
Sebelum membaca karya ini author minta tolong untuk pada kalian untuk 'like' ataupun 'vote' agar meningkatkan ringking cerita ini.
Ya, selamat membaca karya ini dan author ucapkan terima kasih pada pembaca setia 'The Legend Of Ragna'
Hanya itu pesan dari author sekian dan terima kasih.
Selamat membaca!!
*****
Seluruh penduduk keluar dari desa mereka setelah tempat tinggal mereka hancur karena pertarungan.
Mereka mengungsi ke segala tempat menuju perlindungan yang aman.
Lalu disalah satu gerbong kereta uap ada seorang penumpang gelap yang tak disadari oleh penduduk, ia merupakan seorang anak iblis kecil.
Usianya sekitar 6 tahun dan ia merupakan gadis iblis dengan tanduk kecil diatas kepala, rambut hitam dan juga memiliki ekor dibelakang tubuhnya.
Anak gadis iblis itupun tak diketahui oleh seorangpun karena berada digerbong barang dan ia bersembunyi didalam kotak box yang terbuat dari kayu.
Didalam box kayu itu gadis kecil itupun meringkuk ketakutan, baginya ini kali pertama ia berpergian seorang diri.
Iapun teringat pada kata-kata yang diucapkan oleh kakaknya, "Ingat adikku, kita akan bertemu lagi karena kakak akan mencarimu..."
"Kebanyakan manusia memanglah jahat akan tetapi sedikit dari mereka ada yang memiliki kebaikan dalam hatinya..."
"Temukan mereka dan kau akan sangat beruntung, adikku..."
"Lalu tunggulah kakak akan datang padamu..." kata-kata dari sang kakak itulah yang membuat gadis iblis kecil itu dapat bertahan dalam ketakutan.
Kereta berguncang cukup hebat dan sepertinya berhenti disebuah stasiun, gadis iblis itupun tetap berdiam diri, ia mengamati dari celah-celah box kayu dan melihat kerumunan dari orang-orang yang ada distasiun.
"Mana dari mereka yang memiliki kebaikan hati seperti yang kakak maksud?" Ucap gadis kecil itu dengan mengamati teliti.
Ya, meskipun begitu ia sangat takut untuk keluar dari kotak box kayu itu karena teringat pada kata-kata kakaknya bahwa kebanyakan manusia memiliki sifat jahat dihatinya.
*****
Sementara itu.
Ragna, Erinka dan Kanna yang tengah bergerak menuju Perserikatan Penyihir saat ini berada dihutan belantara dengan pepohonan yang tumbuh menjulang tinggi.
Mereka menyewa kereta kuda yang dikendalikan oleh Ragna sendiri.
"Woiy, kalian yang ada dibelakang!!"
__ADS_1
"Apa?" Tanya balik Kanna dengan menatap lewat jendela.
"Berapa lama lagi kita sampai dikota terdekat?" Tanya Ragna yang mengendalikan kuda.
"Hmm... coba ku lihat peta dulu" jawab Kanna dengan memasukan kepala ke dalam gerbong, iapun bertanya pada Erinka, "Hey, Erinka!! Ragna bertanya berapa lama lagi kita sampai dikota terdekat?"
"Cih, dia itu!! Kenapa sih dia harus kepo..." gerutu Erinka yang merasa pertanyaan rekannya itu tak penting.
Meskipun begitu iapun melihat peta untuk menjawab pertanyaan rekannya itu, "Katakan padanya bahwa jarak ke kota terdekat sekitar 3 km lagi..."
"Baik..." jawab Kanna, ia kemudian memberitahukan Ragna lewat jendela lagi, "Hey, Ragna!! Menurut peta jarak 3 km lagi kita akan sampai dikota terdekat..."
"Oh, aku mengerti..." jawab Ragna yang mengendalikan kereta kuda.
Merekapun terus saja bergerak, pelan tapi pasti walau perlahan tapi mereka yakin akan sampai ditempat tujuan.
Hutan yang lebat itu terasa sangat teduh dan dipadukan dengan hembusan angin membuat suasana menjadi sangat nyaman.
Hal itupun membuat Kanna dan Erinka yang berada didalam gerbong kereta jadi tertidur lalu Ragna yang mengendalikan kuda terpaksa harus menahan rasa ngantuk yang luar biasa berat.
"Huuaammss...!!" Ragna menguap dengan mulut terbuka lebar, iapun menggerutu dan bergumam dalam hati, "Erinka dan Kanna tak lagi berisik yang artinya mereka sudah tertidur..."
"Cih, mereka enak bisa tertidur pulas sementara aku harus menahan ngantuk dan juga harus selalu fokus pada kuda-kuda ini..." iapun terlihat sangat iri.
*
Ragna yang semula ngantuk menjadi semangat lagi, ia berteriak pada kedua rekannya yang tertidur pulas didalam gerbong kereta, "Hey, para pemalas!!! Bangunlah, kita sudah keluar dari dalam hutan!!!"
"Ugh!!" Erinka dan Kanna yang mendengar teriakan berisik dari Ragna secara perlahan membuka mata.
Erinka melihat keluar lewat jendela, "WAH...!!!" Ia terkagum-kagum pada hamparan rerumputan yang hijau sejauh mata memandang, "Indahnya!!!"
Kanna juga melihat keluar jendela, "Benar sekali!! Pemandangannya indah dan cuacahnya sangat cerah..." ucapnya dengan ekspresi senang.
"Khihihihi..." Ragna hanya tertawa saat melihat kedua rekannya senang.
Merekapun terus bergerak meski sangat lambat hingga kemudian tak jauh dari pandangan mata mereka melihat sebuah kota dengan benteng tinggi besar mengitarinya.
"Kita sampai ditempat tujuan..." ucap Ragna.
"Hmm... menurut dipeta Perserikatan Penyihir tak ada dikota ini..." ucap Kanna.
"Apa!!! Rupanya masih jauh, ya?" Ragna agak kecewa.
"Lumayan dekat, kita hanya harus menaiki kereta..."
__ADS_1
"Kereta, ya?" Ucap Erinka dan Ragna dengan berkeringat dingin.
"Memang apa salahnya naik kereta??"
"Tidak ada yang salah, hanya saja aku dan Ragna mengalami masalah yang luar biasa saat terakhir kali naik kereta..." jawab Erinka.
"Singkatnya kami sedikit trauma naik kereta..." jelas Ragna.
"Memangnya hal apa yang membuat kalian berdua sampai trauma?"
"Kereta yang kami tumpangi mendadak dibajak oleh para goblin dan kami terpaksa harus berjuang mati-matian menghadapi makluk menjijikan itu..." jelas Erinka yang serasa tak ingin mengingat kejadian yang lalu.
"Oh..." Kanna merespon datar dan tak ingin bertanya lagi setelah mengetahui apa penyebab trauma mereka.
Tak butuh waktu lama kelompok itupun sampai digerbang masuk kota dan merekapun harus berhenti sejenak untuk melakukan pengecekan.
"Apa tujuan kalian memasuki kota kami?" Tanya seorang penjaga gerbang pintu masuk kota
Erinka turun dari kereta dan sebagai bangsawan ia langsung saja menunjukan lencana kerajaannya, "Kami hanya ingin menuju Perserikatan Penyihir jadi biarkan kami lewat..."
Penjaga gerbang pintu masuk itupun segan pada lencana kerajaan yang dibawa oleh Erinka dan iapun tak ingin punya masalah dengan pihak bangsawan, "Baik, kami akan mengijinkan anda sekalian masuk..." ucapnya
Penjaga gerbang itupun berteriak lantang, "Buka gerbangnya!!!"
Ya, secara perlahan gerbang besi raksasa itupun terbuka dan nampaklah kota yang megah dan indah.
"WAH...!!!!" Sebagai orang yang biasanya hidup dipedalaman hutan, Ragna dan Kanna merasa takjub pada keindahan dan kemegahan kota itu.
"Jangan menatap lebih dari 5 menit!! Kalian terlihat kampungan..." ucap Erinka yang merasa risih.
"Cih, aku mengerti..." ucap Ragna yang kemudian mengendalikan kuda untuk masuk ke dalam kota.
Semakin masuk ke dalam kota mereka semakin takjub pada apa yang mereka lihat.
Kota itu terlihat sangat damai dengan lalu lalang pedagang yang terlihat diberbagai tempat.
"Kota ini terletak diantara pegungungan tapi mengapa bisa seramai ini?" Ragna bertanya-tanya.
"Itu karena kota ini dekat dengan Perserikatan Penyihir yang tentu saja membuat kota ini damai..."
"Semakin damai artinya keamanan terjaga dan hal itulah yang membuat kota ini dengan cepat berkembang sehingga sangat ramai sekali..." jelas Erinka.
"Owh..." Ragna dan Kanna yang merupakan orang yang biasanya hidup ditengah hutan belantara paham apa maksud kata-kata Erinka itu.
Bersambung Ke The Legend Of Ragna Chapter 117 : Anak Iblis II
__ADS_1