
Amanda begitu penasaran tentang apa yang di katakan oleh orang di sebrang telephon, sehingga membuat kekasihnya itu kesal.
Kenapa sayang?" Tanya Amanda saat Tio mengakhiri sambungan telepon itu dengan tergesa-gesa.
Tio hanya menggelengkan kepalanya sebagai tanda dia tidak apa-apa.
"Terus kenapa tuh muka kelihatannya bt banget sih," kata Amanda yang masih penasaran dan belum puas dengan jawaban yang di terima nya tadi.
"Biasa Rio ganggu saja orang lagi pacaran, mentang-mentang jomblo," jawab Tio di sertai kekesalan.
Tindak mungkin Tio memberitahu yang sebenarnya, kalau Aurel ingin bertemu dengan nya bisa-bisa Amanda malah mengajak bocah itu dan mengabaikan dirinya secara pesona cantik itu mampu membuat siapapun gemas, ya.... Meskipun bawel nya minta ampun.
"Oh..." Amanda hanya ber o ria saja.
Amanda sudah tahu kalau Rio ternyata sudah putus dengan sepupunya itu, namun Amanda memilih diam tak ingin mencampuri urusan keduanya. Biarlah mereka sendiri yang menyelesaikan, apalagi sang sepupu begitu sulit di hubungi. Entahlah Amanda juga di buat binggung karena sepupunya itu tiba-tiba seperti hilang di telan bumi.
"Jangan mikir orang lain, ayo kita ke sana sepertinya di sana lagi ada pembukaan toko baru," ajak Tio menunjukkan ke arah kerumunan yang sedari tadi menyita perhatiannya.
Mendengar ajakan dari Tio, Amanda pun langsung menatap sang kekasih dengan lembut.
"Ayo."
Keduanya pun bergandengan tangan dengan mesra membuat siapapun iri di buatnya. Cantik dan tampan bagi yang melihat mereka berdua berjalan bersama pasti iri tentunya. Banyak dari mereka pun berkomentar.
"Aduh tuh cowok ganteng banget sih, mau dong jadi pacarnya,"
"Iya cewek nya juga cantik banget,"
"Serasi banget sih mereka berdua,"
Itulah kita beberapa orang yang berpapasan dengan Tio dan Amanda saat itu, sedangkan baik Amanda maupun Tio keduanya dengan cuek melenggang pergi bergandengan tangan.
Akhirnya sampailah Tio dan Amanda di depan toko itu.
"Emm.... Ternyata toko kue, kamu mau masuk tidak?" Tanya Tio sambil menatap sang kekasih.
Amanda melihat ke kiri dan kanan, melihat banyaknya orang yang antusias ke toko ini membuat Amanda tertarik dan penasaran.
"Ayo kita lihat-lihat dulu, siapa tahu ada yang membuatku tertarik," kata Amanda dengan penuh semangat.
"Hmmm.... Kekasih ku kalau ada makanan saja langsung semangat," kata Tio mengelengkan kepalanya.
...----------------...
__ADS_1
Di tempat berbeda....
Sampailah Rio di taman bermain yang tak jauh dari tempatnya, di sana ada berbagai macam permainan, tempatnya juga cukup bersih dan luas hal ini membuat aurel begitu kegirangan saat melihat beraneka ragam permainan yang ada di sana.
Aurel melompat-melompat kegirangan.
"Ye ye ye ye ye ye ye ye...."
"Hore asyik tempatnya rame, jadi Aurel bisa main sama banyak teman tidak sendirian lagi," kata Aurel berbinar menatap tempat itu secara menyeluruh.
Tangan sedangkan Rio hanya menggelengkan kepalanya saat melihat Aurel begitu senang.
"Ck dasar bocil, begini saja sudah senang bukan main," kata-kata rio tersenyum melihat tingkah lucu Aurel saat ini.
"Hei hati-hati jangan lari-lari nanti kamu jatuh ," kata Rio mengingatkan.
"Iya om... Jangan bawel deh, nanti cepat tua seperti Oma," protes Aurel mencebikkan bibirnya.
"Ha...."
Rio melongo karena kaget saat mendengar ucapan yang keluar dari menurut Aurel itu, Rio pun memijit pelipisnya karena merasa pusing secara tiba-tiba.
"Ck dasar bocil, untung sayang kalau tidak sudah ku tinggal di sini sendirian," guman Rio dengan suara pelan namun sedikit kesal.
Brughhh....
Gadis imut itu tersungkur di lantai, mengaduh kesakitan karena pantat nya mendarat di lantai yang keras.
Rio menghela nafas berat, padahal baru saja dia berkata memperingati keponakan bawel nya itu, sudah jatuh.
"Maaf ....."
Pria kecil seumuran dengan Aurel mengulurkan tangannya sambil meminta maaf.
"Gara-gara kamu, pantat ku sakit," kesal Aurel mencebikkan bibirnya.
"Salah kamu juga, jalan tidak lihat-lihat," bocah laki-laki itu membuka mulutnya, dia menolak tuduhan dari bocah perempuan yang melotot ke arah nya saat ini.
Rio pun bergegas menuju ke arah Aurel, niat nya ingin membantu namun dia urungkan karena melihat interaksi kedua nya saat ini.
"Ya sudah kalau tidak mau di bantuin, dasar bocah aneh," grutu bocah laki-laki itu meninggal Aurel.
Namun saat berpapasan dengan Rio, bocah itu menunduk sopan.
__ADS_1
"Maaf om tadi saya tidak sengaja menabrak anak om," kata bocah itu dengan penuh kesopanan.
"Iya tenang saja, maaf ya tadi Aurel bentak-bentak kamu," kata Rio mengelus rambut bocah laki-laki itu.
"Tidak apa-apa om, kalau begitu saya pamit," kata bocah tadi menunduk.
Bocah itu pun berjalan menjauh. Namun dia bergumam pelan, "Oh namanya Aurel."
Setelah kepergian bocah tadi.
"Anak yang sopan," lirih Rio menatap punggung kecil itu menjauh.
"Issshhhh om Riooo.... Tolongin Aurel," teriak Aurel merengek manja membuat Rio menghela nafas panjang untuk menambah stok kesabaran dalam hati nya saat ini.
"Sabar babar ngadepin nih bocil, orang sabar tambah ganteng," guman Rio dengan suara kecil.
"Ish om lelet banget sih, siput saja lomba sama kelinci memang," grutu Aurel.
"Apa hubungannya coba dengan siput dan kelinci," Rio menggelengkan kepalanya mendengar ucapan nih bocil yang tak masuk akal.
Hap....
Karena kesal, Rio pun mengendong Aurel tanpa banyak bicara.
"Om kok di gendong sih," kesal Aurel.
"Biar kamu tidak jatuh lagi," jawab Rio.
Dari kejauhan tepatnya di salah satu sudut tempat seorang wanita cantik menyaksikan kedekatan keduanya pun merasa miris dengan nasib nya sendiri.
"Kenapa dia berada di sini? Terus potongan rambutnya kok berbeda?" Guman wanita tadi.
"Ternyata dia sudah mempunyai anak, tetapi mana istrinya atau dia duda ya. Pantas kemarin dia meracau tak jelas, untung aku tidak kehilangan harta berharga ku," lirih wanita cantik itu seraya menatap Rio dengan seksama.
Puk...
"Ayo Nisa, kita harus cepat. Jam istirahat kita sebentar lagi habis," kata temannya mengingatkan.
"Eh iya, maaf aku lupa," jawab Nisa langsung mengikuti langkah temannya tadi.
Denis memberikan informasi pekerjaan kepada Nisa di salah satu hotel yang cukup besar di kota ini, meskipun pekerjaan dia hanya sebagai housekeeping berbeda dengan pekerjaan nya dulu, Nisa sudah sangat bersyukur.
Tadi dia sempat mampir ke salah satu pusat perbelanjaan di saat jam istirahat, meskipun di temani temannya untuk membeli beberapa perlengkapan yang dia butuhkan.
__ADS_1
Nisa bersyukur bertemu dengan orang baik seperti Denis dan temannya itu. Nisa berharap kehidupannya akan lebih baik di kota ini, Nisa juga berharap agar tak bertemu dengan pria tadi di kemudian hari.
Bersambung.....