Twins Love Story

Twins Love Story
Bab 17


__ADS_3

"Ishhh om Rio lama banget sih," grutu Aurel dengan kesal menatap Rio dengan bibir cemberut.


"Aduchhh maaf ya, tadi om Rio cuma mau menyapa teman om saja kok," jawab Rio memberi penjelasan agar bocah kecil itu tidak semakin merajuk dan membuat Rio semakin pusing di buatnya.


"Ya sudah, ayo kita masuk lagi ke hotel, takutnya mama nyariin," ajak Rio mengandeng tangan Aurel dengan cepat agar bocah itu tidak berubah pikiran.


Memang akhir-akhir ini, Aurel lebih dekat dengan Rio, entahlah kebahagiaan atau kesialan untuk Rio.


Mengingat acara resepsi pernikahan yang akan di gelar di hotel ini, Rio, Tio beserta seluruh keluarganya berada di hotel ini. Karena hotel milik Abraham ini yang paling dekat dengan kediaman Amanda.


"Gak mau, Aurel belum dapat es krim," tolak Aurel.


" Ya sudah, ayo kita keliling lagi," kaya Rio menarik tangan gadis kecil itu dengan pasrah.


"He he he he he he, selamat berjuang om. Nih minuman buat om sama coklat biar punya tenaga menghadap permintaan bocil satu itu yang tak ada habisnya," bukan kata Aurel melainkan itu kata Abrian yang sedari tadi sudah lelah mengikuti adiknya.


Setelah berbicara seperti itu, Abrian memilih kabur, "Dadah om....."


Rio pun akhirnya pasrah apalagi melihat Abrian yang sudah lari menjauh dari mereka.


"Dasar kakak nakal, punya coklat tetapi tidak bagi aku," kata Aurel dengan cemberut.


"Nih, jangan cemberut lagi," Rio memberikan coklat pemberian Abrian itu kepada Aurel.


"Ayo."


Dengan sabar Rio pun mengajak gadis kecil itu untuk mencari penjual es krim keliling, entahlah Rio di buat pusing karena ulahnya. Padahal di hotel juga menyediakan berbagai macam es krim namun gadis itu menolak justru meminta es krim yang di jual keliling.


...-----------...


Sedangkan di tempat lain....


Di dalam mobil...


Nisa menatap Denis dengan tatapan rumit.


'Sejujurnya aku masih penasaran dengan pria yang hampir merenggut masa depan ku,' batin Nisa.


Merasa ada yang memperhatikan, Denis pun menoleh ke arah Nisa.


"Kenapa?? Aku tahu aku tampan," kata Denis dengan penuh percaya diri.


"Dih PD banget sih," kata Nisa mengelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha," keduanya pun tergelak bersama.


"Sudah jangan ketawa terus, perut ku dah lapar. Bagaimana kalau kita mampir dulu cari makan?" Ajak Denis.


"Tetapi...."


Belum selesai berbicara, ucapan bisa di potong oleh Denis.


"Tidak boleh menolak, aku tahu pasti kamu juga lapar," kata Denis.


"Tahu aja kamu,"


"Kita ke mana? Ke cafe atau restoran?" Tanya Denis menatap ke arah Nisa sekilas.


"Cari di pinggir jalan saja," pinta Nisa.


"Baik tuan putri," jawab Denis dengan gaya yang terlihat patuh.


"Ish apaan sih," kata Nisa merona karena malu.


"Eh itu ada jualan nasi goreng, rame banget sih pasti enak," celetuk Nisa saat melihat tenda itu di penuhi pembeli.


"Ya sudah, sebentar aku cari tempat parkir dulu," kata Denis.


Akhirnya Denis bisa menemukan tempat untuk parkir.


"Ayo,"


Denis mengandeng tangan Nisa menuju ke arah tenda kali lima itu.


Nisa dan Denis beruntung, saat keduanya masuk ke dalam ternyata ada pelanggan yang sudah selesai jadi dia tidak perlu mengantri untuk tempat duduk.


"Kamu mau pesan apa?" Tanya Denis.


"Mmm aku mau nasi goreng seafood saja," kata Nisa saat memperhatikan menu yang ada di sana.


Karena tempat ini tempat kaki 5, jadi di sini kalau ada yang memesan makanan mereka harus ke arah penjual untuk memesannya, setelah itu nanti akan ada yang mengantarkan minuman dan makanan yang mereka pesan, mengingat pelayan di sini cuma ada 3 orang sedangkan pembeli cukup banyak.


Nisa duduk saling berhadapan dengan Denis.


Seseorang membawakan minuman yang tadi kedua pesan, untuk nasi goreng nya masih di goreng dan mengantri.


(Pengalaman author kalau sama bocil suka kebiasaan kalau beli nasgor, minuman datang duluan baru nasgornya, giliran nasgor nya datang tetapi minumannya dah kosong🤣)

__ADS_1


Nisa yang masih di landa rasa penasaran pun sedikit gatal ingin menggali informasi tentang pria tadi.


"Oh ya apa tadi itu benar-benar teman kamu?" Tanya Nisa memancing pembahasan tentang pria itu.


"Kenapa? Naksir?" Tanya Denis sedikit tak bersahabat.


"He he he he he he, mana ada kenal aja tidak," elak Nisa dengan cepat karena dia tak mungkin berbicara jujur, apa yang dulu dia alami dengan pria tadi.


"Oh kirain, karena kebanyakan perempuan tergila-gila dengan kedua kembar itu bahkan perempuan yang ku suka saja besok Menikah dengan saudaranya," lirih Denis keceplosan karena dia masih sedikit sedih mengingat tenang Amanda.


(Kalau penasaran cerita singkat Denis, ada kok di novel kisah Arin dan Abraham ya).


"Uhuk uhuk uhuk uhuk uhuk uhuk..."


Nisa terbatuk-batuk karena tersedak minuman, bagaimana tidak. Tanpa di duga Nisa justru mendengar curhatan dari pria di depannya.


"Kamu tidak apa-apa?" Tanya Denis menyodorkan minuman nya yang belum dia minum sama sekali.


Nisa mengelengkan kepalanya dengan cepat, dia tak ingin membuat khawatir pria di depannya itu.


"He he he he he he, maaf ya tadi aku keceplosan bicara sampai buat kamu kaget," lirih Denis menyadari kesalahannya membuat Nisa tersedak.


"Tidak kok," jawab Nisa.


"Aku cuma gak nyangka saja, pria tampan dan baik seperti kamu ternyata bisa patah hati," kata Nisa.


Nisa menghela nafas panjang, mencoba mencari obrolan, dia tak ingin melewatkan sedikit kesempatan untuk mengorek informasi tentang pria itu.


'Dulu tak sebaik yang kamu kira,' batin Denis tersenyum pahit mengingat semuanya, namun berkat bantuan Tio dan Rio. Denis pun bisa bangkit lagi sampai sekarang.


"Ya kan kita tidak tahu rasa cinta itu hinggap di mana, lagian Amanda itu begitu mencintai Tio dan itu semuanya murni salah ku karena mencintai wanita yang tak mencintai ku," jelas Denis dengan sendu.


"Oh ya ..... Seperti nya aku pernah melihat pria itu sebelumnya saat aku tak hati-hati menyebrang jalan tetapi potongan rambut dan gaya berpakaian nya beda ya," kata Nisa berpura-pura baru melihat pria itu, Nisa tak menampakkan emosinya saat bertanya meskipun tiap mengingat malam itu membuat dia kesal meskipun dia baik-baik saja akhirnya.


"Oh itu pasti Tio saudara kembarnya," jelas Denis.


"Oh...." Nisa menganggukkan kepalanya sebagai tanda mengerti.


'Bentar lagi benang ini akan terurai,' batinnya.


"Yang tadi tuh Rio," lanjut Denis memperjelas semuanya.


'Terus yang bersama ku malam itu siapa? Meskipun tidak terjadi apa-apa tetapi aku sedikit kesal karena ciuman pertama ku pria itu merebutnya,' grutu Nisa di dalam hatinya.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2