
Dipertarungan yang lain.
Ragna dan Erinka sedang bertarung melawan pemimpin ke-6 yaitu Fibel.
Wanita pengguna grimoire sihir itupun sangat geram setelah Ragna menjatuhkannya ke tanah.
Ia mengamuk dan seluruh puing-puing bersama dengan bongkahan tanah melayang diudara.
"Untuk kalian mengalahkanku sama halnya dengan bermimpi..." ucap Fibel dengan sorot mata tajam.
Ragna maupun Erinka juga ikut melayang diudara karena keduanya kehilangan tempat berpijak, "Sial, sekuat apapun serangan kita tetap saja tak mampu menjangkaunya..."
"Ini benar-benar buruk..." ucap Erinka.
"Hah... hah... hah..." Ragna perlahan mengatur nafas dan ia terlihat sangat kelelahan.
Energi yang dimiliki Ragna saat ini sangat menipis sehingga secara perlahan sayap kegelapan yang ada dipunggungnya memudar, "Sial, energiku sudah terkuras habis karena pertarunganku yang sebelumnya melawan pengendali pisau itu..."
"Tiada pilihan lain!! Mau tak mau aku harus menyerahkan pertarungan ini pada Erinka..." gumamnya dalam hati yang terlihat pucat karena energinya hampir habis.
Erinka menyadari ada hal yang tak beres tengah terjadi pada rekannya, "Hey, kau kenapa? Mengapa wajahmu jadi pucat seperti itu?"
"Entahlah, aku juga tak tau!! Mendadak aku jadi tak bertenaga dan seperti hal itu terjadi karena aku kekurangan energi..."
"Erinka sepertinya aku punya kabar buruk!! Kau harus bertarung dengannya seorang diri tanpa bantuanku..." jelas Ragna.
Erinka terdiam.
"Maafkan aku..." Ragna yang tak bisa membantu merasa bersalah.
Erinka terlihat kesal dan berkata, "Jangan minta maaf padaku!! Jika kau tak bisa membantu tak masalah dan kau tak perlu minta maaf karena aku akan mengalahkan wanita itu seorang diri..."
Ragna tersenyum, "Ya, ku yakin kau bisa mengalahkannya..."
"Dasar tak berguna!! Wajahmu pucat jadi istirahat saja sana!!" Erinka berbalik dan ia berkata lagi, "Lihatlah pertarunganku dan nantinya bersoraklah pada kemenanganku..."
Ragna tersenyum lebar, "Siap!!!! Aku akan melihatmu dari jauh!!"
Dengan kobaran sayap api biru secara perlahan Erinka terbang mendekat ke pada lawannya.
"Apa kalian sudah selesai berbincang-bincang?"
"Tentu saja sudah..." jawab Erinka yang menggenggam erat pedangnya dengan kedua tangan dan pedang tersebut langsung terbalut kobaran api.
"Lalu apa yang kalian rencanakan?"
__ADS_1
Erinka tersenyum menyeringai dan berkata, "Itu rahasia dan yang jelas kau akan kami kalahkan..."
"Sombong sekali!!" Ucap Fibel dengan membaca sebuah mantra sihir dari grimoirenya itu.
Puing-puing yang berterbangan perlahan terkumpul kembali pada satu titik lalu membentuk sebuah golem tanah raksasa.
Erinka terbelalak dengan ukurannya, "Besar sekali!! Bagaimana caranya aku mengalahkannya?" Pikirnya yang mulai ragu atas kemenangannya sendiri.
Fibel melayang ke udara dan berdiri tegak diatas kepala golem raksasa itu.
Lalu tanpa diberikan perintah golem raksasa itupun bergerak dengan sendirinya, ia mengepalkan tangan dan langsung saja memukul, "DYYEESS...!!" Beruntung Erinka segera terbang melompat ke belakang akan tetapi pukulan golem raksasa itu membekas pada permukaan tanah.
"Sial, jika saja aku terkena pukulan itu bisa dipastikan tubuhku akan hancur..." pikirnya.
Erinka memusatkan kekuatan fisik pada kedua kakinya lalu melompat tinggi dengan kepakan sayapnya, "HIIAA...!!!" Ia memegang erat pedangnya yang berkobar-kobar dan berniat menyerang Fibel.
Tetapi mendadak telapak tangan golem raksasa itu bergerak menghantam Erinka bagaikan menepis seekor lalat.
Erinka jatuh ke tanah dengan sangat keras, "DYYEESS...!!" Tak berhenti disitu, golem raksasa tersebut kembali mengepalkan tangan lalu tanpa ragu memukul, "DYYEESS...!!" Pukulannya itu sangat kuat sampai-sampai menghempaskan tanah disekitarnya.
Pukulan sang golem raksasa itu kuat dan yang lebih penting lagi kali ini tepat sasaran.
Ragna yang berada dikejauhan kehabisan energi hanya bisa terbelalak ketika melihat rekannya dihantam pukulan batu raksasa itu, "Sial, disaat ia kesusahan dan berjuang mati-matian aku hanya bisa duduk diam dan menonton!!"
"Ugh!!" Mendadak Ragna merasakan rasa sakit yang sangat luar biasa pada bagian dadanya, "Ada apa dengan diriku ini? Mengapa dadaku mendadak sesak lalu terasa sangat sakit?" Ucapnya dengan suara pelan.
Ragna menyadari bahwa rasa sakitnya bukan karena ia kehabisan energi melainkan karena hal lain, "ARRGGHH...!!" Iapun berteriak kesakitan lalu mendadak pandangan matanya berubah menjadi samar-samar.
"Bruuk..." iapun terjatuh ke tanah dan jadi tak sadarkan diri.
Kembali kepertarungan dimana Erinka terkena telak pukulan sang raksasa golem.
Fibel yang berada diatas kepala raksasa golem menatap ke bawah dan bergumam dalam hati, "Apa ia sudah mati?"
"Tidak, ia masih belum menyerah juga..." ucap Fibel yang masih merasakan sedikit energi dari Erinka.
"DHUUAARR...!!!" Mendadak terjadi ledakan api biru tepat pada kepalan golem raksasa yang menghantam si gadis bangsawan angkuh.
Kepalan tangan sampai bagian bahu raksasa golem itu pun hancur lebur karena ledakan api biru, "Luar biasa..." Fibel malah memuji.
"HIIAA...!!!" Erinka dengan sekali lompatan yang dipadukan dengan kepakan terbang melesat ke arah tempat lawan berada.
Raksasa golem berusaha menghentikan pergerakan Erinka dengan hantaman kuat dari telapak tangannya akan tetapi Erinka tak terhentikan.
Ia terbang melesat menghancurkan telapak tangan tersebut dengan tebasan, "Sllash!!!" Erinka terbang melesat tak terhentikan.
__ADS_1
Fibel menjadi waspada akan tetapi Erinka terbang melesat ke angkasa bukan ke arahnya, "Apa!!!! Sebenarnya ia mau kemana?" Pemimpin ke-6 itupun terkejut.
Erinka terbang ke angkasa yang tinggi, ia menyarungkan kembali pedang besarnya lalu memfokuskan energi pada lengan kanannya yang berwarna hitam.
"Ini memang kekuatan pinjaman!!!" Teriak Erinka dan lengan kanannya yang berwarna hitam itu menghasilkan kegelapan lalu secara perlahan kegelapan tersebut membentuk sebuah kepalan tangan yang sangat besar.
"Apa yang akan ia lakukan?" Ucap Fibel dengan mendongak ke atas.
Erinka terbang melesat ke arah lawan dan Fibel menyadari apa yang akan Erinka perbuat dan iapun buru-buru membaca mantra pertahanan yang ada digrimoirenya.
Ya, Fibel terlambat dan Erinka lebih dulu menghantam dirinya dengan kepalan tinju super besarnya, "DYYEESS...!!!" Kepalan tinju itupun menghancurkan kepala raksasa golem.
"HIIAA...!!!!" Erinka terus mendorong sekuat tenag hingga secara perlahan tubuh golem raksasa itu hancur dari atas.
"Inilah kemenanganku!!!!" Teriak Erinka yang terus saja mendorong.
"DYYEESS...!!" Pada akhirnya kepalan tangan Erinka menghantam permukaan tanah dan menciptakan sebuah cekungan luas dan dalam.
"Hah... hah... hah..." Erinka terlihat sangat kelelahan dan iapun perlahan mengatur nafasnya.
Ditengah-tengah cekungan nampak pemimpin ke-6 yaitu Fibel si pengguna grimoire terkapar tak sadarkan diri.
Ia kalah karena terlalu meremehkan lawan dan tak menggunakan kekuatannya yang sebenarnya.
"Tap... tap... tap..." dengan langkah perlahan Erinka berjalan mendekati lawannya dan iapun sangat senang begitu mengetahui lawannya sudah tak berdaya bahkan sudah tak sadarkan diri.
"Aku menang!!!!!" Teriak Erinka dengan lantang penuh rasa senang, "Kau lihat itu, Ragna!!! Aku menang dan kau harus bertepuk tangan untukku!!!"
Erinka sangat senang atas kemenangannya akan tetapi ia tak menyadari bahwa Ragna dikejauhan sudah pingsan tak sadarkan diri.
Ya, sebenarnya apa yang tengah terjadi pada Ragna?
Bersambung Ke The Legend Of Ragna Chapter 139 : Sisi Gelap
******
Pesan Author : kalau gak mau Vote gak papa sih tapi tolong like atau setidaknya komen meski hanya "lanjut" "next" "bagus" atau "up" yang penting bisa support karya ini
Yang intinya komenlah meski satu huruf dan bisa buat autor semangat.
Bukan niatnya maksa tapi author ingin tau aja siapa yang berkontribusi
Trima kasih atas perhatiannya.
*****
__ADS_1