
Keesokan harinya....
Tepatnya hari H pernikahan Tio dan Amanda.
Pagi ini di hotel semua di sibukkan dengan persiapan, ya tentu saja persiapan pernikahan Tio dan Amanda.
Foto prewedding Amanda dan Tio pun terpampang cantik dan tampan menghiasi aula gedung.
Hari ini Abraham sengaja menutup hotel ini untuk tidak menerima tamu kecuali tamu undangan yang khusus menghadiri acara pernikahan adik iparnya. Tamu dari jauh misalnya dari luar kota maupun luar negeri yang tak lain adalah kerabat, rekan bisnis sampai teman dari Tio, Rio, Abraham dan Arin sengaja di persiapkan fasilitas untuk menginap di sini di hotel ini.
Arin sedari tadi mondar-mandir tak jelas menunggu sang adik bersiap.
"Ayo cepat, kamu harus ada di sana duluan," grutu Arin kesal karena adiknya itu bahkan belum selesai.
"Duh kak Arin santai saja, jangan mondar-mandir seperti setrikaan rusak begitu," grutu Tio melihat kakaknya yang panik tak jelas.
Tio masih anteng saat tatanan rambutnya masih di rapikan.
Arin mendelik sebal menatap sangar ke arah sang adik, bisa-bisanya dia di katain sang adik seperti setrika rusak.
"Hei dasar adik tak tahu diri, aku begini karena cemas tahu, sudah tahu jam 8 sebentar lagi tetapi kamu masih bisa santai," kesal Arin sambil berkacak pinggang di depan sang adik sambil menyemprot adiknya itu dengan kata-kata pedas untuk mengurangi rasa kesal nya.
Tio memutar bola matanya jengah.
Abrian yang sedari tadi duduk tak jauh dari sana cuma melirik sekilas setelah itu dia kembali fokus ke ponselnya, Abrian tengah belajar memantau perusahaan sang Papa. Abraham membekali anak nya dengan berbagai kemapuan yang begitu matang, menyiapkan Abrian sebagai pewaris kerajaan bisnisnya nanti.
Sedangkan bunda tengah menyapa beberapa kerabat maupun tamu yang di kenal nya, Abraham dan Rio juga melakukan hal yang sama. Dan untuk Aurel sendiri, jangan tanyakan lagi, gadis itu tengah sibuk mencoba beberapa kue, es krim dan makanan manis kesukaannya di temani Bimo, Doni dan 2 pengasuh.
Untuk Andra, Arin tak membiarkan keluar dan tetap di dalam hotel di bawah pengawasan sang pengasuh di depan pintu pun para bodyguard berjajar rapi siap siaga.
Tio sengaja meminta anak buahnya semua untuk mengamankan jalannya acara, termasuk mengawal sang pujaan hati nya. Entahlah Tio mempunyai firasat yang sedikit tak nyaman.
"Maka nya jangan bergadang terus kalau malam, sudah tahu hari ini acara penting kamu seumur hidup sekali masih saja bandel," tak henti-hentinya sang kakak mengomel.
"Kak Arin mending kebawah gih lihatin Miss drama nya kak Arin, si tukang mewek, noh di pasti lagi nangis buat masalah di sana," bujuk Tio menatap sang kakak dengan kesal.
"Ck mana ada, jangan coba-coba untuk bohongi kakak. Aurel tidak mungkin nangis, tuh anak lagi di jagain 2 harimau kakak mu. Selagi 2 orang itu ada di sana tak akan ada yang bisa menyakiti Aurel meskipun setuju kuku," kata Arin yang sudah tahu kalau Aurel tengah di jaga oleh Doni dan Bimo.
__ADS_1
"Ck tahu saja kalau aku bohong," Tio berdecak kesal.
"Ma aku ke bawah ya mau ke papa saja, kalian berdua berisik pusing aku dengar nya," kata Abrian lalu berjalan menuju ke pintu tanpa menunggu jawaban dari Arin.
Arin di buat melongo tak percaya dengan ucapan dari anaknya tadi.
"Pfftttt ha ha ha ha ha ha ha, syukurin di tinggal Abrian," Tio tak bisa menahan tawa nya saat ini apalagi melihat wajah datar Abrian dan wajahnya kakaknya yang kaget.
"Tuh anak nurunin siapa sih?" grutu Arin.
"Untung tuh anak nuruni sifat kak Abraham kalau tidak pasti bakal seperti Aurel si tukang nangis," kata Tio mengompori.
"Sudah puas, cepat tutup mulutmu dan jangan bawel," kesal Arin.
Pria itu sedikit tersenyum melihat aksi keduanya saat ini.
"Sudah..." Kata perias itu dengan suara kemayu nya.
"Oh ok, thanks ya mbak," kata Tio kepada salah satu pria jadi-jadian yang dia sewa.
"Ayo."
Arin dengan cepat mengandeng tangan sang adik.
"Ck bentar dong kak, aku mau rapiin nih baju ku dulu," protes Tio.
"Hadehhhh..."
Arin pun dengan cepat membantu merapikan baju sang adik, di rasa cukup Arin pun kembali mengandeng tangan Tio.
Keduanya berjalan bergandengan tangan.
"Aku kangen ayah kak," lirih Tio.
"Iya kakak juga," jawab Arin sendu.
Tio dan Arin pun teringat saat masa-masa sulit keduanya saat itu.
__ADS_1
"Kakak inget gak tiap pagi kita bangun pagi bantuin bunda ke pasar belanja, kalau pulang sekolah kita berdua harus berkeliling menjajakan kue buatan bunda," kata Tio mengingat kenangan itu.
"Terus saat di kompleks Bu Neneng kita lari kocar-kacir dikejar anjing pak Raden," lanjut Tio.
"Ha ha ha ha ha ha iya, kamu sampai naik ke pohon mangga milik pak Mardi," kata Arin sedikit tertawa mengingat semuanya.
"Dulu ayah selalu bilang ke kakak kalau mau berangkat berjualan kue dengan kalian, kata nya kakak harus jaga kalian berdua jangan sampai terjadi apa-apa dengan kalian," kata Arin.
"Hiks hiks hiks hiks hiks, ayah juga selalu kasih kakak coklat kalau kakak pulang-pergi nangis karena di bully teman kakak,"
"Kakak kangen ayah," lirih Arin.
"Iya meskipun dulu kita tidak sekaya sekarang tetapi kita bisa buat ayah tersenyum," kata Tio sedikit bercanda untuk mengurai rasa sedih sang kakak.
Tio pun memeluk kakaknya.
"Kak setelah ini aku mungkin akan jarang bertemu dengan kakak," kata Tio sedikit sedih mengingat dia yang paling dekat dengan sang kakak ketimbang Rio.
"Tenang ada kakak ipar mu yang siap menjaga kakak," jelas Arin memenangkan hati sang adik.
"Amanda wanita yang baik, kamu jangan sakiti dia," kata Arin memberikan wejangan kepada sang adik.
"Tentu kak, mendapatkan nya saja susah masa mau di sakitin lagi nanti yang ada dia kabur dari aku," kata Tio membuat Arin kesal.
Plak...
"Auh sakit kak," pekik Rio mengusap lengannya yang jadi sasaran sang kakak.
"Kamu masih saja bisa bercanda," kata Arin.
"He he he he he biar kak Arin berhenti mewek, lihat tuh riasan kak Arin luntur," kata Tio berbohong agar sang kakak tidak larut dalam kesedihan.
"Ck mana ada, riasan kakak tuh anti luntur," jawab Arin dengan bangga.
"Paling juga itu tukang rias yang pilihin kak Abraham, kak Arin mana tahu begituan, di rumah saja malas berdandan," grutu Tio.
Bersambung.....
__ADS_1