
Pagi tadi sekitar pukul 5 pagi, Rio sudah bangun. Dia menatap ke arah tempat tidur dan tak menemukan keberadaan dari Nisa. Rio di buat panik seketika, mata nya yang tadi masih berat untuk terbuka kini langsung terbuka lebar menatap ke segala arah.
"Kemana tuh perempuan, ah jangan-jangan dia kabur," kata Rio langsung bangkit dari sofa menatap ke seluruh ruangan mencari sosok perempuan yang telah membuatnya resah di pagi hari.
Ceklek....
"Kenapa kamu?" Tanya Nisa saat dia sudah keluar dari kamar mandi.
"Fyuuhhh...."
Rio bernafas lega saat melihat Nisa baru keluar dari kamar mandi dan terlihat segar.
'Ternyata dia mandi, aku kirain dia benar-benar kabur,' batin Rio.
"Kirain kamu kabur," kata Rio sambil melirik ke arah Nisa.
"Bagaimana mau kabur sedangkan pintu kamu kunci, terus kamu juga sedari tadi malam mengawasi ku di sini. Mana mungkin aku kabur dari jendela, ya kami aku bisa terbang mah sudah dari tadi malam aku kabur," ceplos Nisa dengan wajah cemberut mengucapkan semua yang ada di pikirannya saat ini.
Rio mendengar itupun langsung mendelik ke arah Nisa. "Ohhh jadi kamu berniat kabur kalau aku tidak menunggu kalian di sini," kesal Rio menanggapi ucapan dari Nisa tadi.
"He he he he he he, kalau bisa," jawab Nisa cengengesan sambil menggosok hidungnya yang tak gatal.
"Kamu...." Bentak Rio mendengar ucapan Nisa langsung kesal membuat perempuan cantik itu langsung menunduk karena ketakutan.
Rio pun terdiam mengatur nafasnya guna meredakan emosi yang tengah menguasai pikirannya saat ini, apalagi Rio tak suka melihat wajah Nisa yang menunduk terlihat takut kepadanya.
Rio menghampiri Nisa, dia memegang pundak Nisa untuk meyakinkan Nisa saat ini.
"Hari ini ku mohon kamu meyakinkan hati mu agar bisa menerima ku sebagai suami mu. Aku berjanji akan membahagiakan mu dan tak akan menyakiti hati mu atau membuat mu menangis, cinta bisa datang seiring waktu dan aku juga menjanjikan kalau kamu akan menjadi satu-satunya istriku dan aku tak akan pernah menduakan mu," jelas Rio panjang lebar meyakinkan Nisa.
Nisa memandang manik mata Rio, mencoba mencari kesungguhan dari kata-kata nya tadi namun Nisa hanya bisa melihat keseriusan dari pria di depannya itu.
Meskipun sedikit ragu, Nisa yang mendengar ucapan Rio itu pun mengangguk setuju. Dia tak punya pilihan lain, apalagi mengingat kejadian di mana ciuman pertama nya itu diambil oleh pria tampan di depan nya saat ini.
__ADS_1
Rio tersenyum langsung memeluk perempuan cantik itu, Rio begitu senang mendengarnya sampai dia refleks memeluk Nisa.
Deg....
Nisa di buat memegang karenanya.
'Aku berjanji akan membuat mu bahagia, tak akan ku biarkan air mata mengalir di wajahmu. Mulai hari ini aku akan belajar untuk mencintaimu,' batin Rio dengan sungguh-sungguh.
"Terima kasih," kata Rio mencium puncak kepala Nisa dengan lembut.
Nisa terdiam canggung tak tahu harus melakukan atau berbicara apa.
.
.
Pukul 09.00 pagi ini di dalam aula hotel.
Bimo, Doni maupun Hendra bertugas mengawasi 3 bocil yang tak lain adalah Aurel, Abrian, Andra anak dari tuan nya.
Tio memilih duduk di kursi tak jauh dari sana mengengam tangan sang istri.
Puk...
"Hey kenapa kamu tidak duduk di samping Rio," kata Nino sambil menepuk pundak Tio.
"Ck kamu kirain siapa," jawab Tio melengos kesal.
"He he he he he he," Reza justru terkekeh melihat wajah pengantin baru yang langsung kesal.
"Kalau aku duduk di samping Rio nanti kasihan pak penghulu nya binggung siapa pengantin pria nya," sambung Tio.
"Ha ha ha ha ha, benar juga," jawab Gre ikut terkekeh.
__ADS_1
"Tetapi aku juga kaget, tiba-tiba tuh anak nikah. Kirain pesan tadi dari kamu tuh bohongan," kata Nino di setujui oleh semuanya.
"Iya aku juga sempat mengira ini prank," sahut Dani.
"Sttt diam, sebentar lagi mulai," kata Reza mengingatkan temannya.
Sedangkan Amanda hanya menggelengkan kepalanya melihat ke seruan mereka mengobrol.
Di sudut tempat....
Nisa saat ini sudah selesai di rias, dia tampil cantik dan tengah duduk di sudut ruangan namun di pisah pembatas agar para tamu dan pengantin pria tak bisa melihatnya.
"Jangan gugup, rileks saja," kata bunda mengengam tangan perempuan cantik di depan nya yang akan menjadi menantunya dalam hitungan menit itu.
"Iya kamu baca doa saja biar tenang," bujuk Arin.
Ya saat ini Nisa sedang di temani oleh Arin dan bunda. Sedangkan untuk keluarga Nisa, Rio bersyukur anak buah kakak iparnya menemukan sang paman.
Nisa tinggal di kota ini seorang diri setelah kedua orang tuanya meninggal, Nisa diasuh oleh sang paman dan bibinya yang tak mempunyai anak, bibi Nisa meminta memanggilnya dengan sebutan mama dan pamannya dengan sebutan ayah.
Maka dari itu Nisa seakan tidak kehilangan kasih sayang orang tuanya, dia meninggalkan kampung halaman dengan engan untuk merantau mencari pekerjaan mengingat sang bibi dilanda sakit, dengan berbekal tekad kuat akhirnya Nisa bisa membantu biaya operasi dan kesembuhan bibinya itupun. Tetapi Nisa engan pulang dan memilih melanjutkan pekerjaannya meskipun berkali-kali keduanya meminta Nisa pulang.
Nisa hanya ingin membantu paman nya itu mencari uang agar sang paman tak perlu bekerja siang malam.
...-----------...
Melihat Rio yang sedikit gugup, Abraham pun menoleh. "Jangan gugup," kata Abraham dengan nada pelan dan kecil.
Abraham menemani Rio di sampingnya.
"Apa saudara Rio sudah siap?" Tanya pak penghulu.
Bersambung ...
__ADS_1