The Legend Of Ragna

The Legend Of Ragna
Chapter 99 : Pertarungan Sesama Anggota Guild II


__ADS_3

Setelah mandi dan merapikan diri, mereka bertiga berjalan kaki menuju ke guild White Tiger.


Erinka yang berjalan didepan menjadi sangat kesal karena kedua rekannya bergerak lambat sekali, "Ayolah, percepat langkah kaki kalian!!"


"Maaf saja..." ucap Ragna, "Jalanku jadi lambat kerena Kanna terus menempel padaku..."


"Aku tak mau melepaskanmu!! Aku ingin selalu didekatmu..." ucap Kanna yang menggandeng tangan kanan Ragna.


"Cih" Erinka jadi kesal dan iapun mempercepat langkah kakinya sendiri dan meninggalkan kedua rekannya.


Ragna merasa risih pada Kanna dan ia bergumam dalam hati, "Dasar, gadis ini!! Padahal sebelumnya ia mati-matian mengejar dan ingin menghajarku tapi mengapa sekarang ia jadi dekat denganku sampai lengket bagaikan perangko?"


Kanna malah tersenyum dan memeng erat lengan Ragna meski ia mendapat tatapan jijik dari Ragna.


Mereka terus berjalan hingga mendadak Erinka berhenti didepan bangunan guild White Tiger.


"Ada apa?" Tanya Ragna yang berjalan dibelakang mulai mendekatinya.


Erinka menunjuk lubang didinding bangunan guild White Tiger, "Lihatlah itu!! Dinding guild hancur padahal sebelumnya tidak seperti itu..."


"Oh, benar sekali!!" Ucap Ragna yang memperhatikan dengan seksama, "Sepertinya tembok guild itu baru saja hancur..."


"Apa terjadi masalah?" Sahut Kanna.


"Entahlah, lebih baik kita periksa saja dengan segera masuk..."


"Emm..." Ragna dan Kanna hanya mengangguk setuju.


Lalu mereka bertiga bergerak masuk guild White Tiger.


Sesampainya didalam guild mereka bertiga terkejut karena melihat dinding bangunan hancur berlubang, pintu masuk rusak dan meja kursi berserakan disegala tempat.


"Lihatlah tempat ini!! Sangat berantakan seperti baru saja terkena bagai badai saja..." ucap Ragna dengan entengnya.


"Aku sudah tau dan pasti terjadi sesuatu ditempat ini..."


"Kita tanya saja padanya..." Kanna menunjuk ke arah Sistina yang terlihat sangat depresi, ia duduk disebuah kursi dan menatap Master Mark yang tubuhnya berubah menjadi patung.


Erinka dan Ragna pun setuju untuk bertanya tentang apa yang terjadi sebenarnya pada guild, merekapun berjalan ke arah Sistina.


"Anu... sebenarnya apa yang terjadi pada tempat ini?" Ucap Ragna.


"Ah, kalian rupanya sudah kembali..." Sistina yang depresi baru menyadari keberadaan ketiganya.

__ADS_1


"Tempat ini sangat berantakan dan apa yang telah terjadi?" Erinka mengulangi pertanyaan Ragna.


"Benar, kalian pergi dan merekpun data, ng..."


Kanna memiringkan kepalanya, "Siapa yang datang?"


"Benar juga, kalian anggota baru pasti tak mengenal mereka..."


"Hey, Sistina!! Berhentilah bertele-tele dan jelaskan saja pada kami apa yang telah terjadi ditempat ini..." ucap Ragna.


Sistina menarik nafas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan, "Hah..." iapun mulai menjelaskan pada mereka bertiga, "Yang menyerang guild kali ini bukanlah musuh melainkan anggota White Tiger itu..."


"Apa!!!" Sontak ketiganya terkejut.


"Kalian yang baru bergabung belum mengenal mereka karena mereka merupakan anggota White Tiger yang menjalankan misi 2 tahun lalu dan baru kembali sekarang..."


"Mereka adalah Edward, Albert dan Rumia..."


Ragna yang terkejut bertanya, "Bagaimana bisa sesama anggota White Tiger malah menyerang kita? Apakah mereka telah berubah menjadi jahat?"


"Hmm... mereka sama sekali tak berubah!! Edward merupakan anak angkat Master Mark dan dengan dasar ingin mendapatkan jabatan pemimpin White Tiger iapun menyerang kita..."


"Dan bahkan karena ulah Edward sekarang ini Master Mark terperangkap dalam sihir pembatuan..." Sistina menunjuk ke arah Master Mark yang telah berubah menjadi patung.


Ragna tak percaya dan iapun memperhatikan dengan seksama patung yang ada dihadapan mereka, "Apa benar ini adalah Master Mark?"


"Benar sekali!!"


"Mereka benar-benar kejam..." ucap Erinka yang merasa kasihan pada apa yang menimpa Master Mark.


Kanna menjadi lebih serius, "Lalu apa tindakan kita untuk membebaskan Master Mark dari kondisinya yang sekarang ini?"


Sistina menjelaskan lagi, "Setelah mengutuk Master Mark menjadi patung, Edward lalu pergi dan iapun berjanji akan mengembalikan Master Mark ke keadaannya semula bila kita berhasil mengalahkannya dan mengalahkan Albert dan Rumia..."


"Ia membuat permainan dengan mempertaruhkan nyawa Master Mark karena Edward bilang bila sampai matahari terbenam Master Mark tak juga bebas maka nyawanya tak akan tertolong lagi..."


"Apa!!!!" Ketiganya kembali shock.


"Saat ini Reynhard dan Djarot tengah pergi mencari mereka bertiga dikota dan mungkin saja saat ini mereka telah bertarung satu sama lain..." jelas Sistina.


"Cih" Ragna menjadi sangat kesal, "Kita juga harus bergerak dan mengalahkan ketiganya..."


"Emm..." Erinka dan Kanna mengangguk setuju.

__ADS_1


"Baik, aku juga akan ikut bertarung..." ucap Sistina.


"Memangnya kau bisa bertarung?" Tanya Erinka.


"Asal kau tau saja dulunya aku juga penyihir tipe petarung..." jelas Sistina.


Ragna yang telah membulatkan tekadnya berkata, "Yosh!!! Mari cari mereka dan kalahkan mereka lalu bebaskan Master Mark!!"


"Ya..." jawab ketiganya serentak dan merekapun pergi dari guild untuk mencari ketiganya yang entah dimana mereka berada.


Lalu didalam guild yang tanpa ada seorang pun disana sebuah kejadian aneh perlahan terjadi.


"Krak!!" Secara mendadak tercipta retakan-retakan pada patung Master Mark begitu tiada satu orang pun disana.


*****


Ditempat lain yaitu saluran pembuangan air kota Armenia.


Djarot 'si cyborg' dan si keturunan pahlawan yaitu Reynhard telah menemukan salah satu rekan Edward dan ia adalah Albert.


"Hahahaha..." Albert tertawa lepas dan berkata dengan nada mengejek, "Aku salut kalian bisa mengetahui keberadaanku padahal aku sudah bersembunyi ditempat ini!!!"


Keduanya menjadi geram, "Aku telah memetakan seluruh kota dengan komputer canggih dan dari hasilnya ada hawa panas tak wajar dari bawah tanah lalu aku berasumsi bahwa sumber hawa panas itu mungkin adalah dirimu jadi kamipun memutuskan untuk kemari..." jelas Djarot 'si cyborg'


"Wah, wah, wah, hebat sekali!!" Ucap Albert yang malah terlihat senang, "Aku salut pada kalian..."


Reynhard secara perlahan menarik sebilah pedang yang tersarung dipinggangnya dan menghunuskannya pada Albert, "Berhenti basa-basi!! Kami akan mengikuti permainan kalian..."


"Oh, jadi kalian tak sabaran ingin segera memulai pertarungan, ya?" Sorot mata Albert yang semula santai berubah menjadi tajam, iapun meningkatkan energi dan membuat tempat itupun membuat suhu ditempat itu makin panas.


Ya, saluran pembuangan air itupun menguap karena energi Albert yang meningkat.


Djarot 'si cyborg' dan si keturunan pahlawan Reyhard menjadi sangat waspada, merekapun menyadari bahwa Albert merupakan petarung kuat.


Air ditempat itupun hilang membekas karena menguap, "Khehehe... baiklah, kita langsung saja mulai bertarung..." ucap Albert yang langsung melesat ke arah keduanya.


Reynhard menebas akan tetapi Albert melesatkan cakaran, "Cthing!!!" Serangan merekapun beradu serangan lalu Djarot 'si cyborg' memanfaatkan kesempatan dengan melesatkan tendangan, "Jbbuuak...!!!"


Albert terhempas akan tetapi ia segera berdiri lagi dan tersenyum menyeringai, "Khehehehe... kalian boleh juga"


Ya, pertarungan pertama antara Albert melawan Reynhard dan Djarot baru saja dimulai.


Akan jadi seperti apa pertarungan mereka nanti?

__ADS_1


Bersambung Ke The Legend Of Ragna Chapter 100 : Dragon Slayer Lava


__ADS_2