
Beberapa saat sebelumnya setelah pertarungan melawan Sang Kraken selesai.
Pemimpin ke-8 Batalion Bayangan yaitu Satoru tengah berada disebuah bar yang semula menjadi area pertarungan.
Ia berdiri tepat dihadapan mayat Koga yang sebelumnya dikalahkan oleh kombinasi Ragna dan Kai.
"Yang benar saja!! Aku bahkan tak pernah menyangka bahwa Koga sekalipun dapat dikalahkan oleh bocah-bocah itu..." ucapnya dengan penuh rasa kesedihan karena rekannya telah tewas.
"Lain kali akan ku pastikan nyawa bocah-bocah itu mati ditanganku..."
Seekor burung gagak mendadak terbang masuk melalui jendela dan burung tersebut hingga diatas sebuah meja.
"Ah..." Satoru menyadari keberadaan burung gagak itu.
Burung itupun bicara, "Bagaimana, apakah kalian berhasil mendapatkan Burung Api Phoenix?"
Satoru tak merasa terkejut sedikitpun meski dihadapannya ada burung yang dapat berbicara, "Sayang sekali!! Kami mengalami kegagalan total dan bahkan Koga telah gugur dalam pertarungan..."
"Apa!!! Bagaimana hal itu bisa terjadi?"
Satoru menjelaskan dengan serius, "Ada bocah yang cukup hebat dan dialah yang membuat semuanya berubah menjadi kacau..."
"Bocah itu memiliki sihir unik yaitu 'Devil Slayer'..."
Burung gagak itupun berkata, "Hmm... sebagai organisasi pemuja iblis kurasa kita juga akan membutuhkan sihir unik itu..."
"Ya, aku tau hal itu..." ucap Satoru, "Phoenix dan bocah itu sepertinya berasal dari guild White Tiger..."
"Oh, White Tiger rupanya..." ucap burung gagak itu.
Satoru bertanya, "Lalu bagaimana dengan Kraken sang monster lautan, apakah kita akan berhenti untuk mendapatkannya?"
"Tenang saja, kita telah berhenti untuk memburu monster itu karena memburu Kraken telah dipindah tugaskan ke kelompok lain..."
"Apa maksudmu?"
"Intinya guild Black Tiger yang akan memburu Sang Kraken..."
"Oh..." Satoru paham, "Kalau begitu kita sudahi saja percakapan ini dan juga segera cari pengganti Koga..."
"Akupun mengerti..." ucap burung gagak itu yang ternyata sebuah alat penghubung komunikasi.
Satoru tersenyum menyeringai, "Dengan terlibatnya Black Tiger semuanya menjadi semakin menarik...!!!"
*****
Setelahnya Sang Kraken berhasil diusir dan telah meninggalkan kota.
Lalu setelahnya sang rembulan perlahan terbenam dan malampun berganti dengan cerahnya pagi hari lalu diufuk timur terlihat cahaya matahari perlahan menyinari.
Para penduduk yang sebelumnya lari menjauh dan sembunyi secara perlahan kembali dan menampakan diri.
__ADS_1
Tergambar kesedihan yang luar biasa diwajah mereka karena kota yang sangat mereka cintai dan dulunya indah megah sekarang berubah menjadi hancur total karena pertarungan.
Hari baru semangat baru.
Ya, meski sedang mengalami kesusahan tapi mereka secara perlahan dan saling bahu membahu membersihkan kota yang telah hancur itu.
Mereka berfikir bahwa tiada gunanya menyesali kota yang telah hancur karena semuanya berjalan diluar dugaan dan datangnya masalah memang tak pernah disengaja.
Ditempat lain tepatnya disebuah jalan Denjirou yang terluka sedang dirawat oleh ketiga istrinya.
"Ugh!!!" Iapun perlahan membuka matanya dan secara samar-samar melihat ketiganya, "Apa aku sudah berada disurga, kenapa aku melihat tiga bidadari dihadapanku?"
"Denjirou-sama jangan pernah berkata seperti itu..." ucap Sumika yang pahanya menjadi tempat menyandarkan kepala Denjirou.
"Kami sangat mengkhawatirkanmu..." ucap Tifa yang ada disamping kirinya.
"Itu benar sekali!!" Sahut Makio yang ada disisi kanan.
Denjirou tersenyum lega, "Ya, aku tau hal itu!! Kalian pasti sangat khawatir dan aku sangat bersyukur semuanya telah berakhir..."
*
Ditempat lain.
Master Sabertooth, Kai, Lisha, Erinka dan Ragna berdiri tegak dihadapan jasad Pak Gamou.
Kai menutupi jasad tersebut dengan kain putih, "Dialah yang paling berjasa dalam insiden kali ini..."
"Kita akan memakamkannya dengan layak..." ucap Lisha.
"Ya..." jawab Master Sabertooth dan Kai serentak.
Ketiga anggota Sabertooth itupun terlihat sangat sedih lalu Erinka dan Ragna yang merupakan orang luar guild hanya bisa tertunduk tanpa bisa mengatakan apapun.
Ragna bergumam dalam hati, "Satu lagi penyihir kelas atas terbunuh dan hal itu membuktikan bahwa misi ini sangat berbahaya..." iapun teringat pada kematian Pak Tua Boon.
Erinka berkata, "Anu, mengenai bayaran misi kali ini kalian bisa mengambilnya semua..."
"Kami tak terlalu berbuat banyak dan juga semua masalah terjadi karena diriku jadi kami tak pantas mendapatkan bayaran atas misi ini..."
"Jangan berkata seperti itu!!" Ucap Kai, "Kita menjalani susah payah bersama jadi kalian layak mendapatkan upah semestinya..."
"Benar sekali dan juga jangan menyalahkan dirimu terus menerus karena insiden ini terjadi secara tak disengaja..." ucap Lisha.
Erinka masih tertunduk dan murung, ia masih merasa sangat bersalah.
Ragna menepuk pundaknya, "Tidak ada gunanya meratapi apa yang telah terjadi dan bila ada waktu mungkin sebaik kita segera membantu penduduk..."
"Kurasa itu ide yang bagus..." sahut Master Sabertooth yang setuju pada ide Ragna.
*
__ADS_1
Ya, sebelum mereka pulang terlebih dahulu mereka memutuskan untuk membantu pemulihan kota.
Ragna dengan kemampuannya yaitu memanipulasi kegelapan menciptakan lengan-lengan bayangan dan iapun memindahkan puing-puing bangunan secara perlahan, "Fiuh, melelahkan juga ternyata..." gerutunya dan meskipun begitu ia tetap semangat.
Erinka bertanya pada Master Sabertooth, "Tak bisakah kau memberikan perintah pada semua puing bangunan ditempat ini?"
"Mana mungkin hal itu bisa dilakukan..." ucap Master Sabertooth dan menjelaskan, "Pada dasarnya kemampuanku memberikan perintah hanya menghancurkan bukannya memperbaiki..."
"Kemampuan milik kakakku tak sehebat seperti yang kau kira..." sahut Kai.
"Benar sekali!! Ada banyak celah dan kelemahan pada kemampuan 'Absolute Order' lalu jika dibandingkan dengan kemampuan Sang Phoenix maka kemampuanku tidak ada apa-apanya..." jelas Master Sabertooth.
"Begitu rupanya..."
"Benar, aku tak bohong!! Asalkan kau mampu memaksimalkannya ku yakin kau akan jadi penyihir hebat dimasa depan nanti..." ucap Master Sabertooth.
Esok pun datang dan mereka mulai membantu para penduduk untuk membersihkan puing-puing bangunan yang hancur karena pertarungan.
Sang surya perlahan naik dan berada diatas kepala sehinggi cahayanya mulai terasa menyengat kulit.
Ya, tak terasa waktupun berjalan begitu cepat hari yang semula pagi sekarang sudah siang.
Mereka anggota dari dua guild yaitu guild Sabertooth dan White Tiger berkumpul.
"Hah..." Erinka menghembuskan nafas panjang dan menggerutu, "Aku lelah..."
"Meskipun kota belum sepenuhnya pulih tapi setidaknya sekarang masalah sudah selesai dan ku yakin mereka akan dengan cepat membangun kota kembali..." ucap Master Sabertooth.
"Ya, dan arena misi gabungan ini sudah selesai kalau begitu kita berpisah ditempat ini..." ucap Denjirou.
"Ya, sampai jumpa..." ucap Ragna dengan tersenyum lebar, ia mengulurkan tangan pada Kai.
Kai menjawab dengan senyuman dan keduanya berjabat tangan, "Kita pasti akan bertemu lagi..."
"Khihihi..." Ragna tertawa pelan.
Kedua kelompok itupun naik kereta kuda yang berbeda dan kembali pulang ke guildnya masing-masing.
Bersambung Ke The Legend Of Ragna Chapter 91 : Anggota Guild
******
Pesan Author : kalau gak mau Vote gak papa sih tapi tolong like atau setidaknya komen meski hanya "lanjut" "next" "bagus" atau "up" yang penting bisa support karya ini
Yang intinya komenlah meski satu huruf dan bisa buat autor semangat.
Bukan niatnya maksa tapi author ingin tau aja siapa yang berkontribusi
Trima kasih atas perhatiannya.
*****
__ADS_1