
Masalah belum selesai, Gamora dan Fibel kembali menjadi musuh.
Mereka berdua sekarang ini menginginkan Rikka si gadis iblis dan tertarik pada sihir 'Devil Slayer' milik Ragna.
'Yah, padahal kita sudah bertarung bersama dan aku bahkan telah menganggap kalian sebagai rekan tapi tak pernah ku duga kalian malah mengajak kami bermusuhan lagi..." ucap Jack Rakan sang Komandan Pasukan Sihir.
Iapun menarik sebilah pedang dari sebuah portal yang ada dihadapannya. Pedang tersebut digenggamnya erat-erat dan berkobar api.
Erinka juga melakukan hal yang sama, ia mengambil pedang besar yang ada dipunggungnya, "Mundurlah, Rikka!!" Pedang tersebut juga meledakan kobaran api merah.
Keduanya menatap tajam musuh mereka dan berkata dengan tegas, "Mari bertarung!!"
"Padahal kalian tak memiliki harapan menang tapi mengapa masih keras kepala..." ejek Fibel dengan meningkatkan energi, iapun membuka grimoire sihir miliknya lalu membaca sebuah mantra didalamnya.
Ya, seketika begitu pemimpin ke-7 itu membaca mantra maka tanah berubah menjadi bergelombang.
Hal itupun membuat Jack Rakan dan Erinka yang sebelumnya berlari mendekat terpaksa menghentikan langkah kakinya.
"Permukaan tanahnya jadi aneh dan hal itu membuat aku kesulitan untuk berdiri..." ucap Erinka dengan menancapkan pedang besarnya ke tanah.
"Hey, gadis kecil!! Tak bisakah kau terbang mendekat lalu serang wanita pengguna grimoire itu agar mantranya gagal?"
Dengan ekspresi kesal Erinka berkata, "Hal itu tak bisa ku lakukan!! Energiku telah menipis dan jika aku memaksakan diri menggunakan kekuatan Phoenix maka bisa-bisa aku malah kehilangan kendali atas diriku..."
"Cih..." Jack Rakan jadi agak kesal, "Dasar tak berguna!!"
Erinka bertambah jengkel, "Pak tua!! Tak bisakah kau berusaha sendiri mengatasi wanita grimoire itu dengan melemparkan pedang-pedang lewat portal?"
"Maaf saja, energiku telah habis jadi untuk membuka sebuah portal saja aku harus susah payah berkonsentrasi..."
"Oh, gitu!! Yang artinya kau lebih tak berguna dari pada diriku..."
"Terserah kau saja..." Jack Rakan terlihat tak mau berdebat.
Dilain sisi Fibel tertawa lepas menikmati kesusahan lawannya, "Hahahahaha..."
"Fibel, berhenti main-main dan segera habisi mereka..." ucap Gamora dengan sorot mata tajam.
"Hey, ayolah!! Aku hanya bermain-main dengan mereka dan memangnya hal itu tak boleh?"
Gamora dengan ekspresi serius, "Prioritas kita adalah keberhasilan dalam misi ini jadi kau tak boleh main-main..."
"Berhentilah membuang waktu karena aku punya firasat buruk jika kita tak segera pergi dari sini..."
"Jika saja aku tak kehabisan energi maka akan ku habisi mereka tanpa menyuruhmu..."
"Cih..." Fibel merasa agak kesal akan tetapi ia setuju dengan pendapat rekannya itu, "Yah, baiklah!! Akan segera ku selesaikan semua ini!!"
Wanita dengan grimoire sihir itupun secara perlahan melayang lalu mendekat pada kedua lawannya.
__ADS_1
Jack Rakan dan Erinka menatap ke atas dan jadi waspada meski keduanya harus bersusah payah untuk berdiri tegak.
"Gadis kecil, dia datang!!"
"Aku tau!!" Jawab Erinka.
"Maafkan aku tapi kalian harus mati sekarang..." Fibel membuka grimoire sihirnya lalu membaca sebuah mantra didalamnya.
Iapun mengangkat tangan kanan ke atas lalu terkumpulah kobaran api yang sangat besar hingga membentuk sebuah bola api raksasa.
"Sial..." pikir Erinka dan Jack Rakan, keduanya yang telah kehabisan energi kebinguan mencari cara mengatasi serangan lawan.
"Hahahaha...!!" Dengan tawa lepas Fibel melemparkan bola api raksasa tersebut, "Terimalah ini dan jadilah abu!!!" Teriaknya dengan lantang.
"WUUSS...!!" Bola api itupun melesat dan hal itu membuat keduanya yang telah kehabisan energi itupun tak tau harus melakukan apa.
Tetapi sebuah kejadian yang sangat janggal terjadi yaitu mendadak saja pergerakan bola api raksasa yang dilemparkan itu terhenti tepat beberapa jengkal sebelum mengenai Jack Rakan dan Erinka.
"Eeeehhh...!!!!" Jack Rakan dan Erinka lalu Rikka yang berada dikejauhan terkejut.
"Serangannya berhenti begitu saja, apa kau melakukan sesuatu?" Tanya Erinka.
Jack Rakan menghisap rokoknya dan menghembus asapnya secara perlahan, "Hah..."
"Bukan bola apinya yang berhenti tapi waktunya..."
"Apa maksudmu?"
Lalu Gamora yang berada tepat dibelakang Fibel menjadi geram dan bergumam dalam hati, "Ini benar-benar buruk..."
Fibel yang tak mengerti menjadi emosi, "Mengapa tak meledak!!! Sebenarnya apa yang tengah kalian lakukan?" Teriaknya penuh emosi pada lawan-lawannya.
"Jangan pedulikan mereka Fibel!! Ayo lari dari sini!!"
"Apa?"
"Apa kau tak dengar? Ayo lari!!" Gamora memperjelas.
Fibel tak mendengarkan dan ia malah semakin geram, "Aku tak akan meninggalkan tempat ini dan akan ku habisi mereka!!!" Teriak wanita pemilik grimore itu dengan lantangnya.
Iapun membuka grimoire sihir miliknya lalu membaca sebuah mantra didalamnya, "Enyalah, kalian tikus-tikus busuk..." tepat diatas Erinka dan Jack Rakan muncul awan hitam yang lalu dari awan hitam itu turunlah kilatan-kilatan petir.
"Sllash!! Sllash!!" Kilatan-kilatan petir itupun sekali lagi terhenti bahkan sebelum mengenai Jack Rakan dan Erinka.
"Apa!!!" Fibel terkejut.
"Ayo mundur Fibel!!!" Teriak Gamora.
"Tap... tap..." seseorang mendadak muncul dan berdiri tepat dibelakang keduanya.
__ADS_1
Erinka terkejut karena kenal betul orang yang muncul itu, "Mengapa dia disini?"
Jack Rakan yang duduk bersila lalu menghembuskan asap perlahan, "Dia datang dan dia adalah penyihir terkuat dikerajaan Albion..."
Ya, orang yang muncul itu merupakan pria terkuat dikerajaan dan dia adalah Kaisar Sihir, Julius Nova.
Gamora dan Fibel membalikan badan dan mereka menjadi sangat geram atas kemunculannya itu lalu kini keduanya sangat waspada.
"Yo..." dilain sisi Tuan Julius menyapa mereka dengan santainya.
Gamora berbisik, "Fibel, kita tak mungkin menang melawannya!! Kita harus lari!!"
"Aku tau!!" Jawab wanita pemilik grimoire itu dengan berteriak.
Keduanya waspada dan tak sekalipun mengalihkan pandangan pada sang Kaisar Sihir akan tetapi meski tak berkedip sekalipun secara mendadak Tuan Julius hilang dari hadapan keduanya.
"Apa!!! Dimana dia!!!" Ucap keduanya serentak yang terkejut.
Sang Kaisar Sihir ternyata sudah berdiri dihadapan Jack Rakan dan Erinka, "Kalian baik saja?"
"Hah..." Jack Rakan menghela nafas panjang, "Seperti yang anda lihat, aku mengalami hari yang sangat buruk yaitu aku kehilangan lengan kiriku..."
"Akupun tak bisa membayangkan bagaimana nantinya bila aku pergi ke toilet..." gerutu sang Komandan Pasukan Sihir itu.
"Hehehe... pasti akan sangat merepotkan bila hanya memiliki satu lengan bila berada ditoilet..." ucap Tuan Julius.
Iapun meletakan telapak tangannya tepat dihadapan Jack Rakan lalu mengeluarkan kemampuannya, "Time Return"
Waktupun berjalan mundur dan lengan Jack Rakan yang telah hilang secara perlahan kembali lagi.
"Yah, terima kasih..." ucap Jack Rakan.
"Tak masalah..."
"Anu, Tuan Julius... mengapa anda bisa berada ditempat ini?" Tanya Erinka.
"Perserikatan Penyihir memberikan laporan mendesak padaku dan karena semua Komandan Pasukan Sihir tak berada ditempatnya maka aku sendiri yang pergi..." jelas Sang Kaisar Sihir.
"Begitu ya?" Erinka terlihat lega.
"Ya, sekarang kalian tak perlu melakukan apapun dan biarkan aku yang mengurusnya..."
"Baik..." jawab Jack Rakan dan Erinka.
Sang Kaisar Sihir membalikan badan lalu menatap ke arah Gamora dan Fibel dengan tatapan serius, "Kalian punya dua pilihan..."
"Pertama menyerah dan pilihan kedua kalah?"
Gamora dan Fibel yang waspada menjadi sangat geram akan tetapi Sang Kaisar Sihir berkata dengan entengnya, "Nah, kalian pilih yang mana?"
__ADS_1
Bersambung Ke The Legend Of Ragna Chapter 147 : Sang Waktu II