The Legend Of Ragna

The Legend Of Ragna
Chapter 25 : Melawan Minotaur


__ADS_3

Tiga anggota White Tiger yaitu Erinka, Ragna dan Pak Tua Boon menjalankan misi dipertambangan dan mereka harus beradu cepat dengan orang-orang dari guild Black Tiger.


"Tap... tap... tap..." ketiganya melangkahkan kaki secara perlahan ketika menuruni lorong tambang yang begitu curam terutama untuk Pak Tua Boon yang memiliki berat badan berlebihan.


"Kita harus berhati-hati jika tak mau terperosok..." ucap Erinka.


"Kau benar, tanah disini sangatlah licin..." Ragna setuju.


Ketiganya berpegangan pada dinding tambang dan melangkahkan kaki secara pelan-pelan akan tetapi meski sudah sangat berhati-hati, Pak Tua Boon kehilangan keseimbangan dan tergelincir kebawah jatuh secara menggelinding bagaikan bola karena ia sangat gemuk.


"AAAAAH...!!!!"


"Tuan Boon...!!!" Teriak Erinka dan Ragna yang panik.


Keduanya mempercepat langkah kaki akan tetapi Erinka maupun Ragna tetap sangat berhati-hati karena tak mau terjatuh juga.


"Eehh...??!!" Keduanya terkejut karena lorong tambang berubah menjadi bercabang.


"Hey, Erinka!! Menurutmu ke lorong manakah Pak Tua Boon jatuhnya?"


"Mana ku tahu...!!!"


Keduanya mengalami kebingungan untuk memutuskan lorong mana tempat Pak Tua Boon jatuh.


"Hmm... kita harus bertaruh antara lorong pertama atau kedua"


"Kau benar, ayo kita coba lorong yang pertama saja!!" Ucap Erinka dan Ragna setuju saja karena mereka tak punya petunjuk.


Keduanya menuruni lorong lagi dan setelah berjalan cukup jauh dibawah ada tanah datar juga.


"Njiir, Pak Tua Boon tak ada disini jadi kita salah lorong dong..." ucap Ragna dengan menggaruk-garuk kepala bagian belakang.


"Haruskah kita kembali?" Ucap Erinka.


Keduanya terdiam sejenak dan berfikir lalu berkata serentak, "Tidak..."


"Ya, dia adalah penyihir tingkat atas jadi akan baik-baik saja..."


"Yap..." Erinka setuju, "Lagi pula kita sudah berjalan cukup jauh jadi rugi untuk kembali dan juga yang butuh diselamatkan adalah para penambang bukan Pak Tua Boon..." ucapnya dengan datar.


Ragna bergumam dalam hati, "Dasar mata duitan..."


Kedua berjalan lagi.


"Meski Pak Tua Boon adalah penyihir kelas atas tapi dia bagaikan beban saja..." ucap Ragna.


"Hey, tutup mulutmu...!!" Bentak Erinka dengan emosi meskipun dalam hati berkata lain, "Benar juga sih!! Pak Tua Boon itu bagaikan beban saja..."


Keduanya berjalan lagi dan mengalami kebingungan saat lorong bercabang menjadi 3.

__ADS_1


"Nah, sekarang lorong mana yang akan kita pilih?" Ucap Ragna


"Kita pilih yang tengah..." jawab Erinka dengan semangat meski tanpa perhitungan yang jelas.


Ragna berkata dengan entengnya, "Duh, dia memilih secara asal dan firasatku mengatakan kita akan tersesat..."


"Plak...!!" Erinka mengeplak kepala rekannya dari belakang, "Jangan membuatku takut...!!!"


"Iya deh..."


"Sekarang ayo jalan lagi...!!!"


Keduanya melanjutkan perjalanan tanpa ketentuan yang pasti.


*****


Ditempat lain, Pak Tua Boon jatuh ke tanah dengan keras akan tetapi ia tak begitu merasakan rasa sakit karena tubuhnya gemuk yang bagaikan bola itu.


"Duh, aku ada dimana ini?" Ucapnya dengan mencoba berdiri tegak meski agak sulit untuk orang yang gemuk.


Ia malah memeriksa makanan yang ada dipunggungnya, "Sepertinya aman-aman saja..."


Pak Tua Boon mendongak ke atas tempatnya ia jatuh, "Apa Ragna dan Erinka-chan baik-baik saja, ya? Emm... pasti keduanya baik-baik saja!! Mereka kuat dan aku tak perlu khawatir pada mereka..."


Pak Tua Boon melanjutkan berjalan meski seorang diri dengan sibuk memakan cemilan, "Prioritas utamaku sekarang ini adalah menyelamatkan para penambang yang terperangkap..."


Meskipun begitu dengan tubuhnya yang gemuk iapun sangat hati-hati saat berjalan dilorong agar tidak tergelincir.


"Oh..." ucap Pak Tua Boon dengan santainya ketika melihat dihadapannya ada jalan buntu, "Hmm... sepertinya puing-puing bebatuan menutupi jalanku!!"


Iapun menunjukan kemampuannya dengan meningkatkan energi lalu memfokuskan energi tersebut pada lengan kanannya.


Ya, lengan kanan yang semula gemuk penuh lemak secara mendadak berubah menjadi berotot.


"HIIAA...!!!"


"Jbbllast...!!" Pak Tua Boon memukul puing-puing yang ada dihadapannya dan dengan sekali hantam jalan terbuka, "Yah, sepertinya aku akan segera menemukan penambang yang terperangkap..."


Pak Tua Boon kembali berjalan dengan santainya dan kembali memakan camilannya lalu lengan kanan yang semula berotot kembali menjadi lengan gemuk penuh lemak.


"Kuharap Ragna dan Erinka-chan baik-baik saja..." ucap penyihir kelas 'S' itu dengan santainya.


*****


Sementara itu, Ragna dan Erinka terus berjalan dilorong yang gelap dengan api dikepalan tangan Erinka sebagai obor penerangan.


Guncangan-guncangan terjadi dan membuat keduanya berhenti sejenak.


"Kau dengar itu, Ragna?"

__ADS_1


"Ya, tempat ini sepertinya akan runtuh jadi kita harus sangat hati-hati..." ucap Ragna dengan ekspresi serius.


Keduanya kembali berjalan akan tetapi kali ini keduanya jauh lebih hati-hati.


Setelah berjalan cukup lama secara mendadak keduanya mendengar teriakan, "Tolong...!!!"


"Selamatkan kami...!!"


Teriakan itu berasal dari kejauhan dan karena didalam tanah maka suaranya menggema sampai ke telinga Ragna dan Erinka.


"Ragna...!!"


"Ya, aku tau!! Mungkin itu suara dari para penambang yang terperangkap..."


Keduanya merespon cepat dengan segera berlari secepat mungkin ke sumber asal suara seseorang minta tolong itu.


Ya, tak butuh waktu lama mereka sampai disebuah ruangan yang cukup luas meski berada dibawah tanah.


"Ragna...!!" Teriak Erinka melihat orang yang terluka dan ia tengah kehilangan satu lengan kanan.


"Selamatkan dia dengan kemampuan Phoenix yang kau dapat Erinka..." ucap Ragna


Erinka mengamati dengan seksama orang itu yang ternyata bukan penambang akan tetapi merupakan anggota dari guild Black Tiger yang merupakan rival mereka.


Meski dia adalah saingan akan tetapi karena menyangkut soal nyawa maka Erinka tanpa pikir panjang ingin menolongnya.


Darah berceceran dan juga orang Black Tiger itu terlihat sangat kesakitan.


"Fokus..." gumam Erinka dalam hati, iapun yang baru pertama kali menggunakan api Phoenix menjadi sangat berkonsentrasi.


Dan meskipun sudah sangat berkonsentrasi akan tetapi Erinka hanya mampu menggunakan api Phoenix pada ujung jari tangan kanan.


Iapun membakar luka pada lengan kanan yang terpotong itu.


Ya, meski tak dapat menyembuhkan lengan yang terpotong tapi setidaknya Erinka mampu menutup pendarahan dan mengurangi rasa sakit orang itu.


"Fiuh..." Erinka dan Ragna terlihat lega.


Orang yang sekarat itu menunjukan jari ke arah lorong yang lain, "Tolong selamatkan mereka juga!!" Ucapnya yang kemudian tak sadarkan diri.


Erinka maupun Ragna menoleh ke arah yang ditunjukan dan mereka langsung bergerak menuju ke lorong itu.


Lorong itu membawa mereka berdua ke sebuah ruangan dan disana keduanya terbelalak begitu melihat dua orang Black Tiger sedang bertarung melawan makluk mitologi.


Banteng yang berdiri dengan dua kaki dan memegang pedang besar berlapiskan api, "WOOAARRGH...!!!" Makluk itu adalah Minotaur.


Raungannya memekikkan telinga dan terlihat kedua orang Black Tiger itu tengah kesulitan menghadapi minotaur.


Bersambung Ke The Legend Of Ragna Chapter 26 : Dia Dapat Bicara!!

__ADS_1


__ADS_2