Twins Love Story

Twins Love Story
Bab 64


__ADS_3

"Bagaimana, apa kamu sudah siap untuk melanjutkan perjalanan ke negara P?" Tanya Rio menatap wajah Nisa dengan lekat. Memastikan jawaban yang akan keluar dari mulut wanita cantik itu.


Nisa menghela nafas kasar, dia sebenarnya tidak ingin menaiki pesawat lagi, dia benar-benar merasa pusing, mual dan sebagainya, entahlah sulit di jelaskan.


"Huu bagaimana ya? Jujur membayangkan saja kalau kita naik pesawat lagi rasanya deg degan, takut dan gugup entahlah rasanya semua campur aduk," Jawab Nisa menjelaskan apa yang tengah dia rasakan saat itu dengan jujur tak ada kebohongan sama sekali dari wajahnya saat ini.


Rio menghela nafas panjang, dia sedang berfikir kalau Nisa tidak memberanikan dirinya mungkin sampai kapan pun Nisa akan takut dan tak mau dia ajak pergi ke luar negeri bersamanya suatu saat nanti.


"Kamu harus melawan semua itu, bagaimana nanti kalau kamu harus menemaniku ke negara lain. Apa kamu mau naik mobil tentu tidak bisa kan."


"Hiks hiks hiks hiks hiks hiks, tetapi aku takut," lirih Nisa menutup wajahnya dengan kedua tangannya saat ini. Perempuan cantik itu menangis sesenggukan, entah apa yang membuatnya menangis.


Rio pun menghampiri Nisa yang sedang duduk diatas ranjang dan menangis menutup wajahnya itu. Tangisan Nisa pun terhenti karena pelukan hangat itu mampu membuat hati Nisa tenang dan nyaman.


'Emmm nyaman,' batin Nisa.


"Maaf aku tidak tahu kalau kamu setakut itu," kata Rio merasa tak enak hati, tangannya terulur menarik Nisa ke dalam dekapannya. Rio memeluk erat tubuh Nisa.


"Ma-af."


Hanya itu yang mampu Nisa ucapkan sebagai tanda dirinya menyesal, karena dia liburan atau lebih tepatnya honeymoon mereka berdua tertunda.


"Apa kita naik kapal pesiar saja?" Tawar Rio membuat Nisa melotot dibuatnya.


"Ha...." Nisa terbengong dibuatnya, begitu enteng mulut suaminya mengatakan ingin naik kapal pesiar.


'Duh orang kaya mah enteng banget ngajak naik kapal mewah,' batin Nisa sambil menggelengkan kepalanya.


"Kenapa? Ada yang salah?" Tanya Rio heran.


'Duh baru jadi istrinya beberapa hari saja sudah nyusahin gini ya, seharusnya aku bersyukur punya suami tampan, kaya, keluarganya juga begitu baik dan royal. Huu harusnya aku bersyukur ya, pasti banyak di luaran sana yang menginginkan berada di posisi ku saat ini,' guman Nisa di dalam hati nya saat ini sambil menatap lekat wajah suaminya itu.


"Ehemmm...! Sudah puas menatap ku," kata Rio membuat Nisa langsung memalingkan wajahnya merona merah.


'Duh bisa-bisanya kepergok begini, kan aku jadi malu,' batin Nisa.


"Aku tahu kalau aku tampan, jadi kamu harus bangga bisa memiliki suami yang tampan dan baik hati seperti aku," kata Rio dengan narsis sambil menaik turunkan alisnya menggoda sang istri.


"Ish PD banget sih, kata siapa kamu tampan," elak Nisa mengalihkan pembicaraan saat ini, dia tak mungkin jujur kalau suaminya itu benar-benar tampan dan Nisa justru baru memperhatikan wajah suaminya itu dari dekat.

__ADS_1


"Oh jadi aku tidak tampan," kata Tio berpura-pura sedih. Rio menapakkan wajah sedihnya di depan Nisa, dia ingin melihat reaksi istrinya itu.


'Aku ingin lihat bagaimana reaksinya kalau aku bilang akan mencari wanita lain untuk menanyakan pendapatnya, apakah aku tampan atau jelek di depan Nisa. He he he he apa Nisa akan cemburu dan menghalangiku atau dia biasa saja. Aku ingin tahu apakah sudah ada aku di hatimu atau belum, meskipun kita sudah melewati malam panjang itu,' batin Rio.


"Ya sudah lah, aku mau keluar bertanya kepada wanita yang lewat apakah aku tidak tampan," kata Rio berpura-pura merajuk.


Rio pun turun dari ranjang dan berjalan menuju pintu.


'Ayo Nisa tahan aku,' batin Rio.


'Duh bagaimana ini, kalau dia benar-benar melakukan itu bisa-bisa nanti perempuan itu salah paham dan justru suka dengan Rio. Ahhh aku tidak mau Rio suka perempuan lain, aku tak rela. Aku harus mencegah Rio tetapi aku takut Rio nanti besar kepala. Ah sudahlah itu urusan nanti sebelum Rio membuka pintu, aku harus tahan dia,' batin Nisa sedari tadi berperang dengan dirinya sendiri.


Nisa mengelengkan kepalanya, dia tak ingin Rio nanti jauh darinya atau terpikat dengan perempuan lain, ah Nisa tak rela.


Saat tangan Rio memegang handle pintu, Nisa pun langsung berlari menarik tangan Rio.


"Apa?" Tanya Rio berpura-pura tak mengerti.


'Hi hi hi hi hi hi, kan dasar istri gengsian. Bilang saja kalau dia cemburu,' batin Rio menertawakan istrinya di dalam hati saat ini.


Nisa menunduk, binggung harus berbicara apa. Melihat sang istri menunduk, Rio yang awalnya tersenyum langsung merubah wajahnya biasa saja agar Nisa tak curiga kalau tengah di kerjain Rio.


Mendengar itu, Rio tersenyum tipis. Sangat tipis tanpa Nisa lihat tentunya.


"Aku cuma ingin tahu apakah wajahku ini jelek itu saja, aku tak ingin kamu malu kalau nanti jalan dengan suami mu yang tak tampan ini, jadi aku bisa bersiap-siap dengan membawa masker dan topi," kata Rio semakin ngelantur membuat Nisa melotot mendengarnya.


"Kamu tampan, bahkan sangat tampan sampai aku tak rela kamu keluar dan bertemu wanita-wanita itu, aku takut mereka yang akan menggoda mu dan kamu pergi meninggalkan ku," kata Nisa mengungkapkan isi hatinya saat ini.


"Aku tak rela kamu melihat wanita lain meskipun itu hanya sekedar bertanya, aku cemburu, aku takut kehilangan kamu. Aku tak tahu apa yang kurasakan saat ini cinta atau tidak tetapi aku kamu selalu di dekat ku, aku nyaman pelukanmu, aku nyaman bersama mu," sambung Nisa.


Rio langsung memeluk wanita cantik yang tak lain adalah istrinya itu, dia mengecup dengan sayang kening Nisa.


"Terima kasih karena kamu mau jujur dengan perasaan mu, aku berjanji hanya akan ada nama mu di hatiku," kata Rio meyakinkan Nisa.


"Bagaimana kalau besok kita melanjutkan perjalanan, ada aku yang akan selalu berada di sisi mu jadi jangan takut. Di dalam pesawat nanti sudah ada tempat tidur, kalau kamu takut nanti kamu bisa tidur," bujuk Rio.


Nisa mendongak menatap ke arah Rio.


"Kalau kita tidak berangkat ke negara P nanti hotel yang di pesan kak Arin dan kak Abraham selama seminggu akan sia-sia," jelas Rio masih berusaha membujuk sang istri.

__ADS_1


Nisa pun berfikir, akhirnya dia mengangguk karena tak ingin mengecewakan kakak iparnya yang sudah begitu baik kepadanya.


"Kenapa tidak di sini saja?" Tanya Nisa.


"Negara P sering di kunjungi pasangan yang baru menikah seperti kita," jawab Rio ambigu membuat Nisa binggung di buatnya.


Apa bedanya, itulah pertanyaan Nisa saat ini.


"Oh ya bagaimana kalau kita penuhi permintaan bunda," kata Rio dengan kikuk tak tahu harus berbicara apa, jadi kata-katanya begitu aneh di telinga Nisa.


"Permintaan apa? Bunda tidak berbicara apapun kemarin, cuma bilang titip anak bunda, itu saja," kata Nisa sambil berfikir mengingat pesan dari sang mertua kemarin.


Rio menggaruk kepalanya.


"Em itu, aduh gimana cara ngomongnya sih," grutu Rio namun terlihat mengemaskan di mata Nisa.


"He he he he he he, kamu kenapa sih lucu banget dari tadi," kata Nisa menertawakan Rio saat ini.


"Ayo kita buat Rio junior, pasti bunda senang kalau kita buatkan satu, eh bagaimana kalau 3 biar rame," kata Rio langsung mengendong tubuh Nisa.


"Aahhh....." Nisa terpekik kaget, setelah itu wajahnya merona karena malu.


Rio pun membaringkan tubuh Nisa dengan lembut di atas kasur.


"Aku malu..." Cicit Nisa.


"Kenapa harus malu, aku sudah halal untuk kamu sentuh," bisik Rio.


Hembusan nafas Rio membuat bulu kuduk Nisa merinding di buatnya.


Nisa menutup matanya kala Rio membuka baju atasan yang di pakainya sat ini, menampakkan tubuh Rio dengan perut berotot.


Ceklek....


Lampu kamar itu berganti dengan lampu tidur membuat wajah keduanya tersamarkan oleh sedikit kegelapan malam.


"Ayo sayang, kita mulai," bisik Rio.


Rio pun mencium bibir Nisa dan semuanya adalah awal keduanya mengarungi malam panjang dengan kegiatan panas.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2