Twins Love Story

Twins Love Story
Bab 93


__ADS_3

"Sayang kenapa kamu muram begitu?" Tanya Tio saat melihat sang istri (Amanda) tengah duduk di kursi yang ada di balkon kamar, pandangan matanya menatap ke arah langit.


"Tidak kok," elak Amanda tak berniat menatap ke arah Tio.


"Aku tahu pasti kamu sedang memikirkan sesuatu, aku ingin kamu jujur dan membaginya dengan ku. Kita adalah suami istri, jadi susah senang harus kita bagi berdua, apapun itu bagilah dengan ku meskipun kesedihan," kata Tio mendekat ke arah sang istri dan mengengam tangan Amanda dengan penuh kasih sayang.


Amanda begitu terharu mendengar ucapan dari suaminya itu, jujur Amanda tak pernah menyesal mencintai pria di depannya itu. Pria yang membuatnya terluka dengan penolakan dulu itu sekarang memperlakukan dirinya begitu baik, penuh perhatian dan begitu mencintai dirinya. Amanda tersenyum menatap Tio dengan perasaan yang begitu dalam.


Tanpa di duga oleh Tio, Amanda langsung memeluk dirinya dengan erat.


"Nisa sekarang hamil?" Kata Amanda yang masih setia memeluk Tio tanpa mau melepaskan dirinya.


Tio membelai lembut punggung sang istri, Tio tahu Amanda tidak dalam kondisi baik-baik saja saat ini.


"Bagus dong, kita akan punya keponakan," jawab Tio dengan tersenyum.

__ADS_1


"Tetapi....." Amanda terdiam sesaat namun setelah itu Tio bisa merasakan tubuh Amanda bergetar hebat. Tio yakin Amanda sedang menangis.


"Hiks hiks hiks hiks hiks hiks." Tangisan Amanda itu berbeda dari tangisan terharu, Tio tak tahu sebenarnya apa yang sedang Amanda rasakan. Tio hanya mampu menenangkan dan membujuk Amanda untuk mengutarakan perasaannya saat ini agar beban di dalam hati sang istri berkurang.


"Kenapa kamu justru sedih, hmmm.....?" Tanya Tio masih dengan setia mengelus punggung sang istri dengan penuh kasih sayang dan kelembutan.


"Hiks hiks hiks hiks hiks, aku sedih karena....." Jawab Amanda terdiam cukup lama.


"Hei kenapa dengan istri ku yang cantik ini Hem?" Tanya Tio dia mengurai pelukannya dari Amanda dan justru Tio memaksa Amanda menatap dirinya.


"Aku bahagia mereka akan segera memiliki anak tetapi aku sedih kenapa aku sampai sekarang belum hamil juga. Kita menikah di bulan yang sama dan dalam Minggu yang sama cuma berbeda hari dan tanggal saja tetapi kenapa aku belum hamil juga? Kenapa?" Tanya Amanda meluapkan emosi dan semua uneg-uneg yang ada di hatinya saat ini.


"Stttt....!" Tio menaruh jari telunjuknya tepat di bibir sang istri meminta sang istri berhenti menangis.


"Kita mungkin kembar, menikah pun juga dalam waktu yang hampir bersamaan namun berbeda sehari saja. Namun kamu harus ingat semua itu ada masanya, mungkin kita belum di kasih kepercayaan tetapi kita jangan sedih atau putus asa, mungkin memang belum rezeki kita saja," hibur Tio agar sang istri lebih ikhlas menerima semuanya.

__ADS_1


"Hiks hiks hiks hiks hiks, aku takut kamu akan marah karena aku belum hamil-hamil juga. Aku juga takut bunda kecewa karena aku belum bisa memberikan dia cucu," jelas Amanda yang masih sesenggukan di sertai isakan tangis pelan.


"Bunda bukan orang seperti itu, dia tak pernah menuntut apa-apa dari kami anak-anaknya. Bunda hanya ingin kita semua bahagia itu saja, jadi hilangkan perasaan mu ini dan percayalah bunda dan kak Arin masih akan sayang kepada mu," kata Tio meyakinkan hati Amanda.


"Tetapi....." Protes Amanda namun dengan cepat Tio menutup mulut sang istri dengan jari telunjuk dan menempelkannya di bibir tipis sang istri.


"Sssttt jangan pikirkan macam-macam. Kita mungkin harus berusaha lagi, bagaimana kalau kita mulai membuat adonan bayi kita daripada kita diam di sini dari tadi," ajak Tio kepada Amanda.


"Ish dasar kamu mah," Amanda memukul pelan lengan Tio dengan manja.


"Nah gitu dong senyum," kata Tio membawa sang istri kedalam pelukannya sekali lagi.


"Tetapi aku beneran soal yang tadi, mumpung masih jam 10, aku masih punya waktu 2 jam," bisik Tio membuat Amanda merona di buatnya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2