The Legend Of Ragna

The Legend Of Ragna
Chapter 32 : Insiden


__ADS_3

Setelah pembagian pembayaran misi Erinka maupun Ragna segera bergegas untuk pulang.


Meski sudah cukup malam akan tetapi keduanya tetap bertengkar walau berada ditengah jalan.


"Yang benar saja!!! Aku tetap tak menerimanya berikan padaku dua keping emas agar bayaran kita adil...!!!!" Bentak Ragna dengan suara lantang.


"Itu tidak akan pernah terjadi!!!" Erinka malah marah iapun bahkan menggunakan jari telunjuknya untuk menunjuk ke wajah Ragna, "Dengar baik-baik!! Kebutuhan wanita itu lebih banyak jika dibandingkan dengan kebutuhan laki-laki...!!!"


"Dan juga kau menginap ditempatku 2 keping emas tambahan itu bahkan tak cukup untuk membayar kontrakan...!!"


"Sial..." Ragna seakan tak percaya kalah debat tetapi iapun menyadari sesuatu, "Hey, aku menyambungkan lengan kirimu yang putus dan jika aku menuntut bayaran pasti 5 keping emas saja pasti tak cukup..."


Erinka malah semakin kesal dan berteriak dengan lantang, "Kau ini memang jahat berbuat baik saja minta bayaran!! Lelaki macam apa kau ini...!!!!"


"Shuuts... jangan keras-keras!!" Ucap Ragna.


"Nah, dengan menyuruhku bicara pelan maka sekarang kau mengakui kesalahanmu sendiri..." ucap Erinka lagi.


Ragna tak berkutik dalam berdebat dan iapun bergumam dalam hati, "Hadeh... berdebat dengan wanita memang tak akan pernah menang!!"


Perdebatan keduanya bagaikan pertengkaran saja dan seluruh pandangan mata tertuju pada keduanya.


"Hey, ibu!! Ada dua pasangan yang saling bertengkar!! Aku berani bertaruh mereka akan putus karena wajah lelaki itu kurang tampan..."


"Kau tak boleh berkata seperti itu...!!!"


Ya, perdebatan keduanya bahkan dikomentari oleh ibu dan anak yang ada disebrang jalan.


Ragna yang mendengarnya menjadi malu sekali dan segera menggandeng tangan Erinka, "Ayo cepat tinggalkan tempat ini...!!!"


"Apa maksudmu!!! Aku bahkan belum selesai bicara..." ucap Erinka yang tak menyadari bahwa dirinya menjadi pusat perhatian.


Meskipun agak dipaksa pada akhirnya Erinka dan Ragna sampai di kontrakan milik Erinka.


Kontrakan itu memiliki bangunan bertingkat dua dengan terbuat dari kayu, memiliki halaman yang tak terlalu luas dan bahkan pagarnya saja terbuat dari bambu.

__ADS_1


"Jelek amat!!" Ucap Ragna yang asal bicara.


"Plak...!!!" Erinka mengeplak kepala rekannya itu dari belakang dan terlihat jengkel, "Seharusnya kau bersyukur bisa ngontrak gratis bersama dengan diriku..."


"Gratis?? Bukankah aku membayar dirimu dengan 2 keping emas?"


"Dan juga tak ku sangka dirimu yang bangsawan tinggal ditempat sederhana seperti ini..." ucap Ragna


Erinka menghela nafas panjang, "Hah... ayo masuk!! Aku tak ingin berdebat dan memancing keributan yang mungkin nanti didengar oleh tetangga karena hari sudah malam..."


"Eehh...!!??" Ragna menjadi terkejut karena mendadak Erinka mengalah.


Erinka mendekati pintu rumah dan sebelum membuka pintu itu iapun berkata, "Asal kau tau saja sejak aku bertemu denganmu masalah selalu saja datang padaku..."


"Mulai dari Phoenix, kelompok penyelundup, goblin dan terakhir minotaur..."


"Aku lelah dan yang ku inginkan sekarang hanya mandi, makan lalu tidur..." jelas Erinka yang kemudian membuka pintu lalu masuk ke dalam.


Ragna hanya mengikuti Erinka masuk ke rumah itu tanpa bertanya dan iapun bergumam dalam hati, "Aneh sekali!! Dia yang biasanya angkuh dan energik ternyata punya rasa lelah juga"


"Dia tinggal seorang diri dan tempat ini tertata rapi!! Ya, artinya Erinka orang yang disiplin meski angkuh, serakah dan kadang mata duitan..." gumam Ragna dalam hati.


Ragna mengamati ruang tamu yang meski kecil akan tetapi tertata rapi dan terkesan sederhana.


Erinka yang melihat mata rekannya jelalatan melihat sekeliling berkata, "Ya, rumahku memang kecil dan tidak terlalu bagus akan tetapi disinilah aku tinggal, menghabiskan waktu dan menikmati hidup..."


"Aku tau apa yang kau pikirkan sekarang itu adalah betapa miskinnya diriku ini..."


"Hmm..." Ragna terdiam dan tak mempedulikan ocehan rekannya itu, iapun duduk dikursi ruang tamu, "Aku tak mempermasalahkan bentuk dari rumahmu tapi jujur saja aku kagum karena dirimu yang merupakan bangsawan angkuh bisa-bisanya tinggal ditempat yang seperti ini..."


"Cih..." Erinka agak kesal tapi enggan menanggapi.


"Sungguh yang ku katakan itu adalah sebuah pujian padamu..."


"Ya, terima kasih atas pujiannya yang membuat diriku agak akan tetapi akupun tak ingin berdebat. Yang ingin ku lakukan adalah mandi, makan kemudian istirahat..."

__ADS_1


"Kau bisa melakukan apapun disini dan anggap saja seperti rumahmu sendiri lalu kamarmu ada dilantai 2 sebelah kanan. Disana ada tempat kosong yang mungkin saja kotor jadi bersihkanlah sendiri karena aku yang lelah ingin cepat istirahat..." ucap Erinka panjang lebar.


"Okey..." Ragna mengerti.


Erinka naik ke kamar lantai 2 dan mengambil handuk lalu masuk ke kamar mandi, iapun masih melihat Rikie mondar-mandir mengamati seisi rumah, "Hah..." gadis itu menghela nafas panjang dan bergumam dalam hati, "Tak pernah terpikirkan olehku akan tinggal serumah dengan seorang lelaki ini terjadi karena mendesak..."


"Lengan kiriku akan putus jika aku berjauhan dengan Ragna akan tetapi aku juga sangat bersyukur karena bertemu dengannya bisa meraih kekuatan hebat, Sang Phoenix..." ia yang bergumam panjang lebar lalu mandi.


Ragna yang semula berada dilantai bawah kini menaiki tangga dan menuju lantai 2 lalu menuju ke kamar yang dikatakan Erinka akan jadi miliknya.


"Wah, tempat ini kotor sekali!! Aku tak bisa tidur ditempat seperti ini!! Yah, meski sudah malam tapi aku harus membersihkannya..." ucap lelaki hutan itu dengan semangat dan tanpa ada rasa mengeluh.


Iapun mengenakan masker dan mulai membersihkan dedebuan yang menempel pada ruangan tersebut.


Sesekali Ragna harus memindahkan barang-barang berat seorang diri akan tetapi dengan kemampuan pembentukan kegelapan iapun dapat membersihkan maupun menata kamar itu dengan mudah.


"Fiuh... akhirnya selesai juga!!" Iapun langsung menjatuhkan diri pada kasur empuk dan bersiap untuk tidur, "Tempat ini tak buruk juga dan hampir mirip dengan rumah yang ada dihutan."


"Ups... aku harus mandi dulu sebelum tidur." Ucap Ragna yang kemudian bangun lalu turun ke lantai bawah.


*****


Ditempat lain yaitu guild White Tiger.


Tempat itu menjadi sangat sepi karena hari sudah larut yang tentunya sudah tiada pengunjung yang ada disana.


Guild sekaligus tempat makan dan minum itu bagaikan kuburan bila larut malam.


Disana hanya ada dua anggota White Tiger yaitu Sistina yang sedang bersih-bersih lalu Pak Tua Boon yang sibuk makan, "Hahahaha... aku telah memiliki banyak uang dan aku bisa makan sepuasnya!!! Ini semua karena misi bersama Erinka-chan dan Ragna..."


Mereka berdua menjalani malam yang tenang dan sunyi di gedung White Tiger akan tetapi diluar seseorang yang memiliki aura mengerikan mendekat pada guild itu, "Ayo mulai!!!" Iapun tersenyum menyeringai penuh hasrat.


Ya, dia adalah Jigra yang merupakan 'Dragon Slayer'


Iapun datang untuk memulai sesuatu yang buruk.

__ADS_1


Bersambung Ke The Legend Of Ragna Chapter 33 : Dragon Slayer


__ADS_2