Twins Love Story

Twins Love Story
Bab 72


__ADS_3

🙅ADA ADEGAN KEKERASAN YA GAES. GAK SUKA SKIP SAJA.


Rio menyeringai lebar, dia menatap pria yang ada di depannya dengan senyum mengerikan seolah hendak menerkam mangsanya.


"A-a-pa yang akan kamu laku-kan," teriak pria yang sedang terikat di kursi itu dengan lantang, posisinya saat ini berada di depan Rio. Entahlah tiba-tiba pria itu merasa merinding bercampur takut melihat tatapan Rio yang terlihat begitu mengerikan.


"Ck dasar plin-plan, kamu kan yang mau kita main-main dulu, jadi siapkan diri kalian." Kata Rio dengan sinis menunjuk mereka secara satu persatu.


Tap tap tap tap tap tap tap tap......


Rio berdiri di depan pria yang tadi pagi telah menarik paksa tangan sang istri untuk masuk ke dalam mobil.


"Mulai dari kamu." Tunjuk Rio di depan wajah pria itu.


Greeppp.....


Dengan cepat tangan Rio mencengkram erat rahang pria itu, cengkraman itu begitu kuat penuh dengan kebencian.


"Sttttt...." Pria itu mendesis kesakitan, tatapan matanya berubah dari yang tadinya garang berubah menciut.


Sakit, itulah yang pria rasakan karena kuatnya cengkram tangan Rio.


"Aku bukanlah orang yang berhati baik, salahkan kebodohan mu yang telah berani mengusik istriku, itu sama saja dengan kata lain kamu juga mengusik hidup ku," kata Rio penuh amarah.


"Lepaskan aku," teriak nya.


"Ah wajahmu ini terlalu biasa saja, bagaimana kalau aku buat jadi lebih keren lagi," kata Rio menyeringai lebar.


"Ja-jan-gan."


"Terlambat......! Aku ingin mengukir wajahmu biar terlihat semakin tampan dan menarik," kata Tio mengelus pipi pria itu dengan penuh kelembutan namun bukan dengan jari tangan melainkan menggunakan pisau kecil itu. Pria itu hanya bisa meronta karena tangannya terikat di belakang. Dia berusaha menjauh dengan mengerakkan kursinya agar bergeser.


Kelakuan pria itu justru mengundang tawa dari Gre maupun Rio.


"Ha ha ha ha ha ha, kenapa? Takut?" Ledek Gre memasang wajah mengejek.


"To-long le-lepas-kan a-a-ku."


Pintanya dengan raut wajah memelas, dia tahu kalau pria di depannya saat ini bukanlah pria biasa. Terlihat dari sorot matanya yang begitu menyeramkan.


"Ha ha ha ha ha ha ha, aku semakin tak sabar ingin melukis di sini, ah pasti menyenangkan" kata Rio mengelus pelan wajah pria itu dengan pisau kecil tadi tak lupa tawa yang mengerikan. Rio saat ini bagaikan psikopat yang haus darah.


"Ja-jan-gan lakukan i-tu."


Dengan tergagap pria itu memohon kepada Rio untuk di lepaskan, pria itu baru tahu sisi lain Rio. Pria di depannya itu seakan berubah menjadi psikopat gila (Rio).


"Ha ha ha ha ha ha, melepaskan mu. Cih tidak akan pernah karena pilihan kamu hanya 1 yaitu M-E-N-D-E-R-I-T-A," kata Rio dengan tawa mengerikan.

__ADS_1


Jlebbb.....


Jleeeebbbbbbbbb.....


Pria itu melotot, rasa sakit di tubuhnya membuat dirinya menjerit begitu keras karena rasa sakit yang dia rasakan saat ini.


"Ahhhh....."


Rio semakin mencekam dalam pisau itu.


"Aaahhhhh......"


Teriakan itu terdekat memilukan bagi yang mendengarnya, beberapa bodyguard pun memalingkan wajahnya karena merasa ngeri melihat wajah itu sudah berlumuran darah.


"Sa-kit."


Pisau yang menancap di pipi pria tadi, di putar Rio ke kanan dan kiri dengan gerakan halus, yang terlihat seperti seorang pelukis terkenal yang sedang berunjuk kebolehannya melukis.


Srek srek serek....


Srakk.... Krakkk...


Tangan Rio masih dengan lincah menari-nari di wajah pria itu.


"Aaahh ahhh ahhh, sakit."


"Berhenti, tolong lepaskan aku."


"Sakit, lepas."


"Tolong. Hiks hiks hiks hiks."


Pria tadi meraung meminta pertolongan karena ulah dari Rio. Berkali-kali dia menjerit kesakitan. Meminta tolong pun percuma karena tak akan ada yang membantunya justru mereka semua menikmati pemandangan yang terlihat begitu menyeramkan itu.


Darah mengalir dari wajah pria tadi, membuat siapapun yang melihatnya bergidik ngeri.


"Darah kamu bau banget sih," grutu Rio mengibaskan tangannya yang terpercik sedikit darah, Rio menatanya dengan jijik.


"Sakitttt."


"Lepaskan aku brengsek," teriak pria itu memakai Rio.


Rio tak menghiraukannya, dia memilih fokus menatap ke arah mata pria itu.


"Mata kamu indah, mungkin masih berguna buat orang lain," kata Rio menyeringai lebar.


"Kalau ini di sumbangkan juga bagus, biar mata ini ada pemilik baru, daripada pemiliknya yang sekarang penuh dosa."

__ADS_1


"Jangan, tolong ampuni aku. Aku masih punya anak kecil, tolong lepaskan aku," pinta pria itu meraung ketakutan.


"Tadi saja kamu terlihat begitu garang dan lihatlah sekarang kamu mengemis-ngemis," sinis Rio.


"Ampuni saya, saya menyesal dan tidak akan mengulanginya lagi," pintanya memelas.


"Ck baru juga main sebentar, sudah minta ampun. Gak asyik banget sih," grutu Rio.


"Kalau begitu giliran kamu," kata Rio menatap pria yang terikat di belakang.


"Tidak tuan, a-aku akan mengaku," teriakan penuh frustasi itu terdengar ketakutan.


"Bisa saja kamu berbohong," kata Rio acuh tak acuh seolah tidak membutuhkan jawaban itu lagi.


"Hiks hiks hiks hiks hiks hiks, benar tuan saya akan bicara jujur. Hiks hiks hiks hiks asal tuan melepaskan kami," pinta pria di posisi paling belakang dengan memelas ketakutan.


"Bukannya dari tadi sih," grutu Rio kesal.


"Cepat katakan, aku sudah muak melihat wajah kalian," bentak Rio.


"Ka-ka-mi di suruh tuan Ansel Harvis," jawab pria itu.


"Ansel Harvis nyalimu ternyata besar juga," guman Rio pelan namun penuh dengan emosi. Udara di sekitar pria itu berubah menjadi dingin dan semakin menyeramkan.


Prok prok prok prok prok prok....


Rio bertepuk tangan, dengan sigap para bodyguard itu mendekat ke arah tawanan. Semuanya melepaskan ikatan tadi.


Para pria yang menjadi tawanan itu bernafas lega, namun pria yang tadi sempat Rio lukis wajahnya mengepalkan tangannya erat.


"Gre kamu urus mereka," kata Rio namun dengan senyum mengerikan.


Rio pun berjalan pergi menuju ke dalam mansion namun Rio tak lupa membersihkan tubuhnya agar sang istri tidak mencurigai sesuatu.


Gre tersenyum manis, namun bagi yang mengerti arti senyuman itu pasti memilih untuk pergi menjauh.


"Ayo ikut," Gre menarik salah satu dari mereka.


"Hei apa yang kamu lakukan, dia kan bilang untuk melepaskan kami," Tria pria yang bfi tarik kasar oleh Gre tadi.


"Ha ha ha ha ha ha, mimpi. Rio kan HANYA bilang kepadaku untuk mengurus kalian. Jadi terserah aku mau melakukan apa pun, mau membuang mu ke dalam kandang hewan peliharaan tuan Abraham juga terserah aku, atau mau memotong-motong tubuh mu juga terserah aku," jelas Gre dengan sinis tak lupa menekankan kata hanya agar pria itu mengerti.


"A-apa?" Pria itu tercengang mendengar jawaban dari Gre.


Rasanya tubuh pria itu langsung lemas seketika. Benar firasatnya kalau mereka semua adalah psikopat kejam.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2