Twins Love Story

Twins Love Story
Bab 79


__ADS_3

Hampir 2 bulan Rio maupun Nisa berada di negara ini. Rio di sini juga tidak menyia-nyiakan waktu selama berada di sini, Rio pun melebarkan sayapnya dengan membuka sebuah restoran di negara ini. Baik Abraham maupun Arin mengerti dan tidak mendesak keduanya untuk pulang justru Arin begitu senang mendengar dari Gre kalau Rio dan Nisa semakin dekat dan terlihat mesra. Abraham juga mendukung Rio untuk membuka restoran dengan menyediakan tempat untuk membuka restoran.


Nisa maupun Rio terlihat begitu bahagia selama berada di sini, Nisa juga terlihat betah di negara ini apalagi Rio juga melibatkan dirinya untuk mendekorasi restoran baru yang akan Rio buka di sini.


Pagi hari.....


Matahari sudah mulai menampakkan sinarnya namun kedua anak manusia ini masih terlelap di bawah selimut. Keduanya seakan engan untuk bangun.


"Emmm...." Nisa terbangun dari tempat tidur merasakan tak enak di tubuhnya, dia menatap ke samping melihat sang suami masih terlelap tidur. Dengan hati-hati Nisa pun turun dari tempat tidur dan melangkahkan kakinya menuju ke arah kamar mandi.


"Hoammm...."


Nisa menguap berkali-kali, rasa kantuk masih bergelayut di mata indahnya. Namun rasa itu semakin kuat menyerang membuat Nisa mempercepat langkah kakinya.


Sesampainya di kamar mandi Nisa buru-buru mengeluarkan sesuatu yang sudah di tahan sedari tadi.


Hoeeekkk....


Hoeeekkk...


Nisa pun langsung memuntahkan cairan dari mulutnya berkali-kali.


Mendengar suara yang nyaring dari dalam kamar mandi membuat tidur Rio pun terusik. Rio langsung membuka matanya dengan malas, Rio menatap ke samping memastikan keadaan sang istri namun tak menemukan sang istri di sampingnya, ranjang itu sudah kosong.


Hoeeekkk....


Tak lama kemudian, Rio mendengar suara dari dalam kamar mandi. Dengan cepat Rio menyingkap selimut dan turun dari tempat tidur, kakinya dengan cepat berjalan menuju ke arah kamar mandi.


Saat sudah sampai di sana, Rio kaget melihat sang istri dengan wajah pucat di dalam kamar mandi.


"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Rio penuh rasa khawatir.


"Entahlah aku merasa mual dan sedikit pusing," lirih Nisa menjawab dengan suara pelan.


"Ayo kita ke dokter saja memastikan kondisi kamu," pinta Rio dengan wajah yang masih cemas.


"Ah tidak perlu, mungkin aku masuk angin karena tadi malam kita pulang larut," jawab Nisa menolak ajakan dari sang suami.

__ADS_1


"Tetapi wajah kamu terlihat pucat," kata Rio kukuh ingin membawa Nisa ke dokter, apalagi saat menatap wajah sang istri yang terlihat pucat.


"Tolong bantu aku ke tempat tidur," pinta Nisa karena tubuhnya terasa lemas tak memiliki tenaga.


Dengan langkah pelan, Rio mengandeng lengan sang istri dengan lembut membawanya berjalan dengan hati-hati ke atas ranjang.


Setelah Nisa sudah sampai di atas tempat tidur, Rio membaringkan sang istri, menata bantal Nisa bertumpuk untuk memudahkan Nisa duduk dengan nyaman.


"Bagaimana kalau aku meminta madam Ane untuk membuatkan minuman hangat biar rasa mual sedikit berkurang," tanya Rio kepada Nisa.


Nisa tak sanggup untuk berbicara, dengan mata sayu Nisa menatap ke arah Rio dan menganggukkan kepalanya sebagai tanda dia setuju.


Rio beranjak dan memanggil madam Ane. Setelah itu Rio naik ke atas tempat tidur, dia duduk di samping Nisa dan entah kenapa tangannya bergerak dengan lembut memijit lengan dan kaki sang istri.


Awalnya Nisa menolak tetapi dia pasrah saat Rio masih kukuh memijitnya.


10 menit kemudian terdengar ketukan pintu cukup keras.


Tok tok tok tok tok tok tok....


Rio turun dari tempat tidur dan membuka pintunya. Benar saja madam Ane datang mengantarkan minuman hangat untuk Nisa.


Tring....


Terdengar bunyi dari ponsel milik Rio, dengan cepat Rio meraih ponselnya. Rio mengerutkan keningnya saat melihat tulisan yang tertera di layar ponsel.


"Nomor siapa ini?" Guman Rio menatap nomor itu dengan pikiran rumit.


Tringg..


Awalnya Rio ingin mengabaikan pesan itu namun bunyi ponsel berkali-kali membuat dirinya mengerutkan keningnya karena terganggu dengan bunyi tadi.


"Sebenarnya apa yang dia kirimkan," guman Rio saat melihat pesan dari nomor tak di kenal itu bukannya satu melainkan 3 pesan.


Karena rasa penasaran begitu kuat saat melihat sebuah nomor asing mengirimkan sebuah pesan kepadanya, Rio pun membuka pesan itu.


Deg....

__ADS_1


Bibir Rio terasa keluh, jantungnya berdetak kencang kala melihat isi pesan tadi, tangannya bergetar hebat membuat ponselnya terjatuh ke atas tempat tidur.


"Ini tidak mungkin," guman Rio mengelengkan kepalanya merasa tak percaya dengan apa yang di lihatnya tadi.


"Ini pasti orang iseng," Rio berusaha menyangkal semua ini.


Rio pun mengganti pengaturan panggilan menjadi mode getar karena takut Nisa terganggu dengan bunyi bising dari ponselnya.


Drrrrrttttttt.....


Ponsel itu bergetar, tertera nomor pemanggil yang tagi mengirimkan pesan kepadanya.


Rio bergegas turun dari ranjang, berjalan keluar pintu kamar.


Ceklek...


Sebelum Rio menutup pintu, Rio memastikan kalau Nisa sudah tertidur lelap.


Rio pun mengangkat panggilan itu sambil berjalan ke arah taman di samping mansion. Rio merasa ini bukan pembicaraan biasa jadi dia memilih tempat yang nyaman memastikan tidak ada yang menguping atau mendengar pembicaraan dirinya dengan si penelpon.


"Halo," jawab Rio dengan nada tegas.


"Rio ini aku Ardimas, tentunya kamu pasti tahu siapa aku?" Jawab pria itu dengan penuh percaya diri.


"Tentu aku tahu kamu adalah K E K A S I H dari R E N A T A," jawab Rio dengan sinis menekankan kata kekasih Renata.


"Ha ha ha ha ha ha ha, ternyata kamu benar-benar B O D O H karena percaya saja dengan sandiwara yang Renata mainkan. Kamu harus tahu kalau Renata tidak benar-benar mengkhianati mu. Dia sengaja melakukan semua itu untuk menipu mu.... Menipu kamu.... Ha ha ha ha ha," Jelas Ardimas di sertai ejekan kepada Rio karena percaya saja dengan sandiwara keduanya.


"Heiiii apa maksud kamu," bentak Rio dengan nada tinggi karena emosi mendengar ucapan dari Ardimas yang berada di sebrang sana.


Rio mengepalkan tangannya begitu kuat, dia tahu antara percaya dan tidak dengan apa yang dikatakan oleh pria tadi.


"Dia melakukan semua itu demi kamu, demi melihat kamu bahagia," teriak Ardimas dengan nada sedih.


Di sebrang sana Ardimas mengusap wajahnya kasar karena sudut mata nya tak sengaja berair, dia menatap sendu ke arah ruangan di balik kaca itu. Di ruangan itu terbaring gadis cantik yang begitu dia cintai namun dia tak bisa memilikinya karena terhalang dengan kata PERSAHABATAN.


"Apa maksud kamu? Kamu jangan main-main dengan ku. Cepat katakan jangan berputar-putar tak jelas," Bentak Rio dengan emosi.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2