
Master Mark dan anggota White Tiger yang lainnya memaafkan segala perbuatan buruk yang telah dilakukan oleh Edward dan teman-temannya.
Akan tetapi Edward sendiri masih terdiam membisu dan kebingungan untuk menjawab.
"Kekuatan kalian sangat dibutuhkan jadi bantu kami difestival guild!! Kami tak bisa mengalahkan Black Tiger tanpa kalian..." ucap Master Mark lagi dan kali ini ia mengulurkan tangan.
Edward belum memutuskan lalu Ragna perlahan berdiri tegak dengan dibantu oleh Erinka dan Kanna disamping kanan dan kirinya.
"Hahahaha... mengapa kau ragu?" Ucap Ragna dengan tersenyum lebar
Edward menoleh ke arah Ragna, "Kalian begitu baik padaku dan aku melakukan perbuatan yang sangat buruk jadi aku masih tak bisa memaafkan diriku sendiri..."
"Khi..." Ragna tersenyum menyeringai, "White Tiger adalah rumahku sekarang dan kau bisa menebus segala kesalahan yang telah kau lakukan pada kami dengan ikut menjaga rumahku!! Ya, bantulah kami!!"
Edward terdiam dan termenung lalu setelah beberapa saat iapun menerima uluran tangan dari Master Mark, "Baiklah, aku akan menebus kesalahanku pada kalian dengan ikut berpartisipasi..."
"Khi..." Master Mark tersenyum lebar, "Ya, mari kita bangun White Tiger bersama..."
Sebuah kesepakatan terbentuk antara Edward dan Ragna.
Lalu setelah pertarungan yang panjang itupun para anggota White Tiger kembali ke dalam bangunan guild untuk mendiskusikan sesuatu.
Ya, didalam guild itu hanya ada empat orang saja yaitu Djarot 'si cyborg', Reynhard, Sistina dan Master Mark sementara yang lainnya berada dirumah sakit untuk dirawat.
Master Mark dan Reynhard menatap meja kursi yang berserakan dan hancur, Sistina seperti biasa memasak sementara Djarot 'si cyborg' sibuk mengotak-atik sebuah laptop.
"Hah..." Reynhard menghela nafas panjang dan iapun menggerutu, "Tempat ini jadi kacau balau karena anggotanya sendiri..."
"Yah, mau bagaimana lagi..." sahut Sistina dengan meletakan sepiring makanan dimeja.
Reynhard mengambil kursi lalu duduk dihadapan meja yang ada makanan tersebut lalu memakannya, "Sesekali terbesit dalam pikiranku ingin keluar dari guild ini..."
"Tidak bisa!!!" Bentak Master Mark.
"Iya, bercanda deh..."
Djarot 'si cyborg' yang sedang mengotak-atik sebuah laptop berkata, "Kita dalam masalah yang lebih buruk lagi..."
Ketiganya terkejut, "Hah? Apa maksudmu?" Tanya Reynhard agak kesal, "Jangan memperburuk keadaan, Djarot!!"
"Cih, aku tak bercanda..."
"Katakan saja, sebagai Master White Tiger aku akan bertanggung jawab pada hal buruk seperti apapun..." ucap Master Mark.
Djarot 'si cyborg' yang mengotak-atik laptop itupun berkeringat lalu berkata, "Setelah ku hitung-hitung secara berulang-ulang hutan keseluruhan guild kita mencapai 1.000 keping emas..."
"Apa!!!!" Sontak ketiganya terkejut, "Kau pasti salah menghitung?" Sistina yang biasanya tenang jadi panik.
__ADS_1
"Tidak, aku sudah menghitungnya berulang-kali dan hasilnya tetap saja seperti itu..."
"Bagaimana mungkin hutang kita bisa mencapai sebanyak itu?" Tanya Master Mark yang shock.
"Ya, hutang sebanyak itu berasal dari pajak, misi yang gagal, biaya makan kita, biaya dirumah sakit lalu yang paling banyak adalah kehancuran kota akibat pertarungan kita barusan..."
Setelah paham cara menghitung Djarot 'si cyborg', Master Mark makin shock, "Itu tidak mungkin...!!!"
Reynhard menepuk pundak Master Mark bagian kanan sementara Sistina menepuk pundak bagian kiri, "Ku serahkan semua tanggung jawab ini padamu!!"
"Woiy, gak bisa gitu dong!! Ini hutang kita jadi kita harus menanggungnya bersama..." teriak Master Mark.
Ya, guild White Tiger saat ini mengalami krisis finasial dan terancam bangkrut.
*****
Sementara itu.
Setelah pertarungan berakhir Edward terluka cukup parah akan tetapi berkat kemampuan penyembuhan makluk mitologi yang ada ditubuhnya iapun dengan cepat pulih.
Edward berjalan dilorong rumah sakit, ia sedang menjenguk kedud rekannya yaitu Albert dan Rumia yang sedang dirawat ditempat itu.
"Tok... tok..." Edward mengetuk pintu ruangan tempat keduanya dirawat.
Didalam ruangan Rumia terbaring dikasur sementara Albert duduk disebelahnya dan sedang mengupas sebuah apel.
Edward membuka pintu dan sontak membuat keduanya terkejut, "Tuan muda..." ucap Rumia secara spontan.
"Jangan panggil aku 'tuan muda'. Aku tak pantas menyandang nama itu..." ucap Edward dengan tertunduk.
"Tapi..."
"Kita kalah, ya?" Ucap Albert.
Edward masih tertunduk, "Terima kasih karena telah berjuang dan mengikutiku selama ini. Kalian rekan-rekanku yang sangat berharga dan aku minta maaf karena telah membuat kalian terluka..."
"Anda tak boleh berkata seperti itu!! Semua ini bukan salah anda..." teriak Rumia yang berada ditempat tidur.
Albert berdiri lalu mendekat pada Edward lalu menepuk pundaknya, "Alasan kami berdua mengikutimu bukan karena kau adalah pewaris guild akan tetapi karena kau merupakan teman kami dari kecil..."
"Jadi sudah sewajarnya kita bersama!! Jangan salahkan dirimu bila kami terluka karena hal ini adalah pilihan kami..." ucap pria 'dragon slayer' itu.
"Emm... itu benar!!" Ucap Rumia dengan mengangguk.
Edward sedikit mengangkat wajahnya, "Kalian ini benar-benar tak punya pendirian..."
"Khi..." Keduanya tersenyum, "Jadi setelah gagal mendapatkan posisi Master White Tiger apa yang akan kita lakukan sekarang?"
__ADS_1
Edward terdiam karena berfikir lalu secara perlahan ia mengangkat wajah dan berkata dengan optimis, "3 bulan lagi aku berencana mengikuti festival antar guild dan diacara besar itu mari tunjukan kehebatan kita bertiga!!"
"Jadi apakag kalian setuju pada keputusanku itu?"
"Tentu saja!!" Ucap Rumia.
"Kami berdua akan mengikutimu karena bagi kami kau adalah pemimpin yang paling pantas..." ucap Albert.
Edward tersenyum dan iapun bergumam dalam hati, "Aku benar-benar beruntung memiliki rekan-rekan seperti kalian..."
Ya, Edward dan kedua rekannya telah membuat keputusan untuk ikut festival antar guild dan tentu saja mereka akan berhadapan dengan guild Black Tiger.
*****
Sementara itu dirumah sakit yang sama Ragna masih terbaring ditempat tidurnya, ia terbujur kaku dan tak dapat menggerakan tubuhnya.
"Aduh, sakit sekali!!!! Tubuhku terasa nyeri!!!!" Teriak Ragna dengan lantang sehingga suaranya terdengar ke seluruh penjuru rumah sakit.
"Hadeh, sebenarnya apa yang telah terjadi padamu? Mengapa kondisimu jadi seperti ini?" Tanya Erinka agak heran.
"Akupun tak tau..."
"Emm... anu..." Kanna berfikir lalu mengutarakan apa yang ada didalam kepalanya, "Mungkin kau tak dapat bergerak karena efek dari memakan daging iblis itu..."
"Eeehhh!! Kau memakan daging iblis?" Erinka terkejut.
"Benar, daging iblis itu adalah pemberian dari Kanna..." jawab Ragna.
"Jadi kekuatan apa yang kau dapat dari memakan daging iblis itu?"
"Kekuatan elemen es..."
"Keren sekali!!" Ucap Erinka dengan mata berbinar-binar.
Ragna agak kesal, "Ya, mungkin aku tak dapat bergerak karena efek dari memakan daging iblis itu yang mulai terasa..."
"Hmm... hidungku gatal jadi bisakah salah satu diantara kalian menggaruknya?"
"Tentu saja!!" Ucap Kanna yang menuruti apa mau Ragna.
"Aku juga lapar jadi bisakah kalian menyuapiku?"
"Cih..." Erinka menatap jijik, "Jangan mencari kesempatan dalam kesempitan!! Aku bukan pelayanmu!! Kalaupun kau mau aku menyuapimu maka kau harus membayarku..."
Ragna bergumam dalam hati, "Sialan, kau, wanita mata duitan...!!!"
Satu masalah telah berakhir!!
__ADS_1
Bersambung Ke The Legend Of Ragna Chapter 114 : Lisensi Penyihir II