The Legend Of Ragna

The Legend Of Ragna
Chapter 106 : Bangkit


__ADS_3

Rumia berniat menyerang Sistina akan tetapi Erinka segera berdiri lalu melesat sangat cepat.


Ia memanfaatkan kelengahan lawannya dan langsung saja menebas punggung lawan.


"Sllash!!"


"Cruat!!" Darah segar mengalir deras dan hal itupun membuat Rumia membalikan badan lalu memasang sorot mata tajam pada Erinka, "Kau akan ku bunuh...!!!"


Erinka tak takut, ia memperkuat pijakan kedua kakinya dan menggenggam erat pedang besarnya dengan dua tangan, "Majulah!! Aku akan mengalahkanmu!!"


Tanpa sepatah katapun, Rumia melesat dengan sekali pijakan yang dipadukan kepakan sayapnya, iapun mengepalkan tangan lalu memukul, "Jbbllast!!" Erinka menahan dengan pedang besarnya akan tetapi karena kuatnya pukulan lawan iapun terdorong sangat jauh ke belakang.


"Kuat sekali!!" Ucap Erinka.


Bagaikan hembusan angin, tanpa disadari Rumia telah berada dibelakang punggung Erinka, "Sllash!!" Rumia melesatkan serangan berupa cakaran tetapi dengan cekatan Erinka mampu menghindar.


Erinka segera bangkit kembali dan berdiri tegak, iapun tau bahwa telah membuat lawannya marah, "Aku harus selalu waspada..." gumamnya dalam hati.


Rumia tak membiarkan lawannya melakukan serangan balasan jadi ia segera bergerak cepat dan menendang Erinka dari arah samping, "Jbbuuak!!!" Erinka menahan dengan pergelangan lengan kiri akan tetapi karena kuatnya tendangan lawan membuat pergelangan tangan kiri Erinka retak, "Krak..."


"ARRGGH...!!!" Iapun berteriak kesakitan.


Rumia tak memberikan jeda serangan, iapun melesatkan pukulan pada perut Erinka, "Jbbuuak!!"


"Uhuk!!" Erinka langsung terdorong ke belakang.


"Kau telah membuatku marah jadi jangan harap aku mengampunimu..." ucap Rumia yang dengan langkah perlahan berjalan ke arah Erinka.


Dilain sisi Erinka tetap tak menyerah dan iapun berusaha berdiri tegak, "Ugh!! Sakit sekali!!" Ucapnya dalam hati dengan memegangi perut.


Rumia melancarkan serangan tanpa henti yaitu pukulan bertubi-tubi sehingga membuat Erinka benar-benar babak belur.


Sementara itu Sistina yang menyaksikannya menjadi sangat kasihan, "Hentikan!!!!" Teriaknya dengan berlari mendekat, ia bergumam dalam hati, "Karena aku tak melakukan apapun Pak Tua Boon mati dan jika aku tak melakukan apapun kali ini maka Master dan Erinka juga akan mengalami hal yang sama..."


"Aku harus melawan trauma masa lalu ku!!! Aku harus bertarung!!!" Iapun berlari dengan memfokuskan energi pada kedua tangan lalu dua buah pedangpun tercipta.


"HIIAA...!!!!"


Rumia menyadari bahwa Sistina mendekatinya dengan aura sihir yang sangat kuat, "Ya, kemarilah!!" Iapun berhenti menyerang Erinka.


Sistina memutar-mutar kedua pedangnya lalu melesatkan tebasan secara bertubi-tubi akan tetapi Rumia juga melancarkan cakaran-cakaran, "Sllash!! Sllash!!"


Dua serangan mereka saling beradu dan berbenturan dan terlihat sama kuat.


"Hahahaha... benar sekali!! Tunjukan kekuatan yang hebatmu dulu padaku!!"


Sistina tak mempedulikan ucapan lawannya dan iapun bergumam dalam hati, "Aku tak ingin kehilangan seorangpun lagi!! Aku akan bertarung dan ku lindungi guild White Tiger..."


Dua pedang yang digenggam oleh Sistina bercahaya terang menyilaukan dan berubah bentuk menjadi dua pistol.


"Apa!!" Rumia terkejut akan tetapi terlebih dahulu Sistina menembakinya, "DOORR...!! DOORR...!!" Beruntung ia segera menciptakan sebuah dinding besi dengan kemampuan imajinasinya.

__ADS_1


"Sialan!! Aku hampir lupa bahwa kemampuannya adalah merubah bentuk sebuah benda..." gumam Rumia.


"Sllash!! Sllash!!" Dinding besi itupun terpotong-potong dengan mudahnya dan Sistina langsung saja menerjang dengan dua tangan menggenggam dua buah pedang.


"HIIIAAA...!!" Iapun melesatkan tebasan secara bertubi-tubi dan sangat cepat lagi.


Rumia terkejut dan ia kesulitan menangkis serangan yang datang, ia terluka akan tetapi dengan kemampuan imajinasi iapun memulihkan dirinya lagi.


"Hahahaha..." Rumia tertawa lepas dan berkata, "Aku lebih diuntungkan karena memiliki kemampuan memulihkan diri dengan imajinasiku..."


Sistina menatap tajam, iapun merubah kedua pedangnya menjadi sebuah tongkat.


"Rasakan ini!!" Sistina menggunakan tongkat tersebut dengan lincah dan iapun memukuli Rumia, "Jbbuuak!! Jbbuuak!!"


"Ugh!!" Iapun meringis kesakitan sampai berteriak, "ARRGGHH...!!"


"Kau memang mampu memulihkan luka tebasan dengan kemampuan imajinasi akan tetapi setiap kemampuan membutuhkan konsentrasi agar bisa digunakan secara maksimal..."


"Ya, jika kau kesakitan maka kau tak tentu saja tak dapat menggunakan kemampuan imajinasi..." ucap Sistina yang terus menerus memukuli Rumia dengan tongkat yang ia ciptakan.


Rumia benar-benar babak belur dan ia yang kesakitan tak mampu berkonsentrasi sehingga kemampuan imajinasinya tak dapat digunakan.


Serangan terus menerus dan dilakukan secara bertubi-tubi itupun sukses membuat Rumia tak sadarkan diri.


Iapun pingsan lalu jatuh juga, "Hah... hah... hah..." Sistina mencoba mengatur nafasnya setelah melesatkan serangan tanpa jeda itu.


"Tap... tap... tap..." Erinka yang terluka berjalan sempoyongan mendekati Rumia, "Kau menang!!"


Ya, sang penyihir imajinasi telah dikalahkan dan tersisa Edward sebagai lawan terakhir.


*****


Waktu berjalan dengan sangat cepat dan tak terasa haripun mulai sore.


Ragna bersama dengan Kanna.


"Mengapa kau mengikuti? Cepat pergi sana!!" Bentak Ragna.


"Tidak mau!! Aku mau bersama mu selamanya!!" Ucap Kanna yang menggandeng lengan Ragna.


"Cih..." Ragna kesal dan ia melepaskan lengannya yang digandeng Kanna lalu lari meninggalkannya.


"Hey, tunggu aku..." Kanna tak menyerah dan iapun mengejar.


Ya, dijalanan yang ramai itu keduanya berlarian tanpa arah.


"Hah... hah... hah..." setelah berlarian keduanya merasa sangat lelah dan nafas mereka terlihat tak beraturan.


"Aku lelah dan lapar..."


"Hey, aku tak punya uang untuk dirimu..." ucap Ragna.

__ADS_1


"Hmm... ngomong-ngomong kita ini dimana?" Tanya Kanna.


"Entahlah, tapi sepertinya kita berada dipusat kota Armenia..."


"Kok kita bisa ada disini?"


Ragna teringat pada tujuan awalnya, "Benar juga!!!"


"Apa?"


"Bukankah kita sedang mencari keberadaan Edward dan teman-temannya, mengapa kita malah nyantai-nyantai disini?" Ucap Ragna.


"Hmm... kita memang mencari mereka akan tetapi apakah kau sudah pernah bertemu atau melihat mereka?"


"Belum pernah..."


Kanna malah tertawa, "Konyol sekali!! Kita mencari mereka tanpa tau seperti apa rupa mereka!! Kita tak bakalan bertemu dengan mereka..."


"Hey, jangan berkata seperti itu!!!" Ragna agak kesal pada apa yang dikatakan Kanna akan tetapi iapun tau apa yang dikatakan Kanna ada benarnya.


"Hah..." Ragna berjalan ke arah sebuah kursi taman yang letaknya tak jauh darinya dan iapun duduk disana lalu menggerutu, "Bagaimana mungkin kita bisa menemukan mereka padahal kita saja tak tau seperti apa wajah mereka?"


"Benar sekali!!" Ucap Kanna yang juga berjalan mendekat lalu ikut duduk.


"Seperti apa wajah Edward?" Ucap keduanya serentak.


"Mengapa kalian mencariku?" Sahut pria berbadan kekar besar yang duduk dibangku yang letaknya tak jauh dari mereka.


Ya, pria itu adalah Edward.


Ragna langsung berdiri tegak dan berjalan ke arah Edward lalu berdiri tepat dihadapannya, "Kaukah Edward itu?"


"Benar sekali!! Memangnya ada apa dan siapa kalian?" Tanya Edward dengan sorot mata tajam.


Secara spontan Ragna langsung berteriak, "Aku adalah Kurogami Ragna dan aku merupakan anggota White Tiger yang datang untuk mengalahkanmu..."


Ragna dan Kanna secara tak sengaja bertemu dengan sang lawan utama yaitu Edward.


Bersambung Ke The Legend Of Ragna Chapter 107 : Kyuubi


******


Pesan Author : kalau gak mau Vote gak papa sih tapi tolong like atau setidaknya komen meski hanya "lanjut" "next" "bagus" atau "up" yang penting bisa support karya ini


Yang intinya komenlah meski satu huruf dan bisa buat autor semangat.


Bukan niatnya maksa tapi author ingin tau aja siapa yang berkontribusi


Trima kasih atas perhatiannya.


*****

__ADS_1


__ADS_2