
Sebelum membaca karya ini author minta tolong untuk pada kalian untuk 'like' ataupun 'vote' agar meningkatkan ringking cerita ini.
Ya, selamat membaca karya ini dan author ucapkan terima kasih pada pembaca setia 'The Legend Of Ragna'
Hanya itu pesan dari author sekian dan terima kasih.
Selamat membaca!!
*****
Esok hari yang sangat cerah, matahari bersinar terang menyinari kota itu dan burung-burung berkicau bersautan dengan merdu.
Embun pagi membasahi dedaunan pohon dan secara perlahan bunga-bunga terlihat akan mekar.
"Huuaamms..." Ragna terbangun dari tidur nyenyak dan menatap ke luar saat secerca cahaya menyinari wajahnya. Cahaya itu asalnya dari jendela dan iapun membuka jendela itu lalu menarik nafas panjang untuk menghirup udara segar, "Ternyata sudah pagi, ya?"
"Yosh!!" Ucap lelaki itu dengan penuh semangat, iapun segera merapikan tempat tidur dan bergegas ke ruangan sebelah.
"Hadeh, aku tau dia pasti belum bangun juga..." ucap Ragna saat berada didepan pintu kamar Erinka.
"Tok... tok..." Ragna mengetuk pintu itu kemudian berteriak, "Sudah pagi!! Segera bangun dan ayo pergi ke guild...!!"
Erinka yang ada dikamar sedikit terganggu dan malah menutup diri dengan selimut, "Sebentar lagi!! Aku masih ngantuk dan diluar dingin..." ucapnya dengan malas, iapun memejamkan mata lagi.
"Dia mulai membuatku kesal..." gumam Ragna dalam hati, iapun menggedor-gedor pintu kamar itu dengan lebih keras, "Ayolah!! Cepat bangun, pemalas...!!!"
Erinka yang ada didalam tak mempedulikan dan malah menutup telingannya dengan bantal, "5 menit lagi!!"
"Woiy!!" Ragna menjadi kesal dan memukul pintu dengan keras yang tanpa diduga membuatnya copot, "Eehh...!!??"
Begitu pintu terlepas nampak Erinka masih berusaha tidur.
Ragna yang mengetahui rekannya tak sadar bahwa pintunya lepas langsung berkata dengan santainya, "Yap, tidurlah dan aku akan pergi ke guild sendirian..."
Iapun segera berlari ke lantai bawah dan segera berlari ke luar rumah.
Erinka yang masih berselimut dan kepalanya tertutup bantal bergumam dalam hati, "Apakah benar ia telah pergi??" Iapun membuka sedikit selimut yang menutupi kepalan untuk melihat apakah rekannya masih ada disana atau tidak.
"Eehh...!!" Erinka terkejut saat melihat pintu kamarnya copot, "Pasti hanya mimpi..." iapun bangun dan membenamkan tubuh lagi pada kasur lalu menutup diri dengan selimut.
"Yang benar saja!!!! Pintu kamarku lepas...!!" Teriaknya yang mendadak tak bisa tidur.
Iapun menjadi jengkel karena harus menyewa orang untuk memperbaiki pintu itu yang tentu saja membutuhkan uang, "Si Ragna itu benar-benar sialan!!" Jiwa miskin dan mata duitan miliknya meronta-ronta saat mengetahui harus mengeluarkan uang.
Gadis bangsawan itu segera bangkit dari tempat tidurnya dan segera menuju lantai bawah untuk cuci muka lalu mandi.
__ADS_1
Iapun tak lupa sarapan meskipun hanya roti tawar.
Setelahnya Erinka keluar rumah dan menutup pintu secara pelan-pelan agar tak terjadi kerusakan, "Hah..." iapun menatap rumah kontarakan yang sederhana dan merupakan tempat tinggalnya itu.
"Meski jelek tempat ini adalah rumahku dan tempat ini merupakan batu loncatan untuk kesuksesan diriku..." iapun nampak bersemangat dan berteriak, "Yosh!!! Aku siap menjalankan misi baru demi mendapatkan uang banyak...!!!"
Gadis bangsawan yang angkuh itu berangkat menuju Guild White Tiger dengan penuh semangat untuk menjalankan misi akan tetapi dalam hati ia juga masih jengkel pada perbuatan Rikie yang merusak perabotan rumahnya.
Iapun berjalan beberapa langkah dari rumahnya dan berbelok gang lalu bertemu lagi dengan Ragna, "Eehh...!!!! Bukankah kau sudah pergi dari tadi mengapa masih ada disini?"
"Ya, aku belum hafal jalannya jadi dari pada tersesat lebih baik aku menunggumu..." jelas Ragna dengan santainya, "Dan tak ku kira kau bangun juga..."
Erinka menjadi marah, "Ini semua karena dirimu pintu kamarku jadi lepas!!!! Aku harus menyewa orang untuk memperbaikinya dan sebagai balasannya aku akan memotong upah dari misi yang kita jalani!!!!"
"Sebagaian upahmu akan menjadi milikku untuk memperbaiki pintu kamarku...!!"
"Woiy, gak bisa gitu dong!! Kau mencari alasan untuk memerasku..." protes Ragna tak terima.
"Kau harus mengalah dari wanita...!!" Teriak Erinka dengan lantang dan membuat keduanya menjadi pusat perhatian orang-orang.
Si gadis bangsawan tak menyadari bahwa mereka menjadi pusat sorotan mata akan tetapi Ragna menyadarinya dan bergumam dalam hati, "Dasar wanita angguh, kikir, mata duitan dan maunya menang sendiri....!!"
Pada akhirnya Ragna mengalah, "Ya, sudahlah!! Lakukan saja apa maumu...!!"
"Khihihi..." Erinka pada akhirnya tersenyum lebar penuh kepuasan karena berhasil menang dalam perdebatan, "Nah, gitu dong!! Lelaki jantan itu mengalah dari wanita..."
Iapun terlihat kesal akan tetapi tetap berusaha untuk sabar, "Ayolah, cepat pergi!!!"
"Siap..." Erinka terlihat tersenyum lebar.
Keduanya berjalan perlahan pada jalan kota yang ramai akan perdagangan.
Ya, kota Arsenia memiliki penduduk yang lumayan pada dengan berbagai masalah yang cukup banyak sehingga ditempat itu berdiri beberapa guild petualang atau petualang yang bisa disewa untuk menyelesaikan masalah.
Erinka maupun Ragna nampak bersemangat dan penuh harap bisa mendapatkan misi tingkat tinggi lalu menyelesaikannya dengan lancar agar supaya memperoleh bayaran yang layak.
Mereka berharap bisa menyelesaikan misi kemarin saat bersama Pak Tua Boon.
Keduanya hampir sampai digedung guild White Tiger akan tetapi mereka menyadari ada yang aneh pada guild itu.
Orang-orang berkerumunan didepan guild.
"Hmm... ada apa itu?" Tanya Ragna sebagai anggota baru, "Apa disana ada festival, pedagang atau semacamnya?"
"Aku juga kurang tau..." jawab Erinka.
__ADS_1
"Yap, lebih baik kita mendekat untuk memeriksanya dari pada disini dan terus bertanya-tanya..." ucap Ragna.
"Kau benar...." keduanya mempercepat langkah kaki.
*
Dalam kerumunan itu terdengar banyak celotehan orang-orang yang biasanya mengunjungi Guild White Tiger.
"Kasihan sekali, ya?"
"Benar, tempat ini jadi hancur!!"
"Lebih baik kita segera melapor ke petugas keamanan kota..."
Ragna maupun Erinka berusaha menerobos kerumunan itu.
"Permisi, kami mau lewat!!" Ucap Erinka
"Benar, kami anggota guild jadi berikan jalan!!" Sahut Ragna.
Jalan terbuka begitu keduanya muncul dan semua orang menatap Ragna maupun Erinka dengan rasa prihatin.
"...!!!" Erinka maupun Ragna menjadi terbelalak dan sangat terkejut akan apa yang mereka lihat.
Tubuh Pak Tua Boon terpampang jelas digantung dipintu masuk guild, ia sudah tak bernyawa lagi dengan kondisi tak memiliki kaki dan tangan lalu yang lebih memalukan lagi ia telanjang bulat.
Dan kemudian tak kalah tragis, Sistina juga tergantung tangannya dipintu masuk yang juga dalam kondisi telanjang bulat akan tetapi terlihat ia masih bernafas.
Erinka terlihat shock dan menganggap apa yang ada dihadapannya bagaikan mimpi buruk, "Ini tidak mungkin...!!!"
"Sialan...!!!!!!" Teriak Ragna dengan mengepalkan tangan dan terlihat sangat geram, iapun meledakan kegelapan dan menutupi bangunan guild berserta tubuh dua rekannya itu dengan elemen agar tak menjadi tontonan banyak orang.
Pagi yang cerah dan penuh semangat membawa duka dan kesedihan yang tiada obatnya.
Bersambung Ke The Legend Of Ragna Chapter 35 : Black Tiger
******
Pesan Author : kalau gak mau Vote gak papa sih tapi tolong like atau setidaknya komen meski hanya "lanjut" "next" "bagus" atau "up" yang penting bisa support karya ini
Yang intinya komenlah meski satu huruf dan bisa buat autor semangat.
Bukan niatnya maksa tapi author ingin tau aja siapa yang berkontribusi
Trima kasih atas perhatiannya.
__ADS_1
*****