The Legend Of Ragna

The Legend Of Ragna
Chapter 154 : Sang Cahaya


__ADS_3

Semua mafia telah berhasil dikalahkan oleh Ragna dan Erinka.


"Tap... tap... tap..." Kanna dan Rikka berjalan mendekati keduanya sementara itu Regios mengikuti dari belakang.


"Sebenarnya mereka ini?" Ucap Erinka.


"Mereka adalah penguasa kota ini atau lebih tepatnya mereka mafia yang menguasai segala hal terselubung dikota ini seperti penjualan obat-obatan terlarang..." jelas Regios.


"Hmm... tapi bagaimana bisa kau tau hal itu?" Tanya Ragna.


"Ya, secara kebetulan aku menyelinap masuk ke pengiriman barang mereka..."


"Owh..." Ragna dan Erinka menganguk secara bersamaan.


"Dan kau sendiri siapa?" Tanya Ragna.


"Namaku adalah Akahiru Regios, umur 17 tahun dan aku saat ini tengah hilang ingatan..."


Kanna berkata, "Orang ini memiliki sihir langka yaitu 'dragon slayer' tipe es dan dia berniat bergabung dengan guild kita..."


"Apa!!!" Sontak Ragna dan Erinka terkejut mendengar ucapan Kanna itu.


"Ya, White Tiger memang kekurangan anggota sih dan juga sihir 'Dragon Slayer' adalah tipe sihir langka jadi kurasa hal itu akan sangat berguna bagi guild..." ucap Ragna.


"Aku setuju saja bila ia mau bergabung dengan White Tiger akan tetapi keputusan boleh atau tidaknya ia bergabung dengan guild itu adalah keputusan Master Mark..." jelas Erinka yang tak merasa keberatan, "Akan tetapi sebelum ia bergabung ia harus membayar sendiri tagihan kerusakan segala hal ditempat ini..."


"Itu mudah saja..." ucap Regios meski tak punya sepeserpun uang, iapun berjalan ke arah pelayan yang ketakutan dan sembunyi dibalik meja makan.


Dengan memanfaatkan keadaan iapun memasang sorot mata tajam dan raut wajah mengerikan, "Berapa total bayaran yang harus kami keluarkan?"


Pelayan itupun ketakutan atas segala hal yang terjadi yaitu tempat makan yang hancur karena perkelahian, "Kalian tak perlu membayar apapun akan tetapi segera tinggalkan tempat ini..."


"Khehehe... terima kasih..." ucap Regios dengan tawa lepasnya.


"Dasar, dia benar-benar licik!!" Gumam Ragna dan Erinka dalam hati.


Setelah menyelesaikan masalah pembayaran Regios berjalan kembali kepada rekan-rekannya yang baru, iapun bertanya, "Sekarang kapan aku bisa bergabung dengan guild kalian?"

__ADS_1


Kanna berkata, "Kita harus segera meninggalkan tempat ini sebelum pihak keamanan datang!! Ya, setelah dari tempat ini kita akan langsung pulang ke guild White Tiger..."


"Benar, nantinya kau dan Rikka-chan bisa menemui Master Mark lalu bisa resmi bergabung..." sahut Ragna.


"Baiklah..." ucap Regios dengan semangat.


"Cih, sial!! Ayo segera tinggalkan tempat ini..." ucap Erinka.


"Siap!!!" Jawab semuanya serentak.


Merekapun berniat bergegas meninggalkan tempat itu akan tetapi dihadapan pintu masuk tempat makan itu sebelum sempat mereka keluar sebuah cahaya yang sangat menyilaukan mata terlihat.


"Sllash!!" Seseorang bergerak secepat cahaya dan langsung saja menendang wajah Regios, "Jbbllast!!" Regios terlempar hingga menembus dinding bangunan.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Pikir Ragna, Erinka dan Kanna yang melihat kejadian sekejap itu.


"Tap..." seorang pria yang merupakan pemimpin kedua Batalion Bayangan perlahan mendaratkan kaki pada sebuah meja makan, ia menatap tajam ke arah Ragna dan teman-temannya, "Tak perlu basa-basi..."


"Aku kemari untuk membawa pergi gadis iblis yang bersama kalian itu!!"


Ragna, Erinka dan Kanna segera membentuk formasi untuk melindungi Rikka dari pria pengguna sihir cahaya itu.


"Aku tak akan pernah menyerahkan Rikka-chan pada kalian!!!!" Teriak Ragna dengan sorot mata tajam.


"Hati-hati Ragna!! Orang ini mampu melarikan diri dari Tuan Julius..." ucap Erinka dengan sorot mata tajam yang memperingatkan, ia yang pernah sekali bertemu pemimpin kedua Batalion Bayangan tau betul seberapa kuat musuh yang tengah dihadapi.


"Itu artinya orang ini sangat kuat yang mungkin kekuatannya melebih Master Mark..." sahut Kanna.


"Aku tak peduli!! Aku tak akan menyerahkan Rikka-chan padanya!!" Teriak Ragna lagi.


Ketiganya waspada.


Ragna meningkatkan energi sehingga dari pijakan kedua kakinya meluap kegelapan pekat dan kegelapan pekat itu membentuk lengan-lengan bayangan.


Erinka menarik item sihir yang berupa pedang besar dipunggungnya, pedang itu digenggam dengan tangan kanannya sehingga berkobar api merah, ia juga mengaktifkan kemampuan Sang Phoenix sehingga lengan kirinya berkobar api biru.


Kanna yang memiliki kemampuan regenerasi juga bersiap dengan menarik sebilah pedang dari pinggangnya.

__ADS_1


Pemimpin kedua itupun tersenyum tipis, "Dasar bodoh!! Kalau kalian tak ingin menyerahkannya maka terpaksa aku harus merebutnya..." iapun meningkatkan energi sehingga kedua pijakan kakinya bersinar cahaya yang sangat menyilaukan.


"Sllash!!" Dengan pergerakan secepat cahaya ia sudah berada tepat dihadapan Kanna, "Kau ingin tau bagaimana rasanya ditendang secepat cahaya?" Ucap sang pemimpin kedua itu yang tanpa ragu menendang Kanna.


"Jbbllast!!" Kanna terkena telak tendangan super cepat pada bagian perut dan iapun terhempas jauh ke belakang hingga menembus beberapa tembok bangunan.


"Kanna!!!!" Teriak Ragna dan Erinka yang sangat khawatir saat melihat sekejap saja rekan mereka dihempaskan.


Pemimpin kedua berkata dengan entengnya, "Jangan mengkhawatirkan orang lain khawatirlah pada diri kalian sendiri..."


Ragna emosi, "Sialan!!!" Iapun melesatkan tinju-tinju bayangan secara bertubi-tubi.


Tetapi serangan itupun tak terlalu berguna melawan pria dengan pergerakan secepat cahaya, "Terlalu lambat..." ucap sang pemimpin kedua yang dapat dengan mudah menghindar.


"Aku tak punya waktu untuk meladenimu..." ucapnya yang kemudian melesat ke arah Ragna dan kemudian memukul wajahnya dengan kecepatan cahaya.


"Jbbllast!!" Ragna terkena serangan telak dan iapun terlempar jauh hingga menembus beberapa bangunan.


"Ragna!!!!!" Teriak Erinka akan tetapi ia segera kembali waspada mengingat ada lawan kuat yang berdiri tepat dihadapannya.


Pemimpin kedua tersenyum tipis lagi, "Setelah terkena serangan secepat cahaya mungkin ketiga rekanmu sudah mati..."


"Mereka tak akan tumbang hanya karena serangan seperti itu..." ucap Erinka dengan menebaskan pedang besar yang berbalutkan api merah itu, "Sllash!!"


"Terlalu lambat..." pemimpin kedua dengan mudahnya mampu menghindar, ujung pedang Erinka menyentuh tanah dan pemimpin kedua menginjaknya dengan satu kakinya.


Erinka berusaha mengangkat pedangnya akan tetapi tak bisa karena diinjak kuat-kuat oleh lawan, iapun beralih mengepalkan tangan kiri yang berbalutkan api biru, "HIIIAAA...!!"


"Api biru?" Gumam pemimpin kedua dalam hati sambil menghindari pukulan Erinka, iapun melompat ke belakang lalu berkata, "Aku mengerti!! Kau bocah yang menyimpan burung api Phoenix itu..."


"Benar sekali!!" Ucap Erinka.


"Kalau begitu akan ku bawa kau dan anak iblis itu..."


"Aku tidak mau dan juga Rikka-chan tak akan pergi kemanapun..." teriak Erinka dengan meningkatkan energi apinya sehinga item sihir berkobar-kobar api merah, "HIIIAAA...!!" Erinka menebaskan pedangnya.


"Sllash!!!"

__ADS_1


"WUUSS...!!" Gelombang api yang sangat kuat melesat bergerak ke arah pemimpin kedua.


Bersambung Ke The Legend Of Ragna Chapter 155 : Kejar


__ADS_2