Twins Love Story

Twins Love Story
Bab 31


__ADS_3

"Ya sudah cepat kamu hubungi Rio," pinta Denis dengan berbinar.


Seketika wajah Denis langsung tersenyum begitu cerah, karena sedari tadi dia begitu khawatir terjadi apa-apa dengan Nisa namun sesaat dia merasa lega karena dia bisa tahu bagaimana kabar Nisa saat ini.


Amanda pun dengan cepat mencari nomor Rio di ponsel milik nya, setelah ketemu dengan cepat Amanda menekan nomor itu sesuai dengan keinginan dari Denis.


Sedangkan saat ini Tio hanya bisa berharap kalau Rio tidak mengangkat panggilan dari Amanda. Tio ingin saudara kembarnya menemukan kebahagiaan nya sendiri.


'Semoga saja Rio tak menjawab panggilan dari Amanda,' batin Tio penuh harap.


Tio hanya berharap kebahagiaan buat Rio saat ini, tentunya dengan adanya Nisa dapat menghapus nama Renata dalam hati Rio.


Tio hanya ingin kembarannya itu bahagia.


..._________...


Sedangkan di sebrang sana, tentunya di tempat yang berbeda.....


Rio menghampiri Nisa yang masih tertunduk lesu di lantai.


"Aku tidak ingin ada penolakan, 3 hari lagi persiapkan diri mu," kata Tio dengan tegas.


Membuat Nisa semakin lemas di buatnya.


Kring


Kring


Kring


Rio yang tengah berbicara dengan Nisa di kejutkan dengan bunyi dering dari ponsel Nisa.


Nisa mendengar bunyi ponselnya langsung berbinar, ada harapan untuk selamat itulah yang di pikirkan nya saat ini. Nisa menguatkan dirinya untuk berdiri dan mencari sumber suara itu, tatapan Nisa tertuju ke bawah di samping tempat tidur, terlihat ponsel itu sedang menyala.


Kring


Kring

__ADS_1


Kring


Nisa pun tersenyum lega.


'Akhirnya ada yang akan menolong ku,' guman nya di dalam hati.


Namun saat Nisa hendak meraih ponsel itu, ternyata ponselnya sudah berpindah tangan. Itu adalah ulah dari Rio.


Rio melihat Nisa menghampiri suara itu, saat Nisa hendak meraih ponsel yang tergeletak di bawah, Rio dengan cepat mengambil nya.


Nisa menatap sengit ke arah Rio saat ini.


"Kembalikan ponsel ku," pinta Nisa namun Rio malah menjauh dari nya.


Entah kenapa Rio begitu kesal saat melihat nama panggilan yang tertera di sana adalah nama Denis.


"Ck mau apa nih orang," grutu Rio menatap tak suka.


Sejurus kemudian Rio mengalihkan pandangan mata nya ke arah Nisa dengan cepat.


"Apa kamu menjalin hubungan dengan Denis?" Tanya Rio dengan tatapan tajam, setajam elang seolah-olah akan mencabik-cabik tubuh pemangsa nya.


'Serem banget tuh wajah seperti mau makan orang,' batin Nisa sedikit takut melihat wajah dari pria yang ada di depannya saat ini.


"Cepat katakan?" Kata Rio dengan nada yang sedikit membentak karena tengah di liputi emosi.


Kring


Kring


Kring


Panggilan telepon itu tak Rio perduli kan lagi sampai dering ponsel itu berhenti dengan sendiri nya.


Rio langsung meletakkan ponsel milik Nisa ke dalam saku celananya saat ini karena Rio tak ingin Denis menghubungi Nisa kembali atau Nisa justru menghubungi Denis balik.


Amarah Rio sudah berada di atas kepala saat melihat nama Denis, entahlah melihat kedekatan keduanya tadi membuat emosinya meningkatkan, dia tak rela Denis menyentuh Nisa meskipun hanya genggaman tangan saja.

__ADS_1


Seakan Rio tak rela miliknya di lihat atau di pegang siapa pun. Rio telah mengklaim bahwa Nisa adalah miliknya, ya Nisa hanya milik Rio.


Tio dan Rio memiliki wajah yang sama dan sifat yang sama yaitu sama-sama posesif dan akan tersulit emosi kalau menyangkut wanita yang di sukai nya. Rio juga tak segan-segan untuk melakukan apapun untuk melindungi miliknya meskipun dengan cara yang kasar.


Rio sudah mengklaim Nisa miliknya sejak kejadian malam itu meskipun Rio tak sampai melakukan hal itu (merampas kesucian Nisa) tetapi bagi Rio Nisa sudah menjadi miliknya tak ada yang boleh merebutnya termasuk Denis sekalipun.


"Di-a pacar ku," bohong Nisa.


Meskipun sedikit ragu bercampur takut, tetapi Nisa memberanikan diri untuk mengakui Denis sebagai kekasihnya.


'Maaf Denis, aku membawa nama mu sebagai tameng untuk menghindari pria ini,' batin Nisa dengan lirih.


"Ha ha ha ha ha ha ha ha ha, sungguh nona Nisa adalah kekasih saya saat ini jadi ada tidak punya hubungan dengan siapapun kecuali dengan saya," kata Rio dengan sinis.


Sedangkan Nisa tak menggubris ucapan dari pria di depannya itu.


"Anda siapa saya? kata Nisa dengan sinis dan menatap tak suka kepada pria di hadapannya ini.


Sungguh pria di depannya itu seolah tertampar dengan kata-kata yang Nisa ucapkan.


Dada Rio bergemuruh hebat saat mendengar ucapan dari Nisa saat ini. Entahlah dia binggung. Ya Rio akui kalau saat ini keduanya tidak punya hubungan apapun, jadi bebas kalau Nisa bicara begitu.


Sah-sah saja, itulah yang Nisa pikirkan saat ini.


Rio mendekati Nisa, kedua tangannya pun mendarat di pundak Nisa.


"Mulai hari ini kamu adalah milikku jadi jangan sampai kamu bicara kalau Denis itu pacar mu atau aku akan melakukan hal yang tidak akan pernah kamu kira," kata Rio penuh dengan ancaman.


"Aku juga tak ingin mendengar kalau kamu dekat dengan siapapun saat ini, karena kamu hanya milik Rio seorang," sambung Rio.


Setelah itu Rio pun berjalan menuju pintu.


Brak....


Pintu itu tertutup dengan kencang, Rio pun meninggalkan kamar yang di tempati Nisa dengan cepat.


"Oh ya kalian berdua, jaga pintu ini dan jangan biarkan dia pergi dari kamar ini," perintah Rio kepada 2 orang bodyguard perempuan yang sudah di persiapkan dari tadi.

__ADS_1


"Baik Tuan Rio," jawab keduanya serempak.


Bersambung.....


__ADS_2