
Pemimpin kedua Batalion Bayangan muncul dan pertarungan yang tak dapat dihindari terjadi.
Erinka meningkatkan energi apinya sehinga item sihir yang ia genggam berkobar-kobar api merah, "HIIIAAA...!!" Ia pun menebaskan pedangnya.
"Sllash!!!"
"WUUSS...!!" Sebuah gelombang api yang sangat kuat melesat bergerak ke arah pemimpin kedua.
"Konyol sekali!! Apa kau pikir mampu menyerangku dengan cara seperti itu?" Ucap pemimpin kedua dengan mengarahkan telapak tangan kanan ke depan dan menembakan gelombang cahaya.
"Sllash!!"
"DHHUUAARR...!!" benturan dua kekuatan terjadi sehingga atap bangunan hancur.
Erinka yang melindungi Rikka dibalik punggungnya menatap tajam ke arah musuh sementara itu sang pemimpin kedua tetap meremehkan lawannya.
"Kau tak mungkin bisa mendaratkan serangan padaku..." ucap pemimpin kedua dengan senyuman penuh ejekan.
"Zink!!" Mendadak Ragna muncul tepat dihadapan pemimpin kedua dan ia langsung saja melesatkan pukulan pada wajah lawan, "Jbbuuak!!"
Pemimpin kedua yang lengah terkena pukulan Ragna dan ia sampai terdorong ke belakang, "Kurang ajar!!!!!!" Teriaknya dengan penuh emosi
Ragna menjadi sangat waspada.
Kilauan cahaya melapisi kedua kaki pemimpin kedua dan iapun melesat secepat cahaya ke arah Ragna, "Sllash!!"
Pemimpin kedua menyerang perut Ragna dengan pukulan akan tetapi sebelum mengenai sasaran terlebih dahulu Ragna menghilang dengan kemampuan teleportasi miliknya, "Zink!!"
Ragna muncul tepat disamping Erinka, "Fiuh, nyaris saja perutku berlubang..."
"Kau tak apa?"
"Ya, aku baik-baik saja akan tetapi telat menghindar maka aku akan mati..."
"Kita harus hati-hati dalam menghadapinya..."
"Sepertinya aku bisa mengatasi kecepatannya dengan kemampuan teleport..."
"Kalau begitu bagus..." ucap Erinka.
Keduanya sekali lagi berdiri tegak melindungi Rikka.
Ragna melirik ke belakang dan berbisik, "Rikka-chan, kami tak yakin bisa mengalahkannya jadi kau harus lari..."
"Baik..." jawab Rikka dengan rasa agak takut.
"Dia mengetahui aku memiliki Phoenix dan sekarang aku juga diincar olehnya jadi apa aku harus lari?" Ucap Erinka.
__ADS_1
"Cih, jangan bercanda!! Aku membutuhkan bantuanmu..." ucap Ragna.
Dihadapan mereka, pemimpin kedua memegangi pipinya yang berdarah dan ia terlihat sangat marah setelah Ragna berhasil menyerangnya.
"Sialan, aku tak pernah mengira bocah itu memiliki kemampuan teleport!! Aku terlalu meremehkannya dan mulai dari sekarang aku akan serius menghadapi mereka..." gumam pemimpin kedua dengan meningkatkan energi sehingga kedua pijakan kakinya terlapisi cahaya terang yang sangat menyilaukan.
"Dia datang!!!" Teriak Ragna.
"Sllash!!" Dalam sekejap mata saja ia sudah berada tepat dihadapan Ragna dengan mengepalkan tinju berlapiskan cahaya.
Ragna merespon cepat, ia mengarahkan kedua telapak tangan ke depan yang sudah terlapisi kegelapan, "Jbbllast!!!" Pemimpin kedua memukul dan berhasil menghempaskan Ragna meski ia telah berusaha bertahan.
"Ragna!!!!" Teriak Erinka yang khawtir.
"Sllash!!" Tau-tau pemimpin kedua telah berada dibelakang punggung Erinka, iapun mencengkram kepala Erinka dari belakang lalu membantingnya ke depan, "Jbbuuak!!" Kepala Erinka sampai menancap ke lantai dan ia langsung saja tak sadarkan diri.
"Aku tak membunuhmu karena Phoenix dalam tubuhmu masih kami butuhkan..."
Pemimpin kedua berdiri tegak dihadapan Rikka dan Rikka yang sebelumnya akan melarikan diri kini dilanda keputusasaan.
"Sekarang kau jadi milik kami..."
"Zink!!!" Mendadak Ragna muncul dengan kemampuan teleport tepat dibelakang lawan, "Rikka-chan tak akan pergi kemanapun!!" Ia pun melesatkan tendangan.
"Jbbuuak!!" Mengejutkan, pemimpin kedua menangkis dengan telapak tangan kanannya.
Ragna babak belur akan tetapi pemimpin kedua tak memberi ampun, ia tetap membantingnya berulang-ulang, "Yang benar saja!! Apa kau pikir hanya dengan bermodalkan kemampuan dapat mengalahkanku?"
"Naif sekali!!" Ragna tak sadarkan diri dan pemimpin kedua melemparkan tubuhnya pada meja makan, "Bruak!!" Meja makan itupun hancur lebur karena tertimpa tubuh Ragna.
"Cih, anak iblis itu berhasil lari..." ucap pemimpin kedua yang tampak tak senang, iapun melapisi kedua kaki dengan kiluan cahaya menyilaukan, "Dia tak akan bisa lari menjauh dariku..."
"Sllash!!!" Pemimpin ke-2 itupun melesat secepat cahaya dan mengejar Rikka.
Rikka berlari dijalan yang sangat ramai dengan lalu lalang penduduk yang beraktifitas, "Hah... hah... hah..." nafas anak iblis itu tak beraturan dan iapun berhenti sejenak untuk mengambil nafas.
Rikka menoleh ke belakang dan berkata, "Aku sudah berlari cukup jauh jadi ku harap musuh tak dapat mengejarku dan ku harap Kak Ragna baik-baik saja..."
"Sllash!!" Sebuah kilauan cahaya melesat dan berhenti tepat dihadapan Rikka.
Ya, pemimpin kedua berdiri tegak dihadapan si anak iblis dengan membawa Erinka yang tak sadarkan diri dibahunya, ia menatap tajam pada Rikka dan berkata, "Kau tak akan bisa lari dariku..."
Rikka terdiam dan terlihat sangat takut, "Bagaimana mungkin kau dapat mengejarku? Apa yang terjadi pada kak Ragna?"
"Aku mengalahkan semuanya dan juga mengejarmu bukanlah hal yang sulit karena aku memiliki kecepatan cahaya..." ucap sang pemimpin ke-2
Rikka kembali terdiam dan seakan tak percaya akan apa yang musuh katakan, "Itu tidak mungkin..."
__ADS_1
"Kenyataannya memang begitu..." ucap pemimpin ke-2 dan iapun meraih si anak iblis, "Kami membutuhkanmu..."
Ya, sang pemimpin ke-2 menangkap Rikka dan kemudian membawanya pergi bersama dengan Erinka yang tak sadarkan diri.
*****
Beberapa saat kemudian...
Warung makan yang semula ramai akan pengunjung sekarang ini dan hancur luluh lantah dengan tanah karena pertarungan.
"Ugh!!" Ragna perlahan membuka matanya dan ia pun bangun lalu menatap sekitar, "Sial..." ucapnya dengan memegangi kepala.
"Tap... tap... tap..." dengan langkah perlahan Kanna berjalan mendekati Ragna dan berkata, "Dia mengalahkan kita semua dan pergi membawa Erinka-chan..."
"Aku tau!!" Teriak Ragna yang frustasi, "Dan sekarang ia mungkin juga sudah membawa Rikka pergi..."
Ragna perlahan berdiri tegak dan terlihat sangat emosi, "Mereka ditangkap dan ini terjadi karena kita terlalu lemah..."
"Lalu sekarang apa yang akan kita berdua lakukan?"
"Tentu saja mengejarnya!!!" Jawab Ragna dengan berteriak.
"Dia sangat kuat dan kurasa kita tak akan pernah bisa mengalahkannya jadi ku sarankan kita minta saja bantuan pada guild White Tiger..."
"Itu memakan banyak waktu..." ucap Ragna yang tak sabaran, "Kita tak perlu berhadapan lagi dengan penyihir cahaya itu..."
"Yang perlu kita lakukan hanyalah membawa Erinka dan Rikka lalu pergi kabur..."
Kanna mengangguk dan setuju, "Baiklah, kurasa itu hal yang masuk akal untuk dilakukan tetapi yang jadi masalah sekarang kita kehilangan jejaknya..."
"Ah..." Ragna terdiam.
"Tap... tap... tap..." Regios perlahan berjalan mendekat, "Aku bisa memandu kalian berdua..."
Keduanya menatap ke arah Regios, "Bagaimana caranya kau melakukannya?" Tanya Kanna.
"Sebagai 'dragon slayer' aku memiliki penciuman yang sangat tajam jadi kita bisa mengikuti bau mereka..." jelas Regios.
"Maaf merepotkanmu..." ucap Ragna.
"Jangan sungkan padaku!! Aku serius ingin bergabung dengan guild White Tiger jadi untuk membuktikan keseriusanku maka aku harus menyelamatkan rekan-rekanku dulu..." ucap Regios dengan semangat, "Dan lagi pula aku tak suka dikalahkan..."
"Ya, akupun juga tak suka dikalahkan..." ucap Ragna yang juga bersemangat.
"Kalau begitu mari kita kejar mereka..." ucap Kanna.
Bersambung Ke The Legend Of Ragna Chapter 156 : Penyusup
__ADS_1