
Disebuah desa yang letaknya sangat jauh dari daerah perkotaan tengah terjadi pertarungan sengit antara sesosok iblis melawan dua petarung.
Akibat pertarungan mereka, desa itupun hancur dan terbakar hebat dalam lautan api yang memaksa semua penduduknya melarikan diri ke sembarang tempat.
"KYYAA!!!"
"Selamatkan diri kalian!!"
"Desanya hancur!!"
"Pergi dari tempat ini!!" Ucap para penduduk yang berlarian keluar desa.
Didalam desa tengah terjadi pertempuran sengit.
"Sialan!! Mereka kuat sekali!!" Gumam si iblis dalam hati, ia merasa dipojokkan.
Seorang penyihir yang memakai topeng menarik pedangnya dari punggungnya, pedang itupun langsung berbalut kobaran api dan ia berlari maju, "Hahahahaha...!!" Iapun melesatkan tebasan.
Si iblis memfokuskan energi pada cengkraman tangan kanan dan menciptakan pedang dari elemen es, iapun mengayunkan pedang es itu sekuat tenaga, "HIIAA...!!!"
"Cthing...!!!" Dua senjata mereka saling beradu dan bentrokan energi mereka saling berdua membuat sebagian desa itu terbakar dan sebagaian lagi tertutupi oleh balokan es.
Keduanya mengambil jarak dengan melompat ke belakang.
"Hahahahaha...!!! Baru kali ini dalam pertarungan aku diimbangi oleh pengguna sihir es...!!" Pria dengan topeng itupun melesat dengan sekali pijakan dan menghantam menggunakan pedangnya.
"Cthing!!" Sang iblis menahan dengan pedang akan tetapi karena kuatnya hantaman iapun terlempar ke arah sebuah bangunan yang terbakar.
Ia terjatuh pada kobaran api dan sekejap saja kobaran api itu langsung membeku, "Cih, dia sangat merepotkan!!" Ucapnya dengan perlahan bangkit.
Seorang penyihir wanita melayang diudara, ia menggunakan sebuah grimoire sihir dan membaca mantra didalamnya.
Ya, dalam sekejap saja pecahan batu tajam tercipta diudara dan siap melesat ke bawah.
"Cih!!" Si iblis menatap tajam, ia juga menciptakan pecahan es tajam dengan menghentakan kaki.
"WUUSS...!!" Batu tajam menghujami akan tetapi dari bawah pecahan es tajam melesat cepat.
Dua serangan yang tak terhitung jumlahnya saling beradu.
"Hahahahaha...!!" Pria bertopeng yang bertarung menggunakan pedang tertawa lepas, ia menatap si iblis dan merasa senang, "Ras iblis benar-benar berbeda!! Mereka kuat!!"
Serangan es dan batu tajam terhenti, pria dengan pedang besar itupun meningkatkan energi sehingga pedangnya berkobar api, "Hahahahaha...!!" Iapun melesat dengan sekali pijakan lagi.
"...!!!" Si iblis terkejut saat lawan datang.
"Sllash!!" Pria itu tanpa ragu menebas, "Cruat!!" Si iblis tertebas pada bagian dada dan terhempas.
Ia segera berdiri tegak dan meregenerasi luka pada dadanya, "Kalian manusia benar-benar kejam!! Sebenarnya apa salah kami sehingga kalian memburu kami?" Ucapnya dengan sorot mata tajam.
Wanita yang melayang diudara membuka grimoirenya lagi, "Tak perlu dipertanyakan lagi!! Kalian ras iblis sangat jahat sehingga sudah sewajarnya dihabisi bahkan sebelum membuat kerusakan..." iapun membaca mantra sihir yang ada didalam grimoire sihir itu.
__ADS_1
Sebuah energi mulai terkumpul diudara dan secara perlahan semua api yang ada dibawah tertarik ke atas membentuk sebuah bola api raksasa, "Terimalah hukumanmu!!!!" Wanita itupun menjatuhkan bola api itu.
"WUUSS...!!!"
Iblis es itu hanya menatap tajam ke atas, "Aku sama sekali tak melakukan hal jahat apapun..." iapun memperkuat pijakan kedua energi dan meningkatkan energi sihir.
"DHHUUAARR...!!!" Ledakan hebat tercipta karena bola api yang jatuh.
*
Sementara didesa sedang terjadi pertarungan antara sesosok iblis dan dua penyihir tingkat atas ditempat lain sesosok iblis kecil berhasil menyelamatkan diri.
Ia menyelinap masuk pada kereta uap yang membawa penduduk dan barang bawahan, ia diam disana bagaikan benda mata agar tak ketahuan.
Iblis kecil itupun nampak sangat ketakutan akan tetapi ia berusaha bertahan, "Aku harus hidup..." gumamnya dalam hati.
Kereta pembawa barang dan penduduk itupun terus menjauh dari pertarungan hebat yang menghancurkan desa itu, mereka bergerak sangat cepat pada rel menuju daerah pegunungan.
*****
Sementara itu, beberapa hari telah berlalu sejak pertarungan melawan Edward dan rekan-rekannya.
Ragna telah pulih dan ia berserta Erinka dan Kanna tengah bergerak menuju ke bangunan guild White Tiger.
"Yah, tak ku sangka aku terbaring sangat lama dirumah sakit..."
"7 hari!! Tepatnya kau dirumah sakit selama 7 hari..." sahut Kanna yang menggandeng lengan kanan Ragna.
"Hey..." Erinka yang berjalan dibelakang keduanya agak kesal.
"Hmm... apa?" Ucap keduanya dengan menoleh ke belakang.
"Apa wanita itu akan selalu bersama dengan kita?"
Kanna tersenyum menyeringai lalu berkata, "Dengar, ya? Aku telah menemukan pasangan hidupku jadi aku tak akan melepaskannya dan selalu bersama dengannya!!!"
"Cih..." Erinka jadi agak kesal dan merasa keberatan, "Kaulah yang harus mendengarkan ku!!! Aku tak peduli bila kau menyukai Ragna akan tetapi mengapa kau juga harus menginap dirumahku!!"
"Heeehh..." Kanna menjadi sangat kesal juga, "Kau keberatan hanya karena masalah sepele seperti itu?"
"Sepele??" Erinka tersulut emosi, "Itu bukan masalah yang kecil!! Kau menginap dirumahku, menumpang mandi dan yang paling besar kau numpang makan dirumahku..."
"Didunia ini tidak ada hal yang gratis dan perlakuanmu itu membuatku jengkel!!!" Ucap Erinka marah-marah.
Kanna tak mau kalah dalam hal berdebat, "Dengarkan kata-kataku!! Memang sekarang aku memintanya secara gratis tapi perlu diingat bahwa jika aku punya uang nanti maka akan ku bayar semua milikmu yang telah ku gunakan..!!"
"Hah? Memangnya kapan kau akan membayarnya?" Ucap Erinka dengan nada tinggi dan berkacak pinggang.
"Pokoknya suatu saat nanti..."
"Kau pasti bohong!!" Ucap Erinka tak percaya.
__ADS_1
Keduanya berdebat akan tetapi Ragna terlihat malas menanggapi, "Hadeh, lebih baik aku pergi saja..." ucapnya dengan suara pelan, iapun pergi menuju ke bangunan guild White Tiger secara diam-diam tanpa diketahui oleh keduanya.
*
Tak butuh waktu lama Ragna akhirnya sampai digedung White Tiger, "Yah, seperti biasanya tempat ini sangat sepi..." ucapnya saat membuka pintu.
Iapun melangkahkan kaki secara perlahan menuju Sistina yang terlihat sedang membuat kopi, "Selamat datang!!" Ucap gadis bartender itu pada Ragna.
"Mana yang lainnya?" Tanya Ragna.
"Hmm... selama 7 hari kau berada dirumah sakit dan selama waktu itu Master Mark, Reynhard dan Djarot 'si cyborg' pergi ke kota..."
"Memangnya ada urusan apa?"
"Hehehe..." Sistina tertawa, "Kau tau? Hutang kita sangatlah banyak jadi mereka pergi ke kota untuk memperbaiki segela kerusakan yang telah kita perbuat..."
"Yah, hitung-hitung untuk mengurangi beban hutang kita..."
"Oh..." Ragna mengangguk paham.
Sistina meletakan secangkir kopi dihadapan Ragna, "Silakan diminum..."
"Oh, terima kasih..."
"Hmm... ngomong-ngomong apakah kau sudah mendapatkan lisensimu sebagai penyihir?"
"Lisensi penyihir?" Ragna memiringkan kepala karena tak mengerti.
"Ah, sepertinya kau tak tau!! Memangnya apakah Erinka tak menjelaskannya padamu?"
"Sama sekali tidak..." jawab Ragna dengan menengguk kopi yang dibuat Sistina.
"Lisensi penyihir artinya surat resmi dari kerajaaan Albion yang artinya kau telah diakui secara resmi oleh pihak kerajaan..."
"Setelah mendapatkan lisensi kau akan memiliki beberapa jaminan penting seperti kebebasan menggunakan sihir ditempat umum dan bayaran langsung dari kerajaan Albion yang bahkan kau mungkin bisa mendapatkan misi besar dari pihak kerajaan yang bayarannya fantastis..."
"Oh..." Ragna merespon datar, "Lalu bagaimana caranya agar aku bisa mendapatkan lisensi?"
Bersambung Ke The Legend Of Ragna Chapter 115 : Mendapatkan Lisensi
******
Pesan Author : kalau gak mau Vote gak papa sih tapi tolong like atau setidaknya komen meski hanya "lanjut" "next" "bagus" atau "up" yang penting bisa support karya ini
Yang intinya komenlah meski satu huruf dan bisa buat autor semangat.
Bukan niatnya maksa tapi author ingin tau aja siapa yang berkontribusi
Trima kasih atas perhatiannya.
*****
__ADS_1