Twins Love Story

Twins Love Story
Bab 73


__ADS_3

Rio dengan cepat mengambil ponsel dari saku celananya. Dia menakan nomor dengan cepat tanpa perlu repot mencari. Rio begitu hafal dengan nomor ini.


Tut....


Tut...


"Ck mana nih orang, dari tadi tidak diangkat-angkat," grutu Rio dengan kesal.


Sedangkan di sebrang sana, pria itu tengah asyik tertidur sambil memeluk istrinya di bawah hangatnya selimut.


Kring...


"Ck siapa sih malam-malam menganggu orang tidur," grutu pria itu yang masih memejamkan matanya. Rasa kantuk membuat pria itu begitu malas membuka mata.


"Cepat angkat, berisik," kata perempuan di sampingnya terdengar ketus, lalu dia pun mengambil bantal satu lagi untuk menutup telinganya karena kesal tidurnya terganggu.


Kring..


Bunyi ponsel itu semakin nyaring membuat pria itu dengan kesal meraih ponselnya.


Kembali ke Rio...


Tut....


"Halo, assalamualaikum..." Terdengar sapaan dari sebrang sana.


"Kamu ingat tidak dengan orang yang bernama Ansel Harvis?" Tanyanya secara terus terang tanpa sibuk berbasa-basi.

__ADS_1


"Hei dasar adik nakal, jawab salam dulu bukannya nyerocos," tegur pria di sebrang sana.


Ya yang sedang di hubungi oleh Rio adalah Tio yang tak lain saudara kembarnya.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."


"Ck selisih beberapa menit aja selalu ingin di panggil kakak," sungut Rio.


" Kenyataannya memang begitu kalau aku lebih tua dari mu meskipun cuma beberapa menit saja, oh ya kenapa malam-malam begini kamu menghubungiku?" Tanya Tio penuh selidik.


"Ingat tidak nama Ansel Harvis?" Kata Rio.


"Kamu tanya tadi siapa namanya? Ansel Harvis ya, emmm namanya sih tak asing, coba ku ingat-ingat dulu. Emmm....." Saat ini Tio sedang berfikir keras.


"He he he he he he, aku lupa," jawab Tio kikuk.


Rio yang bersandar di dinding langsung oleng di buatnya.


"Memang kenapa sih malam-malam tanya nama itu?" Tanya Tio.


"Tadi dia memerintahkan para cecunguk untuk menculik istriku, untungnya aku sempat memergoki saat pria itu sedang menarik tangan Nisa," jelas Rio.


"Ha, sih Ansel Harvis itu yang memaksa Nisa masuk mobil," tanya Tio yang kaget. Tio langsung mengubah posisinya untuk duduk bersandar di ranjang.


"Ck bukan, itu orang suruhan saja," kata Rio memutar bola matanya malas.


"Ya kan aku gak tahu," kesal Tio .

__ADS_1


"Ya sudah biar tuh si Ansel Harvis jadi urusan bang Bimo dan Gre saja. Atau kamu sudah mengatasi semuanya sendiran?" Kata Tio dengan penuh rasa cemas bercampur marah. Berani-beraninya mereka mau menculik anggota keluarga tuan Abraham yang terkenal dengan kekejamannya, tuan Abraham terkenal bukan karena membunuh atau kejahatan melainkan tuan Abraham tak akan segan kepada lawan yang sudah berani mengusik keluarganya.


"Ck belum, cuma sebatas membasmi hama kecil saja( yang tak lain beberapa pria yang sudah menjadi orang suruhan Ansel itu)


"Ya sudah jangan di pikirkan, yang lebih penting adalah kalian berdua selamat," kata Tio dengan perasaan lega.


Besok mungkin beberapa orang kepercayaan dari kakak iparnya itu akan datang untuk mengurus semuanya.


"Terus sekarang kamu di mana? Apa kamu masih di hotel?" Tanya Tio dengan khawatir. Pengamanan di hotel tak seketat di mansion milik sang kakak ipar.


"Oh aku sudah di mansion kok," jawab Rio membuat Tio bernafas lega.


"Syukurlah." Guman Tio.


"Ya sudah kamu istirahat saja, aku mau tidur lagi, ngantuk," kata Tio dengan enteng.


"Di sini masih sore," jawab Rio datar.


"Terserah kamu mau ngapain, yang penting aku mau tidur di sini sudah malam," grutu Tio langsung mematikan sambungan.


Tut..... Sambungan telepon itu di putus sepihak oleh Tio.


Rio pun langsung memasukkan ponselnya itu kembali dan berjalan santai menuju ke dalam mansion. Rio langsung menuju ke dalam kamar tamu untuk membersihkan tubuhnya di sana. Tak lupa Rio juga meminta kepada kepala pelayan untuk mengambilkan beberapa pakaian baru untuknya saat ini, karena tak mungkin Rio membiarkan kepala pelayan itu masuk ke dalam kamarnya.


Rio sengaja mandi dan berganti pakaian agar Nisa tidak takut, khawatir atau yang lebih parahnya bisa saja Nisa berfikir macam-macam mengingat darah menempel di bajunya.


Rio sudah selesai mandi, dia tersenyum lalu berjalan menuju ke dalam kamarnya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2