Twins Love Story

Twins Love Story
Bab 30


__ADS_3

DEG


Nisa membeku di tempatnya saat ini, dia tak menyangka pertanyaan itu terlontar dari mulut pria itu.


'Apakah pria ini ingat kejadian waktu itu,' batin Nisa di landa kegelisahan.


"Apa maksud kamu," Nisa berpura-pura tak mengerti apa yang di bicarakan oleh Pria itu.


"He he he he he he, kamu tentu nya mengerti apa maksud ku namun kamu justru berpura-pura tidak tahu, ck pintar sekali atau mau ku ingatkan lagi," kata Rio dengan terkekeh namun di iringi seringai kecil di wajahnya.


DEG


Nisa di buat ketakutan, rasanya Nisa ingin cepat kabur dari tempat ini, sungguh Nisa merutuki dirinya karena dia untuk kedua kalinya harus terjebak dengan pria ini. Sungguh Nisa tak habis pikir bagaimana dia bisa sesial ini.


'Harusnya aku tadi langsung pulang saja,' batin nya.


Tap tap tap tap tap tap....


'Nisa Nisa sungguh malang sekali nasib mu, sudah jauh-jauh kabur agar tidak terkena masalah, eh kamu sekarang malah masuk ke kandang harimau ini dengan sukarela,' guman Nisa merutuki kebodohannya untuk kesekian kalinya.


Langkah kaki itu semakin mendekat membuat tubuh Nisa semakin menegang, keringat bercucuran membasahi dahi wanita cantik itu.


"Kalau kamu tidak ingat, aku bisa membuat mu mengingat ciuman ganas kita waktu itu," bisik Rio di telinga Nisa.


Nisa di buat merinding mendengar ucapan dari Rio.


Nisa dengan cepat berbalik badan menghadap ke arah Rio.


Rio bisa melihat wajah cantik itu dengan begitu jelas begitupun sebaliknya Nisa bisa melihat wajah Rio dari jarak begitu dekat. Hembusan nafas keduanya saling menerpa wajah keduanya.


"A-ku ..... Ki-ta tidak melakukan apa-apa malam itu," jawab Nisa dengan gugup.


"Ha ha ha ha ha ha ha, benarkah?" Tanya Rio namun seperti ledekan.


"Be-nar," jawab Nisa tergagap.


"Kalau memang benar seperti itu, kenapa kamu harus gugup seperti ini?" Tanya Rio dengan skakmat.


Nisa ingin rasanya dia menangis saat ini, apalagi aura lelaki ini begitu menyeramkan dan begitu mendominasi saat ini.


'Hiks hiks hiks hiks hiks, siapa pun tolong aku,' ratap Nisa di dalam hatinya memohon pertolongan entah dari mana datangnya.


"Tetapi aku ingat kalau waktu itu aku bisa merasakan bibir manis mu ini," kata Rio menyentuh bibir Nisa dengan jempol tangan nya.


Plak

__ADS_1


Nisa dengan cepat menepis tangan Rio yang dengan lancang menyentuh bibirnya itu.


"Iya benar seper-ti itu, aku tidak bohong karena malam itu kita tidak melakukan apapun dan aku juga masih perawan kok," kata Nisa keceplosan.


Nisa melotot dengan cepat dia menutup mulut lemes nya itu dengan kedua tangan nya.


"Oh oh... Aku dapat kejutan apa lagi ini? Wah wah sungguh aku kaget mendengar nya," kata Rio berpura-pura patah hati.


Nisa menyergit binggung saat melihat apa yang di lakukan oleh pria di depannya saat ini.


"Ah bagaimana kalau kita melakukan nya saja," kata Rio dengan ambigu.


"Me-lakukan apa?" Tanya Nisa dengan binggung.


'Apa dia mau melakukan itu kepada ku,' batin Nisa tiba-tiba dirinya merasa ketakutan.


Melihat wajah Nisa yang langsung pucat membuat Rio semakin puas telah menggoda wanita di depan nya itu.


'Uh sungguh mengemaskan, seperti kucing yang meminta untuk di bawa pulang,' batin Rio.


"Ha ha ha ha ha ha ha, tenang saja. Pokoknya kamu akan tinggal di sini sampai kita menikah," kata Rio.


Rio pun beranjak menuju ke arah sofa dan duduk di sana. Dia mengambil minuman kemasan yang tersaji di atas meja.


Gluk gluk gluk....


"Menikah??" Beo Nisa dengan binggung.


"Iya mulai sekarang, ah bukan tepatnya mulai malam itu aku sudah mengklaim kamu sebagai milikku. Bagaimana kalau kita menikah sebulan lagi.... Ah tidak tidak itu terlalu lama, bagaimana kalau seminggu lagi, ck itu juga masih lama menurutku. Bagaimana kalau besok kita menikah??" Kata Rio sambil berfikir dan bergumam sendiri.


Nisa mendengar itu dengan cepat mengelengkan kepalanya, jujur Nisa tak ingin menikah dengan pria di depannya itu apalagi dia tak mengenal pria itu, bagaimana sifatnya, kepribadiannya atau sikap nya.


"Tidak ada penolakan gadis ku, kita akan menikah 3 hari lagi, tolong persiapkan diri mu dan kamu tak perlu repot-repot mengurus semuanya, kamu tinggal duduk manis di sini menanti hari bahagia kita," kata Rio dengan percaya diri.


...----------------...


Di tempat lain.....


"Sayang di mana Nisa?" Tanya Tio berpura-pura tidak tahu padahal dia tadi melihat sendiri kalau perempuan itu di bawa kabur oleh kembarannya.


"Oh Nisa? Tadi dia kesakitan jadi Rio membawa nya pergi mungkin dia membawanya ke rumah sakit, entahlah," jelas Amanda.


"Maksud kamu apa? Nisa sakit?" Tanya Denis begitu kaget mendengar Nisa sakit.


Dengan cepat Denis merogoh kantong celana nya, mengambil ponsel dan mencari nomor Nisa.

__ADS_1


Tut.... Panggilan pertama tidak diangkat.


Tut....


Tut....


Sampai ke tiga kalinya Denis menghubungi Nisa namun masih sama panggilan itu tak diangkat oleh pemiliknya.


Denis semakin khawatir.


Plukk


Tio menepuk pundak Denis dengan pelan, untuk menyakinkan Denis agar dia tak merasa khawatir.


"Tenang saja, Rio pasti menjaga nya dengan baik," kata Tio meyakinkan saat ini.


'Bahkan sangat baik,' sambung Tio di dalam hatinya.


"Iya tetapi kenapa Nisa tidak dapat di hubungi, ah maksud ku kenapa Nisa tidak mengangkat panggilan dari ku?" Tanya Denis penasaran.


"Mungkin Nisa sedang beristirahat," kata Amanda.


"Hmmm mungkin benar," lirih Denis.


"Ah aku hubungi saja Rio, tetapi aku tidak punya nomor nya," kata Denis menatap Tio.


Tio di buat gelagapan kala Denis memberi kode menanyakan nomor Rio saat ini.


"Ah ponsel ku habis batere nya. Uh sayang sekali, maaf ya aku tidak bisa membantu. Bagaimana kalau nanti Rio menghubungi ku akan ku beri tahu kamu," jawab Tio wajahnya di buat setenang mungkin.


'Rio kamu berhutang terima kasih kepada ku,' batin Tio.


"Bagaimana kalau aku hubungi saja Rio," tawar Amanda.


Tio melotot ke arah Amanda, dia tak tahu kalau Amanda akan menawarkan bantuan untuk Denis.


Denis menoleh ke arah Amanda dengan tatapan berbinar, hal itu membuat Tio kesal.


"Ck dilarang memandang istri orang lebih dari 10 detik," sinis Tio kepada Denis.


Denis gelagapan saat mendengar ucapan dari Tio saat ini.


"Sayang apa kamu bawa ponsel?" Tanya Tio mengedipkan mata nya.


"Bawa, nih," Amanda dengan polosnya mengambil ponsel miliknya dan memperlihatkan ke pada tio.dan Denis.

__ADS_1


'Hadeeh punya bini gini amat ya, polos banget sudah di kasih tahu lewat mata masih saja tidak peka,' batin Tio kesal.


Bersambung.....


__ADS_2