
Angin berhembus sepoi-sepoi, burung berkicau bersautan, dedaunan bergerak perlahan dan terdengar suara serangga yang merdu.
Kelompok White Tiger yang terdiri dari Ragna, Erinka dan Pak Tua Boon sedang dalam perjalanan pulang dan mereka tengah berada dihutan.
Ragna rebahan diatas gerbong kereta dan terlihat menikmati suasana, Erinka sedang tertidur didalam gerbong lalu Pak Tua Boon mengendalikan kuda.
Ya, mereka tengah hutan menikmati suasana yang damai itu.
Pak Tua Boon yang mengendalikan kuda bertanya pada Ragna, "Hey, Ragna!! Dari yang ku lihat sepertinya kau sangat nyaman..."
"Hmm..." Ragna yang rebahan lalu duduk, "Ya, jelas dong!! Aku merupakan lelaki yang hidup sendirian dihutan dan suasana ini sangat mirip dengan tempatku hidup..."
"Khihihi..." Ragna tertawa.
Pak Tua Boon juga tertawa, "Hahahahaha...!! Aku menyukai pemuda sepertimu..."
"Hey, Pak Tua Boon!! Ada yang ingin ku tanyakan padamu?"
"Jangan panggil aku 'pak tua' panggil saja 'Tuan Boon' karena umurku baru 72 tahun..." ucap Pak Tua Boon dengan melahap roti.
"Tuan Boon, ada yang ingin ku tanyakan padamu?" Ragna mengulangi pertanyaannya.
"Hmm... apa yang ingin kau tanyakan, Ragna?"
Ragna pun bertanya, "Master Mark bilang kau ada di Guild hanya untuk menumpang makan tapi pasti ada alasannya kau tetap bertahan di Guild White Tiger..."
"Ya, aku hanya ingin tau alasanmu saja itupun jika kau mau menjawabnya..."
Pak Tua Boon terdiam sejenak dengan wajah tertunduk akan tetapi ia perlahan mengangkat wajah lalu tertawa, "Hahahahaha...!! Kau membuatku terkesan Ragna!!"
"Dulu sekali saat, aku bergabung dengan White Tiger pada umur 17 tahun dan mungkin tak sendiri..."
"Aku bergabung bersama dengan empat temanku. Ya, kami berlima menghabiskan waktu yang menyenangkan di Guild itu..."
"Saat itu memang menyenangkan karena bisa berpetualang dengan rekan-rekan sebaya akan tetapi di dalam menjalani misi satu persatu dari kami menghilang bahkan mati..."
"Dari 5 orang hanya tersisa aku saja..."
"Alasanku bertahan di Guild White Tiger meski usiaku tak muda lagi karena aku terikat kenangan yang menyenangkan disana..." jelas Pak Tua Boon.
Ragna menjadi tertunduk, "Maaf, karena aku bertanya yang tidak-tidak..."
__ADS_1
"Hahahahaha...!!! Itu bukan pertanyaan yang menyakitkan akan tetapi dengan kau bertanya maka aku teringat akan kenangan menyenangkanku dimasa lalu..." ucap Pak Tua Boon dengan mengusap setetes air mata dikelopak matanya.
"Asal kau tau saja!! Hubunganku dengan teman-temanku dulu mirip atau sama persis dengan hubungan kau dengan Erinka..."
"Masak sih?" Ragna tak percaya.
"Hmm... sekarang giliranku bertanya!! Apa alasanmu bergabung dengan Guild White Tiger?"
Ragna terdiam untuk memikirkan susunan kata dalam menjelaskan, "Aku adalah orang yang tinggal dipedalaman hutan selama 7 tahun dan mungkin lebih..."
"Ya, aku kehilangan ingatan dan mendadak Erinka muncul lalu mengajak diriku bergabung dengan White Tiger untuk menemukan ingatanku yang hilang itu..."
"Begitu, ya?" Pak Tua Boon paham, "Dan setelah keluar dari hutan apakah kau sudah menemukan petunjuk tentang ingatanmu yang hilang itu?"
"Sama sekali belum dan aku sedang mencari gadis yang bernama 'Kurogami Ai' agar ingatanku kembali..." jelas Rikie.
"Memangnya siapa dia?"
"Tidak tau!! Tapi hanya nama itu yang terbesit dikepalaku saat ini..."
"Oh... merepotkan juga, ya?" Pak Tua Boon paham betul situasi yang dihadapi Ragna, "Aku hanya bisa mendo'akan dirimu agar cepat mendapatkan ingatanmu kembali..."
"Ya, itupun sudah cukup dan aku sudah sangat berterima kasih..." Ragna merespon dengan santainya dan kembali rebahan.
"Hahahaha...!! Kau tak perlu mempedulikan ucapanku itu karena itu hanya rumor saja..." ucap Pak Tua Boon dengan melahap sebuah roti, "Yang jelas kekuatan 'Devil Slayer' milikmu memiliki potensi yang luar biasa..."
"Ah... Ya sudahlah!! Kalau kau tak mau menjelaskannya dan kau terlalu tinggi menaruh harapan padaku..." ucap Ragna yang dengan perlahan memejamkan mata, iapun menikmati suasana sejuk dan damai dari hutan terbawa sampai alam mimpi.
Roda berputar secara perlahan dan langkah kaki kuda yang terdengar beraturan membuat perjalanan mereka menjadi sangat santai dan damai.
Ya, sungguh petualangan yang tenang dan tanpa disangka-sangka merekapun berhenti, "Yap, kita sampai...!!" Ucap Pak Tua Boon dengan melompat turun dari kereta.
"Ragna!! Erinka-chan!! Bangunlah, kita sudah sampai...!!!"
"Huuaamps...!!!" Keduanya sama-sama menguap dengan mulut terbuka lebar meski tertidur ditempat yang berbeda.
Ragna segera melompat turun dari atas gerbong sementara Erinka segera cepat-cepat keluar begitu mengetahui kereta telah terhenti.
Gadis bangsawan itu tanpa pikir panjang masuk ke dalam guild.
"Kenapa dia?" Tanya Pak Tua Boon, "Seperti orang yang kebelet ke toilet saja..."
__ADS_1
"Hmm... aku tau!! Dasar mata duitan!! Ini pasti tentang bayaran misi yang membuatnya tergesa-gesa sampai seperti ini..."
"Hahahaha... kebanyakan wanita memanglah seperti itu!!" Ucap Pak Tua Boon yang memahami sikap Erinka, "Ayo segera masuk saja..."
"Ya"
Ragna bersama dengan Pak Tua Boon masuk ke dalam bangunan guild itu dan mereka berdua menjadi pusat perhatian para pengunjung pasalnya Pak Tua Boon yang semula sangat gemuk sekarang menjadi sangat kurus.
Meskipun begitu keduanya mengabaikan sorot mata dari para pengunjung itu dan berjalan ke arah gadis bartender, Sistina.
Sistina sedang berbincang-bincang dengan Erinka.
"Hey, Sistina!! Apakah bayaran untuk misi kami sudah sampai?"
Sambil menuangkan alkohol ke dalam gelas, Sistina berkata, "Sudah sampai dan selamat atas keberhasilan kalian dalm menjalankan misi. Kalian mendapatkan bayaran 10 keping emas..."
"Yay!! Hore!!" Teriak Erinka yang girang.
"10 keping emas?? Dikit banget..." sahut Ragna yang mendekat.
Erinka yang semula girang menjadi agak jengkel, "Dengar, ya!! 1 keping emas setara dengan 10 keping perak dan 1 keping perak setara dengan 10 keping perunggu..."
"1 keping perunggu dapat digunakan untuk makan seharian yang artinya 1 keping emas cukup untuk makan selama 100 hari...!!!"
"Oh, banyak juga rupanya..." Ragna mengangguk paham.
"Sekarang pembagiannya Pak Tua Boon yang paling berjasa mendapatkan 4 keping emas dan kita berdua sisanya..." ucap Erinka.
"Ya, boleh juga..."
"Hahahaha...!!" Pak Tua Boon tertawa, "Akupun tak mempermasalahkan hal itu..."
"Yap, sekarang aku bisa mengambil 5 keping emas sementara untukmu hanya satu, Ragna!!"
"Hey, itu terlihat tak adil!!!" Protes Ragna.
"Apanya yang tak adil?? Kau akan menginap dirumahku dan pastinya biaya sewa diberatkan padaku..."
"Dan asal kau tau saja!! Kebutuhan wanita itu lebih banyak ketimbang kebutuhan laki-laki..." Erinka menjelaskan.
Ragna menjadi agak kesal akan tetapi ia tak mau berdebat, "Dasar wanita mata duitan dan serakahnya minta ampun...!!!!"
__ADS_1
"Bayarannya miliknya bahkan lebih banyak dari Tuan Boon!! Ya, ku harap dia mati terkubur oleh uang..." gumamnya dalam hati.
Bersambung Ke The Legend Of Ragna Chapter 32 : Insiden