
Sebelum membaca karya ini author minta tolong untuk pada kalian untuk 'like' ataupun 'vote' agar meningkatkan ringking cerita ini.
Ya, selamat membaca karya ini dan author ucapkan terima kasih pada pembaca setia 'The Legend Of Ragna'
Hanya itu pesan dari author sekian dan terima kasih.
Selamat membaca!!
*****
Keberuntungan terus saja terjadi meski pertarungan dilakukan dimarkas Black Tiger.
Erinka berhasil mengungguli lawannya dengan menggunakan api biru milik 'Sang Phoenix' sementara itu Reynhard yang merupakan keturunan pahlawan dan Djarot 'Si Cyborg' juga sampai dilantai kedua itu.
"Kau tak apa, Erinka?" Tanya Djarot 'si cyborg'
Erinka tersenyum dan berkata, "Semua terkendali!!"
Reynhard menatap tajam pada 3 penyihir elite Black Tiger itu, "Serahkan pelaku kejahatan itu dan biarkan pengadilan yang memutuskan dia benar atau bersalah..." ucapnya.
Ketiga penyihir elite Black Tiger yaitu Jigra, Betty dan Alexa nampak geram dengan kata-kata intimidasi dari Reynhard itu
Alexa berkata dengan datar supaya terlihat tenang, "Kami tak akan menyerahkan rekan kami pada kalian dan bukankah kalian yang menyerang kami? Kalianlah pelaku kejahatan yang harus diadili oleh pengadilan..."
Reynhard semakin geram.
"Benar, kalian bahkan tak punya bukti apapun dan malah menuduh teman kami!! Kalian mencemarkan nama baiknya..." sahut si gadis pedang, Betty.
Reynhard menjadi emosi, iapun secara perlahan menarik pedangnya yang tersarung dipinggang kiri dengan tangan kanan, "Bersiaplah!!" Pedang tersebut langsung terlapisi pusaran angin.
Si keturunan pahlawan itu langsung melesat secepat hembusan angin dan tanpa ragu menebas Jigra.
"...!!!" Jigra terkejut akan tetapi Betty mendadak muncul didepannya dan menahan tebasan itu dengan menyilangkan dua pedangnya, "Cthing...!!"
"Menyingkirlah, gadis kecil...!!!" Teriak Reynhard dengan memberikan tekanan tambahan.
"Tidak mau...!!" Enam lengan Betty segera menarik pedang dan langsung berniat menebas perut lawan dari bawah.
"Cih...!!" Reynhard nampak geram akan tetapi ia mampu menghindar dengan melompat kebelakang.
Dilain sisi, Djarot mengarahkan telapak tangan ke depan dan ditelapak tangannya itu muncul sebuah lubang, iapun memfokuskan energi pada telapak tangannya itu dan sebuah cahaya mulai terkumpul, "Sllash...!!"
Tembakan laser dilesatkan akan tetapi Jigra memfokuskan energi pada telapak tangannya yang terlapisi item sihir yang berupa sarung tangan besi dan menahannya, "Shring...!!!" Tembakan laser itu tercerai berai ke segala arah.
Alexa segera berlari dan menendang wajah Djarot sekuat tenaga, "Jbbuuak!!"
__ADS_1
"Kau harus segera disingkirkan jika tidak tempat ini akan segera hancur...!!!!"
Djarot 'Si Cyborg' terhempas jauh menuju jendela ruangan itu dan berakhir jatuh dari lantai dua.
"Biar aku saja yang mengatasinya..." ucap Alexa yang melompat dari jendela.
"Hah... hah... hah..." Jigra nampak kelelahan dan mencoba mengatur nafas setelah menahan tembakan laser dari Djarot, "Sial, tak ku sangka guild kecil itu berisi penyihir-penyihir tangguh..."
Iapun lengah dan mendadak Erinka muncul tepat dibelakangnya, "Akulah yang akan jadi lawanmu...!!!!"
"Jbbuuak...!!" Iapun menendang Jigra dengan kaki kanan yang berbalutkan api Phoenix.
'Sang Dragon Slayer' terhempas jauh menuju jendela dan juga jatuh dari lantai 2 tersebut.
"Aku tak akan membiarkanmu pergi!!! Aku akan menghajar orang yang telah membunuh Tuan Boon...!!" Teriak Erinka dengan berlari mengejar lawan melompati jendela.
*
Dilantai 2 itu hanya menyisahkan Reynhard dan Betty.
"Hah...!!" Reynhard menghela nafas panjang dan nampak kecewa, "Susah-susah aku naik tapi mereka berdua dengan mudahnya turun dan juga ditempat ini sekarang hanya tinggal aku dan gadis kecil pemegang delapan pedang..."
"Dasar payah!! Aku benar-benar tak beruntung..." gerutunya.
Betty malah menyindir lawannya, "Aku mengenalmu dari koran yang beredar!! Ya, wajahmu terlihat sangat jelas dan kau adalah keturunan pahlawan, Reynhard Sinaga..."
"Hahahaha...!!! Kau benar-benar keturunan pahlawan yang ada dikoran itu!! Dianggap keturunan pahlawan yang hina karena hobi mabuk-mabukan, berjudi dan dari rumor yang beredar kau adalah seorang penyuka sesama jenis alias gay..."
Reynhard menjadi emosi, ia melesat cepat dengan sekali pijakan dan tanpa ragu menusuk, "Cthing...!!!!" Gadis kecil itu menyilangkan delapan pedang untuk menahan.
"Ku bunuh kau, gadis kecil!!" Ucap Reynhard dengan sorot mata tajam.
Betty masih berani mengejek meski lawannya telah emosi, "Aku tak akan pernah takut padamu karena kau adalah pecinta sesama jenis bukan pedofil penyuka anak-anak..."
Reynhard menjadi semakin jengkel meski lawannya merupakan anak kecil, iapun memundurkan langkah kaki, "Rasakan ini!!" Iapun memfokuskan energi pada satu titik yaitu pedang dan pedangnya tersebut terlapisi sebuah pusaran angin.
Betty mengarahkan semua ujung pedangnya ke depan dan berputar bagaikan baling-baling sehingga tusukannya bagaikan bor, "WUUSS...!!!"
Iapun bergerak cepat ke arah lawan, "Apa...!!!" Reynhard yang berniat menyerang terkejut dan iapun langsung menghindar.
Betty menghentikan tekniknya dan berkata dengan sombongnya, "Dengan delapan lengan yang memegang delapan lengan lalu mengarahkan ujung pedang ke depan dan berputar maka aku bisa menciptakan sebuah teknik tusukan yang sangat mematikan..."
"Siapapun yang terkena akan tercabik-cabik...!!!!" Iapun berlari lagi ke arah lawan dengan teknik bor pedangnya.
"Cih..." Reynhard menjadi lebih geram daripada sebelumnya, "Kau membuatku jengkel, bocah...!!" Teriaknya dengan berlari maju dan tanpa ragu menebas.
__ADS_1
"Cthing...!!!" Pedang Reynhard beradu dengan tusukan dan putaran delapan pedang itu akan tetapi ia malah mengalami kewalahan dan terlempar jauh menimpa beberapa meja.
Iapun segera berdiri lagi dan bertambah kesal dari pada sebelumnya, "Kau mulai membuatku muak...!!!"
"Hahahaha...!!! Jangan tunjukan padaku raut wajah yang menyedihkan seperti itu!! Kau akan kalah jadi setidaknya tunjukan ekspresi tenang, gagah dan tampan padaku..." ejek Betty.
Reynhard berdiri tegak dan sekarang ia memegang pedang dengan kedua tangannya, iapun berfikir dengan bergumam dalam hati, "Aku bisa mengalahkannya!!"
Iapun memejamkan mata, "Aku hanya harus memfokuskan energi pada satu titik lalu menebasnya ditempat dan waktu yang tepat..."
Reynhard mempertajamkan instingnya dan memfokuskan seluruh energi pada satu titik yaitu sebilah pedang yang ia genggam.
Betty mengejeknya, "Bodohnya dirimu!! Apa kau pikir bisa mengalahkanku dengan menutup mata?"
"Ya, itu sebuah penghinaan bagiku..." iapun berlari menuju lawan dengan memutar-mutar kedelapan pedangnya hingga seperti putaran bor.
Sejengkal saja serangan itu hampir mengenai wajah Reynhard akan tetapi ia segera menekuk lutut dan menunduk lalu menebas dari bawah, "Sllash...!!!"
Iapun menebas lagi bor pedang itu dari atas, "Sllash...!!!"
Sekali lagi ia menekuk lututnya dan menebas pedang lawan dari bawah, "Sllash...!!!"
Yap, kejadian itu begitu singkat hingga Betty tak menyadarinya, "Hohoho... kau bisa menghindari seranganku, rupanya..."
"Bukan menghindari tapi aku sudah menang..." ucap Reynhard dengan kembali menyarungkan pedang.
"Apa maksudmu? Kau tak melakukan apapun!!!" Betty yang tak menyadari berniat menyerang lagi akan tetapi mendadak kedelapan pedangnya terpotong menjadi beberapa bagian, "Sejak kapan kau melakukannya...!!!" Ia benar-benar terkejut.
"Rahasia dan kau tak perlu tau...!!!" Ucap Reynhard dengan menyarungkan pedangnya.
Teriak Betty itu membuat luka tebasan Reynhard yang ada didadanya terbuka, "Cruat...!!" Ternyata tanpa disadari gadis Black Tiger itu sudah tertebas oleh Reynhard.
"Kau bukan lawan yang sebanding denganku, gadis kecil..." ucap si keturunan pahlawan itu yang tanpa ragu menebas seorang gadis kecil
Dalam penyerangan itu White Tiger lebih unggul.
Bersambung Ke The Legend Of Ragna Chapter 42 : Sihir Air
******
Pesan Author : kalau gak mau Vote gak papa sih tapi tolong like atau setidaknya komen meski hanya "lanjut" "next" "bagus" atau "up" yang penting bisa support karya ini
Yang intinya komenlah meski satu huruf dan bisa buat autor semangat.
Bukan niatnya maksa tapi author ingin tau aja siapa yang berkontribusi
__ADS_1
Trima kasih atas perhatiannya.
*****