
Pagi ini....
Suasana di setiap kamar terlihat berbeda. Apalagi kamar kedua pengantin itu nampak senyap tak terdengar suara apapun. Padahal matahari sudah mulai bersinar terang.
Arin beserta keluarga kecilnya sudah siap di restoran yang ada di sebelah sana.
"Ma, Aurel mau makan udang yang bueesaarrr," kata gadis kecil itu sambil memperagakan dengan tangannya seberapa besarnya.
"Iya sayang," jawab Arin mengelus kepala sang anak dengan penuh kasih sayang.
"Kalau Abrian apa?" Tanya Abraham kepada sang anak.
"Abrian mau ayam aja ya pa," jawab Abrian.
"Ya sudah jadi Aurel udang crispy dan Abrian ayam crispy juga ya," putus Arin kepada keduanya saat ini.
"Ok mau," jawab keduanya serempak.
"Kalau kamu mas mau makan apa?" Tanya Arin kepada Abraham sang suami.
"Aku sih terserah," jawab Abraham.
Arin pun memanggil salah satu pelayan untuk menulis pesanannya saat ini.
Mereka berempat menunggu dengan tenang di temani beberapa cemilan yang sudah di bawa Arin tadi agar sang anak tidak bosan menunggu sambil mempersiapkan pesanan mereka. Untuk Andra sengaja di tinggal di dalam kamar di temani oleh pengasuhnya dan kedua pengasuh Aurel pun di tinggal untuk ikut menjaga Andra.
"Ma mana om Tio sama Tante Amanda?" Tanya Aurel clingak-clinguk mencari keberadaan keduanya yang tak nampak sedari tadi.
"Mama gak tahu nak, mungkin om Tio masih mandi," jawab Arin asal karena Arin sendiri tak tahu keberadaan mereka, ponsel mereka juga tak bisa di hubungi.
Arin berfikir mungkin kedua nya masih tidur mengingat keduanya masih terbilang pengantin baru.
"Ohhh..." Aurel mengangguk setuju.
"Kalau om Rio ma?" Kini gantian Abrian yang bertanya kepada sang mama.
Arin melirik ke arah Abraham karena Arin saat ini binggung harus memberi jawaban apa terlebih dia tak mungkin memberikan jawaban yang sama dengan tadi.
"Om Rio masih tidur," jawab Abraham singkat, itu membuat Abrian heran di buatnya apalagi hari terlihat sudah cerah.
Sedangkan Arin melotot menatap ke arah sang suami, bisa-bisanya dia berbicara seperti itu pasti Abrian atau Aurel pasti tidak akan puas dengan jawaban itu dan keduanya pun akan bertanya lagi dan lagi sampai mereka puas dengan jawaban itu.
__ADS_1
"Ha jam segini masih tidur?" Tanya Aurel.
"Iya kan tadi malam om Rio kan main dulu,"
Sungguh ingin rasanya Arin menyumpah mulut sang suami dengan bakpao agar dia tak berbicara aneh-aneh di depan kedua anaknya.
"Main game, om Rio itu kan suka main game sampai 2 pagi jadi pasti hari ini dia masih tidur karena mengantuk," sela Arin sebelum kedua anaknya itu bertanya lagi.
"Iya ya," kedua bocah itu mengangguk percaya sebagai jawaban.
Makanan yang di pesan akhirnya datang, Arin bisa melihat Aurel tersenyum lebar menatap udang kesukaan nya itu penuh minat.
"Yeee," Aurel langsung mencomot satu udang yang paling besar, Aurel sudah bersiap-siap membuka mulutnya lebar-lebar.
"Aurel berdoa dulu nak sebelum makan," tegur Arin kepada Aurel.
"He he he he,"
Gadis itu pun malu dan langsung menaruh kembali udang diatas piringnya kembali.
"Abrian tolong pimpin doa ya," pinta Abraham.
Keluarga kecil itu terlihat begitu harmonis, entah siapapun yang melihatnya pasti di buat iri.
Sedangkan di kamar Rio.
Rio sedari tadi sudah bangun, Rio menatap ke samping ke arah perempuan cantik yang masih terlelap tidur.
Rio belum meminta hak nya, dia ingin Nisa sendiri dengan ikhlas menyerahkan nya kepada Rio.
Cup
"Ayo bangun," kata Rio dengan suara serak nya setelah mencium kening sang istri.
"Emm 5 menit lagi, aku masih ngantuk," tolak Nisa
"Hei ini sudah siang," dengan gemas Rio mencubit hidung Nisa pelan.
"Hap hap..." Nisa terbangun karena kesulitan bernafas.
"Ish kamu mau buat aku gak bisa nafas," bentak Nisa dengan kesal.
__ADS_1
"Bukan begitu, aku hanya ingin membangunkan mu kok itu saja," kata Rio membela diri.
"Ck...." Nisa berdecak kesal.
"Tuh lihat hampir jam 11 siang, memang kamu tidak lapar?" Tunjuk Rio ke arah dinding di dimana terletak jam dinding. Tak lupa diakhiri dengan sebuah pertanyaan.
"Ha sebelas siang, udah deh kamu pasti bohong kan," kata Nisa yang masih engan membuka mata nya.
"Ya sudah kalau kamu masih tidak mau bangun, aku akan mencium seluruh wajah kamu biar kamu bangun," ancam Rio yang sudah mencondongkan badannya ke arah Nisa.
Nisa langsung membuka matanya, karena kaget melihat Rio yang sudah berada dekat dengan wajahnya, secara refleks tangan Nisa langsung menahan tubuh Rio.
"Ehhhh.... Aku bangun," kata Nisa dengan cepat tak lupa menjauh dari Rio.
Dengan cepat Nisa langsung turun dari tempat tidur menuju ke arah kamar mandi.
Ceklek....
Di dalam kamar mandi...
Hos hos hos hos hos.....
Nisa memegang dadanya sambil mengatur nafas karena berlari menuju kamar mandi dengan tergesa-gesa.
"Haiiiis kenapa aku bisa kesiangan," grutu Nisa.
"Ayo cepat Nisa jangan bicara terus nanti tuh orang tak sabar menunggu kamu selesai mandi,"
Setelah itu Nisa dengan cepat membasuh tubuhnya dengan air untuk menyegarkan sekaligus membersihkan tubuhnya. Tak lupa juga Nisa menguyur rambutnya dan menggosok dengan shampo yang cukup banyak agar rambutnya terlihat bersih dan harum. Sesaat Nisa terlena saat menuang sabun ke tangannya, harum sabun itu cukup membuat Nisa tenang dan rileks.
Dirasa cukup mandinya, Nisa mengakhiri dan memakai handuk berbentuk kimono yang tersedia di sana.
Ceklek...
Nisa keluar dari kamar mandi masih dengan perasaan canggung. Rio melihat itupun terpesona sesaat apalagi tampilan Nisa begitu terlihat cantik, Tio segera menormalkan kembali wajahnya agar Nisa tak semakin canggung di buatnya.
"Baju kamu ada di atas tempat tidur, segeralah ganti baju dan makanan mu ada di meja. Bergegaslah karena selesai kamu makan, kita harus menemui kak Arin dan kak Abraham karena ada sesuatu yang akan mereka bicarakan dengan kita, entahlah aku pun tak tahu apa yang akan mereka bicarakan nanti," jelas Rio panjang lebar.
Setelah berbicara seperti itu, Rio pun berjalan menuju ke arah balkon kamar. Dia duduk sambil menyesap kopi hitam kesukaannya sambil menatap ke arah jalanan yang terlihat ramai.
"Maaf aku harus berusaha melupakan mu karena kamu sekarang bukan siapa-siapa buat ku, menang benar kata orang berapa lama kita menjalin hubungan belum tentu kita akan bisa bersama karena jodoh adalah rahasia sang pencipta. Sekarang aku sudah mempunyai Nisa jadi semua cintaku akan ku berikan kepada Nisa, Renata semoga kamu bahagia dengan nya," lirih Rio dengan suara kecil sambil menatap ke arah langit yang cerah dengan pandangan sendu.
__ADS_1
Bersambung.....