
Mendadak Ragna yang telah berubah menjadi iblis muncul tepat dibelakang punggung keduanya dengan kemampuan teleport, "Zink!!"
"Sial..." gumam keduanya yang terkejut dengan menoleh ke belakang.
Ragna yang telah berubah menjadi iblis dan telah berada dibelakang punggung keduanya meletakan kedua telapak tangan pada bahu kiri Jack Rakan dan bahu kanan Gamora lalu memulai menggunakan kemampuan pembekuan.
"Dia berusaha membekukan kami...!!" Pikir keduanya yang terkejut.
"Krak!! Krak!!" Es mulai membekukan lengan mereka akan tetapi keduanya bertindak cepat agar tak membeku.
Jack Rakan menggenggam erat pedang yang dicengkramnya ditangan kiri dan tanpa memotong tangan kirinya, "Sllash!!"
"Cruat!!" Darah menyembur dan lengan sang Komandan Pasukan Sihir itupun terputus, ia lalu langsung menjaga jarak.
Sementara itu Gamora yang berusaha melepaskan diri dari pembekuan langsung meningkatkan energi sihirnya sehingga ia meledakan kobaran api dari kedua pijakan kakinya, "DHHUUAARR...!!" Ragna yang telah berubah menjadi iblis terlempar.
Jack Rakan berdiri tegak dengan darah terus saja menetes dari lengan kirinya yang terpotong, "Tap..." Gamora melompat dan berdiri tepat disamping sang Komandan Pasukan Sihir, "Hah... Hah... Hah..." nafasnya tak beraturan dan iapun perlahan mencoba mengatur nafasnya tersebut.
"Ah, sial!! Aku kehilangan lengan kiriku..." ucap Jack Rakan dengan santainya, "Aku mungkin akan kesulitan saat cebok nanti..."
Gamora melirik ke arah Jack Rakan dengan sorot mata tajam, "Berhenti bercanda dan bersikap santai!! Aku telah kehabisan energi untuk ledakan api tadi dan kau telah kehilangan lengan kirimu jadi singkatnya kemenangan telah meninggalkan kita..."
"Ya, aku tau..." ucap Jack Rakan dengan sikap santai.
Keduanya menyadari tengah terpojok lalu dihadapan keduanya, "WOOAARRGGH...!!" Ragna yang telah berubah menjadi iblis meraung lagi dengan luapan energi kuatnya.
Keduanya jadi waspada.
Gamora terlihat geram dan berkata, "Dia terlalu kuat jadi kita harus lari..."
"Aku setuju denganmu tapi bagaimana caranya lari darinya?" Tanya Jack Rakan.
Gamora terdiam kemudian berfikir, "Apa yang harus kami lalukan agar bisa lari darinnya?" Pikirnya.
Jack Rakan mulai merasakan akibat dari lengannya yang terpotong dan iapun bergumam dalam hati, "Ugh!! Sial, aku telah kehilangan banyak darah dan hal itupun membuat pandangan mataku mulai kabur..."
"WOOAARRGGH...!!" Disaat keduanya mulai terdesak Ragna yang telah berubah menjadi iblis meraung lagi.
Keduanya tak menemukan cara untuk melarikan diri karena tau betul bahwa sang iblis mampu mengejar dengan kemampuan teleport.
Ya, mereka benar-benar terpojok akan tetapi disaat yang tak terduga terdengan suara langkah kaki mendekat ke arah mereka, "Tap... tap... tap..." langkah kaki itupun berasal dari Rikka si anak iblis.
__ADS_1
"...!!" Sontak hal itu membuat Jack Rakan dan Gamora terkejut.
Rikka berdiri tepat dihadapan Ragna yang telah berubah menjadi iblis, "Hah... hah... hah..." nafasnya tak beraturan dan air mata mengalir deras.
Gadis iblis dengan sihir cahaya itupun memberanikan diri berteriak dihadapan sang iblis yang tengah mengamuk, "Kak!!!! Ku mohon sadarlah!!!! Kau telah menjadi sesuatu yang bukan dirimu!!!" Teriaknya dengan lantang.
"WOOAARRGGH...!!!" Bukannya sadar, Ragna yang telah berubah menjadi iblis malah meraung keras dengan meluapkan energi kuat.
Iapun mengangkat tangan kanannya dan berniat melesakan cakaran.
"Apa!!" Jack Rakan maupun Gamora terkejut dan berniat menyelamatkan Rikka.
Keduanya melesat dengan sekali pijakan, "Tidak akan sempat..." pikir mereka yang panik.
Ragna yang telah berubah menjadi iblis melesatkan cakaran, "Sllash!!"
"Cruat!!" Baik Jack Rakan maupun Gamora gagal menyelamatkan Rikka akan tetapi kejadian yang mengejutkan terjadi yaitu Erinka muncul. Ia terbang melesat dan langsung saja mendekap Rikka.
"Kak Erinka..." ucap Rikka dengan suara pelan.
"Tak apa!! Punggungku memang tersayat akan tetapi nanti juga pulih sendiri dengan kemampuan regenerasi Sang Phoenix..." ucap gadis dengan sepasang sayap api biru itu.
Erinka meletakan Rikka ditanah, "Dia memang Ragna akan tetapi kita tau dia telah ditelan oleh kegelapan hatinya jadi kita tak bisa asal mendekatinya..."
"Tap... tap..." Jack Rakan dan Gamora berdiri tepat didekat keduanya.
"Eehh...!!" Keduanya terkejut.
"Yang tadi itu berbahaya nak jadi jangan lakukan lagi..." ucap Jack Rakan dengan entengnya.
"Kami tau..." jawab Erinka.
"WOOAARRGGH...!!"
Gamora menatap tajam, "Dia datang!!" Teriaknya dengan berlari maju.
Pemimpin ke-5 Batalion Bayangan itupun seorang diri bertarung menghadapi Ragna yang telah berubah menjadi iblis.
Jack Rakan bergumam dalam hati saat melihat pertarungan keduanya, "Dia bertarung seorang diri untuk mengulur waktu agar kami bisa kabur..."
"Yah, menyebalkan sekali karena diselamatkan oleh musuh..."
__ADS_1
Sang Komandan Pasukan Sihir itupun membuat keputusan dan berkata pada Erinka dan Rikka, "Baiklah anak-anak, mari pergi dari tempat ini..."
"Tidak mau!!" Jawab Erinka dan Rikka secara spontan.
"Aku akan tetap disini dan menyadarkan si bodoh Ragna itu..." ucap Erinka dengan sorot mata tajam penuh ketegasan.
"Aku juga ingin menyadarkan Kak Ragna..." ucap Rikka
"Hah... bodohnya anak-anak ini!! Mereka tak tau seberapa berbahayanya iblis ini..." gumam Jack Rakan dalam hati dengan nada malas, ia yang telah terluka terlihat sudah tak mau lagi bertarung.
Iapun menatap sang iblis yang tengah bertarung dengan Gamora dan bergumam dalam hati, "Akan sangat berbahaya bila makluk itu kami tinggalkan begitu saja!! Ia akan menuju perumahan penduduk lalu mengamuk dan tentu saja akan banya korban berjatuhan..."
"Ya, terpaksa aku harus menghentikannya entah bagaimana caranya?" Pikir Jack Rakan.
Sang Komandan Pasukan Sihir itupun berkata, "Aku telah terluka dan bahkan telah kehilangan lengan kiriku jadi hal apa yang bisa kalian lakukan untuk menyadarkannya?"
Erinka sontak berkata, "Aku memiliki kegelapan yang merupakan sedikit kesadaran milik Ragna jadi kurasa aku bisa menyadarkannya..."
"Aku juga!! Sebagai iblis cahaya mungkin saja aku bisa membersih kegelapan hati..." ucap Rikka.
Jack Rakan mengambil rokok lalu merokok dan menghembuskan asap rokok tersebut secara perlahan, "Hah..." iapun berkata dengan entengnya, "Lengan kiriku putus dan saat ini aku menahan rasa sakit yang luar biasa..."
"Aku tak bisa bertarung dengan fokus..."
Erinka mendekati Jack Rakan dan membakar luka pada lengan kiri sang Komandan Pasukan Sihir itu dengan kobaran api biru milik burung api Phoenix.
"Eehh...!!"
"Yang ku lakukan bukan menyembuhkanmu melainkan hanya membuat rasa sakitnya berkurang..." jelas Erinka.
Rikka bertanya, "Anda bisa bertarung lagi tuan?"
"Ah, ya... kurasa aku bisa bertarung lagi..." ucap Jack Rakan yang merasa agak baikan setelah lukanya dibalut dengan api biru.
"Perlu diingat bahwa bila api birunya padam maka anda akan merasa sakit lagi karena efeknya telah habis..." jelas Erinka lagi.
Sebuah portal muncul tepat dihadapan Jack Rakan dan iapun mengambil sebilah pedang yang berbalutkan kobaran api, "Aku tau dan hal itu sudah cukup untuk membuatku beraksi lagi..."
Erinka tersenyum menyeringai lalu berkata dengar rasa percaya diri, "Ya, sekarang mari kita sadarkan si bodoh itu..."
"Ya..." jawab Jack Rakan dan si anak iblis Rikka.
__ADS_1
Bersambung Ke The Legend Of Ragna Chapter 144 : Gencatan Senjata Selesai