
"Kamu.... Dan kamu..." Lilis dibuat kaget sekaligus kebingungan saat melihat kedua orang yang begitu mirip berada di hadapannya saat ini. Dengan tangan gemetar Lilis menunjuk ke arah Tio dan Rio secara bergantian.
Ha ha ha ha ha ha ha....
Abraham tertawa melihat wajah perempuan itu binggung dan pucat karena kaget.
Prok prok prok prok prok prok...
"Ha ha ha ha ha ha, anda terkejut nona," kata Abraham dengan senyum dan nada mengejek ke arah Lilis yang wajahnya sudah terlihat pucat pasi.
"Kak..." Tio yang masih binggung tak mengerti dengan situasi yang terjadi hanya bisa diam menatap ke arah sang kembaran dan kakak ipar secara bergantian.
"Kamu duduk saja di sana kalau bosan, kamu bisa kembali ke pesta,'' kata Abraham Tio dengan wajah tenang namun penuh dengan aura yang mampu membuat orang yang melihatnya tertekan.
Tio pun menghela nafas panjang, dia terlihat pasrah lalu memilih duduk kembali karena Tio ingin melihat semuanya dengan jelas.
Sedangkan Rio masih menatap sang kakak ipar juga, kedua orang kembar itu masih binggung dengan keadaan yang terjadi.
"Rio, dia datang ke sini membuat kerusuhan di depan mengaku sebagai wanita yang selama ini kamu cari," kata Abraham menunjuk ke arah perempuan yang terlihat menyedihkan sedang duduk di lantai dengan sisa air mata di kedua pipi nya.
Rio terdiam mengingat semua kejadian yang dialaminya waktu itu. Ingatan Rio di paksa untuk mengingat ulang kejadian yang hampir dia tak ingatnya itu, kecuali dia(Rio) dalam keadaan mabuk memaksa seseorang wanita yang wajahnya saja tak dia ketahui yang dia ingat hanyalah wajah Renata yang terngiang di ingatannya kala itu mungkin karena efek mabuk karena minuman yang beralkohol yang tengah menguasai pikirannya kala itu . Keesokan harinya yang dia lihat samar-samar wajah perempuan dengan bibir mungil dan tahi lalat kecil di dagu nya namun wajah perempuan itu tak terlihat karena yang tertutup oleh rambut yang sudah berantakan. Rio juga ingat warna rambut itu perempuan itu bukan hitam seperti perempuan di depannya melainkan warna rambut itu sedikit kecoklatan hal itu yang membuat Rio agaknya heran, Rio juga ingat kalau salah satu dari satpam atau petugas keamanan di sana mengatakan kalau perempuan itu seperti Nisa, ya akhirnya Rio ingat semuanya.
''Nama kamu siapa?'' Tanya Rio sabil berjalan mendekat ke arah perempuan itu.
Otomatis para bodyguard yang ada di samping LIlis menyingkir dengan cepat saat Rio sudah berada di depan Lilis.
''Siapa nama kamu?'' Tanya Rio dengan aura begitu tegas.
Lilis menatap pria dengan berbinar seolah dia akan menyelamatkan dirinya.
'Ah terserah siapa dia yang penting dia bisa menolong ku saat ini,' batin Lilis.
"Nama ku Lilis," jawab Lilis tersenyum manis.
Setelah mendengar ucapan dari perempuan yang bernama Lilis, wajah Rio semakin terlihat dingin membuat Lilis menyergit heran.
'Hu ternyata dia penipu, em aku harus pancing dia agar berbicara jujur karena tidak semua orang tahu masalah itu kecuali perempuan itu,' guman Rio tentunya di dalam hati saat ini.
__ADS_1
"Apa buktinya?" Tanya Rio dengan sinis.
Lilis melebarkan matanya, ternyata pria di depannya itu tidaklah bodoh seperti yang dia perkirakan.
"Rio ini sebenarnya ada apa sih?" Tanya Tio yang penasaran sedari tadi dia hanya di suruh diam tak tahu masalah yang terjadi.
Rio pun mendekati Tio dan membisikkan sesuatu. Mata Tio membulat sempurna saat mendengar penjelasan singkat Rio tadi.
"Terus apa hubungannya dengan ku," bisik Tio karena tak ingin bodyguard dan perempuan itu mendengar karena dari penjelasan Rio tadi tak ada yang mengetahuinya selain perempuan itu, dia dan sang kakak ipar yang tak lain adalah Abraham.
"He he he he he he, mungkin dia tahu dari data tamu di hotel karena kemarin aku tanpa sengaja membawa dompet milikmu," jawab Rio cengengesan menatap ke arah saudara kembarnya.
"Dasar," kesal Tio.
"Ya sudah, aku mau balik ke ke pesta tadi kasihan tamu apalagi tadi Amanda juga pasti khawatir dan menemani bunda yang masih binggung," kata Tio mulai beranjak dari kursi dan keluar dari ruangan itu.
...----------------...
Sedangkan di tempat pesta.
Denis mengandeng Nisa, mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang serasi.
Mereka terlihat begitu serasi, rambut Denis yang kebetulan berwana sama dengan Nisa membuat banyak yang berfikir mereka adalah kekasih sesungguhnya.
"Aduh bagaimana ini?" Kata Nisa binggung, dia menggeliat seperti menahan sesuatu.
"Hei ada apa?" Tanya Denis yang melihat gelagat aneh Nisa.
"Em... Em... Aku a-ku mau pipis," jawab Nisa sedikit ragu bercampur malu.
"Ha aku kira apa an? Kamu ke sana saja tuh ada tulisannya arah ke toilet, atau kamu mau aku antarkan," kata Denis menunjuk ke arah toilet dan Denis juga tak lupa menawarkan bantuan kepada Nisa karena takut Nisa tersesat.
"Em tidak," jawab Nisa.
Setelah itu Nisa pun berjalan menuju ke arah toilet.
Tap tap tap tap tap tap....
__ADS_1
"Aduh kenapa sepi sih jalannya," lirih Nisa sedikit ngeri melihat lorong itu terlihat sepi.
"Uhhh kenapa tadi aku menolak tawaran Denis," grutu Nisa.
Nisa sempat menoleh ke sebuah ruangan dan mendengar orang tertawa keras, cukup membuat Nisa takut dan cepat berlari ke arah toilet.
Sesampainya di depan toilet Nisa dengan cepat masuk, setelah selesai Nisa tak lupa merapikan penampilan dirinya di depan toilet yang terdapat kaca besar.
Setelah selesai Nisa pun bergegas pergi dari sana, dia takut Denis mencarinya karena terlalu lama.
Tap tap tap tap tap...
Brug...
Nisa terjatuh saat dia tak sengaja menabrak seseorang yang tiba-tiba keluar dari ruangan.
Nisa melotot saat melihat pria yang dia tabrak.
"Kamu...." Teriak Tio dengan marah.
Tio pun berlalu pergi meninggalkan tempat itu namun Nisa masih terdiam menatap ke arah punggung Tio yang sudah menjauh.
Di dalam ruangan....
Saat pintu tadi terbuka sedikit dan menampilkan sosok Nisa yang menabrak Tio, sesaat Lilis tanpa sengaja melihat Nisa pun langsung berteriak memanggil Nisa tanpa pikir panjang, yang Lilis pikirkan adalah agar bisa selamat dari pria menyeramkan di hadapannya. Meskipun tampan tetap saja kedua nya begitu mengerikan bagi Lilis yang hanya orang biasa.
"Nisa..."
"Nisa tolong aku,"
"Nisa....."
Lilis berteriak meraung memanggil nama Nisa.
Rio dan Abraham di buat binggung dengan wanita itu namun saat pandangan Abraham dan Rio tanpa sengaja melihat arah pandangan Lilis yaitu pintu yang tertutup rapat.
Di luar Nisa mendengar seseorang memanggil namanya pun menoleh ke segala arah, mencari seseorang yang telah memanggil nya namun tidak menemukan siapapun.
__ADS_1
Nisa pun melanjutkan perjalanan nya menuju ke aula pesta.
Bersambung....