah dan langsung memukul perutnya, "Jbbuuak!!!"
"Kau mengganggu saja..." ucap Rumia setelah menghempaskan Erinka.
"Tap... tap... tap..." Rumia berjalan mendekat lalu berdiri tegak dihadapan Sistina, iapun berkata, "Kau adalah mantan petarung tangguh dan kuat lalu melihatmu tak melakukan apapun dalam pertarungan hal itupun membuatku sangat jengkel..."
"Ya, meski kau tak bertarung sekalipun aku akan tetap menghabisimu..." Rumia mengangkat tangannya dan memanjangkan kuku cakar yang tajam sementara itu Sistina hanya terdiam dan berdiri dengan wajah tertunduk.
"Matilah!!"
"Sllash!!"
"Cruat!!" Darah segar menetes deras.
Ya, Erinka memanfaatkan kelengahan lawannya dan iapun langsung saja menebas punggung lawan.
Rumia membalikan badan dan dengan sorot mata tajam, iapun berkata pada Erinka, "Kau akan ku bunuh...!!!"
__ADS_1
Bersambung Ke The Legend Of Ragna Chapter 106 : Bangkit