Twins Love Story

Twins Love Story
Bab 10


__ADS_3

Seminggu berlalu...


Rio sudah terlihat biasa saja, dia sudah tersenyum kala bercanda dengan si kembar.


Ya seperti pagi ini.


Tap tap tap tap tap...


"Eh om Rio sudah rapi, mau kemana om?" Tanya si bawel Aurel.


"Duh ponakan om yang cantik ini kepo banget sih, kenapa mau ikut?"


"Memang boleh om," tanya Aurel dengan berbinar.


"Boleh tetapi harus ijin mama dulu ya," jelas Rio sambil mengusap rambut bocah itu dengan gemas.


"Hore asyikkk.... Tunggu ya om," kata Aurel melompat dengan senang.


"Ha ha ha ha ha, gemesin banget tuh bocah," kata Rio tertawa melihat tingkah lucu Aurel.


"Om harus siap obat sakit kepala," tiba-tiba Abrian muncul di samping Rio menyerahkan obat sakit kepala kepada Rio.


Rio mengerutkan keningnya binggung kala tangan kecil itu menyodorkan obat, padahal dirinya tidak membutuhkan obat itu dan merasa baik-baik saja.


"Obat sakit kepala? Buat apa? Om sehat kok tidak sakit kepala," tanya Rio dengan jelas karena binggung mendengar ucapan dari Abrian saat ini.


"Sudah jangan banyak tanya, om bawa saja. Apa susah nya sih," grutu Abrian menyerahkan paksa obat itu ke tangan Rio setelah itu dia melenggang pergi menuju dapur.


"Ha..." Rio melongo melihat kelakuan Abrian yang seperti orang dewasa saja.


" Tuh bocah makan nya apa sih, terkadang ngalahin orang dewasa," grutu Rio menatap kepergian Abrian.


"Ah sudah lah, masukkan tas saja," kata Rio akhirnya menaruh obat itu ke dalam tas yang dia bawa.


Setelah 10 menit Rio menunggu.


"Duh nih bocil lama banget sih," grutu Rio.


"Ayo om..." Bocah perempuan itu sudah cantik dengan baju yang sudah berganti dengan warna pink yang membuatnya semakin terlihat imut dan cantik.


Jangan lupakan tas punggung yang dia bawa.


"Rio titip Aurel ya, apa perlu di temani mbak nya juga?" Tanya Arin memastikan.


"Tidak perlu kak lagian juga Aurel kan juga sudah pintar melakukan semuanya sendiri," jelas Rio menatap sang kakak menenangkan.


"Kamu bawa saja 2 atau 3 bodyguard untuk mengawal kalian," kata Arin memberi usulan.


Rio menghela nafas panjang, dia begitu paham dengan kecemasan sang kakak apalagi mereka pernah mengalami penculikan.


"Iya kak," jawabnya pasrah.


"Gre dan Danu cepat kemari," titah Arin.


Tap tap tap tap tap....


"Iya nyonya," jawab kedua nya serempak.


"Ish mama gak asyik, masa ke mana-mana bawa om jelek itu sih. Aurel kan sudah bisa pukul orang, mama lupa ya kemarin Aurel kemarin latihan sama om Bimo dan om Doni," protes si cantik Aurel.


Arin menghela nafas panjang, mendengar protes sang anak.

__ADS_1


Melihat itu membuat Rio tak enak hati.


"Ya sudah tidak apa-apa, om Gre sama om Danu nanti ngawasi Aurel dari jauh jadi Aurel pura-pura saja tidak kenal dengan om Gre sama om Danu," bujuk Rio.


"Fyuuuh ok deh, ingat om Gre sama om Danu jangan dekat-dekat Aurel nanti, bisa-bisa semua orang takut," kata Aurel.


"Ya sudah jangan ribut, cepat kamu berangkat. Titip anak kakak ya," kata Arin menepuk pundak sang adik.


"Ok kak beres," jawab Rio memberikan hormat.


"Ayo om, jangan main upacara bendera di sini, kapan kita berangkat," protes Aurel melihat Rio justru memberikan hormat ke ma nya.


"He he he he he he he," Rio terkekeh di buatnya.


"Dadah mama," Aurel menoleh ke belakang melambaikan tangan ke arah sang mama.


Rio pun mengandeng tangan Aurel menuju mobilnya. Mobil pun melaju meninggalkan kediaman Abraham di ikuti Gre dan Danu dengan membawa motor di belakang.


Seperti kesepakatan tadi, kedua bodyguard itu hanya bisa memantau mereka dari jauh.


Di dalam mobil....


"Om kita mau ke mana sih?" Tanya Aurel penasaran.


"Om mau ke toko kue, untuk mengecek laporan keuangan sama memantau toko sebentar," jelas Rio.


"Wahh asyiikkkkk jadi Aurel bisa dong makan kue," kata Aurel dengan berbinar cerah.


"Tentu boleh dong," kata Rio mengacak rambut Aurel dengan gemas.


"Nanti Aurel mau kue ulang tahun ya," pinta nya memelas.


"Ha kue ulang tahun?" Rio mengerutkan keningnya binggung.


"Bels siapa?" Beo Rio penasaran.


"Bels boneka ku om, nih...." Jelas Aurel sambil menunjukkan boneka yang baru dia ambil dari tas nya.


Rio memijit pelipisnya merasa pusing dengan kelakuan bocah cantik itu.


"Benar kata Abrian kalau aku butuh obat sakit kepala," lirih Rio dengan suara kecil.


"Kenapa om?" Tanya Aurel.


"Tidak kok," elak Rio.


"Jadi boleh kan minta kue ulang tahun?" Pinta nya memelas.


"Hmm.... Ok terserah kamu mau minta kue apa saja dan kalau Aurel mau makan semuanya juga boleh," kata Rio pasrah karena lelah menanggapi ucapan dari ponakannya yang bawel nya minta ampun.


"Makasih om Rio baik deh," kata Aurel tersenyum manis.


"Hari ini di ajak om Rio makan kue, besok giliran minta beli mainan sama om Tio," guman bocah itu sambil berfikir.


''Pinter, besok minta mainan yang banyak sama om Tio," kata Rio terkikis membayangkan bagaimana kesal nya Tio karena mendengarkan celotehan Aurel yang tak ada habisnya.


"Ok deh om," jawab Aurel mantap.


Setelah itu Rio fokus ke jalanan, sedangkan Aurel sibuk bermain mengoceh dengan boneka kesayangan nya.


Mobil pun akhirnya sampai di depan toko kue milik Rio, ya toko kue itu sudah Arin berikan untuk Rio dan untuk Tio Abraham sudah memberikan dia pekerjaan di perusahaan sampai membantu mendirikan usaha.

__ADS_1


Jadi keduanya terbilang mapan dan siap untuk menikah.


Satu bulan lagi, Rio, Tio maupun Amanda sudah resmi lulus kuliah.


Citt....


"Ayo turun," kata Rio membuat permainan boneka Aurel terhenti.


Ya Aurel tadi sempat mengeluarkan boneka dari dalam tas yang dia bawa, dia pun memainkannya di dalam mobil.


"Sudah sampai ya om?" Tanya Aurel.


"Iya, tunggu sebentar om buka pintu dulu ya," pinta Rio.


Rio bergegas turun dari mobil dan membantu Aurel untuk turun.


Tap tap tap tap tap, gadis kecil itu berlari masuk ke dalam toko.


"Hati-hati jatuh," teriak Rio.


Di dalam toko.


"Ayo ikut om ke ruangan milik om," ajak Rio.


Aurel mengelengkan kepalanya, menolak ajakan Rio.


"Aku mau di sini saja om, aku mau makan kue sama susu rasa stroberi," Aurel menolak karena tergiur banyaknya kue yang di pajang di etalase menggugah selera.


Rio menghela napas kasar, mau tak mau Rio pun mengangguk.


"Mita, tolong jaga Aurel ya. Aku mau ke ruangan ku sebentar," pinta Rio.


Rio melambaikan tangan nya ke arah Gre dan Danu. Keduanya dengan sigap menghampiri Rio.


"Tolong kamu awasi Aurel," perintah Rio.


Kedua pria itu mengangguk patuh.


"Mita tolong kamu juga siapkan kue dan minuman untuk mereka berdua," pinta Rio kepada karyawan nya itu.


"Baik mas," jawab Mita.


Rio pun bergegas menuju ke ruangannya, mengecek pembukuan selama satu bulan ini.


Sedangkan Aurel tengah binggung memilih kue yang dia inginkan karena semua terlihat begitu enak.


"Mau ini, ini sama tuh kue yang warnanya hijau di gulung," pinta gadis kecil itu.


"Oh ya jangan lupa minuman nya," sambung Aurel dengan polosnya.


Beberapa karyawan begitu gemas melihat tingkah lucu gadis cantik itu yang begitu mengemaskan.


"Duh manis banget sih, jadi pengen deh punya anak selucu dan secantik non Aurel," kata Gre.


Plak....


Danu langsung memukul tangan Gre.


"Kenapa loh," Gre melirik sinis Danu.


"Kamu belum lihat saja seberapa bawel nya non Aurel," jelas Danu.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2