
"Ini yang katanya Menikmati kebebasan?" Suara bunda terdengar sangat mencekam.
"ke-kenapa bunda bisa masuk?" Bukannya menjawab Hana memilih mengajukan pertanyaan pada bunda nya itu.
"Tidak penting bagaimana cara bunda bisa masuk, apakah begini kelakuan kalian berdua selama disini?" pertanyaan bunda kembali membuat Hana semakin ketakutan. "Bagaimana jadinya jika bunda tidak ada?" Lanjut bunda dengan emosi yang sudah memuncak.
"Tidak akan terjadi apa-apa, kami hanya berciuman tidak lebih" Jawab Hana tegas.
"Hana!" bunda sangat geram dengan tingkah putrinya itu, Hana begitu keras kepala dan tidak ada yang bisa membuat gadis itu mengalah.
"Kamu pikir bunda percaya! kamu bilang tidak mau menikah! tapi kelakuan kalian berdua sudah seperti pasangan suami istri! kalian berdua harus secepatnya menikah!" bentak bunda tanpa ampun. Seperti putrinya bunda Hana juga keras kepala, jika bunda sudah memutuskan, maka Hana harus menjalani.
"Aku tidak mau menikah bun!" Hana masih tetap dengan pendiriannya.
"Bunda kami akan menikah tapi tidak secepat ini" Satya yang sejak tadi diam akhirnya ikut berbicara.
"Kau diam! kau tidak ada hak ikut bicara sekarang! kau harus menikahi putriku secepatnya! bagaimana jika putriku hamil" Bunda menatap sinis Satya yang ikut berbicara.
"Aku tidak hamil bunda! kami tidak pernah melakukan lebih selain berciuman!" pekik Hana, wanita itu tidak Terima dituduh macam-macam oleh bunda nya.
"Siapa yang akan percaya?! Siapa?! setelah melihat kalian berdua tadi semua orang pasti setuju dengan apa yang bunda katakan!" Bunda Hana juga tidak mau mengalah kali ini.
"Tapi bunda__"
"Tidak ada tapi-tapian kalian berdua akan menikah sebulan lagi, itu keputusan yang terbaik!" Bunda memotong perkataan Hana yang hendak mencari alasan untuk tidak menikah.
"Sebulan? Bunda itu terlalu cepat!" Teriak Hana tidak Terima.
"3 minggu lagi!" Bunda menghitung mundur waktu pernikahan.
"Bunda!"
"2 minggu lagi" waktu perhitungan pernikahan semakin singkat selama Hana terus berusaha menolak pernikahan nya.
"2 minggu bunda itu tidak adil!" Pekik Hana tidak Terima.
"1 minggu" Bunda masih santai menghitung mundur waktu pernikahan selama Hana masih membantah nya.
__ADS_1
"Baiklah 1 bulan lagi! aku akan menikah satu bulan lagi! jangan di percepat lebih dari ini" Hana akhirnya mengalah dan mengikuti kemauan bunda nya, jika bunda Hana sudah bertindak maka tidak akan ada yang bisa mengganggunya.
Satya sejak tadi diam bukan karena dia takut pada bunda yang membentak dirinya tadi, tapi Satya senang dengan keputusan bunda yang memutuskan untuk menikahkannya dengan Hana, makanya pria itu diam dan pura-pura tidak bisa membantah apapun.
"Kamu Satya! jangan menolak perintah ku!" ancam bunda pada Satya.
"Tidak akan bunda malah aku senang dengan keputusan bunda" ucap Satya dalam Hati, pria itu tidak akan mungkin mengatakan isi hatinya, karena Hana akan kesal dengan itu.
Satya yang diancam dengan cepat mengubah ekspresi nya seolah olah sedang teraniaya, "ba-bagaimana bisa Satya menolak bun, Satya akan membicarakan ini pada orang tua Satya juga"
Bunda mengambil nafas panjang, "Bagus, kamu tidak boleh menolak putriku! kamu harus bertanggung jawab atas perbuatan mu".
"Bertanggung jawab atas apa? kami saja belum melakukan hal lebih!" gerutu Hana, dia masih tidak Terima dengan keputusan bunda yang tidak bisa dibantah.
"Bunda tidak percaya Hana!" Bunda tidak juga mau percaya dengan perkataan Hana. "Satya kamu antar bunda dan Hana pulang sekarang! bunda tidak akan mengizinkan Hana menginap disini sekarang!"
"Ba-baik bun!" dengan cepat Satya mengeluarkan kunci mobilnya dadi saku celana.
...☘️☘️☘️☘️☘️...
Selama diperjalanan Hana masih diam dan cemberut, pikirannya terus melayang tentang kejadian tadi di apartemen, dialah penyebab utama kenapa Satya mulai menciumnya dengan ganas, kalau bukan dirinya yang bertindak, Satya akan bersikap normal.
Selama ini Satya memang selalu terlihat menahan dirinya jika Hana sudah menyuruh untuk berhenti, mau berapa besar gairah yang ada dari Satya, pria itu akan tetap menahan dirinya dan menghormati keputusan Hana.
"Bagaimana bunda bisa masuk ke dalam apartemen Satya?" Tanya Hana spontan karena dia masih penasaran.
"Ibu Satya memberitahu password apartemen Satya" Jawab bunda singkat.
"Dan kenapa bunda mau ke apartemen Satya!" Tanya Hana lagi dia masih belum mengerti kenapa bunda mau datang ke apartemen Satya.
"Untuk memergoki kalian!"
"apa?!" ucap Hana dan Satya spontan.
"Bukan, bunda bercanda" ujar bunda dengan sedikit kekehan.
"Sempat-sempatnya bunda bercanda disaat serius begini" ujar Hana dalam Hati.
"Jadi karena apa bun?" Tanya Hana lagi tidak sabaran.
"Bunda tadi ditelepon ibunya Satya, dia bilang Satya yang tidak mau menikah karena berpikir pernikahan terlalu cepat bagi usia kalian, jadi bunda mau bicara hal serius pada Satya, tapi yang ada bunda memergoki kalian berdua sedang berciuman panas tanpa sadar jika bunda ada disana"
Wajah Hana dan Satya langsung berubah semerah tomat ketika bunda mulai menyindir mereka tentang kelakuan yang baru saja mereka lakukan.
__ADS_1
"Hanya ciuman bun, gak lebih" Hana sekali lagi mengatakan apa yang terjadi jika bunda tidak ada di sana.
"Dan sampai kapanpun keputusan bunda tidak akan tergantikan"
"Bunda waktu satu bulan tidak cukup untuk mempersiapkan pernikahan!" muncul ide baru dalam pikiran Hana, setelah dia sudah cukup tenang untuk berpikir.
"Pernikahan sederhana saja, dan lagi kamu punya kakak ipar yang memiliki gedung hotel, kita bisa meminjam khusus untuk satu hari pernikahan kalian! jangan membantah, biar bunda dan mommy hani yang mempersiapkan".
"Apa kenapa mommy Hani ikut juga?"
"Mommy hani punya kenalan desainer yang banyak, dan dia bilang dia akan memberikan gaun pengantin untukmu saat kamu menikah nanti, jadi masalah gaun pengantin dan gedung pernikahan telah selesai jadi apa lagi masalah lainnya?" Tantang bunda pada Hana, yang masih terus berusaha mencari cara untuk menghindari pernikahan.
"Uang bunda, uang untuk mempersiapkan pernikahan, bukan lah murah untuk menyewa gedung hotel milik kak Arka! jangan memanfaatkan orang lain disaat begini bun! Hana gak mau memanfaatkan mommy hani dan juga kak Arka".
Bunda diam sebentar, tangannya terangkat untuk merogoh ponsel didalam tas.
"Bunda mau apa?" Hana menatap bundanya bingung, jam segini siapa yang mau ditelepon bundanya.
📱"Halo nak Arka, apa bunda mengganggu waktu kalian?"
Spontan Hana membalik kepalanya menatap horor bundanya itu.
📱"Tidak bun, ada apa telepon malam-malam begini?"
📱"Bunda mau tanya berapa harga sewa gedung aula dihotel kamu untuk sebuah acara"
📱"Acara apa bunda?" bukan suara Arka yang terdengar melainkan suara Hani, sepertinya Arka me loudspeaker panggilan bunda.
📱"Acara pernikahan"
📱"Siapa yang menikah bun?" Tanya Hani lagi.
📱"Hana dan Satya, mereka akan menikah 1 bulan lagi, dan bunda ingin memesan aula di tempat kamu dan Arka menikah waktu itu" Bunda mengalihkan suara di ponselnya menjadi loudspeaker.
📱"Tidak usah bayar bun, akan Arka persiapkan, anggap saja ini hadiah pernikahan dari Arka dan juga Hani" Suara Arka terdengar sangat jelas dari ponsel bunda.
Hana Hanya bisa pasrah melihat senyum menyebalkan bundanya.
📱"Benarkah? apakah bunda menyusahkan kalian dengan permintaan itu?"
📱"Tidak bunda, bunda adalah bunda Hani, jadi ini saatnya Arka berbakti pada orang tua Hani"
📱"Baiklah, bunda tutup ya, lanjutkan kegiatan kalian membuat cucu yang banyak untuk bunda" goda bunda sambil menutup telepon.
__ADS_1
...☘️☘️☘️☘️☘️...