
Ardimas langsung membaringkan tubuh Renata di atas ranjang itu saat dia sudah memasuki ruang UKK, tubuh itu masih dalam kondisi tak sadarkan diri.
Ardimas menatap wajah cantik itu dengan sendu.
Puk...
"Eh..." Ardimas menoleh saat merasakan seseorang menepuk pundaknya secara pelan.
"Maaf aku mau pamit pulang ya, dari tadi bunda sudah berkali-kali menghubungi ku menyuruh pulang, Lo tahu sendiri kan gimana bawel nya bunda," pamit Glen seraya menjelaskan alasan dia harus pergi.
"Thank sob, maaf aku tidak bisa mengantarkan kamu pulang," kata Ardimas dengan nada tak enak hati.
"Santai saja, kayak sama siapa aja sih Lo," kata Glen menepuk pundak Ardimas untuk menguatkan dirinya, ya Glen tahu bagaimana perasaan Ardimas saat ini.
Glen pun melangkah kaki nya menunju ke arah pintu keluar namun saat berada tepat di depan pintu, Glen menoleh.
"Oh ya kalau ada apa-apa, kamu harus segera hubungi aku dan maaf aku tak bisa menemani mu di sini," jelas Glen membuat Ardimas terharu.
Ardimas pun mengangguk. Ardimas tersenyum saat melihat ke arah punggung Glen yang semakin menjauh.
"Aku bersyukur karena masih di kelilingi oleh orang yang baik," guman Ardimas saat ini.
Tap tap tap tap tap tap tap....
Suara langkah kaki bergema akibat ketukan sepatu dengan lantai.
Dokter berjalan untuk menghampiri Ardimas, dokter pun segera memeriksa kondisi Renata dengan begitu teliti.
Berkali-kali dokter menghela nafas panjang.
"Dok, bagaimana kondisi teman saya?" Tanya Ardimas ke pada dokter cantik yang sedang memeriksa Renata.
Raut wajah dokter cantik itu nampak bingung, dia terdiam sesaat di wajahnya memperlihatkan keraguan dan kesedihan seperti wajah Ardimas saat ini.
Dokter pun menghela nafas berat untuk kesekian kalinya, dia akhirnya membuka mulutnya untuk menyampaikan kabar itu.
"Sebaiknya teman kamu bawa teman kamu untuk di rawat di rumah sakit selama beberapa hari, dan lakukan pengecekan secara menyeluruh karena menurut saya teman kamu menderita penyakit yang cukup serius. Ingat kamu harus segera membawa nya ke rumah sakit, karena waktu dia tak lama lagi, sepertinya penyakit ini sudah lama di derita pasien atau pasien sering mengabaikan gejala awal penyakit ini sehingga membuat penyakit ini semakin parah karena tidak ada tindakan pencegahan," jelas dokter itu namun tak menjelaskan penyakit yang di derita oleh Renata.
__ADS_1
"Emmm maaf Dok kalau saya boleh tahu, penyakit apa yang di derita oleh teman saya?" Tanya Ardimas dengan hati-hati.
"Maaf lebih baik anda pastikan nanti di rumah sakit setelah melalui serangkaian tes di sana, saya takut prediksi saya kurang tepat," jelas dokter.
"Penyakit ini harus segera di tangani, kamu bisa membawanya ke rumah sakit yang besar karena di sana tentunya fasilitas lengkap dan canggih," sambung dokter memberi saran.
Entahlah dokter cantik itu begitu sulit untuk mengatakan sebenarnya, dia tak tega melihat sorot mata pria di depannya saat ini. Dia takut dirinya salah memprediksi apalagi ini penyakit bukan penyakit biasa yang dapat di tangani dengan cepat.
"Terimakasih dokter," jawab Ardimas dengan lesu.
Ardimas bisa menebak kalau sahabat sekaligus orang yang di cintai nya itu sedang tak baik-baik saja, dia tengah mengidap penyakit yang cukup serius. Bagaimana tidak karena dokter pun meminta dirinya membawa Renata ke rumah sakit yang besar untuk memastikan bagaimana kondisinya.
"Ingat pesan saya, setelah wanita ini sadar segeralah ajak dia memeriksakan diri nya ke rumah sakit," jelas dokter sebelum dia pamit pergi.
Setelah itu dokter pun pergi meninggalkan mereka.
# Flashback off#
......................
Ardimas pun tersadar dari lamunannya.
Ya perempuan yang tengah menikmati indahnya pagi ini di temani kesunyian pagi adalah Renata.
Renata mengelengkan kepalanya pelan karena dia merasa kalau dia masih belum lapar.
'Aku tahu ini begitu berat untuk mu, tetapi aku akan selalu ada di samping mu,' batin Ardimas menatap wajah cantik itu dengan sendu.
Ardimas bertekad untuk membahagiakan wanita cantik itu di sisa hidupnya meskipun cinta dia tak akan mungkin terbalas, namun Ardimas cukup senang melihat senyum di bibir wanita cantik itu yang akhir-akhir ini begitu sulit dia lihat.
"Please, kamu tidak kasihan dengan ku. Aku sudah lapar," kata Ardimas memelas mencoba membujuk Renata.
"Kamu selalu saja bicara begitu tiap pagi, apa kamu tidak bosan memaksa ku makan," grutu Renata menatap sahabatnya kesal.
"Aku harus melakukan ini agar kamu mau makan terus minum obat," jelas Ardimas sambil menarik tangan sahabatnya itu menuju ke arah ruang makan.
"Hmmm...." Jawab Renata malas.
__ADS_1
"Ayolah re, demi aku, demi papi kamu," pinta Ardimas.
"Papi bahkan lupa dengan ku, dia lebih memilih sibuk bermesraan dengan istri baru nya," sinis Renata.
Ardimas tak kehilangan akal, dia mencoba terus membujuk sang sahabat saat ini.
"Aku kangen Renata yang dulu, Renata yang selalu ceria mudah tersenyum dan Renata yang bar-bar aktif dalam kegiatan kampus," kata Ardimas.
Sejak mengetahui umurnya yang tidak akan panjang membuat Renata sepertinya tidak bergairah untuk hidup lagi, sering kali Ardimas harus membujuk perempuan cantik itu.
Ardimas hanya ingin lebih lama bersama dengan Renata, dia menanti keajaiban untuk kesembuhan Renata. Apapun akan Ardimas lakukan untuk orang yang dia cintai.
Renata menghela nafas panjang, dia menatap ke arah Ardimas, sahabat yang menemaninya saat dia terpuruk.
Renata pun akhirnya mengangguk, langsung berdiri menuju ke arah meja yang sudah tersaji berbagai menu masakan kesukaannya.
...----------------...
Di sisi lain........
Tio terus mengandeng tangan Amanda dengan erat seraya tersenyum manis. Sedangkan Amanda berdecak kesal karena Tio begitu posesif tak mau melepaskan tangan sedari tadi.
"Aduhhh tangan ku sudah basah dari tadi karena berkeringat tetapi kamu masih saja tak mau melepaskan tangan ku," grutu Amanda menatap kekasihnya dengan wajah cemberut.
Tio tak menghiraukan protes dari sang kekasih, dia hanya melirik sekilas tersenyum manis.
"Ishhh kamu nyebelin deh," kata Amanda mencebikkan bibirnya.
"Jangan begitu karena kamu semakin terlihat mengemaskan, tuh lihat kamu dari tadi di lihatin sama cowok-cowok yang duduk di sana," kata Tio melirik ke arah deretan laki-laki yang duduk tak jauh dari Tio dan Amanda berjalan.
"Ish apaan sih, ngaco saja kalau bicara," kata Amanda.
"Ayo," Tio pun merangkul Amanda menariknya dengan cepat meninggalkan tempat itu.
"Dasar tuan posesif," cibir Amanda di tanggapi dengan senyum tipis dari Tio.
"Kamu itu terlalu cantik, jadi aku was-was takut kamu di curi orang," kata Tio dengan gaya gombalan nya.
__ADS_1
"Ha ha ha ha ha ha, sayang kamu tuh gak pantas bicara begitu apalagi tuh muka datar begitu jadi kelihatan semakin aneh," kata Amanda terkekeh geli melihat wajah sang kekasih hatinya itu.
Bersambung....