
"Hiks hiks hiks hiks hiks, om Aurel mau main sama om Tio," bocah kecil itu menangis sesenggukan.
"Kan enak di sini di temani om Rio sambil makan kue," bujuk Rio kepada gadis kecil itu.
"Sssttt hiks hiks hiks, Aurel bosan," jawab Aurel sesenggukan.
Rio menahan tawa saat melihat gadis kecil yang biasanya bawel itu menyedot ingus nya berkali-kali saat menangis.
Rio pun berinisiatif mengambil tisu untuk membersikan wajah Aurel.
"Hiks hiks hiks hiks hiks."
Tak tahan melihat Aurel menangis. Rio pun menghela nafas panjang, "Hmmm ok jangan nangis, om Rio hubungi om Tio dulu ya," pinta Rio.
Karena tak tahan mendengar tangis Aurel sang gadis cerewet itu, Rio pun menghubungi saudara kembarnya untuk memastikan dimana keberadaan nya saat ini.
Tut...
Tut...
Berkali-kali Tio di hubungi namun belum juga diangkat membuat Rio semakin kesal di buatnya.
"Ck kemana sih nih orang," grutu Rio.
Tut...
Tut...
"Hmm halo," jawab Tio dari sebrang sana dengan nada malas.
"Halo, di mana sekarang?" Kata Rio langsung ke pokok nya saja tanpa bertele-tele.
"Ck ngegas banget sih, salam dulu bro," jawab Tio sedikit kesal.
"He he he he he he, maaf habisnya aku lagi pusing," kata Rio sedikit cengengesan.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatu," Rio pun menuruti permintaan saudaranya itu.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatu" jawab Tio.
"Pusing kenapa? Lo ngutang ya terus gak bisa bayar dan di tagih kemana-mana," celetuk Tio.
Di sebrang sana Amanda yang mendengar ucapan Tio pun menjadi gemas langsung mencubit perut Tio.
"Auhhh...."
Tanpa sengaja Tio mengeram kesakitan kemudian menatap Amanda dengan kesal, namun nyalinya nya langsung ciut saat mendapati tatapan tak kalah garang dari kekasihnya itu. Tio takut nanti Amanda yang justru marah kepadanya memilih untuk mengalah.
"He he he he he he he. Piss...."
Tio cengengesan menunjukkan dua jari nya berbentuk v kepada sang kekasih.
__ADS_1
"Kenapa Lo? Di gigit tikus?" Tanya Rio dari sebrang karena kaget mendengar Tio menjerit kesakitan.
"Ck bawel. Oh ya kenapa kamu pusing? Apa kang cilok masih ngejar-ngejar kamu karena belum bayar utang ," kesal Tio gara-gara saudara nya itu dia mendapatkan hadiah kecil dari sang kekasih.
"Ck dasar saudara edan masa nuduh saudara nya begitu sih, apalagi hutang sama kang cilok yang keren dikit apa nuduh nya. Gini-gini aku tidak punya hutang sang kang cilok dan aku masih sanggup beli cilok sama gerobak nya sekalian tuh Abang nya yang jual mau ikut gak apa-apa buat jadi karyawan toko kue ku," kesal Rio.
''Kalau bukan saudara, sudah ku goreng tuh hidung kamu," grutu Rio namun masih di dengar oleh Tio.
"Coba ulangi lagi tadi kamu bicara apa?" Pinta Tio dengan penuh penekanan dari seberang sana.
"Cepat bilang, telepon aku mau apa? Ganggu saja orang lagi jalan-jalan sama ayang," pinta Tio di sertai gerutuan dari sebrang sana.
"Nih bocil nangis nyariin kamu," kata Rio.
"Ha bocil siapa?? Ck ngadi-ngadi loh. Kapan aku punya anak," grutu Tio.
Rio menghela nafas panjang seraya menoleh ke arah Aurel yang masih memperhatikan nya sedari tadi. Mata bulat itu terlihat polos dan mengemaskan.
"Nih Aurel kata nya kangen kamu, mau main sama kamu," jelas Rio.
"Ha... Kok bisa sih?" Tanya Tio masih tak percaya.
'Hadeeeh gawat nih, bisa-bisa tuh bocah gagalkan rencana jalan-jalan romantis ku sama Amanda. Hemmm tidak bisa di biarkan ini,' guman Tio di dalam hati nya saat ini.
Amanda yang melihat kekasihnya itu diam saja pun binggung, dia menyenggol lengan sang kekasih untuk menanyakan apa yang terjadi. Namun Tio hanya menggelengkan kepalanya sebagai tanda tidak terjadi apa-apa.
"Em aku lagi sibuk," jawab Tio.
"Ya sibuk menemani ayang tercinta," jawab Tio cuek.
"Ck....! Terus bagaimana nih bocil?" Kata Rio semakin pusing.
'Benar nih kata Abrian, tahu gitu aku tadi bawa dia saja kalau tahu begini,' batin Rio merutuki kecerobohannya karena terbujuk rayuan si imut nan menyebalkan yang ada di samping nya saat ini.
"Kamu bilang kalau om Tio sibuk, terus kamu bisa hubungi saja kak Abraham," usul Tio saat ini.
"Ck kalau tidak mau bagaimana?" Protes Rio.
"Ya itu sih terserah kamu, kan kamu yang ngajak tuh bocah terus kenapa aku harus repot," kata Tio justru menyalahkan saudara nya.
Tut....
Tuuuttt....
Panggilan itu terputus sepihak.
"Aaahhh...."
"Dasar saudara gak ada prihatinnya sama saudara sendiri," grutu Rio.
"Kenapa om?" Tanya Aurel menatap Rio penuh tanya dengan kedua mata polosnya itu.
__ADS_1
"Eh...." Rio tersenyum canggung menutupi rasa kagetnya, ya Rio lupa kalau Aurel masih di dekat nya sehingga tadi dia kelepasan berteriak karena kesal.
Rio menoleh, dia canggung karena dia menjadi pusat perhatian jadi Rio menundukkan kepalanya dan langsung mengajak Aurel ke taman yang ada di samping toko kue.
"Om ngapain kita ke sini, terus mana om Tio nya?"
"Ah om Tio di sini ya, yee asyik bisa jalan-jalan beli mainan yang banyak,"
Prok prok prok prok prok prok...
Aurel bertepuk tangan sambil melompat kegirangan karena dia berfikir Tio akan segera datang.
"Om Tio sedang sibuk sayang, bagaimana kalau kita pergi ke tempat lain atau ketemu papa," bujuk Rio sambil menatap Aurel dengan dengan tatapan berbinar.
"Emm...."
"Emmmmmm...."
Gadis kecil itu sedang berfikir, telunjuknya dengan ditaruh di bibirnya beberapa kali.
"Kita ke taman bermain saja om, Aurel mau main ayunan, prosotan, terus apa lagi ya...."
"Mandi bola," kata Aurel dengan senyum cerah nya.
"Siap tuan putri," kata Rio memberikan hormat kepada Aurel.
"Ye yee yeeeee," Aurel berteriak kegirangan.
"Fyuuuuh untung nih bocah bisa di bujuk," lirih Rio.
Rio pun mengendong Aurel di depan.
Bisik-bisik terdengar dari beberapa pengunjung yang melihat sosok Rio seperti papa muda.
"Lihat tuh cowok ganteng banget sih,"
"Iya, sungguh beruntung ya bisa menjadi istrinya,"
"Hmm... Betul, mana perhatian lagi sama keluarga, kan jarang-jarang ayah yang mau ajak anaknya kebanyakan mereka sibuk kerja cari uang,"
"Ya benar tuh ucapan mu,"
"Kapan ya punya suami seperti dia,"
Itulah kata-kata wanita yang berada di sana menatap Rio dengan penuh kekaguman.
"Benar-benar bos kita pesona nya gak main-main," kata salah satu karyawan di toko roti milik Rio.
"Hus kerja kerja, awas tuh ada mas Beni yang sedang mengawasi kita dari tadi," tegur salah satu temannya.
Dan benar saja, yang di kata kan oleh temannya tadi. Karyawan itupun melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1
Bersambung...