
Sebelum membaca karya ini author minta tolong untuk pada kalian untuk 'like' ataupun 'vote' agar meningkatkan ringking cerita ini.
Ya, selamat membaca karya ini dan author ucapkan terima kasih pada pembaca setia 'The Legend Of Ragna'
Hanya itu pesan dari author sekian dan terima kasih.
Selamat membaca!!
*****
Master Mark lengah dan terperangkap dalam rencana licik milik Edward, ia yang sekarang telah berubah menjadi patung.
"Tap... tap... tap..." dengan langkah perlahan Edward berjalan ke arah patung Master Mark lalu dihadapan patung Master Mark, ia berkata dengan tersenyum lebar, "Sempurna sekali!!"
"Hahahaha...!!" Edward tertawa lepas penuh dengan kepuasan, "Kau terlalu meremehkanku pak tua dan sekarang kau telah kalah..."
Dilain sisi mendadak Sistina keluar dari guild dan ia sangat terkejut melihat Master Mark telah berubah menjadi patung, "Master...!!!!!!" Teriak si gadis bartender itu sekeras mungkin.
Karena panik gadis itupun langsung berlari mendekat ke patung Master Mark.
Edward menatap ke arah Sistina lalu berkata dengan entengnya, "Tenanglah, Sistina!! Ini hanya permainan..."
Sistina menoleh ke arah Edward dengan sorot mata tajam dan berkata, "Apa maksudmu, sialan!!!!"
"Hahahaha... aku suka pada sorot matamu yang seperti itu!!!" Ejek Edward.
"Berhenti basa-basi!! Cepat kembalikan Master Mark ke semula!!"
"Sabarlah, kau harus mengikuti permainanku bila ingin menyelamatkan Pak Tua ini"
"Cih, kau benar-benar brengsek!!"
"Hahahaha... ya, memang seperti itulah diriku!!"
Dengan sorot mata tajam, Sistina bertanya, "Sekarang permainan seperti apa ingin kau lakukan..."
"Simpel saja, kami akan bersembunyi dikota ini jadi temukan kami bertiga lalu bertarung dan jika kalian sudah mengalahkan kami bertiga maka aku akan membebaskan Master Mark..."
"Tapi tentu saja kalian harus melakukannya dengan cepat karena Master Mark hanya bisa bertahan sampai matahari terbenam..."
"Ya, jika kalian terlambat mengalahkan kami maka Master Mark akan mati dalam keadaan mematung..." ucap Edward yang perlahan memudar bersama dengan hembusan angin.
Edward telah pergi dan hal itupun membuat Sistina sangat geram, "Menyebalkan sekali!!!!" Teriaknya penuh emosi.
Lalu disaat yang bersamaan Reynhard dan Djarot 'si cyborg' muncul dari dalam guild White Tiger.
"Dimana Edward?" Tanya Djarot 'si cyborg'
"Cih, dua rekannya juga mendadak menghilang ditengah-tengah pertarungan..." sahut Reynhard
__ADS_1
"Ini gawat teman-teman!!" Ucap Sistina, "Lihatlah sekarang ini Master Mark telah berubah menjadi patung...
"Apa!!!" Sontak keduanya terkejut, "Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?" Tanya Djarot 'si cyborg'
"Dengan sebuah mantra sihir, Edward berhasil mengutuk Master Mark menjadi batu..." jelas Sistina.
"Lalu apa yang harus dilakukan agar kutukan pada Master Mark hilang?" Tanya Reynhard.
"Cih, si kunyuk itu membuat permainan sederhana. Ia dan kedua rekannya saat ini sembunyi dikota pada tiga titik yang berbeda..."
"Edward berjanji akan membebaskan Master Mark bila kita mengalahkannya berserta dengan dua rekannya..." jelas Sistina lagi.
"Ini buruk!!" Ucap Djarot 'si cyborg'
"Memang apanya yang buruk?" Tanya Sistina.
"Meskipun kita berhasil mengalahkan ketiganya tiada jaminan Edward akan menepati janjinya!! Kemungkinan terburuk Master Mark akan mati dalam keadaan menjadi patung..." ucap Djarot.
"...!!!" Reynhard dan Sistina terkejut, mereka menyadari bahwa apa yang dikatakan Djarot sangat mengerikan bila terwujud.
Reynhard menjadi semakin geram, "Meskipun begitu tak mungkin kita akan diam saja..."
"Ya, kita akan berjuang semaksimal mungkin!! Kita akan mengikuti permainan mereka..." ucap Djarot 'si cyborg' dengan tatapan serius.
"Kalau begitu kita harus cepat..." ucap Reynhard.
"Aku mengerti..." sahut Reynhard dengan memperhatikan sekitar
Ya, ketiganya kemudian membawa tubuh Master Mark ke dalam guild agar tak menjadi tontonan banyak orang.
*****
Sementara itu.
Ragna yang telah membuat Kanna kesal masih terus dikejar dan keduanya masuk gang-gang sempit yang ada diantara sela-sela bangunan.
"Sial, gadis itu belum menyerah juga..." gumam Ragna dalam hati setelah menoleh ke belakang, iapun tersandung sebuah kaleng akan tetapi segera berdiri lagi dan hal itu semakin memperpendek jarak antar keduanya.
"Sial, kenapa aku harus tersandung sih..." gumamnya dalam hati yang terus berlari.
Ragna terus berlari tanpa melihat arah dan tanpa sengaja ia menginjak ekor kucing yang hal itu tentu saja membuatnya terkejut.
"Sial, kenapa harus ada kucing dihadapanku..." gerutunya dalam hati saat jarak keduanya makin dekat.
Kanna mempercepat langkah kakinya lalu dengan gerakan sangat cepat ia mampu berlari pada dinding bangunan dan melompat lalu muncul tepat dihadapan Ragna, "Tap...!!"
"Kau tak bisa lari lagi!!!"
"Cih..." Ragna kesal dan terkejut ketika mengetahui Kanna mampu mengejar.
__ADS_1
"Kau akan ku hajar..." ucap Kanna dengan sorot mata tajam, ia menggenggam erat pedangnya, melesat lalu melancarkan tusukan.
"Zink!!" Sejengkal saja mata pedang Kanna hampir menusuk sasaran tetapi Ragna dengan cepat menggunakan kemampuan teleport dan berlari lagi.
"Sial, kemampuan teleport benar-benar merepotkan dan hal itu semakin membuatku kesal padanya..." gumam Kanna dalam hati yang kemudian mengejar Ragna kembali.
Dibelakang keduanya ada Erinka yang mengejar dan iapun terlihat kelelahan, "Hah... hah... hah..." nafasnya tak beraturan dan keringat mengucur dari dahi mengalir ke pipi.
"Sial, keduanya yang hidup ditengah hutan belantara bagaikan dua binatang saja yang tak memiliki rasa lelah..." gerutunya yang terlihat kesal sekali.
Erinka tersenyum menyeringai, "Yah, apa boleh buat..." iapun meningkatkan energi dan mengembangkan sepasang sayap api biru, "Aku terpaksa harus menggunakan kekuatan Phoenix..."
"WUUSS...!!" Iapun terbang mengejar keduanya.
*
Lalu Ragna mulai sangat jengkel pada Kanna.
"Menyebalkan sekali!!" Ragna dengan kemampuannya menciptakan sebuah lengan bayangan dari punggungnya.
Lengan bayangan itupun mencengkram sebuah tong sampah lalu melemparkannya ke belakang.
Kanna terkejut ketika sebuah tong sampah mengarah padanya dan iapun menendang balik tong sampah tersebut, "Jbbuuak...!!"
Isi dari tong sampah itupun berceceran dan jatuh kena Kanna sehingga ia bertambah kotor sekali lalu tong sampah tersebut jatuh tepat dihadapan Kanna, "Jbbuuak!!" Kanna menendangnya lagi sehingga benda itu melesat lagi ke depan.
"Apa!!!" Ragna terkejut ketika menoleh ke belakang dan melihat tong sampah mengarah padanya.
Tong sampah itupun langsung jatuh tepat mengenai kepala Ragna dan membuatnya kehilangan arah dalam berlari.
Iapun menabrak sebuah tembok dan jatuh karena kepalanya tertutupi oleh tong sampah, "Kena juga..." ucap Kanna yang mengejar.
Ragna mencoba berdiri lagi akan tetapi Kanna menendang punggungnya dari belakang, "Jbbuuak!!" Ragna terjatuh lagi dan Kanna buru-buru naik ke punggungnya.
"Sekarang kau tak bisa kemanapun..." ucap Kanna.
"Zink!!" Ragna menghilang dengan kemampuan teleport.
"Eehh...!!" Kanna terkejut Ragna masih bisa lolos.
"Zink!!" Tetapi Ragna muncul lagi tepat dihadapan Kanna, ia terlihat sangat kesal, "Aku tak akan pergi kemanapun dan karena aku sudah muak denganmu maka akan ku hadapi kau..."
Kanna secara perlahan berdiri tegak, "Oh, begitu!! Aku juga akan menghajar orang yang telah mengejekku..."
"Siapa yang mengejek? Aku hanya mengatakan yang sebenarnya bahwa dirimu bau..." ucap Ragna dan membuat Kanna makin kesal.
Ya, pada akhirnya Ragna tak lari lagi dan memutuskan untuk menghadapi Kanna secara langsung
Bersambung Ke The Legend Of Ragna Chapter 97 : Mandi Dan Rapi
__ADS_1