
Sebelum membaca karya ini author minta tolong untuk pada kalian untuk 'like' ataupun 'vote' agar meningkatkan ringking cerita ini.
Ya, selamat membaca karya ini dan author ucapkan terima kasih pada pembaca setia 'The Legend Of Ragna'
Hanya itu pesan dari author sekian dan terima kasih.
Selamat membaca!!
*****
Koga yang telah meremehkan lawannya pada akhirnya terdesak juga.
Kai menancapkan pedangnya dari belakang sementara itu Ragna terus memukulinya dari depan.
"Sialan, jika begini terus aku akan kalah!!!" Pikir Koga dengan merasakan sakit yang luar biasa, ia mengepalkan tangan lalu menghantam Ragna dari atas, "Jbbuuak!!!" Ragna terjatuh ke lantai
Lalu Koga berputar-putar akan tetapi Kai tetap bertahan, "Jatuhlah!!!!" Iapun membenturkan punggungnya pada dinding dan hal itupun membuat Kai terjatuh akan tetapi pedangnya masih menusuk punggung lawan.
Koga berusaha menarik pedangnya, "Sialan!!!!" Iapun sangat kesakitan akan tetapi pada akhirnya ia berhasil menarik pedang itu.
Darah mengalir deras dari bekas tusukan pedang itu dan iapun menatap tajam ke arah Kai yang perlahan berdiri dan tak memiliki senjata, "Sekarang aku akan membunuhmu!!!!" Ucap Koga dengan melempar pedang itu ke dinding dan membuat senjata itu menancap.
"HIIAA...!!!!" Koga berlari secepat mungkin pada Kai dan melesatkan cakaran pada pria yang tanpa senjata itu.
Kai bersiap menghindar karena tak memegang senjata, "Zink!!!" Tetapi didetik-detik terakhir sebelum cakar Koga mengenai sasaran terlebih dulu Ragna muncul tepat diatas kepala lawan.
Iapun menggenggam erat sebilah pedang milik Kai dan menusuk kepala musuh dari atas, "Jleebb...!!!!"
"Uhuk!!!" Seketika Koga memuntahkan darah karena kepalanya tertembus oleh pedang dari atas.
"Bruuk...!!!" Pria dengan sihir berubah wujud menjadi serigala itupun terjatuh ke lantai dan tak bergerak lagi.
Kai berkata, "Kau menyelamatkan nyawaku..."
"Ya..." jawab Ragna dengan wajah tertunduk dan ia terlihat menyesal, "Tapi aku telah merenggut nyawa seseorang..."
Kai menepuk pundak Ragna, "Didalam pertarungan nyata ada dua hal yang harus kau lakukan yaitu membunuh atau dibunuh..."
"Entah perbuatan kita benar atau salah tapi yang jelas dia pria yang jahat..."
"Ya..." jawab Ragna dengan tatapan penuh penyesalan pada mayat itu.
Kai menarik pedang yang menancap dikepala mayat itu, "Pertarungan belum selesai jadi mari kita pergi...!!!"
*****
Ditempat lain, Lisha yang berlari didepan mendadak berhenti dan hal itu membuat Erinka yang ada dibelakang menabrak punggungnya, "Hey, mengapa berheti!!"
__ADS_1
"Lihat..." Lisha menunjuk ke depan, "Kita sudah terkejar..."
Ya, dihadapan keduanya pemimpin ke-8 Batalion Bayangan tengah menghadang.
"Maafkan aku tapi kami membutuhkan sang Phoenix..." ucapnya dengan datar.
Keduanya nampak waspada dan merasakan hawa mengerikan dari pria yang tengah berdiri dihadapan mereka itu.
Pria itu tersenyum, "Oh, iya!! Aku belum memperkenalkan diri dan namaku adalah Satoru dan sihirku adalah Dragon Slayer tipe batu..."
Erinka menatap tajam, "Mengapa kau mengatakan sihirmu? Bukankah hal itu membuat musuh lebih diuntungkan?"
"Hahahaha..." pemimpin ke-8 Batalion Bayangan yang bernama Satoru itupun malah tertawa lepas, "Bukankah sudah jelas itu karena kalian lemah dan meskipun aku memberitahu kekuatanku hal itu tak akan mengubah apapun..."
Erinka bertambah geram dan merasa diremehkan, iapun mengambil pedang besar yang ada dipunggungnya.
Pedang itu merupakan item sihir yang dulunya didapat dari Minotour.
Iapun menggenggam erat pedang itu dengan tangan kiri dan Erinka meningkatkan energi sihirnya sehingga pedang itupun berkobar api merah.
"Kau mau apa Erinka?" Bisik Lisha.
"Bukankah sudah jelas!! Aku mau menghajarnya!!" Ucap Erinka dengan sorot tajam penuh dengan keseriusan.
Pemimpin ke-8 itupun malah tertawa lepas dan semakin meremehkan, "Hahahaha..."
Erinka mengerutkan dahi karena emosi dan iapun berlari maju tanpa rasa takut.
"Erinka, tunggu!! Kita harus lari!!" Teriak Lisha tapi tak dihiraukan.
"HIIAA...!!!" Iapun menggenggam pedang besar yang berkobar api itu dengan kedua tangan lalu menebaskan sekuat tenaga.
"Cthing!!!" Satoru menepis tebasan itu dengan tangan kanannya.
"Apa!!!" Erinka terdorong ke belakang dan agak sempoyongan.
"Dasar gadis bodoh!!" Satoru tanpa ragu melesatkan tendang pada perut Erinka dari arah depan, "Jbbuuak...!!"
"Uhuk!!" Iapun terdorong sampai menabrak Lisha yang ada dibelakang dan keduanya terjatuh ke tanah.
"Ugh!! Pantatku sakit..." ucap Lisha dan iapun bertanya, "Kau tak apa Erinka?"
"Aku tak apa tapi serangannya itu sangat kuat..." ucap Erinka yang makin kesal, iapun menancapkan pedangnya ke tanah yang digunakan untuk membantunya berdiri.
Satoru menatap ke arah senjata yang dipegang oleh Erinka, "Pedang yang hebat tapi penggunanya payah hal itu akan jadi sangat percuma..."
"Sebenarnya dari mana kau dapatkan pedang itu?"
__ADS_1
"Untuk apa kau tau?" Ucap Erinka dengan sorot mata tajam.
"Jika tebakanku benar maka pedang itu kau dapatkan dari seekor Minotour..."
Erinka menatap tajam, "Bagaimana mungkin kau bisa tau?"
"Ya, karena Minotour itu mencuri pedang itu dari kami dan item sihir itu milik kami..." jelas Satoru.
"Aku beruntung karena akan mendapatkan sang Phoenix dan menemukan item kami yang telah lama hilang..."
Erinka menggenggam erat pedang itu dengan dua tangannya dan iapun mengaliri senjata energinya sehingga berkobar api.
"Pedang ini milikku dan bila kau menginginkannya maka rebutlah dariku jika kau mampu..." ucap Erinka dengan sorot mata tajam.
"Menarik sekali!! Ku akui keberanianmu akan tetapi kau bodoh..." ucap Satoru dengan sorot mata tajam pula, iapun berlari dengan cepat ke arah Erinka.
Erinka menggenggam erat pedangnya dengan dua tangan lalu menebas dari arah samping, "Cthing!!" Pedang itupun ditahan dengan telapak kaki.
"Apa!!!" Erinka terkejut.
"Kau lemah..." Satoru mendorong pedang itu dengan telapak kakinya sehingga Erinka ikut terdorong ke belakang agak sempoyongan, "Ugh!! Sial!!"
"Kau tak apa Erinka?" Tanya Lisha yang mendekat.
"Aku tak apa tapi dia kuat sekali..." ucap Erinka yang terlihat sangat kelelahan.
"Tap... tap... tap..." Satoru berjalan mendekat kepada dua gadis itu dengan langkah kaki perlahan, "Ku habisi kalian!!" Ucapnya dengan sorot mata tajam.
"Sllash!!" Secara mendadak angin pemotong melesat dan hampir saja mengenai Satoru tetapi ia berhasil menghindar dengan melompat ke belakang.
"Siapa??" Satoru menengok ke asal sumber angin pemotong dan iapun melihat dua orang berada dikejauhan.
Ya, dua orang itu adalah Denjirou dan Pak Gamou.
"Khehehehe... sepertinya kita tiba disaat yang tepat..." ucap Denjirou dengan tersenyum lebar.
Bersambung Ke The Legend Of Ragna Chapter 82 : Pertarungan Orang Dewasa
******
Pesan Author : kalau gak mau Vote gak papa sih tapi tolong like atau setidaknya komen meski hanya "lanjut" "next" "bagus" atau "up" yang penting bisa support karya ini
Yang intinya komenlah meski satu huruf dan bisa buat autor semangat.
Bukan niatnya maksa tapi author ingin tau aja siapa yang berkontribusi
Trima kasih atas perhatiannya.
__ADS_1
*****