
Rikka si gadis iblis kecil telah berhasil dibawa oleh Hiruko yang merupakan pemimpin divisi ke-9 Batalion Bayangan
Hiruko memborgol kedua tangan Rikka dan iapun menariknya menggunakan sebuah rantai, "Khehehe... tak pernah ku sangka aku bisa menangkapmu!! Sekarang jabatanku akan dipromosikan!!"
"Keberhasilanku sangat luar biasa dan aku tak pernah menyangka Satoru-senpai akan tewas dalam misi kali ini.."
Iapun menatap ke belakang dan terlihat sangat kesal saat melihat Rikka hanya diam saja dan terlihat murung, "Hey, jangan diam saja!! Katakan sesuatu!!"
Rikka tak menjawab, "Cih, kau merusak mood ku..." ucap Hiruko dengan menarik rantai yang mengikat borgol Rikka secara paksa dan hal itupun membuat Rikka terjatuh tersungkur.
"Hahahaha...!!" Hiroku tertawa lepas serasa menikmati penderitaan Rikka.
Gadis iblis kecil itupun berusaha berdiri lagi akan tetapi sekali lagi Hiroku menarik rantainya secara paksa, "Bruuk...!!!" Rikka terjatuh dan kali ini perbuatan Hiroku lebih parah karena berlari dengan menyeret gadis iblis kecil itu.
"Hahahaha...!!" Hiroku tertawa lepas seolah tak peduli pada kondisi Rikka meski ia mati sekalipun.
Hiroku terus berlari berlari hingga sampai ditengah hutan dimana disana terdapat perkemahan pasukan dari Batalion Bayangan.
Meski perkemahan tapi mereka membuat sebuah benteng dari kayu yang terbentuk mengitari area perkemahan.
Hiroku berada dihadapan gerbang pintu masuk dan berteriak, "Buka pintunya!!!"
Dari atas benteng seorang penjaga melihat keberadaan Hiruko dan berteriak, "Itu tuan Hiruko!! Dia telah kembali jadi cepat buka pintunya!!"
Ya, secara perlahan pintu gerbang pintu masuk perkemahan terbuka dan beberapa pasukan menyambut ke datangan Hiruko, "Selamat datang kembali!!" Ucap salah satu dari mereka dengan membungkuk.
Hiruko tersenyum menyeringai lalu tertawa lepas, "Hahahaha... lihatlah pencapaianku aku berhasil menangkap kembali anak iblis yang melarikan diri...!!!"
"Apa!!!" Sontak anggota pasukan Batalion Bayangan yang ada disana terkejut saat melihat Hiroku membawa kembali Rikka.
Dengan tersenyum bangga Hiruko memberikan perintah, "Cepat masukan dia ke penjara sebelum dibawa ke markas pusat...!!"
"Siap...!!" Jawab mereka serentak.
"Ngomong-ngomong apakah mereka berdua ada ditempat ini?"
Salah satu dari mereka menjawab, "Ya, mereka berdua ada disini, tuanku!!"
"Mereka kembali lagi kemari setelah dari markas pusat..."
Hiroku nampak kesal dan bergumam dalam hati, "Sialan, hanya karena mereka berdua pemimpin ke-5 dan ke-6 mereka mendapatkan perlakuan yang spesial!! Hal itu membuatku sangat iri..." iapun kemudian berjalan masuk ke perkemahan.
Sementara itu Rikka si anak iblis dibawa mereka ke penjara diperkemahan tersebut sebelum dibawa ke markas pusat.
*****
__ADS_1
Waktupun berjalan dengan sangat cepat dan tak terasa sudah 2 hari berlalu sejak Rikka diculik oleh mereka dari pasukan Batalion Bayangan.
Selama 2 hari, Ragna dan rekan-rekannya berkemah ditepi sebuah sungai akan tetapi hari yang telah dijanjikan telah tiba.
Mereka berkemas dan telah siap pergi menuju markas musuh lagi.
"Yosh!!! Mari berangkat!!!" Teriak Ragna dengan semangat, ia dalam kondisi 100 persen segar bugar karena luka-luka dan staminanya telah pulih setelah pertarungan dua hari yang lalu.
"Hah..." Erinka menghela nafas dan berkata, "Mari kita serang balik mereka orang-orang yang mengincarku..."
"Ya, dan kita akan mendapatkan kembali Rikka..." sahut Kanna yang kini juga bersemangat.
Jack Rakan yang merupakan pemandu mereka bertiga menghembuskan asap rokok, "Hah..." setelah itu ia merokok lagi dan bergumam dalam hati, "Luar biasa!! Pemulihan ketiga anak ini tak bisa dipercaya!!"
"Mereka pulih seperti sedia kala hanya dengan istirahat selama 2 hari..." bahkan Komandan Pasukan Sihir itupun heran pada kemampuan pemulihan ketiganya.
Jack Rakan berkata dengan entengnya, "Anak-anak, sebelum kita berangkat ada sesuatu yang harus kalian tau..."
Ketiganya memasang ekspresi wajah serius, "Memangnya hal apa yang harus kami ketahui?" Tanya Ragna.
"Hah..." Jack Rakan menghembuskan asap rokok lalu merokok lagi, "Lawan kita adalah organisasi ilegal yang tak segan membunuh lalu yang lebih penting lagi aku telah melakukan pengamatan pada mereka..."
"Dua pemimpin mereka sangatlah kuat yang masing-masing saja mungkin setara atau lebih kuat dariku jadi semisal kalian bertemu dengan mereka cepatlah lari dan jangan pernah terpikir untuk bertarung melawan mereka berdua..."
Ketiganya terdiam.
"Ya, aku akan lari saja..." sahut Erinka
"Jika lari adalah pilihan terbaik maka tak masalah bagiku..." ucap Kanna.
Jack Rakan menghembuskan asap rokok dan merokok lagi, "Yah, karena kalian bertiga sudah mengerti kalau begitu mari kita berangkat..."
"Siap...!!!" Jawab ketiganya serentak dengan penuh semangat.
Ketiganya mengikuti Jack Rakan dari belakang dan mereka memulai perjalanan dengan menuju hulu sungai.
Mereka bertiga melangkahkan kaki secara hati-hati karena daerah sungai dipenuhi oleh bebatuan yang licin dan tentu saja mereka juga harus mewaspadai aliran air yang begitu deras.
Ya, tak hanya itu mereka berempat juga harus hati-hati terhadap predator yang ada disungai seperti buaya dan ular.
"Hey, apakah tidak ada jalan lain saja?" Tanya Ragna.
Jack Rakan menjawab dengan malas, "Sudahlah, ikuti aku saja!! Ini adalah cara tercepat menuju kamp perkemahan mereka..."
"Cih..." Ragna agak kesal akan tetapi ia tak bertanya lagi.
__ADS_1
Meski butuh waktu lama tapi keempatnya sampai dibawah air terjun yang arusnya deras sekali.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan?" Tanya Erinka.
"Hah? Apa? Aku tak bisa mendengarmu karena suara air yang sangat berisik...!!" Teriak Ragna meskipun begitu tetap saja kata-katanya tak dapat didengar oleh Erinka maupun Kanna.
Jack Rakan menunjuk ke atas lalu berkata dengan pelan secara perlahan, "Kita akan naik..."
"Apa!!!!" Sontak ketiganya terkejut setelah mengetahui maksud ucapan Jack Rakan lewat gerakan bibirnya.
"Kau pasti bercanda!!!!" Teriak Ragna akan tetapi tak juga terdengar.
Jack Rakan tak mempedulikan ketiganya dan iapun langsung melompat pada bebatuan lalu secara perlahan menuju ke atas.
"Dia bersungguh-sungguh..." pikir ketiganya setelah melihat tindakan dari Jack Rakan.
Erinka meningkatkan energi lalu mengembangkan sepasang sayap biru milik burung api Phoenix dan iapun melesat ke atas dengan sekali pijakan yang dipadukan dengan kepakan sayapnya, "Wuuss..."
Kanna naik ke punggung Ragna lalu Ragna sendiri melapisi kedua lengannya dengan kegelapan, iapun memanjangkan lengan kegelapan lalu meraih sebuah batu yang ada diatas kemudian melesat cepat bagaikan pegas, "Wuuss..."
Jack Rakan yang sedang mendaki air terjun bergumam dengan suara pelan, "Sial, aku telah ditinggalkan dan anak-anak itu sampai duluan diatas sana..."
Ya, meski membutuhkan waktu agak lama tapi akhirnya Jack Rakan sang Komandan Pasukan Penyihir itupun sampai diatas air terjun.
Dia sudah ditunggu oleh Ragna dan rekan-rekannya.
"Lama sekali!!!" Ucap Ragna.
"Benar, sekarang katakan pada kami dimana markas mereka?" Ucap Kanna.
"Kau tak bohong, 'kan?" Ucap Erinka agak ragu.
Dari atas air terjun Jack Rakan menunju ke bawah yang letaknya ditengah-tengah hutan dan iapun berkata dengan malasnya, "Markas mereka ada disana!!!"
"Apa!!!" Sontak ketiganya terkejut karena letak dari markas musuh masih sangat jauh.
Bersambung Ke The Legend Of Ragna Chapter 127 : Menyusup II
******
Pesan Author : kalau gak mau Vote gak papa sih tapi tolong like atau setidaknya komen meski hanya "lanjut" "next" "bagus" atau "up" yang penting bisa support karya ini
Yang intinya komenlah meski satu huruf dan bisa buat autor semangat.
Bukan niatnya maksa tapi author ingin tau aja siapa yang berkontribusi
__ADS_1
Trima kasih atas perhatiannya.
*****