
Seharian Hana termenung di dalam kamarnya, bahkan dia tidak nafsu makan, Hani dan Chika sudah berusaha membujuk tapi Hana tetap tidak mau. Begitu juga dengan Satya, dirinya juga hanya berdiam diri di dalam kamar, dan keduanya sama-sama bungkam apa yang terjadi diantara mereka.
"hargai dan cintai orang yang saat ini ada di sampingmu jangan sampai kau kembali kehilangannya seperti kau kehilangan ku, jangan ragu akan perasaanmu, aku yakin saat ini satya telah berhasil masuk kedalam hatimu, tapi kau ragu karena ada aku, hilangkan keraguan mu dan raih masa depan mu"
"Aku tanya padamu, benarkah di hati mu saat ini hanya ada Satya? apakah perasaan mu sudah hilang padaku?"
"Jika tidak terobsesi lalu apa namanya untuk orang yang hanya memikirkan dirinya, mau sampai kapan kamu menjadi actress? sampai umur tiga puluh? tidak umur empat puluh? lalu adalah aku di masa depanmu yang menjadi actress itu?"
"Kamu egois Hana, kamu tidak memikirkan bagaimana nasib saudara kembar mu, dia begitu benci menjadi pusat perhatian jika kamu menjadi artis dia akan ikut terseret, dan tidak bisa bebas, lalu kamu tidak memikirkan janjimu dengan kedua orang tua mu, bukannya acting hanya hobi, bukannya kamu berjanji akan fokus ke kuliah dan bekerja kantoran dihadapan kedua orang tua mu, ingat Han, ayahmu sakit, dia tidak menyukai pilihanmu saat ini"
Kata-kata Arka dan Satya terus berputar di otak Hana. Sudah berjam-jam lamanya dia merenungi perkataan dua orang itu.
Mata Hana menatap jam yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam, ia tiba-tiba berdiri membuat Chika sedikit terkejut.
"Mau kemana Han?" tanya Chika sedikit khawatir.
Hana menjawab sambil berlalu, "Bicara dengan Satya" setelah itu dia menutup pintu kamar.
"Kenapa gak dari tadi aja, tu anak memang susah dibaca pikiran nya" gerutu chika kembali menarik selimutnya dan menutup seluruh badannya hingga ke kepala.
...☘️☘️☘️☘️☘️...
'Tok Tok Tok' Hana menggedor kamar Satya dan Mike, tapi belum ada jawaban dari dalam.
'Tok tok tok' sekali lagi Hana menggedor pintu itu. Berharap Satya masih membuka matanya.
'Tok tok to--'
'ceklek' pintu terbuka dan terlihat muka bantal Mike yang sedang berdiri dibalik pintu.
"Ada apa?" Mike menguap berkali-kali, sepertinya dia terbangun karena Hana terus menggedor pintu kamar.
__ADS_1
"Satya dimana?" Tanya Hana langsung.
Mike menatap pria yang sejak tadi melamun memegang ponselnya, "dia dengar dipanggil tidak sih?" gerutu Mike dalam Hati.
Mike membuka lebar-lebar pintu kamarnya, menunjuk Satya dengan memonyongkan bibirnya, "noh! yang sajak tadi bersemedi, ada apa sih dengan kalian berdua sejak tadi siang?" Keluh Mike, tapi tidak dihiraukan dengan keduanya.
"Bisa aku bicara dengannya" Mike mengangguk dan mempersilakan Hana masuk, dan dia hendak kembali tidur tapi perkataan Hana membuatnya batal untuk mendudukkan kembali badannya di kasur, "Berdua saja, pakai saja kamar ku sementara, Chika sedang tidur di kamar".
Dengan malas Mike berjalan keluar kamarnya menuju kamar Hana dan Chika, dia tidak mungkin menolak permintaan Hana, pria itu pikir Hana dan Satya memang harus bicara berdua saja, karena suasana liburan akan canggung jika ada pasangan yang sedang bertengkar.
.
'ceklek' Hana menutup pintu kamar dan duduk di kasur Mike menghadap ke arah Satya. Hana tau tadi Satya sempat melirik sebentar padanya lalu kembali berpura-pura sibuk dengan ponselnya.
Pria itu masih kembali diam dan tidak melakukan apapun selain memainkan ponselnya, dia sadar harus ada yang memulai pembicaraan, tapi Satya saat ini masih terlalu gengsi untuk memulai pembicaraan.
Gerakan tangan Satya berhenti, tapi dia masih belum mau menatap Hana, gengsinya masih terlalu tinggi.
Hana kini beralih duduk di samping Satya. tangannya meraih tangan Satya untuk dia genggam. Namun Lagi-lagi bibir pria itu tidak mengeluarkan satu kata pun. Pria itu masih tetap diam dan membiarkan sebelah tangannya digenggam Hana.
"Maaf Sat" ulang Hana sekali lagi.
"Untuk apa?" Akhirnya suara pria itu keluar tapi terdengar begitu dingin, ini pertama kalinya Satya bertingkah seperti itu pada Hana, bisa dibilang selama ini Satya yang selalu banyak mengalah didalam hubungan mereka.
"Aku salah, aku begitu egois seperti yang kamu bilang, sekarang hatiku sedikit bimbang karena foto waktu itu, aku salah, aku mengaku salah, jangan meninggal kan ku aku mohon" Gadis itu berbicara dengan suara bergetar, setitik air mata mulai meluncur bebas melewati pipi putihnya.
Satya mengambil nafas panjang, jika seperti ini dia tidak tega marah pada kekasih hatinya itu. Satya menarik genggaman tangan Hana yang sejak tadi digenggam Hana. Dia kemudian memeluk tubuh itu.
Hana semakin menangis keras ketika Satya memeluknya dan mulai mengelus punggungnya, sudah lama dia merindukan Satya nya yang selalu ada untuknya.
__ADS_1
"Sudah tau kesalahanmu?" Tanya pria itu sekali lagi.
Di dalam pelukannya Hana mengangguk pelan tangannya semakin mengeratkan pelukan pada Satya.
"lain kali pikirkan dulu apa yang kamu inginkan"
Hana kembali mengangguk masih terdengar isakan dalam pelukan itu.
"Jadi kamu tetap tidak mau menikah denganku?"
Hana sontak menatap wajah Satya ketika pria itu bertanya tentang pernikahan.
Cukup lama keduanya saling pandang tanpa mengeluarkan suara. Hingga Hana kembali memulai pertanyaan. "Itu serius?"
Satya merapikan rambut Hana, "Aku serius, kalau mau setelah pulang dari Korea aku akan melamar mu"
Hana menggeleng cepat, gerakan itu membuat Satya merasa kecewa, "Bukannya aku tidak mau menikah, tapi aku masih belum siap untuk sebuah pernikahan, aku bukan Hani yang tidak perlu memikirkan keuangan dalam hidup_" Satya hendak memotong ucapan Hana, tapi tangan Hana membekap mulutnya.
"Aku tau kamu kaya tidak kalah kaya dari Arka, tapi aku ingin lulus dulu dari kampus, dan ingin bekerja, jika aku menikah, aku merasa semua usahaku untuk menyelesaikan kuliahku terbuang sia-sia. untuk apa aku sekolah tinggi tinggi, jika bukan untuk mencari pekerjaan yang bagus?" Jelas Hana dengan pandangan nanar.
"Pernikahan tidak akan menjadi penghalang dalam karir kamu Han, aku bukan pria yang akan mengekang mu di rumah setelah pernikahan, justru pernikahan dapat memotivasi kita agar lebih berusaha" Balas Satya.
Hana menunduk tidak berani lagi menatap mata Satya, bukannya dia ingin menolak, tapi hatinya masih belum siap untuk berumah tangga.
"Baiklah jika kamu tidak mau, aku akan siap menunggu asal kamu janji hanya aku yang ada dimasa depan bersama mu" Putus Satya, dia lebih memilih mengalah, dia tau tidak bisa memaksa Hana saat ini, jika pun pria itu memaksanya mereka berdua akan kembali bertengkar.
Dia tau pemikiran Hana, Hana masih mengira mereka berdua terlalu muda untuk menikah, apa lagi keduanya belum mempunyai pekerjaan, tidak mungkin selamanya Satya meminta pada kedua orang tuanya.
Gadis itu kini kembali memeluk Satya, dalam pelukannya dia berkata, "Di masa depan, aku tidak akan pernah meninggalkan mu, tapi jangan pernah meninggal kan ku Sat" dengan nada lirih.
Satya membalas pelukan Hana dan mengusap ucap puncak kepala Hana, "Tidak akan, aku akan selamanya disisimu".
__ADS_1
...☘️☘️☘️☘️☘️...