
Pak Tua Boon berjalan seorang diri ke dasar tambang dan karena ia berada terlalu dalam sampai-sampai tak mampu merasakan energi pertarungan yang ada diatas.
"Hmm... apa Ragna dan Erinka baik-baik saja, ya?" Ucapnya dengan santainya sambil memakan kripik kentang.
Iapun sedikit khawatir pada kedua rekannya akan tetapi menjalankan misi yaitu menyelamatkan 5 penambang jauh lebih penting karena mereka adalah penduduk sipil yang tak punya sihir yang tentunya memiliki stamina yang terbatas.
Pak Tua Boon terus berjalan dan pada akhirnya menemukan jalan buntu karena longsor, "Buntu?? Apakah aku harus kembali??" Pikirnya.
Pak Tua Boon hendak kembali ke atas akan tetapi sebuah teriakan terdengar dari jalan buntu itu, "Tolong kami...!!"
"Selamatkan kami!!"
"Ada yang terluka!!"
Pak Tua Boon merespon cepat, "Hey, jika kalian ingin diselamatkan menjauhlah dari tumbukan longsor ini...!!!"
"Ya, baiklah!!" Jawab salah satu penambang.
Pak Tua Boon meningkatkan energi dan memasang kuda-kuda, "HIIAA...!!!"
"DYYEESS...!!!" Dengan sekali pukulan bebatuan itu hancur lebur tak bersisa.
"Kalian tak apa?" Ucap Pak Tua Boon yang berjalan mendekat pada para penambang itu.
"Ya, kami tak apa!! Tapi salah satu dari kami ada yang kakinya patah dan juga kami lapar..." jelas salah satu penambang itu.
"Beruntung aku membawa berbagai makanan..." Pak Tua Boon mengambil beberapa makanan yang ada dipunggungnya dan memberikan makanan tersebut pada para penambang yang lapar.
Ya, mereka para penambang itu sangat lapar dan dalam sekejap saja mekanan itu telah habis akan tetapi hal itu membuat stamina maupun energi mereka terlihat pulih.
"Hmm... aku melihat kalian baik-baik saja jadi bisakah kalian naik ke permukaan sendirian tanpa bantuanku?" Tanya Pak Tua Boon saat melihat sendiri ***** makan mereka.
Salah satu penambang bertanya, "Apa kau sudah mengalahkan monster itu?"
Pak Tua Boon menatap tajam dan malah balas bertanya, "Apa maksudmu?"
"Jadi kau belum mengalahkan monster itu, rupanya? Satu-satunya alasan mengapa kami bisa terperangkap disini karena dikejar oleh Minotaur yang membawa pedang api..." jelas salah satu penambang.
Pak Tua Boon sekarang menjadi sedikit khawatir atas keselamatan Ragna dan Erinka, "Ini gawat...!!!" Ia yang semula santai sekarang terlihat menunjukan raut wajah serius.
__ADS_1
*****
Dipertarungan Minotaur itu berdiri lagi setelah dihantam oleh sarung tangan besi yang membara dan iapun terlihat makin emosi.
"WOOAARGH...!!!" Ia merangung dengan menggenggam erat pedang apinya lalu secara mendadak berteriak dengan lantang, "Kalian selalu saja membuat kami menderita, dasar manusia sialan...!!!"
Secara spontan Erinka dan Pria dari Black Tiger terkejut saat mendengar kata-kata makluk itu, "Dia dapat bicara...!!!" Ucap keduanya secara serentak.
"Memang kenapa kalau dia dapat bicara?" Tanya Ragna yang tak mengerti.
"Itu artinya dia memiliki kecerdasan dan akan sulit untuk dikalahkan..." jelas Erinka dengan ekspresi wajah geram.
Minotaur itu langsung berlari ke arah mereka bertiga bagaikan banteng yang mengamuk dan mengincar matador.
Akan tetapi kali ini ia menyerang dengan menebaskan pedang bukan dengan tusukan tanduk, "Sllash...!!!" Sebuah ayunan pedang api dilesatkan dan pria dari Black Tiger menangkis dengan telapak tangan besi, "Shrring...!!!"
Terdengar suara nyaring dari dua benda yang saling berbenturan itu bahkan benturannya menciptakan percikan-percikan kembang api.
Kemampuan fisik dari Minotaur jauh lebih unggul dan membuat pria Black Tiger itu perlahan mengalami kelelahan.
"Sudah cukup!!" Ragna menarik krah baju pria itu dan melemparkannya cukup jauh.
"Ragna, pedang yang dibawa minotaur itu adalah item sihir dan sepertinya cukup hebat..."
"Apa maksudmu dan apa rencanamu?" Tanya Ragna.
Erinka berkata, "Item sihir yang digunakan menghasilkan api dan itu sangat berbahaya!! Kita harus memisahkan Minotaur itu dari pedangnya baru berhadapan secara langsung dengannya..."
"Siap, aku mengerti..."
Minotaur mendekati keduanya dan terlihat jengkel, "Apa yang kalian berdua katakan??!!" Iapun mengangkat pedang berlapis apinya dan tanpa ragu menebas, "Sllash...!!"
"DYYEESS...!!!" Keduanya terpisah dan menyerang dari kanan kiri.
Ragna segera mengikat Minotaur dengan kegelapannya dari arah kanan sementara lawan kesulitan untuk bergerak maka Erinka dari arah kiri menyerang dengan tinju berlapiskan api, "Jbbllast...!!!" Minotaur itu terjatuh dan terbakar.
Ragna melepaskan kegelapan yang mengikat minotaur itu dan Erinka mendekati Ragna.
"Apa kita berhasil??"
__ADS_1
"Entahlah..." ucap Erinka dengan sorot mata tajam, iapun terlihat sangat waspada dan merasa ada yang janggal.
Ya, minotaur itu terbakar oleh api merah milik Erinka akan tetapi makluk mitologi itu berusaha berdiri sekuat tenaga.
Iapun menggenggam erat pedangnya dan secara perlahan api yang membakar dirinya terserap ke dalam pedang.
Erinka memasang tatapan tajam, "Sudah ku duga pedang itu adalah item sihir yang menyerap api!!"
"Kalau begitu gawat!! Selama pedang itu ada padanya berarti serangan apimu tidak berguna..." ucap Ragna yang menyadari semua jadi makin susah karena dirinya yang memiliki elemen kegelapan juga lemah terhadap cahaya api.
"Kita harus merebut item sihir itu dulu baru bisa menyerangnya..." ucap Erinka yang terlihat serius.
"Aku juga tau itu!!"
Minotaur itu sangat marah, "Selalu saja kalian para manusia membuat kami menderita!!! Padahal kami hanya ingin hidup damai tapi kalian mengusiknya..."
"Kalian membunuh banyak sekali dari kami dan menjadikan diriku sebagai kelinci percobaan..."
"Aku tak akan mengampuni kalian!! Dasar manusia sialan...!!!" Teriak Minotaur itu dengan menggenggam erat pedang berlapiskan kobar api.
Keduanya tak mengerti akan apa yang dikatakan Minotaur itu akan tetapi mereka sangat waspada mengingat makluk mitologi itu tidak mempan api dan kegelapan Ragna lemah terhadapnya.
"Sllash...!!!" Minotaur itu melesatkan tebasan cepat dari arah samping dengan sekuat tenaga.
Ragna mencoba menahannya dengan kegelapan tapi malah terpental dan lengannya putus, "ARRGGH...!!!" Iapun meringis kesakitan.
"Ragna...!!!" Teriak Erinka yang sangat panik.
"Jangan mendekat!! Tetap waspada..." teriak Ragna pada rekannya itu.
Erinka sebenar sangat khawatir pada kondisi Ragna akan tetapi Minotaur itu berjalan ke arah dirinya dan terlihat sangat marah, "Satu telah tumbang dan sekarang giliaran dirimu..." ucap Minotaur itu pada Erinka.
Erinka benar-benar sangat tak diuntungkan karena musuh membawa senjata sementara dirinya tidak dan juga ia yang mempunyai elemen api dapat diserap oleh pedang milik Minotaur, "Sial..." iapun dalam posisi tak diuntungkan karena dibelakangnya ada dinding tanah yang membuat dirinya tak bisa lari.
"Dengan instingku aku dapat merasakan makluk yang sangat berbahaya ada pada dirimu..." ucap Minotaur itu yang mampu merasakan keberadaan Phoenix yang apa pada tubuh Erinka.
Iapun mengangkat pedang apinya, "Ya, sekarang aku akan membunuhmu, gadis kecil..."
Erinka terdesak dan tak dapat lari akan tetapi Pak Tua Boon muncul dan berada dibelakang punggung Minotaur, "Hey, bung!! Turunkan senjatamu itu..." ucapnya dengan santai.
__ADS_1
Bersambung Ke The Legend Of Ragna Chapter 28 : Lemak Atau Otot