
Sebelum membaca karya ini author minta tolong untuk pada kalian untuk 'like' ataupun 'vote' agar meningkatkan ringking cerita ini.
Ya, selamat membaca karya ini dan author ucapkan terima kasih pada pembaca setia 'The Legend Of Ragna'
Hanya itu pesan dari author sekian dan terima kasih.
Selamat membaca!!
*****
Pertarungan dua makluk mitologi telah berakhir dan hasilnya sudah jelas bahwa keduanya sama-sama kuat dan sama-sama terluka.
Baik Kraken maupun Phoenix memutuskan untuk menghentikan pertarungan dan hal itupun membuat lautan yang sebelumnya menggila perlahan berubah menjadi tenang dan langit yang semula gelap gulita perlahan menunjukan sinar terangnya.
Anginpun berhembus pelan dan burung-burung kembali berterbangan dilangit yang cerah.
Hamparan pasir putih terlihat sangat menyilaukan mata saat terkena sinar mentari.
Ragna, Sumika dan Kai pingsan setelah menghadapi lautan yang gila akan tetapi mereka bertiga sangat beruntung karena meskipun tak sadarkan diri tapi ketiganya terdampar pada sebuah pantai yang sangat indah dengan butiran pasir putih dan air laut yang sangat jernih.
Mereka terdampar disebuah pulau kecil yang terletak ditengah lautan dan dipulau itu terdapat pepohonan lebat seperti pohon apel ataupun pohon kelapa.
"Ugh!!" Dari ketiganya, Ragna adalah orang yang pertama kali sadar, ia perlahan membuka matanya dan langsung menatap ke langit yang cerah, "Sudah pagi, ya?" Ucapnya yang seakan lupa kejadian mengerikan saat berhadapan dengan sang monster lautan.
"Eeeehhh...!!" Iapun tersadar dan ingat betul kejadian kemarin.
Ragna segera duduk dan ia melihat Kai dan Sumika masih tak sadarkan diri, "Sial, dimana kami?" Gumamnya dalam hati dengan berjalan mendekati keduanya.
"Apa mereka berdua baik-baik saja?" Pikirnya yang khawatir.
Ia berniat mendekat pada Kai akan tetapi si keturunan pahlawan itu terlebih dahulu batuk, "Uhuk..."
Ragna mengurungkan niatnya untuk menolong Kai dan iapun berjalan mendekati Sumika.
Sebagian tubuh Sumika masih berada didalam air akan tetapi tubuh bagian atasnya sudah berada didaratan, "Hey, Sumika!! Apa kau baik-baik saja?" Ucap Ragna dengan menggoyang-goyangkan tubuhnya.
Sumika tak bangun juga dan Ragna akhirnya mendapatkan sebuah ide, "Ah... dia pasti terlalu banyak minum air jadi aku akan memberikan nafas buatan padanya..." iapun segera membawa keluar wanita itu dari dalam air dan membaringkan tubuhnya pada tanah yang kering.
Ragna hendak memberikan nafas buatan padanya akan tetapi sebelum bibir keduanya saling bersentuhan secara mendadak Kai memegang bahunya, "Woiy, dia istri orang..."
"Cih..." Ragna menoleh ke belakang dan nampak kesal.
"Apa kau mau cari mati?"
"Lalu apakah kita akan membiarkannya terus pingsan?" Ucap Ragna yang masih kesal karena aksinya asal nyosor diganggu.
Kai perlahan berdiri tegak, "Tentu saja kita tak boleh membiarkannya mati akan tetapi mencium bibir istri orang lain apa lagi orang lain itu adalah teman kita adalah sebuah tindakan yang sangat kejam..."
__ADS_1
"Bahkan tindakan itu lebih kejam dari membunuhnya..."
"Sadis..." gumam Ragna dalam hati dan iapun bertanya, "Lalu apa yang harus kita lakukan padanya?"
"Biar aku yang urus..." ucap Kai.
"Baik..." Ragna pun minggir.
Kai mengangkat satu kakinya dan menginjak perut Sumika tanpa ragu, "Uhuk...!!!"
"Woiy!!!!" Bentak Ragna yang terkejut pada cara yang dilakukan oleh Kai, "Apa yang telah kau lakukan?"
"Tentu saja aku menyadarkannya dan caraku itu ternyata berhasil..." ucap Kai dan secara perlahan Sumika pun membuka matanya.
"Huh? Dimana aku?" Ucap Sumika saat menatap langit cerah diangkasa.
"Sepertinya kita berada disebuah pulau dan lokasinya tak jelas..." jelas Kai.
"Ya, singkatnya kita terdampar..." ucap Ragna
"Ugh!!" Sumika secara perlahan bangkit.
"Hati-hati..." Kai membantunya untuk duduk dan sepertinya Ragna masih kesal pada sikap Kai.
"Aku tak ingat kejadian semalam..." ucap Sumika dengan berusaha mengingat-ingat.
"Benar, dan sepertinya pertarungan dua makluk mitologi itu berakhir dengan imbang..." sahut Ragna.
"Begitu ya..." ucap Sumika dengan menundukan wajah, iapun nampak murung, "Lalu bagaimana bisa kita berada ditempat ini?"
"Entahlah..."
"Hmm..." Ragna berfikir dan mengingat-ingat kejadian semalam, "Seingatku baik Phoenix maupun Kraken mengeluarkan serangan terkuat mereka sehingga tercipta ledakan yang sangat besar..."
"Lalu ledakan itupun menciptakan sebuah badai hebat, ombak bergulung-gulung dan tentu saja petir..."
"Ya, kita jadi berakhir ditempat ini karena terombang-ambing tak menentu..." jelas Ragna dengan mengingat-ingat kejadian semalam.
Sumika semakin shock sampai meneteskan air mata.
"Eeeehh...!!!! Apakah ada yang salah dari kata-kataku??" Ragna tak mengerti.
Sumika menggeleng-gelengkan kepala dan berkata sambil menangis, "Tiada yang salah dengan apa yang kau katakan tapi apakah Denjirou-sama dan Tifa lalu Makio baik-baik saja?"
"Cih..." Ragna agak kesal dan bergumam dalam hati, "Rupanya dia menangis karena khawatir pada orang lain..."
Kai mengulurkan tangannya dan berkata, "Aku tak tau apakah mereka baik-baik saja atau tidak tapi yang jadi prioritas sekarang ini adalah keselamatan kita sendiri..."
__ADS_1
"Ya, jika mereka masih hidup pasti mereka akan mencari kita dan jika hal itu terjadi maka kita harus dalam keadaan baik-baik saja..."
Sumika meraih uluran tangan Kai dan mengusap air matanya, "Kau benar!! Makio, Tifa dan Denjirou-sama pasti masih hidup dan mereka pasti sedang berusaha mencariku..." ucapnya yang berusaha menguatkan diri.
"Nah, jadi apa yang harus kita lakukan, pemimpin?" Ucap Ragna.
"Aku bukan pemimpin..."
"Aku hanya lelaki hutan tapi kau keturunan pahlawan dan ku dengar dari Pak Gamou bahwa kau memiliki jiwa kepemimpinan yang luar biasa jadi sudah sewajarnya aku mengikutimu..." ucap Ragna.
"Emm..." Sumika mengangguk dan setuju.
"Hah..." Kai menghela nafas panjang dan terlihat tak mau berdebat, "Untuk sementara mari keringkan pakaian kita dulu lalu setelahnya buat perapian agar bisa dilihat orang-orang yang nantinya bisa menolong kita..."
"Siap...!!!!" Jawab Ragna dan Sumika dengan semangat.
Mereka bertigapun segera bergerak dengan masuk ke dalam hutan yang ada dipulau itu untuk mengumpulkan ranting-ranting kering pepohonan yang nantinya digunakan sebagai perapian.
Ya, merekapun menggunakan perapian untuk mengeringkan pakaian dan untuk menghangatkan badan.
Ragna bertanya, "Jadi setelah membuat perapian untuk mengirimkan sinyal tanda kita ada disini dan setelah pakaian kita kering lalu apa yang harus kita lakukan selanjutnya?"
"Kita harus mengumpulkan bahan makanan dan beberapa keperluan sebelum malam datang..." jelas Kai.
Merekapun bergerak lagi masuk hutan untuk memetik beberapa buah apel dan kelapa untuk dikonsumsi.
Lalu setelah melakukannya mereka bertiga bergerak lagi menyusuri pulau kecil itu untuk mengetahui seperti apakah tempat mereka terdampar sekarang ini.
Ya, untuk tambahan makanan yang dikonsumsi mereka bertiga mencari ikan, udang, kepiting dan cumi-cumi dari laut terdekat.
Merekapun tak tau berapa lama lagi bala bantuan akan datang.
Lalu waktupun terus berjalan dan ketiganya menunggu sesuatu yang tak pasti sehingga tak terasa 3 hari telah berlalu sejak insiden pertarungan besar dua makluk mitologi.
"Hah..." Ragna menatap lautan dan terlihat sangat bosan dan iapun bergumam dalam hati, "Berapa lama lagi aku akan terperangkap dalam pulau ini?"
Bersambung Ke The Legend Of Ragna Chapter 68 : Bala Bantuan II
******
Pesan Author : kalau gak mau Vote gak papa sih tapi tolong like atau setidaknya komen meski hanya "lanjut" "next" "bagus" atau "up" yang penting bisa support karya ini
Yang intinya komenlah meski satu huruf dan bisa buat autor semangat.
Bukan niatnya maksa tapi author ingin tau aja siapa yang berkontribusi
Trima kasih atas perhatiannya.
__ADS_1
*****