
Ragna berhasil dikalahkan dan salah satu lengannya terpotong lalu kali ini Minotaur itu beralih menyerang Erinka.
Erinka benar-benar sangat tak diuntungkan karena musuh membawa senjata sementara dirinya tidak dan juga ia yang mempunyai elemen api dapat diserap oleh pedang milik Minotaur, "Sial..." iapun dalam posisi tak diuntungkan karena dibelakangnya ada dinding tanah yang membuat dirinya tak bisa lari.
"Dengan instingku aku dapat merasakan makluk yang sangat berbahaya ada pada dirimu..." ucap Minotaur itu yang mampu merasakan keberadaan Phoenix yang apa pada tubuh Erinka.
Iapun mengangkat pedang apinya, "Ya, sekarang aku akan membunuhmu, gadis kecil..."
Erinka terdesak dan tak dapat lari akan tetapi Pak Tua Boon muncul disaat yang sangat tepat.
Ia berada dibelakang punggung Minotaur, "Hey, bung!! Turunkan senjatamu itu..." ucapnya dengan santai sambil memakan kripik kentangnya.
"Menjauh darinya atau kau akan berhadapan denganku..."
Minotaur yang terlanjur sangat marah itu memalingkan wajah kebelakang dan langsung tertawa, "Hahahahahaha...!!! Kau bodoh atau ada dengan wujudmu yang seperti bola itu menantangku sama saja cari mati...!!!"
"Hmm... memangnya kenapa?" Pak Tua Boon menanggapi dengan santai dan kripik kentang yang dimakannya habis lalu ia mengambil camilan lagi dari tas yang ada dipunggungnya.
"Sialan...!!!" Minotaur itu menjadi sangat geram dan menendang Pak Tua Boon bagaikan menendang bola, "Jbbuuak...!!" Pak Tua Boon terlempar membentur dinding tanah hingga membekas.
"...!!!" Ragna maupun Erinka terkejut dengan hal itu.
"Hahahahaha...!!!" Minotaur itu berjalan mendekati Pak Tua Boon, "Itulah akibatnya jika berani menantangku manusia..."
Erinka yang khawatir langsung berlari dan menghadang Minotaur itu dengan meletangkan dua tangan, "Tak akan ku biarkan kau lewat...!!" Ucapnya dengan sorot mata tajam.
"Sialan, apa yang kau lakukan Erinka..." Ucap Ragna yang dikejauhan menjadi sangat khawatir pada apa yang dilakukan rekannya itu.
Minotaur itu nampak semakin geram, "Jangan halangi aku, gadis kecil...!!!!" Iapun memukul lawan.
Erinka hanya terdiam tanpa rasa takut, ia yang telah kehabisan energi tak bisa berbuat apapun selain memejamkan mata dan pasrah.
"Tap...!!" Mendadak Pak Tua Boon berdiri dan menahan pukulan Minotaur itu dengan mudahnya menggunakan satu telapak tangan.
"Apa...!!" Minotaur dan bahkan Ragna yang ada dikejauhan terkejut.
"Kerja bagus, Erinka-chan..."
Erinka perlahan membuka mata dan terkejut begitu melihat Pak Tua Boon menyelamatkan dirinya.
__ADS_1
"Kau bisa mundur sekarang..." ucap Pak Tua Boon dengan tersenyum, "Dan aku akan mengatasinya..."
"Tapi..." Erinka terlihat ragu.
"Sebagai penyihir kelas atas maka aku akan menunjukan kemampuanku..." ucap Pak Tua Boon yang terlihat serius tanpa adanya keraguan.
Awalnya Erinka bimbang akan tetapi pada akhirnya ia menjauh dan memilih percaya pada Pak Tua Boon yang merupakan penyihir kelas atas.
Minotaur itu malah tertawa meski Pak Tua Boon berhasil menahan serangannya, "Hahahahaha...!! Kau mau melawanku? Jangan sombong hanya karena berhasil menahan pukulanku..."
"Hah..." Pak Tua Boon malah menghela nafas, "Kaulah yang terlalu sombong..."
Minotaur menjadi geram, iapun sekali lagi melesatkan pukulan pada lawan, "Siialan...!!" Akan tetapi pukulan itu berhasil ditahan dengan satu tangan Pak Tua Boon yang kekar penuh otot.
Minotaur itu terkejut dan segera melompat kebelakang, iapun menjadi semakin waspada, "Bagaimana mungkin kau bisa menahan pukulan terkuatku?"
"Itu mudah..." jawab Pak Tua Boon singkat.
"Baiklah..." ucap Pak Tua Boon dengan santai, iapun meletakan tas punggungnya ke tanah dan berkata, "Sebagai penyihir tingkat atas akan ku tunjukan kekuatanku..." iapun memasang kuda-kuda.
Minotaur itu terlihat geram dan tak lagi meremehkan lawan meski bentuknya sangat gemuk bagaikan bola.
"Gleg..." Ragna maupun Erinka hanya bisa menelan ludah dan keduanya merasa Pak Tua Boon akan melakukan hal yang luar biasa.
"HIIAA...!!" Secara mendadak Pak Tua Boon terselimuti oleh ledakan energi yang kuat.
Lemak-lemak diseluruh tubuhnya seakan terbakar lalu secara perlahan menyusut dan merubah tubuhnya menjadi kekar.
Ia tak lagi berwujud pria tua gemuk akan tetapi wujudnya yang sekarang bagaikan binaragawan kekar penuh dengan otot.
"Inilah kekuatanku!! Merubah lemak menjadi otot dan merubah makanan menjadi energi..." ucap Pak Tua Boon dengan tegas.
Erinka maupun Ragn menjadi terkejut dengan wujud Pak Tua Boon yang sekarang karena terlalu berbeda, ia terlihat gagah bagaikan bina raga.
Minotaur menjadi sangat geram, "Jangan merasa lebih hebat dariku...!!!" Iapun mengepalkan tangan dan langsung memukul, "Jbbllast...!!!"
Pak Tua Boon menahan dengan mudah menggunakan telapak tangannya dan mengejek, "Owh, hanya sebatas inikah kekuatanmu? Aku jadi kecewa..."
"Sialan...!!!!" Minotaur itu menusukan pedangnya ke tanah dan melesatkan pukulan penuh emosi secara membabi-buta karena tak mau kalah dalam hal kekuatan, "Jbbllast...!! Jbbllast...!!"
__ADS_1
Kekuatannya sungguh luar biasa sampai membuat ruangan bawah tanah itu bergetar hebat.
Erinka terlihat khawatir, "Apakah ini baik-baik saja?"
"Tenang saja!! Ku yakin Pak Tua Boon akan menang..." ucap Ragna dengan kepercayaan diri yang tinggi.
"Bukan itu maksudku!! Pertarungan mereka sangat luar biasa dan mungkin saja bisa membuat tempat ini runtuh..."
"Kita mungkin saja bisa mengalahkan Minotaur itu akan tetapi kita mungkin bisa mati tertimbun jika saja tempat ini runtuh..." ucap Erinka.
Ragna menjadi terdiam dan mulai khawatir, "Yang kau katakan ada benarnya juga..."
*
Kembali ke pertarungan dimana Minotaur terus saja memukul dan mulai kelelahan, "Kalian manusia sangat jahat dan kejam!! Aku sangat membenci kalian semua karena menjadikanku kelinci percobaan..."
"Hanya demi penelitian dan keuntungan kalian berbuat seenaknya terhadap alam...!!!" Teriak Minotaur itu.
Pak Tua Boon berjalan menembus dedebuan dan berkata dengan datar, "Aku tak mengerti akan apa yang kau katakan??"
Minotaur itu menjadi terkejut karena ada lawan yang bisa bertahan dari pukulan brutak miliknya akan tetapi iapun jadi lebih geram dari pada sebelumnya, "Sialan...!!!" Makluk mitologi itu menarik pedangnya lagi dan senjata itu langsung penuh kobaran api.
"Akan ku bunuh kau!!!" Iapun mengayunkan sekuat tenaga.
"DYYEESS...!!" Pak Tua Boon menahan dengan lengannya dan lengannya tak sedikitpun tergores oleh pedang itu.
"Tidak mungkin..." Minotaur itu menjadi terkejut.
Iapun berusaha mengayunkan pedangnya untuk kedua kali akan tetapi Pak Tua Boon menendang lengannya dengan keras sehingga pedang tersebut lepas dari genggamannya.
"Hah..." Pak Tua Boon menghela nafas panjang dan berkata dengan datarnya, "Aku telah memberikan giliran padamu untuk menyerang dan sekarang giliranku membalas..." iapun mengepalkan tangan dan seluruh energinya terfokus pada kepalan tangannya itu.
Minotaur tak peduli lagi dan iapun memukul lagi sekuat tenaga, "HIIAA...!!"
"DYYEESS...!!!" Dua kepalan tangan saling beradu.
"Krak..." terdengar tulang lengan Minotaur patah, "ARRGGH...!!!!" Iapun berteriak kesakitan.
Bersambung Ke The Legend Of Ragna Chapter 29 : Misi Sukses
__ADS_1