The Legend Of Ragna

The Legend Of Ragna
Chapter 103 : Imajinasi


__ADS_3

Albert telah dikalahkan oleh Reynhard dan Djarot 'si cyborg'


Lalu dilain tempat Erinka dan Sistina yang semula kesulitan menemukan keberadaan lawan mereka pada akhirnya menemukan titik terang.


Merekapun langsung saja bergerak ke pusat segala buku yang ada dikota Armenia.


Lalu setelah berada tepat didepan perpustakaan terbesar kota, keduanya langsung saja masuk ke dalam.


Kemudian begitu sampai ke dalam perpustakaan itu keduanya langsung diam membisu kehabisan kata-kata, "Apa-apaan ini!!!" Gumam keduanya dalam hati.


Perpustakaan kota yang sekarang sangatlah berbeda daripada sebelumnya karena sekarang ini perpustakaan terbesar itu kosong bagaikan tanah lapang.


Gedung perpustakaan itu sekarang ini seperti daerah rerumputan dengan cahaya terang dari Sang Surya.


Lalu buku-buku tak berada ditempatnya semula melainkan semua buku melayang diudara bagaikan diluar angkasa.


"Sebenarnya apa yang telah terjadi ditempat ini?" Ucap Erinka yang benar-benar tak mengerti.


Sistina berkata, "Rumia ada disini?"


"Jadi sihir seperti apa yang ia gunakan sampai bisa melakukan hal ini?"


"Sihir imajinasi..."


"Hah??" Erinka tak mengerti.


Sistina menjelaskan, "Begini Rumia adalah pengguna sihir kuno yang memungkinkannya dapat menciptakan apa yang ia bayangkan..."


Erinka terkejut dan tak percaya, "Memangnya ada sihir diluar nalar seperti itu?"


"Memang sulit mempercayainya akan tetapi kejadian ditempat ini sudah cukup untuk menjadi bukti bahwa sihir imajinasi benar-benar ada..." jelas Sistina.


"Aku masih tak percaya akan tetapi ku tahu satu hal bahwa kita harus waspada..." ucap Erinka dengan serius.


"Benar sekali!" Sistina setuju pada pemikiran rekannya itu.


Keduanya melangkahkan kaki masuk ke dalam lalu begitu menjauh dari pintu masuk maka pintu masuk itupun menghilang.


"Apa!!!" Erinka terkejut, "Pintunya menghilang?"


"Ini artinya kita tak akan bisa keluar dari tempat ini sebelum Rumia dikalahkan..." ucap Sistina dengan ekspresi serius.


Erinka terdiam karena berfikir dan iapun berkata, "Sinstina, bukankah tempat ini adalah imajinasi dari Rumia jadi bukankah itu artinya ia telah mengetahui keberadaan kita?"


"Entahlah, akupun tak tau..."


"Oh, begitu ya" ucap Erinka


Keduanya berjalan ditanah lapang dataran rerumputan itu dan sama sekali tak melihat seorangpun kecuali buku-buku yang berterbangan dan langit cerah yang berwarna biru.

__ADS_1


"Hah..." Erinka menghela nafas panjang dan menggerutu, "Meskipun kita telah menemukan keberadaannya tapi kita tak kunjung juga bertemu dengannya..."


Sistina berfikir lalu berkata, "Sepertinya tiada pilihan lain kurasa kita harus menghancurkan imajinasinya..."


"Apa maksudmu?"


"Ini hanya pendapatku saja tapi sepertinya kita telah terkurung dalam sebuah penjara imajinasinya..."


"Tempat ini seakan luas tanpa batas akan tetapi sebenarnya tempat ini merupakan sebuah kurungan..."


Erinka masih tak paham, "Aku tak mengerti akan apa yang kau katakan?"


"Lebih baik kau perhatikan..." ucap Sistina dan iapun berlari secepat mungkin maju ke depan.


"Apa yang sedang ia lakukan?" Pikir Erinka.


Sistina yang semula berlari maju pada jarak tertentu langsung menghilang dan muncul dari belakang Erinka.


"Eeehh...!!" Erinka terkejut.


"Sekarang kau mengerti?"


"Ya, aku sangat mengerti..." ucap Erinka dengan sorot mata tajam dan iapun meningkatkan energi.


Lengan kiri Erinka langsung terselimuti kobaran api merah yang menyala-nyala dan iapun menarik sebuah pedang besar yang merupakan item sihir dipunggungnya.


Pedang tersebut juga secara perlahan terlapisi oleh api, "Baik, aku akan menghancurkan dimensi imajinasi ini..." ucap Erinka dengan sorot mata tajam.


Buku-buku yang tertebas terbakar, melayang diudara, saling bersentuhan dan saling membakar satu sama lain.


Langit yang semula terang dan berwarna biru cerah sekarang berubah menjadi merah karena dilangit dipenuhi oleh buku-buku yang berterbangan.


"Sekarang aku tinggal menghancurkan dimensi ini..." dengan dua tangannya Erinka menggenggam sebilah pedangnya dengan posisi mata pedang berada dibawah, "HIIAA...!!!"


"Jlleebb...!!" Iapun menusukan pedangnya pada permukaan tanah sehingga pedang tersebut semakin berkobar-kobar.


Kobaran api itupun membakar permukaan tanah dan menyebar ke segala arah.


Sekarang tak hanya buku-buku yang terbakar tapi tanah tempat keduanya berpijak juga penuh dengan kobaran api.


"Krak!! Krak!!" Perbuatan Erinka itupun memicu kerusakan dimensi lalu langitpun perlahan muncul retakan-retakan.


Erinka menonaktifkan kemampuan sihirnya dan menyarungkan kembali pedangnya, "Hah..." iapun menghela nafas panjang.


"Kau berhasil menghancurkan dimensi ini dan sebentar lagi kita akan keluar dari tempat ini..."


"Ya..." jawab Erinka dengan tegas.


Retakan-retakan disegala tempat itupun makin meluas lalu hancur bagaikan kaca pecah dan kemudian tau-tau keduanya sudah berada diperpustakaan yang sebenarnya.

__ADS_1


Perpustakaan yang buku-bukunya tersusun rapi dirak-rak


"Kita telah kembali..." ucap Erinka.


"Ya..." sahut Sistina.


"Tap... tap... tap..." Rumia berjalan mendekat diantara dua rak buku dan iapun terlihat sedang membaca sebuah buku.


Sistina menjadi sangat waspada dan Erinka yang merasakan aura sihir kuat berasal darinya menatap tajam, "Jadi dia Rumia itu, ya? Baru pertama kali aku bertemu dengannya tapi aku bisa merasakan aura eneri kuat darinya..." gumam Erinka dalam hati dengan sorot mata tajam.


Rumia menutup buku yang ia baca dan dengan entengnya berkata, "Lama sekali!! Aku bahkan sampai selesai membaca satu judul buku..."


Keduanya tak menjawab.


Erinka yang baru setahun yang lalu bergabung belum sekalipun bertemu dengan Rumia dan iapun bergumam dalam hati, "Jadi dia anggota White Tiger yang memiliki sihir imajinasi itu..."


"Baik, kita langsung saja mulai pertarungannya..." ucap Rumia dengan santainya, iapun meletakan buku yang baru saja selesai dibaca pada raknya.


Sistina dan Erinka waspada.


Sistina berada dibelakang sementara itu Erinka berada didepan. Erinka meningkatkan energi sehingga lengan kirinya terlapisi kobaran api, iapun menarik item sihir yang berupa pedang dari punggungnya dan pedang tersebut langsung berbalutkan elemen api.


"Oh, ternyata kau punya elemen api..." ucap Rumia yang seakan meremehkan.


Sistina memperingatkan dengan berbisik, "Hati-hati Erinka..."


"Aku tau"


"Sihir imajinasi miliknya mampu menyerang dari jarak jauh maupun dekat dan juga prinsip menyerangnya tak terlihat..."


"Aku tak mengerti maksudmu akan tetapi sepertinya prinsip kerja dari sihir imajinasi sama seperti sihir Master Sabertooth..." ucap Erinka yang teringat sihir 'Absolute Order' milik Master Elena.


Rumia meningkatkan energi dan iapun menggunakan sihirnya, iapun mengarahkan tangan kanan ke depan lalu menciptakan sebuah pistol dalam genggaman tangan kanannya itu dan menembak, "DOORR...!!! DOORR...!!"


"Cthing!! Cthing!!" Erinka menjadikan pedang besarnya bagai tameng.


"Kau tak apa Erinka?" Tanya Sistina.


"Tentu saja..."


Rumia menyeringai dan berkata, "Hebat juga..." ia dengan imajinasinya perlahan merubah pistol yang ia genggam menjadi sebuah bazoka.


"...!!!!" Erinka dan Sistina terkejut.


"Nah, aku ingin tau bagaimana caranya kalian mengatasi yang ini?" Ucap Rumia yang tanpa ragu menarik pelatuk bazoka.


"WUUSS...!!!" Sebuah misilpun melesat lalu terjadi ledakan besar, "DHHUUAARR...!!"


Dihadapan sihir imajinasi bagaimanakah cara Erinka dan Sistina mendapatkan kemenangannya?

__ADS_1


Bersambung Ke The Legend Of Ragna Chapter 104 : Imajinasi II


__ADS_2