The Legend Of Ragna

The Legend Of Ragna
Chapter 104 : Imajinasi II


__ADS_3

Sebelum membaca karya ini author minta tolong untuk pada kalian untuk 'like' ataupun 'vote' agar meningkatkan ringking cerita ini.


Ya, selamat membaca karya ini dan author ucapkan terima kasih pada pembaca setia 'The Legend Of Ragna'


Hanya itu pesan dari author sekian dan terima kasih.


Selamat membaca!!


*****


Sistina dan Erinka sekaranp sedang erhadapan dengan penyihir yang mampu mewujudkan imajinasi yaitu Rumia.


Sebelumnya Rumia menembaki Erinka akan tetapi dapat diatasi.


"Hebat juga..." Rumia dengan imajinasinya perlahan merubah pistol yang ia genggam menjadi sebuah bazoka, "Nah, kalian bisa mengatasi pistol akan tetapi aku ingin tau bagaimana caranya kalian mengatasi yang ini?" Iapun tanpa ragu menarik pelatuk bazoka.


"Lari Erinka!!!!!" Teriak Sistina.


"WUUSS...!!!" Akan tetapi sebelum keduanya sempat melarikan diri misilpun terlebih dahulu melesat lalu terjadi ledakan besar, "DHHUUAARR...!!"


Terlihat dinding bangunan hancur dan terlihat kepulan asap dedebuan tercipta dan kertas-kertas dari buku berterbangan


Rumia mampu merasakan energi keberadaan keduanya, "Oh, ternyata kalian bisa bertahan, ya?" Dengan kemampuan sihirnya ia menatap tajam dedebuan lalu berhembuslah angin kuat darinya, "WUUSS...!!!" dedebuan itupun tersapu habis.


Ya, terlihat lubang besar pada dinding bangunan dan nampaklah Erinka terbang masuk dengan sepasang kobaran sayap api warna biru.


"Apinya berbeda..." gumam Rumia dalam hati dengan sorot mata tajam.


"Tap..." Erinka mendaratkan kaki pada lantai dan Sistina turun dari dekapannya lalu menjauh.


"Hati-hati, Erinka..."


"Ya, aku tau..." ucap Erinka.


Rumia dan Erinka saling berhadapan dan sama-sama memasang sorot mata tajam.


"Api biru yang berkobar dipunggungmu itu terlihat berbeda!! Sepertinya sangat panas dan kuat jadi dari mana asal kekuatan itu?"


"Khi..." Erinka tersenyum menyeringai lalu berkata, "Hehehe... rupanya kau memperhatikan juga, ya?"


"Jujur saja aku tak peduli akan tetapi aku agak penasaran..."


"Hehehe... kau penasaran pada api biru milikku yang spesial ini, ya?" Ejek Erinka.


"Cih..." Rumia menjadi jengkel, "Lupakan saja!! Meski aku penasaran pada apimu tapi tetap saja aku akan mengalahkanmu..."

__ADS_1


"Benarkah?" Ejek Erinka yang dengan sekali pijakan dan dipadukan dengan kepakan sayapnya melesat cepat ke arah lawan.


"...!!!" Rumia terkejut dan iapun langsung saja menciptakan dinding beton tepat dihadapannya.


Erinka menggenggam erat pedangnya yang berkobar-kobar itu dengan dua tangan dan menebaskan sekuat tenaga, "Sllash!!"


Pertahanan Rumia tertembus dan hal itupun semakin membuatnya shock.


Setelah berhasil menghancurkan dinding beton, Erinka melesat lagi dengan menambah kecepatannya lalu tanpa ragu menebas, "Sllash!!!"


"Cruat!!!" Darah segar mengalir deras dari Rumia.


Erinka yang telah berhasil melesatkan serangannya berbalik, "Sudah selesai..." ucapnya yang serasa sudah meraih kemenangan.


Tetapi secara perlahan Rumia bangkit kembali dengan sorot mata tajam, "Boleh juga..." iapun tersenyum menyeringai dan membuat segala buku-buku berserta dengan rak-raknya terbang melayang bagaikan tanpa beban.


Erinka terkejut dan ia segera berbalik, "Bagaimana mungkin kau bisa berdiri lagi?"


"Hahahaha... bodoh!!!" Ucap Rumia yang secara perlahan luka pada tubuhnya pulih kembali.


Erinka tak percaya lawan memiliki kemampuan pemulihan lalu dari kejauhan Sistina berteriak dengan lantang, "Erinka, dia mampu menyebuhkan dirinya dengan imajinasi!! Satu-satunya cara mengalahkannya adalah dengan membuat ia berhenti berimajinasi..."


"Berisik!!!" Teriak Rumia dengan sorot mata tajam dan angin kuatpun melesat sehingga membuat Sistina terhempas sampai membentur dinding bangunan.


"Hahahaha...!! Sudah lama aku tak terluka!! Kau gadis yang menarik..." ucap Rumia yang dengan imajinasinya mendadak menjatuhkan benda-benda yang berterbangan.


Erinka tak berfikir panjang, iapun terbang melesat ke arah lawan dengan menggenggam pedangnya menggunakan dua tangan lalu menusukan senjatanya yang penuh kobaran api.


Rumia menatap tajam dan tengah berkonsentrasi lalu dengan imajinasinya iapun menciptakan bayangan yang sama persis dengan Erinka dan bayangan itupun juga sedang bergerak melesatkan tusukan.


"Cthing!!!!" Dua Erinka sama-sama melesatkan tusukan.


Erinka yang asli langsung menjaga jarak sejenak, iapun bergumam dalam hati, "Tak ku sangka dengan imajinasinya ia mampu menciptakan bayangan diriku yang sama persis..."


"Kemampuan sihirnya itu lebih hebat dari 'Absolute Order' yang dimiliki oleh Master Sabertoooth..."


"Ya, pasti ada sedikit celah dalam kemampuannya itu!! Ia punya kelebihan dan tentu sata kemampuannya pasti punya kekurangan..." pikir Erinka yang mencoba mencari kelemahan lawan.


Rumia menatap tajam, "Kau pasti sangat terkejut mengetahui aku mampu menciptakan bayangan dirimu dengan kemampuan imajinasiku...!!!"


Erinka melesat lalu menebas, "Cthing!!!" Tetapi Erinka yang lain menahan tebasan itu dengan pedang juga.


"Hahahaha...!!! Kau pasti sangat kerepotan karena ia ku ciptakan sama persis denganmu..." ucap Rumia dengan penuh rasa bangga.


Dua Erinka bertarung dan nampaknya Erinka yang tercipta dari kemampuan Rumia mampu mengimbangi yang asli.

__ADS_1


Erinka yang asli bergumam dalam hati, "Tiruannya sangat sempurna, apa tiada celah dalam kemampuan imajinasinya itu?"


"Cthing!!" Dua Erinka terbang diudara dan saling berbenturan senjata.


Rumia yang berada dibawah menatap pertarungan keduanya dan berkata dengan nada datar, "Membosankan!! Pertarungan mereka sama sekali tak menarik!!" Iapun meningkatkan energi dan menggunakan imajinasi terliarnya.


Ya, iapun menumbuhkan sayap dari punggungnya, memunculkan cakar-cakar lalu dua tanduk dikeningnya.


"Hahahaha...!!" Iapun mengembangkan sepasang sayap berwarna merah darah yang sangat lebar, "Mari buat pertarungan ini lebih menarik..."


"DYYEESS...!!" Iapun melompat ke atas dengan pijakan kuat yang sampai-sampai membuat lantai tempatnya berpijak hancur.


Lalu dipadukan dengan kibasan sayapnya, Rumia bergerak sangat cepat, "Sllash!!" Ia bergerak bagaikan hembusan angin.


"...!!!!" Dua Erinka terkejut ketika merasakan energi kuat mendekat.


"Hahahahahaha...!!!!" Rumia langsung saja menyerang salah satu Erinka, "Aku tak tau kau imitasi atau bukan!!!!"


"Sllash!!" Dengan cakarnya yang tajam Rumia menyerang Erinka hingga membuatnya terbelah menjadi dua bagian.


"Hahahaha..." Rumia tertawa lepas dan melihat Erinka yang ia serang perlahan memudar, "Cih, rupanya aku menyerang hasil imajinasiku sendiri..."


"Ya, tak masalah!! Niatku menyerangnya memang hanya untuk pamer..." ucap Rumia.


Setelah melihat kemampuan lawannya yang mampu menghabisi dalam sekejap,


Erinka yang asli menjadi sangat waspada, ia bergumam dalam hati, "Dia kuat sekali!! Mungkin aku harus menggunakan lebih banyak kekuatan Phoenix untuk melawannya..." pikirnya.


Rumia beralih menatap Erinka yang asli dan tersenyum menyeringai, "Nah, sekarang giliranmu untuk mati..."


Erinka menggenggam erat pedangnya dengan dua tangan lalu berkata dengan sorot mata tajam, "Sayang sekali!! Tapi aku akan menang...." iapun meningkatkan energi dan membuat sepasang sayap api biru yang ada dipunggungnya semakin besar.


Rumia tersenyum menyeringai, "Sepertinya masih banyak kekuatan yang kau miliki!! Ya, aku akan bermain-main sebentar denganmu sebelum membunuhmu..."


Rumia menunjukan imajinasi terkuatnya dan memaksa Erinka untuk berjuang mati-matian.


Lalu dilantai dasar, Sistina menatap pertarungan keduanya dan merasa sangat khawatir.


"Gawat!! Rumia tak main-main dengan imajinasinya seperti itu ia benar-benar akan membunuh Erinka..."


Sistina si gadis bartender menundukan muka, "Apakah aku harus bertarung juga?"


"Setelah sekian lama berlalu apakah diriku bisa mengalahkannya?" Pikirnya dengan menatap ke atas.


Bersambung Ke The Legend Of Ragna Chapter 105 : Aku Juga Akan Bertarung!!

__ADS_1


__ADS_2