Twins Love Story

Twins Love Story
Chapter 138 S2 "Putus?"


__ADS_3

...☘️☘️☘️☘️☘️...


Hana telah menyiapkan sarapan pagi dan membersihkan seluruh apartemen Satya setelah dia mandi dan berbenah.


Tiga puluh menit setelah semuanya rapi dan bersih Satya akhirnya bangun.


Pagi itu Satya makan tanpa satu suara pun dari Hana. Hana hanya diam dan memperhatikan Satya yang sedang makan sarapan yang telah Hana buat.


Saat Satya mau selesai makan Hana segera berdiri dan pergi kedalam kamarnya, tanpa kata Satya akhirnya mengikuti Hana.



"kenapa?" Satya membuka suaranya, dia sedikit menunduk melihat Hana dalam posisi duduk dan tangan dilipat.



"Aku yang mau tanya kenapa?" balas Hana dengan nada sinis.


Satya mengehela nafas pelan, lalu menarik Hana menuju sofa. Mereka sepertinya perlu bicara banyak. Satya tau dia salah kali ini, makanya satya memilih tersenyum dan mengalah pada Hana.



"Katakanlah, sebenarnya ada apa?" Tanya Satya lagi setelah mereka berdua duduk di sofa.


"Aku ingin bertanya sebenarnya kamu yang kenapa?" suara Hana terdengar pelan.


"Aku?" Satya menunjuk dirinya sendiri. "Aku sehat, aku baik-baik saja" lanjut pria itu lagi.



"Bukan itu maksudku, kenapa kamu menghindari ku, kenapa aku tidak bisa menghubungi mu seharian kemarin, aku bertanya karena itu"


Satya diam sejenak, dia mendengarkan setiap perkataan Hana, "Kemarin aku sibuk mengejarjakan tugas akhir kuliah, bersama teman-teman ku, masalah tidak bisa dihubungi, ponselku baterainya habis, aku minta maaf kalau kemarin membuatmu kesal"



"Benarkah hanya karena itu? bukan karena hal lain?" Hana masih tidak mau menatap mata Satya ketika berbicara, dia tidak berani menatap mata itu.


"Hal lain apa maksud nya?" Satya masih tidak mengerti arah pembicaraan Hana.


"Selingkuh, atau sudah bosan denganku" gumam Hana pelan, namun masih dapat didengar Satya.

__ADS_1


"Apakah kepercayaan mu padaku sangat kecil?! kau pikir aku selingkuh dibelakang mu? bukannya itu kamu? yang pacaran dengan dua orang__"


"Aku tidak pernah lagi! jangan menganggap aku sama seperti aku yang dulu!" Hana segera memotong ucapan satya ketika Satya membicarakan dirinya yang dulu.


"Seperti aku sudah memberikan kepercayaan ku sepenuhnya padamu, seperti itu kau harus percaya padaku! kenapa semudah itu kau menganggap aku selingkuh? apakah benar kau mencintai ku?" Satya mulai mempertanyakan perasaan Hana padanya.


Mata Hana segera menatap mata Satya, mata itu mulai berubah warna menjadi merah, "Aku mencintaimu, kau tau ketakutan ku yang terbesar? seseorang meninggal kan ku begitu saja tanpa tau apa yang salah dari diriku? pria itu dia membuatku takut akan memiliki komitmen dalam suatu hubungan, aku takut setiap saat ketika kau tidak bisa dihubungi, ketakutan ku semakin besar setiap harinya, aku capek Sat, apa sebaiknya kita putus dan tetap berteman saja, aku capek merasakan seperti ini" ucap Hana diakhir kalimatnya.


'Deg' jantung satya terasa berhenti, ketika mendengar ucapan Hana. Pria itu tau, dia yang salah, tapi dia tetap tidak pernah terpikirkan kata putus akan keluar dari bibir itu.


Selama ini pria itu berusaha sangat keras untuk membahagiakan Hana, tapi wanita itu merasa tersiksa bersama dengannya.


"Baik terserahmu" pasrah Satya dia memilih untuk pergi meninggalkan Hana.



Tangis Hana mulai pecah, dia tidak sengaja mengucapkan kata-kata sakral itu, wanita itu sama sekali tidak ingin hal itu yang terjadi, Satya mengiyakan ucapan spontan yang keluar dari mulutnya dengan sangat cepat.


'Deg'


Hana memegangi jantungnya yang terasa sakit, dia hanya ingin mendengar pengakuan dari Satya tapi tidak tau hal seperti itu yang akan terjadi.


"Satya bodoh! Satya brengsek" umpat Hana pelan sambil memukul mukul dadanya.


...☘️☘️☘️☘️☘️...


Ayah, bunda, mommy dan daddy tetap setia menemani Hani di rumah sakit. Begitu juga dengan Arka yang tampak fokus sama kerjaaan yang dia bawa ke rumah sakit.


"Baby kamu kenapa?" Mommy bertanya karena khawatir dengan Hani yang terus memegangi perutnya, sudah berkali-kali mommy melihat Hani sering memegang perutnya.


Arka yang mendengar perkataan Mommy Hani, segera meninggalkan pekerjaannya dan duduk di dekat ranjang Hani.


"Kamu kenapa princess?" Arka mengusap pelan puncak kepala Hani.


Hani menggeleng pelan lalu tersenyum, "gak apa" jawabnya singkat. dia tidak mau membuat orang-orang lebih khawatir padanya, entah kenapa dia tidak sadar tangannya terus mengelus perut.


"Kamu aneh deh Han, dari tadi loh aku perhatikan kamu megang perut terus" Chika ikut berkomentar.


Arka kini memegang perut rata istrinya, "Kenapa? lapar? mau kakak pesan kan makanan diluar?"


Sekali lagi Hani menggeleng dan tersenyum, tangannya mengelus tangan Arka yang berada di perutnya. "tidak kak, aku saja tidak sadar memegang perutku terus, aku hanya merasa ada yang hilang seperti itu".

__ADS_1


'deh deg' Jantung Arka serasa dipompa dua kali lebih cepat, Arka melirik kearah daddy, dan di sana daddy menggeleng pelan, " Kalau lapar bilang aja ya biar kakak pesankan"


"Iya kak" Jawab Hani singkat lalu kembali lanjut mengerjakan tugas akhirnya.


"Bagaimana perkembangan pencarian suster itu dad?" Arka kembali ketempat duduknya dan bertanya pada daddy mengenai suster yang mencoba memasukkan obat kedalam infus Hani, tujuan Arka agar mereka semua lebih fokus ke suster dari pada pernyataan Hani tentang perutnya.


"Masih belum ditemukan, terakhir dia ada di daerah xxx tapi tidak lagi ditemukan setelah itu" Jawab Daddy, dia juga membantu Arka dalam mengalihkan pembicaraan.


"Apa perlu bantuan Om?" mike yang menawarkan bantuan lebih dulu, papa mike adalah seorang detektif, dan kakaknya adalah seorang perwira polisi.


"Hmm kalau bisa tolong bantu infokan" balas daddy.


"Kamu tidak apa kan Han?" Kali ini chika menanyakan kabar Hani mengenai insiden suntikan itu. Chika dan mike sudah mendengar berita mengenai percobaan pembunuhan yang kedua pada Hani.


"tidak apa, aku baik-baik saja" Hani menunjukkan tangan seperti binaragawan.


"Bukannya suntikan itu akan membuat kamu terkena serangan jantung?" Chika kembali bertanya karena dia penasaran bagaimana cara Hani lepas dari maut.


"Dia itu sejak kecil sangat nakal, dokter dan suster yang pernah menangani Hani sapai geleng-geleng kepala, dia suka sekali melepas jarum infusnya secara diam-diam entah dari mana dia belajar" Mommy menceritakan masa kecil Hani yang sering berada dirumah sakit.


"Anggap saja putri daddy masih diberi keberuntungan, sejak kecil dia sering keluar masuk rumah sakit karena jantungnya, dan dia masih bersama daddy sampai sekarang itu saja sudah cukup buat daddy"


Hani tersenyum pada kedua orang tua angkatnya, mereka tidak pernah memiliki ikatan darah pada Hani, tapi kasih sayang mereka jauh melebihi kasih sayang orang tua kandungnya.


.


"Apa ada orang yang kamu curigai Arka?" Ayah Hana juga ikut dalam pembicaraan itu.


"Ada, tapi Arka Ragu yah, Arka tidak bisa menuduh seseorang begitu saja tanpa adanya bukti".


" Siapa kak?" Chika mengalihkan perhatian nya pada Arka.


"Jesica" Jawab singkat Arka.


"Wanita itu? hmm aku juga curiga padanya" Mike ikut memberikan opini.


"Kenapa gitu nak?" tanya daddy.


"Jesica itu sedikit psiko, selama Arka mengenal nya Arka dapat melihat semua karekter, dia bahkan mampu membuat sahabat Arka sendiri menjadi kaki tangannya, untuk mencoba mendapatkan Arka" jelas Arka panjang.


Arka lalu mulai menceritakan tentang jesica selama dia masih kuliah dulu.

__ADS_1


...☘️☘️☘️☘️☘️...


__ADS_2