Twins Love Story

Twins Love Story
Bab 44


__ADS_3

Paman Nisa pun menghampiri nya.


"Nisa selamat ya, Ayah ikut bahagia. Maaf karena ayah tak bisa berlama-lama di sini harus kembali karena aku tak tega meninggalkan Retno terlalu lama, kamu kalau ada waktu kamu harus sering-sering mengunjungi kami," kata sang paman memeluk Nisa sendu.


"Hiks hiks hiks hiks hiks, terimakasih ayah telah jauh-jauh datang ke sini. Nisa juga kangen mama. Insyaallah Nisa nanti ke sana, salam buat mama juga," jawab Nisa sedikit sesenggukan.


Paman Nisa mengangguk, dia pasti akan menyampaikan semuanya yang dia lihat kepada sang istri.


Kini sang paman beralih ke arah pria di samping Nisa yang tak lain adalah Rio.


"Nak titip Nisa, tolong jaga dia sebagaimana kami menjaga nya, jangan pernah sekali-kali kamu sakiti dia dan kalau pun kamu sudah tidak menginginkan dia, kamu bisa mengembalikan Nisa kepada kami akan menerima nya dengan tangan terbuka," kata sang paman memberi peringatan kepada Rio agar dia memperlakukan Nisa dengan baik.


"Tentu aku akan menjaga Nisa dengan sebaik mungkin," jawab Rio dengan pasti.


"Terima kasih,"


Setelah mengucapkan kata-kata itu, sang paman pun berpamitan kepada Nisa. " Nak ayah pamit," lirihnya dan di angguki cepat oleh Nisa.


Setelah itu paman Nisa pun pergi meninggalkan acara ini, tentunya di antar oleh bodyguard tuan Abraham.


Sedangkan Nisa menatap kepergian sang paman dengan sendu.


"Sudah jangan sedih, ada aku yang akan selalu menemani mu," hibur Rio saat melihat gadis itu sedih


'Siapapun yang mendengarnya pasti akan salah sangka, pasti mereka berfikir kalau pria itu begitu mencintai ku. Ck mereka semua salah sangka karena pernikahan ini tidak akan terjadi kalau bukan gara-gara kejadian itu. Huuuu..... Aku nyesel gak kabur ke pelosok daerah saja biar gak ketemu nih pria menyebalkan tukang paksa,' grutu Nisa di dalam hati nya saat ini.


"Huuuu...." Nisa menghela nafas panjang.


'Ya sudahlah terlanjur, dia sekarang adalah suami ku, imam yang harus ku penuhi dan semoga ini adalah keputusan yang tidak salah ku ambil,' batin Nisa pasrah menerima semuanya.


Entahlah perasaan Nisa saat ini, sejujurnya Nisa juga di buat binggung dengan keadaan ini. Nisa hanya pasrah dengan keadaan, Nisa berharap ini adalah keputusan yang baik yang dia ambil.


"Sudah jangan mewek atau cemberut, nanti hilang cantik nya," kata Rio.


"Hmmm...." Jawab Nisa dengan memutar bola matanya malas bisa-bisanya pria ini mengatai dirinya sekaligus memuji.


"Ayo duduk, aku akan ambilkan makanan," perintah Rio.


Nisa hanya mengangguk namun saat Rio mau turun dari pelaminan tiba-tiba ada segerombolan orang berjalan ke arah pelaminan untuk mengucapkan selamat, Rio pun mengurungkan niatnya.


Tak lama bunda menghampiri keduanya membawakan keduanya makanan namun bukan 2 piring melainkan satu piring.


"Nih untuk menantu bunda makan," kata bunda menyodorkan makanan ke arah Rio.


"Lho untuk Nisa saja Bun, terus Rio bagaimana?" Protes Rio saat melihat satu piring yang bunda bawa.


Namun yang membuat keduanya ( Nisa dan Rio) saling berpandangan adalah posi piring itu penuh dengan nasi dan berbagai macam lauk.

__ADS_1


"Ya itu sekalian buat kalian berdua, biar kalian tambah mesra," goda bunda mampu membuat keduanya salah tingkah.


"Bunda titip anak bunda yang bandel ini ya nak, kalau dia nakal kamu bilang saja sama bunda biar nanti bunda jewer," kata bunda menepuk tangan Nisa dengan penuh kelembutan.


Nisa begitu terharu sampai menitikkan air mata nya.


"Bo-leh peluk," pinta Nisa dengan ragu.


Bunda mengangguk dengan senyum tulus yang sedari tadi tak pernah luntur.


"Terima kasih," kata Nisa yang saat ini tengah memeluk bunda.


"Mulai hari ini panggil bunda ya," pinta bunda membuat Nisa semakin mengeratkan pelukannya.


"Ayo kalian makan," perintah bunda sesaat setelah pelukan hangat itu selesai.


"Ya sudah bunda tinggal istirahat di dalam ya, maklum bunda sudah lelah karena efek umur," pamit bunda kepada Nisa dan Rio.


Setelah kepergian bunda ke kamar nya.


"Bunda baik ya," ceplos Nisa.


"Bunda memang yang terbaik, paling sabar apalagi sejak kepergian Ayah hanya bunda sandaran kami bertiga," lirih Rio.


Nisa yang melihat kesedihan di wajah Rio pun bisa merasakan bagaimana rasanya kehilangan sosok itu.


"Ayo kita makan," ajak Nisa mengalihkan pembicaraan tadi.


"Tidak perlu, ini saja," tolak Rio.


"Tetapi...." Saat Nisa mau protes semuanya Rio langsung berbicara yang membuat Nisa terdiam patuh.


"Kita suami istri, tidak ada salahnya berbagi sendok,"


Aaa....


Tiba-tiba satu suapan sudah ada di depan mulut Nisa. Nisa pun membuka mulutnya setelah itu Rio dengan santainya menyuapkan makanan itu ke dalam mulutnya sendiri membuat Nisa merona seketika.


Skip.....


Sore hari.....


Acara pernikahan Rio sudah selesai, bunda setelah selesai berbicara kepada kedua nya saat ini berada di luar pintu kamar hotel.


"Apa kita satu kamar?" Tanya Nisa dengan polosnya.


Pletakk....

__ADS_1


"Auh sakit, ish kenapa sih kamu suka banget mengetuk kening aku," protes Nisa dengan wajah cemberut.


"Kamu itu polos atau pura-pura, ya kita kan sudah halal jadi tidur satu kamar kan gak masalah, kamu itu sudah sepenuhnya milik aku jadi aku mau lakuin apa aja ke kamu tuh hak aku," jawab Rio enteng.


Nisa bergidik ngeri mendengar ucapan dari Rio tadi, dia bilang kalau bebas melakukan apapun dengan nya.


Nisa menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Ck pasti kamu berfikir macam-macam," sungut Rio saat melihat kelakuan Nisa.


"Tidak..." Elak Nisa padahal dirinya tadi berfikir demikian.


Ceklek....


"Ayo masuk," Rio menarik tangan Nisa untuk masuk ke dalam.


Saat keduanya memasuki kamar, keduanya di buat tercengang melihat kamar itu dihias sedemikian rupa.


"Ini kamar tadi pagi ya?" Tanya Nisa.


"Perasaan sih iya, tuh nomor nya juga masih sama," jawab Rio.


"Kok sekarang berubah banget sih, ah jangan-jangan kamu ya minta semua ini," kata Nisa menuding semua ini ulah dari Rio.


"Ck jangan asal nuduh, bukan aku," protes Rio yang tak suka Nisa menuduhnya.


"Ini apa?" Tanya Nisa saat menemukan kertas berisi tulisan.


Nisa langsung memerah saat membaca tulisan itu. Dia dengan cepat melempar tulisan itu kembali.


Rio yang ikut penasaran pun mencoba mengambil kertas yang tergeletak di lantai akibat di lempar Nisa.


Rio mengelengkan kepalanya saat melihat tulisan itu ternyata dari Tio.


"Ck dasar kembaran gak ada akhlak, tetapi ide nya bagus juga. Ayo kita coba siapa tahu bisa langsung muncul Rio dan Nisa junior," kata Rio menatap ke arah Nisa penuh minta.


"Dasar mesum ....."


Nisa langsung cepat berlari menuju kamar mandi sambil menormalkan detak jantungnya yang tiba-tiba berdetak cepat.


"Bagaimana ini?" Nisa deg-degan.


Sedangkan Rio terbahak melihat reaksi lucu dari Nisa.


"Ha ha ha ha ha ha, lucu banget sih jadi gak sabar pengen gigit tuh pipi," kata Rio sambil tertawa.


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2