
Keesokan harinya di negara yang di singgahi oleh pasangan pengantin baru yang tak lain adalah Rio dan Nisa.
Di dalam kamar hotel.....
"Uhhh...." Nisa merentangkan ototnya, matanya mulai perlahan terbuka. Kamar terlihat sedikit gelap mengingat hanya lampu kecil di sebelah tempat tidur sebagai penerang tidur mereka tadi malam.
"Dimana ini?" Kata Nisa saat kesadarannya belum pulih sepenuhnya.
Nisa masih engan membuka matanya secara sempurna. Tangannya meraba sekitar dan tanpa sengaja Nisa menyergit heran saat menyenggol sesuatu yang terasa hangat.
"Em guling kok hangat," guman Nisa masih dengan suara kecil.
Sedangkan Rio terusik tidurnya saat merasakan seseorang menyenggol lengan nya. Rio pun membuka mata menoleh ke samping, Rio tersenyum kala mendapati sang istri yang masih terlihat mengantuk. Rio masih memperdebatkan wajah sang istri yang nampak kebingungan, " cantik." Guman Rio tentunya di dalam hati saat ini.
Nisa yang penasaran pun menoleh ke samping, dia langsung di buat kaget terdiam bersamaan, mata nya melotot menatap Rio dengan pandangan rumit. Nisa mencoba mengingat sesuatu.
"Kenapa dia berada di sini," lirih Nisa sedangkan Rio masih memilih dia karena ingin melihat apa yang akan dilakukan Nisa nantinya.
Ah rasanya Rio tak bisa membayangkan bagaimana nanti reaksinya saat mengingat sesuatu. Rio tak sabar...
"Astaghfirullah," Nisa menutup mulutnya dengan cepat saat dirinya telah mengingat sesuatu.
"Kenapa aku bisa seceroboh itu," kata Nisa kesal memukul keningnya pelan.
"Aah aku malu," Nisa kemudian menutup wajahnya yang sudah memerah menahan malu.
Rio cekikikan di samping Nisa melihat tingkah lucu istrinya itu. Rio pun teringat kejadian itu dengan tersenyum puas.
~Flash back on~
Malam hari Rio mengajak Nisa untuk makan di salah satu restoran yang ada di hotel itu. Keduanya sudah duduk dan memesan makanan. Rio sudah memesan makanan kini giliran Nisa.
"Aku tinggal ke toilet sebentar ya," kata Rio berpamitan pergi ke toilet, karena dia sudah tak tahan ingin buang air kecil.
"Tetapi jangan lama," kata Nisa meskipun di dalam hati dia engan untuk di tinggal di tempat asing seperti ini.
"Sebentar kok, " kata Rio menenangkan saat melihat wajah cantik itu memelas terasa engan di tinggalkan oleh dirinya.
"Oh ya lupa kalau aku lama dan makanannya sudah datang, kamu bisa makan terlebih dahulu," sambung Rio lagi.
"Iya," akhirnya hanya kata itu yang bisa Nisa ucapkan saat melihat wajah tampan itu seperti menahan sesuatu.
Rio pun berbicara dengan pelayan yang melayani dia dan Nisa, Rio meminta pelayan itu berbicara dengan bahasa dari negara Rio dan Nisa.
Pelayan pun mengangguk mengerti membuat Rio bersyukur karena pelayan tadi mengerti bahasa mereka, jadi Rio sedikit lega meninggalkan Nisa pergi ke toilet.
__ADS_1
Rio pun mengelus kepala Nisa dengan sayang sebelum dirinya pergi berjalan menuju ke arah toilet berada.
"Mbak mau pesan makan dan minum apa?" Tanya pelayan wanita itu dengan ramah.
Nisa yang mendengar itupun langsung tersenyum cerah.
"Ini apa mbak?" Tanya Nisa menunjukkan gambar makanan di menu yang menarik perhatiannya saat ini.
"Oh itu daging panggang dengan bumbu pada hitam," jawab pelayan dengan ramah.
"Ya sudah saya pesan ini, ini dan ini," jawab Nisa menunjukkan 3 gambar yang akan dia pesan.
"Iya mbak," jawab pelayan itu sambil menulis pesanan Nisa tadi.
"Oh ya minuman apa?" Tanya pelayan wanita itu sekali lagi.
"Sama saja dengan suami saya tadi," jawab Nisa karena dia yakin pilihan suaminya itu enak.
"Ah iya,"
"Apa anda pengantin baru?" Tanya pelayan wanita itu dengan tersenyum melihat wajah perempuan di depannya itu yang merona.
Nisa mengangguk membenarkan ucapan dari pelayan tadi.
"Wah selamat ya mbak, pasti di sini pagi honeymoon kan. Ah semoga liburan anda berdua di sini menyenangkan. Bagaimana kalau saya rekomendasikan minuman yang cocok untuk pengantin baru seperti kalian," kata pelayan itu dengan ramah.
Benar saja, saat makanan yang di pesan oleh keduanya tiba, Rio belum berada di sana.
Nisa yang sudah lapar pun memilih makan terlebih dahulu.
"Em enak," kata Nisa saat mencicipi satu makanan yang tadi dia pesan.
Setelah memakan satu menu tadi, Nisa merasa haus dan mencicipi minuman yang direkomendasikan oleh pelayan tadi.
"Ha rasanya kok aneh sih," guman Nisa namun rasa penasaran Nisa pun mencoba meminumnya kembali.
"Eh lama-lama enak," sambungnya.
"Hai maaf lama tadi toilet antri," kata Rio merasa bersalah.
"Hmm tidak apa-apa,"
Rio pun duduk di depan Nisa dan memakan makanannya tadi yang sudah dia pesan.
Baru memakan 5 suapan, matanya tak sengaja menatap sesuatu.
__ADS_1
"Eh ini siapa yang pesan?" Tanya Rio saat dia melihat botol minuman yang tak asing menurut nya. Rio pun tak merasa memesan nya tadi.
"Oh itu tadi pelayan yang merekomendasikan nya dan dia bilang ini cocok untuk pengantin baru," kata Nisa yang sudah mulai puding karena telah meminum lebih dari 3 gelas.
"Ah kamu kok jadi banyak sih," kata Nisa menunjuk ke arah Rio.
"****," Rio mengumpat kesal.
Bagaimana tidak saat ini sepertinya Nisa sudah kehilangan kesadaran.
"Hai tampan mau tidak jadi kekasih ku," kata Nisa menatap Rio dan tersenyum cengengesan.
"Apa dia tak tahu ini minuman apa? Ck dasar ceroboh bisa-bisanya dia minum ini sampai beberapa gelas, ah dasar kucing nakal suka sekali buat ku pusing," grutu Rio mengacak rambutnya kesal.
Rio pun meneguk minuman yang dia pesan tadi sampai habis karena kesal.
Rio memanggil salah satu bodyguard melalui ponselnya dan meminta untuk mengurus makanan ini. Rio harus segera membawa Nisa ke dalam kamar kalau tidak dia akan meracau tak jelas nantinya.
Rio membopong Nisa karena percuma memapah dia berjalan pasti akan lama dan membuat masalah nantinya.
"Hei hei kenapa kamu membawaku pergi, nanti suami tampan ku itu mencari ku. Ha ha ha ha ha ha ha ha...." Nisa meracau tak jelas tangannya membelai wajah Rio.
Nisa mendekatkan wajahnya ke arah Rio dan C U P .
Rio tak menyangka Nisa mencium dirinya meskipun di pipi.
Rio mempercepat langkah kakinya menuju ke kamar yang dia tempati.
Brug....
Rio membanting tubuh Nisa diatas tempat tidur dengan pelan agar istrinya itu tak merasa kesakitan.
"Hai tampan, kamu tahu kalau aku sudah punya suami tampan, dia lembut dan dia suka memaksa. Dia memaksaku menikah dengan nya, tetapi entah kenapa aku tidak suka kalau ada perempuan yang menatapnya, aku cemburu. Apakah aku jatuh cinta," Nisa masih meracau tak jelas, raut wajahnya berubah-ubah kadang tersenyum, cemberut dan marah. Sungguh mengemaskan bagi Rio.
"Cup...."
Nisa mencium bibir Rio membuat Rio kaget untuk kedua kalinya. Rio pun langsung memegang tengkuk Nisa dan meneruskannya ciumannya.
Rio melepaskan ciuman tadi dan menatap wajah cantik itu.
"Jangan salahkan aku jika aku tidak bisa mengontrol semua ini," kata Rio memperingatkan.
"Bolehkah aku??" Tanya Rio menatap ke arah Nisa meminta persetujuan, dia tak ingin di cap pria brengsek untuk kedua kalinya oleh Nisa.
Entah sihir apa, Nisa pun mengangguk setuju.
__ADS_1
Akhirnya kedua orang itu hanyut dalam indahnya cinta.
Bersambung....