
"Sayang menurut kamu nanti siapa yang akan hamil duluan? Nisa istrinya Rio atau Amanda istrinya Tio?" Kata Arin dengan riang tanpa rasa malu bertanya seperti itu kepada Abraham yang tak lain adalah suaminya.
"Uhuk uhuk uhuk uhuk...."
Abraham di buat tersedak karena pertanyaan aneh dari sang istri.
Arin dengan cepat menyodorkan air minum untuk sang suami.
"Pelan-pelan dong makannya," kata Arin sambil menepuk punggung Abraham.
Sedangkan Abraham melotot ke arah sang istri. " Siapa yang buat ku tersedak dengan pertanyaan aneh tadi," grutu Abraham tentunya hanya berani di dalam hati saja, kalau di ucapkan bisa perang bantal atau lebih tepatnya di suruh tidur di luar kamar.
Saat Arin sedang mengelus punggung Abraham, terdengar suara begitu nyaring membuat Arin menoleh. Benar saja si cerewet Aurel bertanya sambil menatap ke arahnya dengan tatapan penasaran.
"Ha-hamil? Itu apa ma?" Tiba-tiba Aurel bertanya dengan wajah polosnya.
"Itu tuh yang perutnya besar," jelas Abrian membuat bunda mengelengkan kepalanya sambil terkekeh di buatnya.
Arin menepuk keningnya, dia lupa kalau saat ini mereka sedang makan malam dan di meja makan itu ada Aurel, Abrian, bunda dan tentunya Abraham juga.
"Huuu.....! Kenapa aku bisa lupa dua bocah ini, untung Andra masih belum lancar berbicara jadi dia tidak bertanya macam-macam seperti Aurel," grutu Arin di dalam hatinya saat ini.
"Oma kok ketawa sih, ada yang lucu ya," kata Aurel saat melihat bunda menutup mulutnya agar tawanya itu tak lepas kendali.
"Tidak ada, Oma hanya ingin ketawa saja," jawab bunda singkat agar cucunya yang cerewet itu tidak bertanya lagi, bisa binggung nanti bunda menjawab pertanyaan yang mungkin tidak ada habisnya karena Aurel tipe yang selalu ingin tahu.
Kini pandangan Aurel berpindah ke arah sang Papa.
"Biar mama saja yang menjelaskan hamil itu apa," kata Abraham karena melihat Aurel yang tengah menatapnya dengan segudang pertanyaan.
"Ayo sayang jelaskan putri kita," kata Abraham menatap Arin dengan senyum miringnya.
"Hamil itu, em... Oh ya setelah menikah, Aurel tahu kan menikah itu apa? Seperti om Rio dan om Tio kemarin itu loh," kata Arin bertanya kepada Aurel sebelum menjelaskan lebih lanjut.
"Iya Aurel tahu," jawab Aurel mengangguk sedangkan Abrian memilih sibuk dengan makanannya sambil mendengarkan percakapan mereka.
"Jadi setelah menikah pasti tak lama si perempuan nya itu Tante Amanda dan Tante Nisa pasti hamil, ada yang beberapa bulan langsung hamil dan ada yang menunggu lama sampai setahun atau 2 tahun," jelas Arin sedikit kikuk karena pusing harus memilih kata untuk di ucapkan kepada sang anak.
"Oh itu hamil," kata Aurel manggut-manggut.
Arin menghela nafas lega mendengar sang anak sepertinya mengerti.
__ADS_1
"Terus Tante Amanda bisa hamil bagaimana caranya ma? Kok tadi kak Abrian bilang perutnya besar itu hamil, bisa saja kan perutnya besar kebanyakan makan," tanya Aurel panjang lebar menjelaskan semua yang ada di dalam pikirannya saat ini.
Gubraaaaakkk....
Ingin rasanya Arin pingsan di tempat agar terhindar dari pertanyaan Aurel yang pasti tak akan ada habisnya.
Kini Arin beralih menatap ke arah Abraham namun Abraham memilih cuek dan menundukkan kepalanya, menikmati makanan yang tersedia di meja makan mengabaikan tatapan memohon dari sang istri untuk di selamatkan. Biarlah Arin menanganinya sendiri agar istrinya itu tidak keceplosan berbicara lagi apalagi di depan si bawel.
Merasa di abaikan oleh sang suami, Arin kesal lalu menatap Abraham dengan penuh ancaman.
" Awas aja karena berani mengabaikan ku, malam ini tidak ada jatah buat kamu," ancam Arin melalui isyarat mata kepada sang suami.
Glekkk .....
"Duh ratunya singa marah, bisa-bisa jatah malam ini zonk," guman Abraham di dalam hati nya saat melihat wajah sang istri yang terlihat murka ke arahnya.
Kini Arin berpindah menatap ke arah sang bunda, Arin mengedipkan matanya ke pada sang bunda meminta pertolongan, karena tak mungkin Arin menjelaskan prosesnya ke pada Aurel sampai bisa hamil. Bukannya selesai namun Aurel akan lebih bertanya lagi tanpa henti.
"Aurel masih kecil jadi belum mengerti ya, orang hamil itu harus sudah menikah dan nanti bertambahnya bulan maka perut orang hamil akan semakin besar. Aurel tahu kan kalau orang hamil itu sampai 9 bulan. Apa Aurel lupa bagaimana dulu ada adik Andra ada di perut mama," jelas bunda panjang lebar.
"Oh iya, Aurel baru ingat," jawab Aurel menepuk keningnya karena dia melupakan semua itu.
"Terus nanti yang hamil duluan Tante Amanda atau Tante Nisa?" Bukannya Aurel yang bertanya saat ini melainkan Abrian.
Arin yang mendengarnya saat ini memijit keningnya yang tiba-tiba pusing, baru saja selesai satu kini muncul pertanyaan lagi dari Abrian yang iri berbicara itu. Sungguh Arin benar-benar merutuki kecerobohannya berbicara lupa tempat.
"Menurut Abrian siapa nanti yang duluan?" Tanya Abraham.
"Emmm.... Siapa ya," kata Abrian berfikir, jari telunjuk berada di dagu seolah berfikir keras.
Kini tatapan Abraham beralih ke Aurel.
"Kalau Aurel bagaimana? Siapa yang duluan?" Tanya Abraham.
"Coba kalian berdua tebak," kata Abraham. Ya Abraham ingin tahu jawaban dari tebakan tadi.
"Terus kalau kita jawab benar, papa mau kasih hadiah apa," tantang Abrian.
"Kalian mau apa nanti Papa belikan," jawab Abraham.
Sedangkan Arin hanya menghela nafas panjang, semua pertanyaan ini berawal dari bibirnya yang tak bisa di rem.
__ADS_1
"Benar pa?" Tanya Abrian memastikan.
"Yang menang nanti hadiah bisa pilih sendiri," jelas Abraham.
"Horeeeee....." Kini justru Aurel yang berteriak heboh seakan dia lah pemenangnya nanti.
"Haissss, jawab dulu baru teriak. Memang saja belum tetapi sudah teriak heboh," grutu Abrian membuat bunda dan yang lainnya terkekeh gemas melihat wajah lucu itu.
"He he he he he he....."
"Aurel milih om Tio," jawab Aurel bertepuk tangan.
Prok prok prok prok prok prok....!
"Pasti om Tio menang." Jawab Aurel.
"Ck dasar bawel, mana bisa om Tio hamil," kesal Abrian menyela ucapan dari Aurel.
"Ck belum tentu, pasti Tante Nisa istrinya om Rio yang hamil duluan," Sambung Abrian yang juga tak mau kalau dari sang adik.
"Tante Amanda."
"Tante Nisa."
"Tante Amanda."
"Ish pasti Tante Nisa."
"Ok ok....! Kalian diam dulu jangan berisik," pinta Abraham membuat Aurel dan Abrian mengangguk setuju.
"Siapapun nanti yang menang jangan ada yang sedih atau marah dan tak terima karena ini hanya tebakan jadi ingat ya tidak boleh marah, iri atau apapun itu. Mengerti?" Jelas Abraham kepada kedua anaknya itu.
"Siap pa,"
"Ok pa,"
"Nah kalau kalian sudah selesai makan jangan lupa belajar terus bereskan buku kalian dan kerjakan pr kalian dulu kalau ada, karena mama tidak mau dengar kalian pagi-pagi ribut," kata Arin memperingatkan kedua anaknya saat ini.
"Iya ma," jawab keduanya kompak.
Bersambung.....
__ADS_1