The Legend Of Ragna

The Legend Of Ragna
Chapter 130 : Lari


__ADS_3

Kamp perkemahan milik pasukan Batalion Bayangan itupun berjalan seperti hari-hari biagsa penuh ketenangan akan tetapi kali ini akan terasa berbeda.


Mendadak tanah bergetar dan semua itu dirasakan oleh semua pasukan Batalion Bayangan yang sedang berkemah disana.


"Apa ini?"


"Tanahnya bergetar?"


"Apakah ini gempa?" Ucap orang-orang yang berada ditenda bagian dapur, merekapun paling terdampak getaran.


Getaran semakin terasa kuat dan hal itupun membuat para penjaga pintu masuk ruang bawah tanah merasa sangat curiga pasalnya terdengar suara berbagai macam lolongan dari penjara ruang bawah tanah.


"Hey, firasatku buruk!!"


"Aku juga merasakan firasat buruk tapi itu tak mungkin, 'kan?" Merekapun cemas dan bergegas memeriksa ruang bawah tanah.


Tetapi belum sampai mereka mengecek mendadak berbagai macam makluk yang ditahan keluar serentak dari pintu masuk.


"DYYEESS...!!!" Saking banyaknya makluk yang keluar terasa bagaikan ledakan.


Para penjaga pintu bawah tanah itupun terhempas dan mereka pun menjadi korban pertama dari keganasan para makluk yang ditahan.


Ya, makluk yang ditahan itu lepas dan mereka berlarian ke segala arah lalu menghancurkan segala apa yang mereka lalui dan hal itupun membuat kekacauan yang sangat luar biasa.


Sebanyak apapun pasukan yang berusaha menghentikan kekacauan itu tetap saja mereka sangat kerepotan.


"Tap... tap... tap..." seorang pasukan berlari dengan sangat tergesa-gesa secepat mungkin, ia menuju ke salah satu tenda yang ukurannya sangat besar dan masuk ke dalamnya tanpa ragu.


"Tuan..."


Tenda besar itu merupakan tenda milik pemimpin ke-5 dan ke-6 Batalion Bayangan.


"Getaran apa ini?" Tanya Fibel, seorang wanita yang merupakan pemimpin ke-6.


"Hah... hah... hah..." pria itupun masih mencoba mengatur nafasnya, "Tuan... ini bukan getaran biasa!! Dan ini bukanlah gempa melainka kejadian yang sangat buruk!!"


"Semua makluk yang telah kita kumpulkan dan telah kita tahan lepas semuanya!!"


"Apa!!!!" Sontak dua pemimpin yang ada disana itupun terkejut mendengar penjelasan tersebut.


"Bagaimana mungkin?" Ucap pemimpin ke-6 yaitu Fibel.


"Penyebab kejadian mengerikan ini bisa dicari nanti dan yang lebih penting segera tangkap mereka semua!!" Pempimpin ke-5 segera memberikan perintah untuk bergerak cepat.


"Siap!!!!" Jawab pria itu yang kemudian pergi.


Pemimpin ke-5 bergumam dalam hati, "Pasti ada orang yang sengaja menyabotase semua ini tapi siapa?"


"Kurasa kita harus turun tangan mengatasi kekacauan ini..." sahut Fibel.


"Ya..." pemimpin ke-5 setuju.


*****

__ADS_1


Beberapa saat yang lalu.


Diruang bawah tanah Ragna berfikir lalu mendadak tersenyum menyeringai, "Hehehehe... aku telah menemukan sebuah cara agar kita bisa melarikan diri dari tempat ini!!!"


"Cara yang akan kita gunakan sangat heboh!!!" Ucapnya dengan ekspresi senang.


Rikka memiringkan kepala dan tak mengerti apa maksud yang dikatakan oleh Ragna, "Sebenarnya apa rencanamu itu, kak? Mengapa kau sangat senang?"


"Hehehe... jangan bertanya lagi!! Cepat naik saja ke punggungku!!"


Rikka tak mengerti akan tetapi ia menuruti apa yang dimau Ragna tanpa bertanya lagi.


Ragna yang telah mendapatkan kunci-kunci dari Hiruko langsung saja membuka kurungan-kurungan makluk tahanan.


Ya, begitu lepas mereka langsung mengamuk dan bertarung satu sama lainnya yang tentu saja hal itu membuat tempat itu hancur parah.


Setelah bebas makluk-makluk yang menggila itupun mulai keluar dari ruang penjara.


Ragna keluar dari dalam tanah dengan membawa Rikka dipunggungnya dan iapun sangat senang ketika melihat makluk-makluk yang telah dibebaskannya membuat kekacauan hebat dan sangat merepotkan bagi Pasukan Batalion Bayangan.


"Hehehehe... rasakan itu!!" Ucap Ragna tersenyum puas saat melihat kesusahan mereka.


"Oh, jadi ini rencana sebenarnya dari kakak?"


"Yap, dan aku sangat menikmatinya..." ucap Ragna dengan entengnya.


"Aku jadi kasihan saat melihat mereka..."


"Kau terlalu baik, Rikka..." ucap Ragna dan iapun berkata lagi, "Kau tak perlu mengkhawatirkan mereka karena dengan jumlah pasukan mereka yang sangat banyak semua kekacauan ini akan dapat dengan cepat mereka atasi..."


"Kita harus segera memanfaatkan keadaan dan segera lari dari sini..." ucap Ragna.


"Emm..." Rikka mengangguk dan setuju saja.


Keduanya bergegas berlari pergi dari tempat itu.


*****


Sementara itu.


Jack Rakan bersama dengan Erinka dan Kanna sudah berada diluar area perkemahan, mereka bertiga sedang mengamati dan terkejut ketika melihat keributan yang terjadi.


"Apa yang terjadi didalam sana?" Ucap Erinka.


"Aku juga tak tau tapi sepertinya mereka sangat berisik!! Mereka seakan diserang dari dalam..." ucap Kanna.


"Bersiaplah!!" Ucap Jack Rakan dengan malasnya sambil menghembuskan asap rokok dari mulutnya, "Sepertinya rekan kalian telah bertindak..."


"Kenapa kau bisa seyakin itu?" Tanya Kanna.


Jack Rakan berkata dengan malasnya, "Ya, entahlah... hanya firasatku saja..."


"Cih..." Erinka agak kesal pada ucapan Jack Rakan yang tak jelas itu akan tetapi ia juga merasakan firasat yang sama yaitu Ragna mulai melakukan pergerakannya.

__ADS_1


******


Lalu diruang bawah tanah sendiri, Hiruko yang sebelumnya dihajar habis-habisan oleh Ragna secara perlahan bangkit lagi.


Ia terlihat sangat kesal saat melihat ruang penjara hancur lebur dan semua subyek penelitian telah melarikan diri, "Sialan, bocah sialan itu tak akan ku ampuni!!"


"Ia telah menghajarku lalu membuat keributan ditempat kami!! Akan ku pastikan mencongkel kedua bola matanya, ku potong kaki tangannya lalu ku pajang tubuhnya pada tiang pancang agar meski telah mati ia tetap menyesali segala perbuatannya..." ucap pemimpin ke-9 itu dengan langkah perlahan berjalan keluar tempat itu.


Hiruko bertambah emosi saat berada diluar, ia melihat kekacauan semakin menjadi-jadi karena subyek penelitian mengamuk tak terkendali, "Bunuh!!! Aku akan membunuh bocah-bocah itu tak peduli apapun yang terjadi!!!"


Ya, pemimpin ke-9 Batalion Bayangan itu emosinya tengah dalam keadaan memuncak.


*****


Lalu Ragna yang menggendong Rikka berlari tanpa ada yang menghalangi.


Mereka berpakaian seperti musuh dan juga ditengah-tengah kesibukan musuh yang tengah mengatasi keributan membuat keduanya leluasa bergerak.


"Sial..." Ragna terlihat sangat kesal.


"Mungkin kita harus lewat kanan..." ucap Rikka.


Keadaan memang mendukung keduanya untuk melarikan diri akan tetapi sialnya Ragna melupakan jalan kembali dan kini keduanya tengah tersesat.


"Menyebalkan!! Jalanan antar tenda berubah karena kekacauan yang dibuat oleh makluk-makluk yang sebelumnya ditahan..." ucap Ragna.


"Kakak!! Mungkin kita harus ke kanan..."


Ragna mengikuti perkataan Rikka.


"Ke kiri kakak..." ia mengikuti apa maunya Rikka akan tetapi setelah berulang kali mengikuti petunjuknya Ragna menyadari bahwa dirinya hanya berputar-putar ditempat saja.


"Kita hanya berputar-putar mengitari tempat ini jadi sebenarnya kau tau jalan keluarnya atau tidak?"


"Hehehe... maaf, mereka membawaku saat malam hari jadi aku tak begitu ingat jalan kembali!!" Ucap Rikka dengan tersenyum.


"Dasar!!" Ragna agak kesal dan iapun berfikir lalu bergumam dalam hati, "Aku bisa saja terbang akan tetapi hal itu bisa membuat mereka menyadari keberadaan kita..."


"Sayang sekali kemampuan teleport milikku hanya bisa ku gunakan untuk diriku sendiri dan tak bisa digunakan untuk membawa Rikka..."


Ya, mereka memang berhasil kabur dari ruang tahanan akan tetapi kali ini Ragna dan Rikka sedang kesusahan untuk keluar dari markas musuh!!


Bersambung Ke The Legend Of Ragna Chapter 131 : Aku Sangat Marah!!


******


Pesan Author : kalau gak mau Vote gak papa sih tapi tolong like atau setidaknya komen meski hanya "lanjut" "next" "bagus" atau "up" yang penting bisa support karya ini


Yang intinya komenlah meski satu huruf dan bisa buat autor semangat.


Bukan niatnya maksa tapi author ingin tau aja siapa yang berkontribusi


Trima kasih atas perhatiannya.

__ADS_1


*****


__ADS_2