
"Apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Ansel dengan hati-hati kepada perempuan cantik itu.
Nisa menatap Ansel dalam diam, dia juga binggung.
"Apa kamu ingin ikut aku pergi?" Tanya Ansel dengan sorot mata penuh percaya diri, Ansel berfikir mungkin Nisa akan menerima tawarannya kali ingin mengingat Nisa saat ini sedang dalam kondisi kecewa dengan suaminya. Ansel harus mengambil keuntungan, dia tak perduli Nisa hamil atau tidak yang Ansel inginkan melihat wanita yang dia cintai dari dulu itu bahagia.
"Entahlah sekarang aku binggung, di sisi lain hati ku begitu sakit melihat suamiku mencemaskan keadaan wanita lain membuatku ingin pergi jauh menghilangkan rasa sakit ini. Di sisi lain aku harus bertahan demi anak yang ada di dalam kandunganku," lirih Nisa.
D E G....
"Dia hamil," lirih seseorang di balik pintu.
Di balik pintu seseorang mendengarkan ucapan itu dengan perasaan tak menentu, tangannya memegang handle pintu degan gemetar namun dia masih tak bergeming di tempatnya, dia ingin mendengarkan lagi pembicaraan kedua orang yang berada di dalam ruangan itu.
"Ikutlah dengan ku, aku bisa memberikan nama belakang ku untuk anak mu nanti dan menganggap dia sebagai anakku," bujuk Ansel mencoba meyakinkan Nisa.
Seseorang di balik pintu mengepalkan tangannya dengan erat. Hatinya di landa kecemasan.
Bruakkk....
Pintu terbuka dengan suara keras karena tendangan dari Rio.
Nisa kaget dan melotot menatap ke arah Rio dengan kaget, Nisa tak menduga kalau suaminya itu berada di sini.
"Apa dia mendengarkan ucapan ku tadi," batin Nisa cemas.
__ADS_1
Rio menatap keduanya dengan sorot mata sulit diartikan, Rio beralih ke arah Ansel tatapan Rio begitu tajam seolah ingin mencabik mangsa di depannya saat ini.
~Flashback on~
Tok tok tok tok tok....
"Tuan kami sudah menemukan di mana keberadaan nona Nisa," teriak salah satu bodyguard sambil mengetuk pintu majikannya itu.
Rio pun bergegas turun dari ranjang.
Ceklek....
"Kalian sudah pastikan kalau benar itu Nisa?" Tanya Rio.
"Iya tuan, mari kita segera berangkat ke sana mengingat kondisi nona Nisa tak baik-baik saja," kata bodyguard itu ketakutan dan menunduk.
"Dimana dia sekarang," tanya Rio.
Setelah bodyguard memberitahu lokasi Nisa, Rio pun langsung menuju garasi dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar dia segera sampai diikuti oleh 8 orang bodyguard di belakang Rio.
Sungguh mereka sampai tak percaya Rio melajukan mobilnya dengan kecepatan seperti itu, membuat mereka sedikit kesulitan untuk mengikuti. Untung saja mereka tahu alamatnya.
Rio yang sudah sampai di depan pintu, awalnya ingin langsung masuk saja namun saat mendengarkan kedua orang di dalam hati Rio jadi tak menentu. Apalagi dia sudah mengetahui satu kebenaran yang membuat dia begitu bahagia. Tetapi Rio langsung emosi saat pria itu berusaha membujuknya istrinya, Rio mengepalkan tangannya dengan erat. Dia langsung menendang Pitu itu dengan penuh emosi.
~ Flashback off~
__ADS_1
"Kamu ingin mengambil istri ku, mimpi. Nisa adalah milikku dan selamanya dia akan menjadi milikku," kata Rio dengan penuh ketegasan mengingatkan pria di depannya kalau Nisa adalah miliknya sampai kapan pun dan tidak akan ada yang boleh mengambil Nisa dari nya.
Belum sempat Ansel berbicara, Rio sudah meminta bodyguard yang setia mendampinginya itu untuk masuk.
"Kalian masuk dan seret pria ini keluar, lempar dia sejauh mungkin," perintah Rio dengan tegas.
Muncullah 5 orang bodyguard dari belakang dan masuk kedalam ruangan untuk menyeret Ansel keluar dari ruangan.
"Hei apa-apaan kalian," Ansel meronta saat kedua orang itu mencengkram kedua tangannya.
"Sebaiknya anda keluar," pinta bodyguard dengan sopan.
"Sialaaaaaan kalian tidak berhak untuk mengusirku," teriak Ansel murka.
Nisa menatap Ansel dengan tatapan kasihan.
"Lepaskan dia, dia tidak bersalah seharusnya aku harus berterima kasih kepadanya karena dia telah menolongku," lirih Nisa menatap Rio dengan penuh permohonan.
"Aku hanya ingin berbicara dengan mu jadi orang luar sebaiknya pergi," kata Rio tak menggubris permintaan Nisa.
Rio memberi kode agar mereka segera menyeret Ansel keluar dari sana.
"Hei lepaskan aku...." Teriak Ansel yang masih tak terima dirinya di tarik paksa keluar.
"Lepaskan..." Ansel meronta namun sayang tenaganya tak sebanding dengan kedua pria berbadan tegap itu.
__ADS_1
Karena Ansel terus berontak, kedua bodyguard datang lagi membantu mengangkat Ansel dan melemparkannya ke luar sejauh mungkin agar tuan mereka bisa leluasa dan tidak ada gangguan dari pria ini.
Bersambung.....